Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.73


__ADS_3

"Kami pamit dulu Ma, Pa. Tolong titip Aliya selama kami pergi," pamit Aulia sembari menitipkan putrinya pada kedua mertuanya.


Saat ini pasutri itu sudah berada di bandara untuk menjalankan ibadah Umroh mereka ke tanah suci, Mekah.


Dengan di antar oleh kedua orang tua Fatih dan juga si kecil Aliya tentu nya. Akhirnya, momen yang ditunggu tunggu oleh Fatih datang juga.


Dimana dirinya bisa berangkat ke tanah suci bersama dengan sang istri tercinta. Wanita yang sudah 12 tahun di cintai dan tidak pernah tergantikan dengan wanita mana pun meski Fatih pernah menikah dengan Sarah.


"Pergilah dengan tenang, lakukan ibadah kalian dengan khusyuk di sana. Aliya niar jadi urusan kami, kami akan menjaga dan merawatnya dengan baik," jawab Mama Dini sembari memeluk cucu pertama nya itu.


"Baiklah, terima kasih Ma, Pa. Kalau begitu kami masuk dulu ya. Aliya baik baik sama Oma dan Opa ya, sayang,"


"Iya Bunda, Ayah. Kalian pergilah, aku akan baik baik saja sama Oma dan Opa. Jangan lupa bawa oleh oleh calon adek buat Aliya,"


"Iya sayang, insya Allah. Semoga Allah segera memberikan titipan nya di sini," jawab Fatih sembari mengusap lembut perut Aulia yang masih rata.


Usai berpamitan, pasutri itu pun akhirnya masuk ke dalam untuk menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka ke tanah suci, Mekah.


Untuk menjalankan ibadah Umroh pertama mereka setelah resmi menjadi suami istri dan berharap semoga ibadah ini akan membawa keberkahan untuk keluarga baru yang baru saja akan mereka bangun.


Setelah Aulia dan Fatih masuk, Mama Dini dan Papa Dimas pun membawa pulang cucu tercinta nya itu untuk melanjutkan kegiatan sehari hari yang biasa mereka lakukan bersama di saat libur seperti saat ini.


*


*


Sementara di tempat lain.


Gita menatap nanar sosok pria yang sudah sejak setengah jam yang lalu berdiri di depan rumah kontrakannya.


Menunggu Gita selesai siap siap, untuk pulang ke kampung halaman nya demi memenuhi janji kepada kedua orang tuanya.


Sebenarnya, sudah sejak 30 menit yang lalu Gita selesai dan siap untuk pergi. Namun, saat Seno datang untuk mengantarkan nya sampai ke stasiun.


Gita tiba tiba merasa ragu untuk melanjutkan perjalanan nya pulang kampung. Namun, Gita juga tidak mungkin mengabaikan janjinya kepada kedua orang tuanya.


Dengan langkah yang berat, akhirnya Gita pun memutuskan untuk keluar dari rumah kontrakan nya dan menghampiri Seno yang sudah menunggu di samping mobilnya.


"Maaf, lama ya?" tanya Gita saat sudah ada di depan Seno.

__ADS_1


"Tidak kok, sudah siap?" jawab Seno segera menegakkan berdirinya dari yang tadinya berdiri dengan bersandar ke pintu mobil.


"Iya," jawab Gita lirih.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang,"


"Iya, maaf jadi merepotkan Mas,"


"Tidak apa apa, ini semua Mas yang mau kok,"


Seno pun segera membuka kan pintu mobil untuk Gita. Gadis berhijab itu pun masuk dengan perasaan yang bercampur aduk.


Hatinya jelas sudah terpaut pada pria yang saat ini duduk di depan kemudi disamping nya. Namun, Gita juga tidak bisa mengabaikan janji nya pada kedua orang tuanya.


Sepanjang perjalanan menuju ke stasiun, kedua insan itu tampak memilih diam. Tenggelam dalam pikiran masing masing. Gita dengan kegalauan hatinya.


Begitu pun dengan Seno, yang tengah bersiap siap patah hati seandainya saja Gita menerima perjodohan dari kedua orang tuanya.


"Hati hati di jalan ya, kalau sudah sampai kabari Mas biar Mas tidak khawatir lagi," ucap Seno setelah keduanya berada di depan pintu kereta yang siap membawa Gita pulang ke rumah kedua orang tuanya.


"Iya, Mas juga hati hati di jalan," jawab Gita sendu.


Hanya saja, Gita juga tidak bisa mengabaikan janji yang sudah terlanjut dia buat dengan kedua orang tuanya.


"Jangan menangis, aku belum bisa memelukmu," ucap Seno membelai lembut pucuk kepala Gita yang tertutup hijab.


Cairan bening itu akhirnya lolos juga dari mata indah Gita saat dia menyadari jika cinta sudah hadir untuk Seno tepat di saat mereka akan berpisah.


"Mas," lirih Gita di sela isak tangisnya.


"Iya, Mas tahu. Pulang lah, semoga Allah mempertemukan kita lagi dengan takdir yang berbeda," jawab Seno yang mencoba tegar di depan pujaan hatinya.


Gita pun hanya mampu menganggukkan kepalanya. Rasanya, terlalu sulit untuk mengeluarkan suaranya. Meski pun hanya sekedar untuk berkata 'iya'.


Tidak ingin semakin sakit dan terluka, Gita pun langsung berlari masuk kedalam kereta yang memang akan berangkat dalam beberapa menit lagi.


Lambaian tangan dari Seno menjadi penutup pertemuan mereka saat ini. Keduanya saling menatap dalam diam, memendam rasa sakit mereka masing masing kala jodoh tak berpihak pada mereka.


*

__ADS_1


*


3 Hari Kemudian.


"Kok cemberut gitu sih Nak? Nggak suka ya pergi sama Mama sama Papa? Padahal ini momen langka loh," ucap wanita baya yang begitu antusias melakukan perjalanan bersama putra bungsunya itu.


"Seno bukan nggak suka pergi dengan Mama dan Papa, tapi niat kita pergi yang tidak Seno sukai," jawab pemuda itu dengan nada ketus.


"Terserahlah, yang penting sekarang kan kamu ikut. Itu sudah cukup buat Mama," jawab sang mama yang mengabaikan muka muram putranya.


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di rumah sederhana milik kedua orang tua Gita. Tampak gadis cantik itu tengah berdiri didepan cermin dan menatap dirinya sendiri yang tengah berbalut kebaya brokat yang di padu padankan dengan kain batik sebagai bawahan nya.


Berulang kali Gita menghela nafas panjang saat mengingat jika hari ini, dia akan bertemu dengan calon suami pilihan dari kedua orang tuanya.


Tok


Tok


"Boleh Ibu masuk?" tanya Bu Mina yang tidak lain adalah ibunda dari Gita.


"Masuk Bu, ada apa?" tanya Gita mencoba bersikap biasa saja meski hatinya tidak baik baik saja.


"Apa kamu sudah siap? Calon suami dan keluarganya sudah ada di depan,"


Deg


Jantung Gita berdetak kencang saat mendengar jika calon suami pilihan dari kedua orang tuanya sudah ada di rumah nya.


Meski merasakan sesak di dada, Gita pun mencoba untuk tersenyum dan menganggukkan kepala nya sebagai jawaban dari pertanyaan dari Ibunya.


Ibu dan anak itu pun keluar bersama dengan saking bergandengan tangan. Gita meremas tangan Ibu Mina karena merasa gugup dan juga takut.


"Nih dia, calon mantuku dan calon istrimu No, gimana cantik kan anaknya?" ucap Mama Erina saat Gita dan Ibu Mina keluar menemui tamu istimewa mereka hari ini.


Set


Deg


Kedua insan yang baru di pertemukan itu sama sama tersentak kaget saat netra mereka bertemu satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2