Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.69


__ADS_3

"Mas,"


"Iya, apa sayang?"


"Apa sebaiknya kita pindah ke kasur saja? Kita bisa lanjut ngobrol di sana, bagaimana? Jika seperti ini, aku takut kaki Mas akan sakit," tanya Aulia karena merasa kurang nyaman harus terus duduk di pangkuan Fatih.


"Pindah ke kasur? Eemm, sepertinya itu ide yang bagus," jawab Fatih penuh dengan semangat lengkap dengan kerlingan nakal hingga membuat Aulia bergidik ngeri.


"Kenapa jadi serem ya?" gumam Aulia saat Fatih mulai menggerakkan tubuhnya.


Set


“Aaww, Mas,” seru Aulia saat merasakan tubuh nya melayang udara karena Fatih langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya ke arah ranjang dalam gendongan.


Hari masih terlalu pagi untuk melakukan aktivitas, maka dari itu. Kesempatan sekali bagi sepasang kekasih halal untuk tetap berada di dalam kamar dan melakukan aktivitas romantis mereka.


Seperti Fatih yang tidak menyia nyiakan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dengan kekasih halal nya.


“Mas, turunin. Aku bisa jalan sendiri,” ucap Aulia saat Fatih membawa nya dalam gendongan.


“Nggak apa apa, Mas yang mau melakukan ini padamu,” jawab Fatih yang dengan santai nya membawa tubuh Aulia dalam dekapan nya.


“Tapi, tubuhku berat Mas,” lanjut Aulia dengan lirih, lalu menundukkan kepalanya karena masih merasa malu dan canggung saat harus berinteraksi se'intim ini dengan Fatih.


Meski mereka saat ini telah resmi menikah secara agama dan menunggu dokumen selesai untuk diresmikan secara negara hingga keduanya bisa memiliki buku nikah sebagai tanda jika Fatih dan Aulia sudah resmi saling memiliki satu sama lain.

__ADS_1


“Cantik,” bisik Fatih setelah membaringkan Aulia di atas ranjang.


“Ma_Mas mau apa?” tanya Aulia saat Fatih membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu mengungkung nya.


“Kan, tadi kamu sendiri yang bilang kalau sebaiknya kita lanjutkan kegiatan nya di sini, apa ada yang salah?” tanya balik Fatih dengan nada bicara yang sudah sangat berat.


Sebagai wanita dewasa tentu saja Aulia tahu apa yang kini dirasakan oleh suami nya. Hanya saja, Aulia masih canggung dan begitu malu saat harus berinteraksi se'intim ini.


“I_iya, tapi maksud aku bu__,” Aulia tidak bisa melanjutkan ucapan nya saat Fatih membungkam mulutnya dengan mulut Fatih.


Keduanya pun akhirnya kembali bergumul panas di atas ranjang, mengulang kegiatan panas mereka tadi malam.


Aulia sendiri kini hanya bisa pasrah menerima serangan fajar yang dilakukan oleh suaminya. Toh tidak bisa di pungkiri jika Aulia juga menikmati pergulatan panas yang terjadi pagi ini.


*


*


Sebuah kepanikan terjadi di ruang persalinan di mana seorang wanita sedang mengalami kontraksi hebat.


“Mas, sakit,” ucapnya dengan suara yang sangat lirih.


“Iya, Mas tahu. Tahan ya, sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita,” jawab sang suami yang tidak beranjak sedikitpun dari sisi sang istri sejak memasuki ruang persalinan di sebuah rumah sakit yang mereka datangi saat ini.


Bahkan tangan kekarnya terus menggenggam tangan mungil sang istri yang sudah basah oleh keringat karena menahan rasa sakit karena kontraksi yang datang saat si bayi mencari jalan lahir.

__ADS_1


“Aaww, sakit Mas,” lirih nya lagi saat kontraksi itu kembali datang.


“Sabar dan tahan ya, Mas yakin kamu bisa karena kamu adalah wanita yang kuat,” jawabnya memberi dukungan pada sang istri yang tengah berjuang melahirkan anak pertama mereka.


“Apa setelah ini, Mas akan meninggalkan kami?” tanya sang istri yang kembali teringat perbincangan mereka beberapa bulan yang lalu.


Deg


Hanan tersentak kaget saat Sarah bertanya seperti itu. Namun, Hanan juga tidak menyalahkan Sarah karena topik ini pernah mereka bahas sebelumnya.


Lebih tepat nya, saat usia kehamilan Sarah memasuki usia lima bulan. Dimana mereka sepakat untuk mengakhiri pernikahan itu setelah Sarah melahirkan.


Akan tetapi, seiring berjalanya waktu dan kebersamaan mereka. Hanan mulai merasa nyaman dengan kehadiran Sarah di dalam hidupnya.


Seorang wanita dan istri yang begitu baik dalam segala hal. Meski mereka menikah tanpa cinta, tapi Sarah memberikan pelayanan yang terbaik sebagai seorang istri.


Bahkan tidak jarang juga Sarah menawarkan tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan biologis seorang Hanan Hanafi dan itu semua Sarah lakukan atas dasar kewajibannya sebagai seorang istri, meski di antara keduanya belum ada rasa cinta. Hingga perlahan, sebuah rasa muncul di hati Hanan untuk istrinya itu.


“Kenapa berpikir seperti itu? Aku sudah disini dan bersama kalian, mana mungkin aku meninggalkan kamu dan anak kita. Lupakan pembicaraan kita tempo hari, aku minta maaf untuk waktu itu karena sudah sesumbar dengan mengatakan ingin mengakhiri pernikahan kita. Maaf karena terlambat menyadari jika kehadiranmu sangatlah berarti untukku Sarah. Bertahan lah, agar kita bisa membangun rumah untuk keluarga kita. Kamu, aku dan anak anak kita,” jelas Hanan yang membuat Sarah menangis haru karena jujur, kini di hati Sarah pun telah tertulis nama Hanan.


Hingga wanita itu pun kerap berdoa agar Hanan bisa juga mencintai dirinya dan mempertahankan pernikahan mereka hingga maut memisahkan keduanya.


“Sekarang, fokuslah pada kelahiran anak kita. Setelah masa nifas selesai, kita selesaikan permasalah yang kemarin sempat kita bahas pada Abi dan juga Ummi. Apakah kita harus ijab ulang atau tidak perlu ya karena Mas pernah berniat mengakhiri pernikahan ini, takutnya Mas sudah menjatuhkan talak padamu. Sekali lagi Mas minta maaf karena sudah memiliki niat buruk di awal pernikahan kita,” lanjut Hanan lagi yang kini mulai berani mencium kening Sarah yang basah oleh keringat.


“Iya Mas, terima kasih. Sarah, sangat menyayangi Mas Hanan,”

__ADS_1


“Mas juga sayang, Mas sangat menyayangi kalian berdua. Maka dari itu bertahan lah, demi anak kita dan juga demi Mas.”


***


__ADS_2