
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya Aulia dan Aliya pun tiba di sebuah masjid yang besar dan juga megah. Indah satu kata yang menggambarkan bagaimana tampilan masjid besar dan megah itu.
Setelah memarkirkan mobilnya, Aulia pun segera turun dari mobil yang di ikuti oleh putrinya, Aliya. Berhubung akan ada pembicaraan pribadi antara dirinya dan Umi Amina. Maka Aulia pun turut serta membawa Aliya untuk di mintai pendapatnya, begitulah kata Umi yang meminta Aulia membawa serta putrinya.
Meski Aulia belum tahu apa yang akan di bicarakan oleh Umi, tapi Aulia menurut saja dengan membawa serta Aliya kesana. Toh gadis yang kini menginjak usia 11 tahun itu tengah libur sekolah karena sudah kenaikan kelas dan kini Aliya pun sudah duduk di bangku kelas 5.
"Ayo sayang, sepertinya kajiannya akan segera di mulai deh," ajak Aulia pada putrinya.
"Iya Bun, ayo."
Kedua wanita beda usia itu pun beranjak dan mulai memasuki sebuah gedung yang mewah dan juga besar yang mereka datangi siang ini. Didalam masjid sudah tampak begitu ramai dan Aulia pun mengambil duduk ditempat yang masih tersedia.
3 jam sudah berlalu dan kajian pun kini telah berakhir. Aulia pun segera beranjak ke tempat dimana dirinya sudah ditunggu oleh Umi Amina.
“Assalamualaikum, Umi. Maaf Aulia telat,” ucap Aulia saat memasuki sebuah ruangan dimana dirinya dan juga Umi Amina sudah membuat janji bertemu.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, silahkan masuk Nak dan duduklah,” jawab Umi Amina mempersilahkan Aulia masuk dan duduk di dekat nya.
“Ini putrimu?” tanya Umi Amina saat Aliya turun serta masuk ke ruangan itu bersama dengan ibu nya.
“Iya Umi, sayang salim dulu sama Umi. Beliau ini guru ngaji Bunda,” jawab Aulia memperkenalkan putrinya pada Umi Amina.
Aliya pun menurut, gadis yang mulai beranjak remaja itu tampak menyalami Umi Amina dengan takzim.
“Lalu, apa yang ingin Umi sampaikan pada saya?” tanya Aulia yang sudah penasaran tentang hal penting yang akan disampaikan oleh Umi Amina padanya.
__ADS_1
“Ada satu amanah yang harus Umi sampaikan sama Nak Aulia. Jadi begini, beberapa hari yang lalu Umi kedatangan salah satu jemaat yang sudah beberapa bulan ini biasa ikut dalam kajian nya Pak Kyai. Orang itu datang pada Umi dan juga Pak Kyai untuk meminta bantuan agar menyampaikan niat baiknya pada Nak Aulia,” jelas Umi yang belum dimengerti oleh Aulia.
“Maksudnya bagaimana ya Umi?” tanya Aulia yang belum paham akan kemana arah pembicaraan dari Umi Amina.
“Begini, ada seorang pria berstatus duda anak satu datang pada Umi untuk meminta bantuan Umi dan Kyai untuk menyampaikan niat nya yang ingin mengkhitbahmu Nak,” jelas Umi yang membuat Aulia tersentak kaget.
“Mengkhitbah saya Umi? Tapi, bagaimana beliau tahu tentang saya?” Tanya Aulia disela keterkejutan nya.
“Dia sering melihatmu ikut kajian di sini, dia juga banyak bertanya tentang kamu pada Umi selama beberapa bulan ini. Bagaimana, apa Nak Aulia berkenan menerima niatan baik dari beliau?” tanya Umi Amina yang membuat Aulia semakin kaget.
Aulia bergeming, tidak tahu harus menjawab apa. Bayangan bagaimana rumah tangganya dengan Hanan yang hancur di saat baru memulai saja masih belum sepenuhnya menghilang dari dalam hidupnya.
“Tidak perlu mengiyakan sekarang jika belum yakin, kalian bisa bertemu lebih dulu dan saling mengenal satu sama lain lewat jalur ta’aruf. Kalian bisa saling bertanya mengenai satu sama lain saat menjalani masa ta'aruf dan lagi meski menjalani ta'aruf belum tentu juga kan kita akan berjodoh dengan nya. Akan tetapi, setidaknya kita sudah berusaha mencari pasangan lewat jalur yang tepat dan insya Allah aman. Bagaimana? Nak Aulia berkenan tidak untuk bertemu dengan nya?" Jelas Umi lagi yang membuat Aulia semakin bimbang.
Namun, ditengah tengah kebimbangan nya Aulia merasakan sebuah genggaman hangat dari tangan seseorang yang saat ini duduk di sampingnya. Dengan senyum hangat yang menyejukkan hati, Aliya pun menganggukkan kepalanya sebagai bukti jika dia merestui sang Bunda untuk memulai kehidupan barunya.
Meski ada sekelumit rasa kecewa di dalam hatinya saat pria yang berniat mengkhitbah Bunda nya itu, mungkin bukanlah Ayah nya yang selama ini Aliya langitkan doanya untuk bersatunya kedua orang tua yang sudah menghadirkannya ke dunia.
Apalagi setelah Aulia berpisah dengan Hanan. Aliya semakin berharap besar akan bersatunya Aulia dan Fatih. Meski mungkin harapan itu harus Aliya kubur dalam dalam saat hadir kembali seorang pria yang berniat mengkhitbah sang Bunda.
"Tentu sayang, kebetulan beliau sudah menunggu dari tadi," Jawab Umi Amina dengan senyum penuh rasa lega.
"Tunggu ya, Umi panggilkan dulu karena kebetulan orang nya lagi berbincang dengan Pak Kyai," Lanjut Umi Amina yang langsung beranjak dari duduknya menuju ke arah ruangan lain.
"Sayang, apa kamu yakin Nak?" Tanya Aulia setelah Umi Amina pergi meninggalkan keduanya.
__ADS_1
"Coba bertemu dan saling kenal tidak ada salah nya kan Bun? Lagi pula, bertemu dan berkenalan lebih dulu belum tentu menjadikan kita jodohnya. Sekarang lebih baik kita lihat saja dulu, bagaimana calon Ayah sambung Aliya ini," Jawab Aliya yang terlihat santai saat ada pria yang berniat mengkhitbah Bunda nya.
Kreeekkk
Hingga, sebuah suara pintu yang dibuka pun mengalihkan perhatian dari ibu dan anak itu. Aulia dan Aliya pun dapat melihat Umi Amina yang kembali masuk ke ruangan itu, tapi hanya seorang diri.
"Ayo Nak, masuklah mereka ingin bertemu denganmu lebih dulu," Seru Umi Amina setelah duduk kembali di kursinya.
Tap
Tap
Set
Deg
Baik Aulia maupun Aliya sama sama dibuat kaget saat melihat siapa orang yang ingin dipertemukan oleh Umi Amina pada mereka.
Seorang pria dengan pakaian yang cukup rapi tampak keluar dari dari ruangan yang tadi di masuki oleh Umi Amina.
Pria itu berjalan dengan menundukkan kepalanya, lalu mendekat ke arah kursi dimana ada Aulia dan juga Aliya di sana.
"Nah, Nak Aulia perkenalkan ini Nak Fatih. Pria yang berniat mengkhitbahmu," Lanjut Umi memperkenalkan pria yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi lain yang ada di sana.
"Ayah?" Celetuk di kecil Aliya saat melihat ayah nya datang dan di perkenalkan oleh Umi Amina sebagai pria yang akan mengkhitbah Bunda nya.
__ADS_1
"Ayah? Ka_kalian sudah saling mengenal?" tanya Umi Amina bingung saat mendengar Aliya memanggil Fatih dengan sebutan 'Ayah'.