Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.59


__ADS_3

"Maaf ya, tokonya mendadak ramai," sesal Aulia karena tidak bisa ikut saat Fatih datang menjemput ke toko kue nya, untuk di ajak pergi bersama ke rumah baca milik Umi Alifa.


Fatih mendapat tugas untuk melihat perkembangan proyek renovasi rumah baca yang didirikan oleh Umi Alifa dan di danai oleh perusahaan yang di pimpin olehnya


Rumah baca itu Umi Alifa bangun untuk menampung anak anak kurang beruntung yang tidak bisa bersekolah. Di sana, anak anak itu akan di bantu untuk belajar membaca dan berhitung.


Di sana juga di sediakan berbagai macam bacaan yang cukup lengkap. Mulai dari buku cerita, pelajaran, bahkan tentang agama pun tersedia di sana dan semua itu berkat bantuan dari Aliya yang kerap memberikan sumbangan buku buku bekas atau pun buku baru.


"Tidak apa apa, lain kali kan masih bisa ikut," jawab Fatih mencoba memahami kegiatan calon istri nya.


Apa? Calon istri ? Ya Allah, baru mengingat kata itu saja sudah membuat hati Fatih berbunga bunga, hingga membuat pria dingin itu tak henti mengembangkan senyum nya.


"Iya, sekali maaf ya aku nggak bisa ikut,"


"Nggak apa apa sayang, tapi janji ya nanti pulang bareng sama Mas. Pulang dari proyek Mas jemput,"


"Iya, boleh."


"Ya sudah kalau begitu, Mas pamit ya. Biar cepat selesai pekerjaan nya dan kita bisa pulang bareng,"


"Iya Mas, hati hati,"


"Iya sayang, Mas pergi ya. Assalamualaikum calon istri,"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, fii amanillah Mas,"


"Iya sayang, jazakallah khairan,"


Setelah berpamitan, Fatih pun segera pergi meninggalkan toko milik Aulia untuk pergi ke rumah baca milik Umi Alifa bersama dengan sang asisten setia nya, siapa lagi kalau bukan Seno Erlangga.


"Anda baik baik saja tuan?" tanya Seno saat Fatih terus saja senyum senyum sendiri sambil menatap layar ponsel yang sedang menunjukan sebuah foto di dalam nya.


Foto keluarga yang untuk pertama kalinya mereka ambil saat Aulia tengah dilanda musibah pada pernikahan nya dulu bersama dengan Hanan Hanafi, yang kini sudah berakhir.


Dimana di dalam foto itu Aulia dan Aliya tersenyum begitu manis dan cantik, hingga Fatih pun tidak bisa jika tidak melihat foto itu meski hanya satu hari saja.


"Sepertinya kamu sudah mau saya pecat ya No," jawab Fatih tanpa mengalihkan perhatian nya dari ponsel yang ada di tangan nya.

__ADS_1


"Bukan begitu tuan, hanya saja. Sejak tadi tuan itu terus saja tersenyum sendiri, kan bikin tubuh saya merinding," jawab Seno yang juga tidak mengalihkan perhatian nya pada jalanan yang sedang dia lewati.


"No,"


"Iya tuan?"


"Jatuh cinta, apa memang seindah ini ya?" tanya Fatih yang kembali menyunggingkan senyum di wajahnya.


"Untuk pertanyaan itu, mohon maaf tuan saya tidak bisa jawab karena saya belum pernah merasakannya," jawab Seno yang seketika membuat senyum di wajah Fatih menghilang, lalu berganti dengan raut wajah yang sebal dan juga kesal pada sang asisten.


"Makanya cari pasangan, jangan kerja mulu," cibir Fatih.


"Bagaimana mau cari pasangan, anda nya kerja lembur terus," jawab Seno yang sepenuhnya benar.


"Jawab aja kamu No, saya potong gajih kamu baru tahu rasa," lanjut Fatih yang akhirnya membuat Seno diam.


Setelah hampir satu jam dalam perjalanan, mobil Fatih pun akhirnya tiba di lokasi pembangunan rumah baca milik Umi Alifa.


Dengan gagah nya Fatih pun turun dari dalam mobil lalu bergegas mendekati bangunan yang masih dalam proses pembangunannya.


"Assalamualaikum, Umi sehat?" tanya Fatih setelah berada di dekat Umi Alifa yang sedang mengawasi jalannya proyek pembangunan.


"Berdua sama Seno Umi, tadinya Aulia juga mau ikut. Tapi kebetulan Aulia nya sibuk, tokonya mendadak ramai. Jadi saya berdua saja sama Seno." jawab Fatih.


"Oh begitu, alhamdulillah berkat bantuan dari keluarga Nak Fatih, anak anak jadi punya tempat yang nyaman untuk belajar. Terima kasih ya Nak, semoga kebaikan Nak Fatih dan keluarga akan tergantikan dengan yang jauh lebih dari ini," ucap Umi Alifa penuh dengan rasa haru.


"Ini semua adalah rezeki anak anak yang dititipkan oleh Allah pada kami Umi, jadi tidak perlu berterima kasih karena semua ini adalah rezeki anak anak," jawab Fatih.


Namun, seketika obrolan Fatih dan Umi Alifa terpotong dengan kehadiran seorang gadis yang baru saja datang ke tempat itu.


"Assalamualaikum, Pak Fatih. Apa kabar?" tanya seorang gadis dengan pakaian formal yang membalut tubuhnya itu, datang menyapa Fatih yang sedang berbincang dengan Umi Alifa.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Maaf siapa ya?" jawab Fatih balik bertanya pada gadis itu.


"Ini putri saya Nak Fatih, Maryam. Bukan kah dulu pernah saling bertemu ya?" sambung Umi Alifa saat Fatih tidak mengenali putrinya padahal mereka pernah bertemu.


"Benarkah? Maaf, saya tidak terlalu memperhatikan jadi saya lupa," jawab Fatih yang memang tidak mengingat pernah bertemu dengan Maryam.

__ADS_1


"Tidak apa apa, semoga setelah ini jadi ingat saya terus ya Pak," seloroh gadis itu hingga membuat dahi Fatih mengerut.


Karena tidak mengerti apa maksud dari ucapan Maryam. Namun, Fatih pun mengabaikan hal itu dan kembali fokus pada proyek bangunan itu.


"Oh iya, apa saya boleh bertanya Pak?" lanjut Maryam saat Fatih tidak merespon ucapan nya tadi.


"Silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan," jawab Fatih tanpa menoleh sedikit pun pada Maryam yang berdiri di samping nya.


"Eemm begini, apa di perusahaan Bapak menerima karyawati yang memakai hijab?"


"Iya, hampir 80% karyawati saya memakai hijab. Memang nya kenapa?"


"Kalau begitu, apa bisa saya melamar kerja di sana? Karena semua perusahaan yang saya datangi semuanya meminta saya membuka hijab dan saya tidak bisa,"


"Begitu kah? Kamu bawa saja surat lamaran nya ke kantor besok. Kamu bisa mencari orang yang bernama Seno, dia akan membantu kamu," jelas Fatih yang membuat binar bahagia si wajah Maryam.


"Benarkah? Saya bisa melamar kerja di sana?"


"Tentu," jawab Fatih lagi semakin membuat senyum di wajah Maryam mengembang sempurna.


Drrrtttt


Drrrtttt


Di saat tengah berbincang dengan Maryam, ponsel Fatih pun berbunyi hingga mengalihkan perhatian pria itu.


Fatih terlihat menyunggingkan senyumnya saat melihat siapa orang yang saat ini tengah menghubunginya dan hal itu tidak luput dari pandangan Maryam hingga membuat gadis itu semakin terpesona oleh pesona seorang Alfatih.


"Permisi, saya mau angkat telepon dulu," pamit Fatih pada Maryam yang akan menepi untuk menerima sambungan telepon itu.


"Iya Pak, silahkan," jawab Maryam yang tidak bisa melepaskan pandangan nya dari Fatih.


Fatih pun berjalan menjauh dari Maryam lalu menekan tombol hijau saat jaraknya dan Maryam sudah agak sedikit berjarak.


Klik


"Halo, assalamualaikum sayang, ada apa? Hhmm?"

__ADS_1


*****


__ADS_2