
🌸🌸🌸
~Happy Reading~
*
Kesibukan pun mulai terlihat di rumah keluarga Brahmaseto. Dimana Mama Dini dan Aulia tampak sibuk menyiapkan makanan untuk nanti malam. Sementara Papa Dimas, Fatih dan si kecil Aliya tengah sibuk membungkus barang barang yang tadi di beli menjadi sebuah bingkisan bingkisan cantik untuk diberikan ke para anak anak kurang mampu besok siang.
Saat sibuk dengan kegiatan masing masing, tiba tiba suara adzan berkumandang. Memanggil para umatnya untuk sejenak menjeda aktivitasnya untuk melaksanakan ibadah wajib tiga rakaatnya.
"Alhamdulillah, simpan dulu kerjaan nya Lia. Ayo, kita sholat jamaah dulu," ajak mama Dini yang di angguki oleh Aulia.
"Iya Ma," jawab Aulia sambil mencuci tangan nya yang memang dipenuhi oleh bumbu dapur.
Aulia pun mengikuti langkah mama Dini menuju ke salah satu sudut rumah itu yang rupanya ruangan itu adalah mushola mini yang ada di dalam rumah.
Setiba nya di mushola rumah, seketika Aulia dibuat terpaku dengan pemandangan yang ada di depan nya. Dimana seorang pria yang dulunya begitu arogan dan angkuh, kini tampak begitu kalem dengan setelan baju koko dan juga kain sarung yang saat ini tengah dia pakai.
Belum lagi sebuah peci hitam yang berada dibagian atas kepala pria itu, semakin membuat tampilan Fatih jauh berbeda dengan Fatih 10 tahun yang lalu.
"Ayo Nak, kita ambil air wudhu dulu di sini," tunjuk mama Dini membangunkan Aulia dari lamunan nya perihal penampilan Fatih.
"Iya Ma," jawab Aulia yang kembali mengikuti langkah mama Dini mengambil air wudhu lalu segera memakai mukena dan menempati shaf bagian belakang.
Aulia masih belum percaya dan tidak pernah menyangka Jika di balik sikap arogan dan juga angkuh seorang Alfatih, rupanya pria itu memiliki sisi religius juga. Bahkan keterkejutan Aulia semakin bertambah saat Fatih mulai memimpin sholat berjamaah untuk keluarganya.
Lantunan ayat suci Al Qur'an yang di bacakan oleh Fatih begitu terasa menyejukkan hati. Bahkan, untuk pertama kalinya, Aulia merasakan sebuah ketenangan saat mendengar ayat ayat suci itu dibacakan oleh seseorang.
Namun sialnya, itu harus Aulia rasakan saat orang yang menjadi pemimpin sholatnya itu adalah pria yang sampai saat ini masih Aulia benci dan belum sepenuhnya Aulia maafkan.
__ADS_1
Usai melaksanakan sholat berjamaah, keluarga itu pun langsung menuju ke ruang makan untuk melanjutkan rencana utama, yaitu makan malam.
Dengan menu yang sudah disiapkan oleh Mama Dini yang dibantu oleh Aulia. Keluarga itu pun makan malam dengan suasana yang begitu hangat.
Usai makan malam dan sholat isya berjamaah, Aulia pun segera pamit untuk pulang. Karena kurang pantas rasanya jika wanita yang telah bersuami menginap di rumah pria lain meski di dalam rumah itu ada kedua orang tuanya dan juga para pekerja.
Namun tetap saja, Aulia harus menghindari segala sesuatu yang bisa menimbulkan fitnah untuknya. Hingga, Aulia pun segera pamit undur diri setelah acara selesai.
"Biar aku antar," ucap Fatih saat Aulia berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Tidak usah, saya bisa pulang sendiri Mas," tolak Aulia yang masih enggan berinteraksi dengan Fatih.
Deg
Jantung Fatih terasa jatuh dari tempatnya saat Aulia tiba tiba merubah nama panggilan untuknya. Bahkan tubuh pria itu sampai membeku saat kata 'Mas' keluar dari mulut Aulia.
"Baiklah, maaf kalau merepotkan. Kalau Begitu Aulia pamit ya Ma, sayang Bunda pulang dulu ya, besok kita ketemu lagi. Assalamualaikum," jawab Aulia berlalu masuk kedalam mobil yang sudah ditunggu oleh Mang Karim.
"Iya Bunda, hati hati." Jawab Aliya.
"Iya Nak, hati hati. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Mama Dini dan Papa Dimas secara bersamaan.
Sementara Fatih sendiri masih terdiam terpaku dalam keterkejutan nya karena Aulia yang memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Bahkan pria itu tidak ikut menjawab salam dari Aulia saking masih kaget dan juga senang yang bercampur menjadi satu.
Bahkan sampai mobil yang membawa Aulia menghilang dari pandangannya pun, Fatih masih berdiri di tempatnya. Sampai suara sang putri nya lah yang mulai membangunkan Fatih dari lamunan nya.
"Ayo Yah masuk, kenapa masih diam di situ?" Seru Aliya yang meneriaki sang ayah yang masih terbengong bengong di depan teras rumahnya.
"Sayang tunggu," seru Fatih balik saat melihat Aliya hampir saja naik ke lantai atas untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya, kenapa Yah?" Tanya Aliya menghentikan langkah kakinya lalu berbalik pada sang ayah.
"Apa tadi Bunda panggil Ayah dengan sebutan Mas?" Tanya Fatih demi memastikan jika dia tidaklah salah mendengar.
"Iya, memangnya kenapa? Bukankah itu hal yang wajar?" Jawab Aliya yang benar benar membuat hati Fatih melayang ke nirwana yang indah.
"Tidak, Ayah hanya ingin memastikan saja. Sudah sana tidur, bukan nya besok mau mengunjungi rumah baca," jawab Fatih dengan wajah yang berseri full dengan senyuman, hingga membuat dahi si kecil Aliya mengkerut.
"Ya sudah kalau begitu, Aliya istirahat dulu ya. Malam Ayah,"
"Malam juga sayang, mimpi yang indah ya," jawab Fatih masih dengan full senyum di wajahnya.
*
*
Sementara Aulia sendiri, setibanya dirumah Aulia langsung membersihkan diri dan berganti pakaian dengan dress tidurnya.
Namun sebelum tidur, Aulia menyempatkan diri menghubungi suaminya untuk menanyakan kapan suaminya itu akan pulang dari luar kota.
Meski baru beberapa hari, rasanya sudah sangat rindu pada pria yang super sabar dan juga tulus itu. Hingga perlahan, hati Aulia pun mulai dipenuhi oleh nama nya.
Namun, setelah beberapa mencoba menghubungi nomor ponsel Hanan. Ternyata nomor ponsel pria itu tidak bisa dihubungi hingga membuat hati Aulia gelisah tak menentu karena suaminya tak kunjung bisa di hubungi.
Tidak kehilangan akalnya, Aulia pun segera menghubungi nomor ponsel sang aspri dari suaminya, yaitu Hasan. Namun menurut Hasan, Hanan sudah kembali ke kamarnya satu jam yang lalu setelah acara makan malam bersama rekan rekan bisnisnya sekaligus membahas perkembangan kasus yang menimpa perusahaan itu.
"Kamu kemana sih Mas? Kenapa ponselmu tidak biaa dihubungi? Tidak biasanya kamu seperti ini, membuat aku khawatir saja." gumam Aulia yang kembali gagal menghubungi suaminya.
Bahkan sampai subuh tiba, Auli masih belum bisa menghubungi Hanan karena ponsel pria itu masih belum bisa di hubungi. Hingga akhirnya, Aulia pun pasrah dan menunggu suaminya saja yang menghubunginya nanti. Mungkin Hanan masih tidur karena kelelahan setelah menyelesaikan masalah di kantor cabangnya.
__ADS_1