
πΈπΈπΈ
~Happy Reading~
*
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Sarah lagi dengan suara yang kian lirih.
"Aku akan menikahi mu," jawab Hanan penuh dengan ketegasan.
"Apa? Kamu gila Mas? Kamu sudah memiliki istri, bagaimana mungkin kamu menikah lagi?" Pekik Sarah yang kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Hanan.
"Aku tahu ini gila, tapi aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Apalagi aku adalah pria pertama yang menyentuhmu, Sarah."
Deg
Sarah tersentak kaget saat Hanan menyinggung keperawanan nya. Ya, tidak bisa dipungkiri jika mamang Hanan lah yang pertama untuk Sarah. Namun, bukankah Sarah juga adalah wanita pertama yang Hanan sentuh?
Pasalnya, dia dan sang istri belum bisa menjalankan ibadah suami istri karena terkendala oleh keadaan kesehatan Aulia yang belum sembuh dari trauma nya.
10 tahun yang lalu, Aulia begitu disibukan dengan pikiran bagaimana melanjutkan hidupnya dan hidup buah hatinya, Aliya.
Hingga Aulia mengabaikan keadaan kesehatan nya yang saat itu membutuhkan penanganan serius seorang psikolog.
Namun Aulia abaikan hal itu dan hanya fokus pada bagaimana cara bertahan hidup di tengah keterbatasan nya yang hanya seorang anak yatim piatu yang hidup merantau ke ibu kota tanpa bekal apapun.
Bahkan ijazah yang biasa orang lain bawa saat merantau pun Aulia tak memiliki nya karena Aulia dikeluarkan dari sekolah tepat satu minggu sebelum ujian akhir sekolah.
Hingga Aulia pun tak memiliki ijazah itu. Hanya dengan berbekal kemampuan yang dia punya dan tekad yang kuat demi dirinya dan sang buah hati bisa bertahan hidup.
Aulia pun memulai usaha kecil kecilan dengan dibantu oleh anak anak panti yang saat itu menjadi keluarga baru untuk Aulia. Hingga akhirnya, Aulia pun bisa menjadi seorang pemilik toko kue yang cukup terkenal di kalangan ibu ibu arisan.
__ADS_1
(Note. Bagi yang kemarin komen kenapa Aulia tidak sembuhkan diri dulu baru memulai hubungan dengan Hanan, terjawab sudah ya. Dulu, Aulia jangankan buat ke psikiater Mbak'e. Buat lanjut sekolah aja mikir dua kali, karena Aulia tidak bisa egois disaat ada buah hati yang jauh lebih membutuhkan biaya dari pada dirinya. Disinilah kita bisa lihat bagaimana pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Sampai disini PAHAM, kan? Maaf othor agak semesong karena sedikit terbawa suasana.ππππ)
***
Lanjutβ¦.
"Tapi, bagaimana dengan Aulia Mas? Dia pasti tidak akan menerima begitu saja pernikahan kita ini,"
"Kita pikirkan itu nanti, setidaknya. Kita harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Cukup satu kali kita berbuat dosa Sarah, jangan menambah dosa dengan melupakan tanggung jawab atas yang terjadi saat ini. Setidaknya, sampai kita yakin jika Allah tidak menitipkan zuriatnya di rahimmu,"
Deg
Sarah kembali tersentak kaget dengan penuturan dari Hanan. Pasalnya, karena masalah ini saja membuat Sarah begitu terpukul, lalu bagaimana jika dia hamil anak dari pria beristri? Oh ya ampun, sebercanda inikah nasibnya?
Disaat hati dan pikiran nya masih dipenuhi oleh seorang Alfatih. Kenapa dia tiba tiba terlibat dengan seorang pria beristri yang akan membuat rumit perjalanan hidupnya yang sudah rumit karena mencintai pria yang tak pernah menganggapnya ada.
"Maksud Mas apa?"
Hening kembali tercipta, keduanya kembali disibukkan dengan pemikiran masing masing, akan kelanjutan kisah mereka yang rumit dan runyam itu.
"Ayo, lebih baik sekarang aku antar kamu pulang. Jangan sampai orang tuamu mencemaskan putrinya yang tak kunjung pulang. Sekalian kita bicarakan masalah ini dengan kedua orang tuamu, semoga beliau beliau bisa menerima keputusan kita ini." Lanjut Hanan yang kini sudah memantapkan diri untuk menikahi Sarah secara agama, setidaknya sampai di pastikan apakah Sarah akan hamil atau tidak setelah kejadian malam itu.
"Tapi, apa harus secepat ini?" Tanya Sarah meragu.
"Lebih cepat akan lebih baik. Ayo, bersiaplah kita menghadap kedua orang tuamu sekarang juga." Tegas Hanan lagi.
"Baiklah," jawab Sarah semakin lirih.
Sarah pun mulai bangkit dari duduknya, lalu mengambil tas selempang nya dan bersiap untuk pulang. Keduanya pun berjalan ke arah pintu untuk segera keluar dari dalam kamar hotel yang sudah menciptakan lara di kehidupan keduanya.
Kreekkk
__ADS_1
Deg
Namun, disaat keduanya membuka pintu kamar hotel itu. Betapa terkejutnya Sarah dan juga Hanan akan kehadiran dua orang paruh baya yang tengah berdiri di depan pintu kamar itu.
*
*
Sementara di kota lain. Lebih tepatnya beberapa waktu kebelakang. Wajah Aulia yang sejak tadi muram kini berubah menjadi cerah seiring denhan adanya dering ponsel yang berbunyi.
Senyuman yang mengembang bahkan kini juga turut hadir menghiasi wajah cantiknya saat mendapatkan sambungan telepon dari suaminya.
Aulia pun sengaja menepi sejenak ke area lain karena tidak ingin mengganggu jalan nya acara yang saat ini tengah berlangsung. Dimana saat ini, di sana tengah mengadakan doa bersama, lalu akan dilanjutkan dengan jamuan dan terakhir adalah agenda bagi bagi bingkisan.
"Bunda dari mana?" tanya Aliya saat melihat Bundanya baru kembali dari tempat lain.
"Bunda habis angkat telepon dari Papa. Karena takut mengganggu jadi Bunda menepi sebentar," jelas Aulia saat putrinya bertanya.
"Papa masih di luar kota?"
"Masih, mungkin minggu depan baru bisa pulang,"
"Oh,"
Obrolan ibu dan anak itu pun terhenti karena lanjut dengan mengikuti acara syukuran itu lagi. Tahap demi tahap telah selesai di laksanakan dan kini acara pun berlanjut pada jamuan untuk semua yang hadir di sana.
lalu setelah itu, waktu bagi bagi bingkisan pun tiba. fatih, Aulia dan Aliya berdiri sejajar saat memberikan bingkisan bingkisan itu pada anak anak yang ada di sana.
Sepintas, ketiganya begitu terlihat seperti satu keluarga yang begitu harmonis. hingga membuat semua yang melihat kebersamaan itu cukup merasa iri orang yang melihatnya.
Setelah membagikan bingkisan bingkisan itu, keluarga Fatih pun tak langsung beranjak. Sejenak mereka berbincang untuk merencanakan sebuah pembangunan yang akan di lakukan untuk merenovasi rumah baca itu atas inisiatif Papa Dimas yang merasa tergerak untuk membantu merenovasi rumah singgah untuk anak anak kurang mampu itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ummi," ucap seseorang yang baru saja datang dan menyela obrolan orang orang yang tengah berkumpul di sana.