
Sejak pertemuan itu, Aulia tidak lagi menampakan dirinya di hadapan keluarga Hanan. Dan tentu saja hal itu sangat di maklumi oleh kedua orang tua Hanan.
Karena sebelumnya, Aulia sudah sempat berpamitan ke pada kedua mertuanya itu. Tepat saat Hanan pergi untuk mengantar Sarah pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Aulia pun mendatangi kamar mertuanya untuk berpamitan. Aulia meminta waktu untuk menenangkan diri sebelum akhirnya dia harus menghadapi perpisahan nya dengan Hanan di meja pengadilan agama.
..."Maafkan Aulia Umi, Abi. Maaf jika selama ini Aulia belum bisa menjadi istri yang baik untuk Mas Hanan dan menantu yang baik untuk Umi dan Abi,"...
..."Tidak sayang, kamu adalah menantu terbaik yang kami miliki. Tolong, setelah ini jangan lupakan Umi dan Abi ya. Tetaplah anggap kami sebagai orang tuamu Nak, jangan buat jarak di antara kita hanya karena kamu dan Hanan sudah tidak berjodoh lagi,"...
..."Iya Umi, Aulia akan selalu mengingat Umi. Aulia juga tidak akan melupakan Umi serta Abi. Aulia juga akan tetap menjaga tali silaturahmi di antara kita. Aulia sangat menyayangi Umi dan Abi, karena Umi dan Abi lah Aulia bisa merasakan bagaimana memiliki orang tua yang utuh meski kita tidak terikat hubungan darah sama sekali. Aulia pamit Umi, Abi, semoga kelak kita di pertemukan kembali dengan keadaan yang paling terbaik satu sama lain."...
Begitulah isi percakapan Umi Fatimah dan Aulia saat Aulia izin pamit pada kedua mertuanya itu. Sementara untuk Hanan, Aulia hanya mengirimkan satu buah pesan berisikan sebuah kata perpisahan yang membuat hati Hanan kian hancur dan sakit.
Hanan tidak menyangka jika kedatangan nya ke kota itu akan membawanya pada sebuah perpisahan dengan Aulia. Dan akan menyatukan nya dengan seorang wanita yang tidak disangka sangka.
“Ada apa Mas? Apa terjadi sesuatu” tanya Sarah saat melihat raut wajah Hanan yang kembali memancarkan kesedihan.
Bahkan kini matanya sudah kembali berkaca kaca setelah membaca sebuah pesan dari ponselnya yang Sarah yakin, jika itu adalah pesan yang dikirim oleh Aulia untuk Hanan.
“Tidak apa apa, masuklah. Malam ini Mas menginap di hotel bersama Umi dan Abi. Besok Mas datang lagi sama Abi dan Umi,” jawab Hanan mencoba menyembunyikan luka hati nya karena harus berpisah dengan Aulia, wanita yang selama ini dia cintai.
Dan di paksa oleh keadaan untuk berpaling pada wanita asing yang kini tengah mengandung calon anaknya, calon buah hatinya.
“Baiklah, kalau begitu Sarah masuk ya? Mas hati hati di jalan,”
“Iya, masuklah. Mas pamit ya, assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Sarah yang masih berdiri di teras rumah untuk melihat suaminya pergi dari sana.
__ADS_1
Sarah pun akhirnya masuk kedalam rumah setelah mobil yang dibawa oleh Hanan sudah tidak terlihat lagi dari pandangan nya.
“Assalamualaikum,” ucap Sarah saat memasuki rumah kedua orang tuanya.
“Waalaikumsalam, loh Nak. Kok kamu pulang sendiri? suamimu mana?” tanya mama Indah saat melihat putrinya pulang seorang diri padahal saat pergi, Sarah izin untuk pergi ke kantor Hanan.
“Mas Hanan menginap di hotel Ma, kedua orang tua Mas Hanan datang ke kota ini dan Mas Hanan menemani Umi dan Abi di hotel. Oh iya, Abi dan Umi berpesan kalau beliau beliau akan datang berkunjung besok,” jelas Sarah yang membuat mama Indah kaget.
“Apa? kedua orang tua Hanan ada di kota ini? lalu, apa kamu sudah bertemu dengan mereka?”
“Sudah Ma,” jawab Sarah lirih karena kembali diingatkan pada sosok Aulia yang sudah dia sakiti hatinya.
Meski itu bukanlah disengaja tapi tetap saja, Sarah hadir di antara Hanan dan Aulia yang membuat wanita berhati lembut itu mundur dari pernikahan nya dengan Hanan hanya demi memberikan status yang sah untuk dirinya dan juga untuk calon anaknya.
“Lalu, bagaimana respon mereka saat tahu keadaan kamu dan juga Hanan?”
“Beliau beliau adalah orang orang yang baik dan menerima Sarah dengan baik juga. Abi dan Umi besok akan datang untuk membicarakan pernikahan Mas Hanan dan Sarah yang akan diresmikan Ma,”
“Mbak Aulia, Mbak Aulia memilih untuk mundur dari pernikahan nya dengan Mas Hanan hanya demi bisa memberikan status yang jelas untuk aku dan calon anak kami Ma,” jawab Sarah yang kini kembali menangis saat mengingat bagaimana legowo nya seorang Aulia.
Bahkan rela menyandang status janda hanya demi bisa memberikan Sarah seorang suami yang sah dimata hukum dan juga memberikan calon anaknya seorang Ayah.
"Tapi, kenapa tiba tiba ingin meresmikan pernikahan kalian?" tanya mama Indah yang belum tahu jika putrinya saat ini sedang hamil.
"Itu, karena Sarah hamil Ma,"
"Apa? Ka_kamu hamil?"
*
__ADS_1
*
Sementara itu di tempat lain.
"Jadi, kita akan kemana?" tanya seseorang yang akhirnya membangunkan Aulia dari lamunan nya.
"Tidak tahu," jawab Aulia lirih.
Seseorang yang kini duduk di balik kemudi pun melirik ke arah jok belakang dimana ada seorang gadis kecil tengah tertidur lelap di sana dengan berselimutkan jas nya.
"Ke Pantai saja gimana? Kita cari hotel di sekitar pantai. Kasihan Aliya, dia butuh tempat yang nyaman untuk tidur," lanjutnya tanpa melirik sedikit pun ke arah wanita yang duduk di samping nya dan tetap fokus dengan jalanan yang saat ini mobilnya lewati.
"Baiklah, kita ke sana saja," jawab Aulia pasrah.
Dan jawaban dari Aulia pun mampu membuat sebuah senyuman di wajah tampan nya meski senyuman itu tidak begitu kentara dia perlihatkan.
Ada sebuah rasa lega dan satu titik harapan saat mendengar jika hubungan Aulia dan Hanan akan segera berakhir.
Setelah Aulia kembali ke kamar hotelnya, Umi Fatimah pun segera menghubunginya untuk menemani sang menantu.
Entah salah atau pun tidak Umi Fatimah meminta bantuan nya. Tapi yang pasti, Umi Fatimah takut terjadi sesuatu pada menantunya itu.
Hingga akhirnya, Umi Fatimah pun meminta bantuan Fatih untuk menemani wanita itu yang akan pergi entah kemana untuk menenangkan dirinya.
Fatih pun membelokan mobilnya ke sebuah hotel bintang 5 yang ada di sekitar pantai yang mereka datangi malam ini.
Setelah memarkirkan mobilnya, Fatih pun segera keluar dari dalam mobil lalu berjalan ke bagian belakang untuk membawa putrinya dalam gendongan.
Ketiga nya pun akhirnya memutuskan untuk menginap di sana dengan menggunakan kamar yang berbeda namun bersebelahan.
__ADS_1
"Istirahatlah, jika butuh bantuan atau ada apa apa kamu bisa menghubungiku. Aku ada di kamar sebelah," ucap Fatih setelah membaringkan tubuh putrinya di ranjang.
"Iya Mas, terima kasih."