
“Eh yang, kita mampir dulu ke apartemen ya? Ada beberapa berkas dan juga barang yang harus Mas bawa dari sana. Bagaimana, nggak apa apa kan?” tanya Fatih yang memang harus menyelesaikan semua pekerjaan nya sebelum melakukan perjalanan umroh yang sudah direncanakan dari tiga bulan yang lalu.
Kebetulan, sebagian besar berkas yang harus Fatih selesaikan dia simpan di apartemen karena memang kalau Aliya tidak menginap di rumah nya, Fatih akan pulang ke apartemen dan menghabiskan waktu di sana dengan pekerjaan pekerjaan yang dia bawa dari kantor.
“Boleh, tapi jangan lama ya. Soalnya aku mau bantuin mama siapin buat acara pengajian besok,”
“Siap sayang, cuma ambil berkas saja kok. Jadi tidak akan lama,”
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, akhirnya mobil yang dibawa oleh Fatih pun tiba di sebuah gedung yang menjulang tinggi dimana unit apartemen milik Fatih berada di sana.
Setelah memarkirkan mobilnya, Fatih pun segera membawa sang istri untuk menaiki sebuah lift yang akan membawanya ke lantai 25 dimana unit apartemen dirinya berada.
Saat tiba di depan pintu unit apartemen nya, Fatih pun memasukan beberapa angka yang dia gunakan sebagai password untuk membuka pintu unit miliknya.
"Assalamualaikum, ayo sayang masuk," titah Fatih membuka lebar pintu unit apartemen miliknya agar Aulia bisa masuk.
"Assalamualaikum," ucap Aulia saat memasuki ruang pribadi pria yang kini sudah menjadi suaminya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, tunggu di ruang tengah dulu ya. Mas bereskan dulu barang yang akan di bawa, tidak akan lama kok. Oh iya, kalau mau minum atau mau makan sesuatu ambil saja di dapur." lanjut Fatih membawa Aulia pergi keruang tengah yang ada di dalam unit nya.
"Iya Mas," jawab Aulia yang masih mengedarkan pandangannya, menelusuri seluruh ruangan unit apartemen milik Fatih.
Bersih dan rapi, itulah dua kata yang menggambarkan situasi di dalam unit itu hingga membuat Aulia cukup nyaman.
Aulia pun berjalan menuju ke arah jendela yang memiliki ukuran yang cukup besar dan lebar. Aulia menatap ibu kota dari atas ketinggian dimana unit milik Fatih ini memang berada di lantai 25 gedung tinggi itu.
Aulia menatap kesibukan yang terjadi di jalanan dan juga daerah sekita bawah sana dengan tatapan penuh rasa kagum.
Namun, seketika Aulia dibuat tersentak kaget saat ada sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya dari arah belakang tubuhnya.
"Mas, ya ampun. Bikin kaget saja," seru Aulia yang kaget saat Fatih memeluk tubuhnya dari belakang.
Pria itu mendekap erat tubuh Aulia, lalu menyimpan dagu nya di bahu sang istri dan kini, tatapan keduanya tertuju ke depan. Menatap indahnya ibu kota dari atas ketinggian.
__ADS_1
"lagi apa sih? Fokus banget, sampai nggak sadar kalau suaminya mendekat,"
"Lagi melihat kesibukan ibu kota, indah banget ternyata ya kota yang keras dan kejam ini kalau di lihat dari ketinggian," jawab Aulia yang membiarkan suaminya itu memeluk tubuhnya.
Anehnya, Aulia sama sekali tidak merasa ketakutan seperti dulu saat bersentuhan dengan Hanan. Padahal waktu itu, Hanan memperlakukan nya dengan begitu lembut.
"Yang," lirih Fatih setelah beberapa saat keduanya hanya terdiam dengan Fatih yang memeluk Aulia dari belakang.
"Iya, kenapa Mas?" jawab Aulia dengan suara lembutnya membuat Fatih semakin gemas lalu segera membalik tubuh wanita yang baru saja dia halalkan agar bisa menghadap ke arah nya.
Kini, keduanya pun sudah saling berhadapan satu sama lain. Netra keduanya saling saling bertemu dan saling mengunci tatapan.
Tangan Fatih terulur untuk membelai wajah cantik istrinya yang terbingkai oleh hijabnya.
"Boleh?" tanya Fatih dengan suara yang sangat lirih saat jempol tangannya mengusap lembut bibir ranum milik Aulia.
Seperti orang yang terkena hipnotis, Aulia langsung saja menganggukkan kepalanya saat Fatih meminta izin untuk menyentuh lebih dalam bibir ranumnya.
Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Fatih pun tersenyum tipis, lalu mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Aulia.
Dengan degup jantung yang menggila, Aulia menanti apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu, hingga....
Deg
Jantung Aulia semakin berdegup kencang saat merasakan benda kenyal dan basar menyentuh bibir ranum nya.
Aulia meremas kuat kemeja Fatih yang ada di bagian pundak pria itu saat merasakan bibir Fatih mulai menyapu dan menghisap lembut bibirnya.
"Buka mulutmu," bisik Fatih saat Aulia tak juga membalas ciuman darinya.
Fatih sengaja melepaskan pagutan nya sejenak hanya demi meminta Aulia membuka sedikit mulutnya agar Fatih bisa mengeksplor seluruh rongga mulut wanita itu.
Sekali lagi, seperti terkena hipnotis untuk yang kedua kalinya. Aulia pun kembali menuruti apa yang dikatakan oleh Fatih.
__ADS_1
Aulia pun langsung membuka sedikit mulutnya saat Fatih memintanya. Tanpa berani membuka matanya, Aulia pun melakukan perintah Fatih.
Lalu, keduanya pun kini terhanyut dalam permainan lidah yang semakin panas dan semakin menuntun akan hal yang lebih dari sekedar ciuman.
*
*
Berbeda dengan Aulia dan Fatih yang sedang menikmati kebersamaan mereka, meraih manisnya madu sebuah pernikahan.
Di kota lain dan di sebuah kamar dengan penerangan yang temaram. Tampak seorang pria sedang duduk bersimpuh di atas sajadah dengan sebuah tasbih di tangan nya.
"Mas,"
Seketika, perhatian dari pria itu teralihkan oleh suara lembut yang selama 8 bulan ini menemani hari harinya.
"Makan dulu yuk," ajak si wanita saat pria yang dia panggil menoleh kearahnya.
"Boleh, sebentar. Mas beresin sajadahnya dulu," jawab si pria yang langsung bangun dari duduknya lalu melipat sajadah yang tadi dia gunakan.
Wanita itu tampak menghela nafas panjang saat menyadari jika sudut mata suaminya itu kembali basah setelah beribadah.
Sudah 5 bulan berlalu, tapi Hanan masih tetap saja menangis dalam sujudnya. Meski sudah berusaha melupakan sosoknya, tapi tetap saja masih belum bisa Hanan lakukan sepenuhnya.
Akan tetap, hal itu sangat di pahami dan di mengerti oleh Sarah. Pasalnya, Sarah pun belum bisa sepenuhnya menghilangkan sosok Fatih dari dalam hidupnya.
Pasutri yang sudah meresmikan pernikahan mereka di KUA itu pun berjalan bersama menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Kegiatan yang rutin di lakukan oleh Sarah dan juga Hanan setelah mereka resmi menikah dan pindah ke rumah yang di beli oleh Hanan untuk memulai hidup baru dengan istri sah nya.
"Ini makanan nya Mas," ucap Sarah saat menyodorkan piring yang sudah berisi satu nasi serta lauknya untuk disantap oleh suaminya.
"Terima kasih," jawab Hanan sambil mengambil piring yang di sodorkan oleh Sarah padanya.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Sarah tersenyum senang saat Hanan melahap makanan yang dia masak dengan begitu lahapnya .
Meski hubungan nya dengan Hanan masih terasa hambar tapi Hanan selalu berhasil membuat Sarah nyaman dengan perlakuan dari pria itu.