
Fatih masih belum bisa melepaskan tatapannya dari wajah cantik yang saat ini terlelap di samping nya.
Pria itu mengembangkan senyumannya saat mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
Kejadian dimana seorang wanita bernama Aulia Rahma kini telah resmi menjadi miliknya yang seutuhnya untuk Fatih.
"Terima kasih," bisik Fatih sengaja mengecilkan suaranya agar tidak mengganggu tidur Aulia yang begitu lelap pasca pergulatan panas antara dirinya dan juga Fatih beberapa saat yang lalu.
Tidak lupa pria itu juga mendaratkan satu kecupan sayang di kening sang istri sebelum menyusul wanita cantik itu ke alam mimpi.
*
*
Keesokan pagi nya...
Aulia mulai mengerjapkan matanya saat sayup sayup suara adzan subuh berkumandang.
Aulia pun mulai menggerakkan tubuhnya untuk segera bangun dari tidurnya. Namun, sesuatu yang sedikit berat menindih tubuhnya di bagian perutnya.
Dengan mata yang masih mencoba membuka, tangan Aulia pun bergerak ke bagian perut untuk mengetahui apa yang sedang menindih tubuhnya saat ini.
Mata Aulia langsung terbuka lebar saat menyadari jika yang menindih perutnya saat ini adalah sebuah tangan kekar milik seseorang.
Aulia pun segera membalikan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang saat ini memeluknya dari arah belakang.
Deg
Aulia tersentak kaget saat membalikkan tubuhnya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan suaminya yang masih terlelap.
"Jadi, kejadian semalam bukanlah mimpi. Kami, kembali melakukan itu untuk yang kedua kalinya dalam keadaan sadar." gumam Aulia saat menatap wajah tampan seorang pria yang sudah menjadikannya milik pria itu seutuhnya.
"Sudah puas belum menatapnya?"
__ADS_1
Deg
Aulia tersentak kaget saat mendengar suara Bariton yang keluar dari mulut Fatih. Aula tidak menyangka jika Fatih akan menyadari kalau dirinya saat ini tengah menatap lekat wajah tampan dari suaminya itu.
"Mas sudah bangun?" tanya Aulia dengan suara terbata karena gugup dan juga malu.
"Mas sudah bangun dari tadi, hanya saja Mas biarkan istri mas tercinta Ini menatap lekat wajah Mas yang tampan ini," jawab Fatih sembari membuka matanya hingga membuat Aulia semakin malu.
"Kalau sudah bangun kenapa tidak membuka matamu Mas?" lanjut Aulia dengan wajah yang ditekuk.
Jujur Aulia merasa malu sekali karena kepergok sedang menatap wajah Fatih.
"Ini subuh pertama kita loh Sayang, apa harus ya diisi dengan perdebatan?" tanya Fatih pada Aulia karena melihat wajah istrinya yang di tekuk.
"Bukan begitu, Mas sendiri yang mulai." jawab Aulia dengan nada yang sedikit kesal.
"Ya sudah, kalau memang harus berdebat kita simpan dulu ya, sekarang lebih baik kita bersih-bersih lalu kita shalat jamaah bersama terlebih dahulu. Lalu setelah itu kita lanjutkan perdebatan nya, keburu habis waktu subuhnya kalau kita lanjut sekarang sayangku," jawab Fatih yang akhirnya membuat Aulia tersadar jika Adzan Subuh sudah berlalu beberapa menit yang lalu.
Akan tetapi, saat wanita itu bangkit tiba-tiba Aulia merasakan inti tubuhnya berdenyut nyeri hingga membuat wanita itu kembali duduk di bibir ranjang.
"Sakit ya?" tanya Fatih yang peka dengan apa yang terjadi pada istrinya.
Tidak ada jawaban dari mulut Aulia, tapi sebuah anggukan sudah menjawab semua pertanyaan dari Fatih.
Melihat istrinya tidak baik-baik saja Fatih pun segera bangkit dari tidurnya untuk membantu sang istri pergi ke kamar mandi.
"Mas," seru Aulia saat merasakan tubuhnya melayang di udara karena Fatih tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membawa tubuh Aulia ke dalam kamar mandi dalam gendongannya.
"Bukannya tadi kamu mengeluh sakit, jadi untuk mempercepat waktu sebaiknya Mas gendong kamu dan kita mandi bersama," jawab Fatih yang terus melangkah memasuki kamar mandi.
"Tapi__,"
"Keburu waktu subuhnya habis Sayang," jawab Fatih lagi saat Aulia mencoba memprotes apa yang di lakukan olehnya.
__ADS_1
Merasa apa yang dikatakan Fatih ada benarnya Aulia pun akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh Fatih.
Keduanya pun kini melakukan ritual mandi bersama untuk pertama kalinya. Masih ada rasa malu dan juga canggung dalam diri Aulia saat harus berhadapan dengan Fatih dalam keadaan polos. Namun, sepertinya itu tidak berlaku pada diri Fatih.
Nyatanya, pria itu terlihat begitu santai berdiri di depan Aulia meski tubuhnya tak terhalang oleh sehelai benang pun usai membersihkan diri keduanya pun keluar dari kamar mandi secara bersamaan untuk melakukan ibadah subuh pertama mereka setelah resmi menjadi suami istri.
Usai melaksanakan dua rakaat wajibnya, Fatih tidak langsung bangkit dari duduknya. Terlebih dahulu Fatih menggumamkan doa-doa kebaikan untuk pernikahannya dan juga untuk keluarganya dan doa itu di aamiin kan oleh istrinya, Aulia.
Fatih bahkan sampai menitikkan air mata karena Allah kini telah mengabulkan doa doanya yang selama 10 tahun ini tidak henti hentinya Fatih langit kan.
Setelah selesai menggumamkan doanya, Fatih pun segera membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah istrinya yang berada di belakang nya.
Setelah keduanya duduk dengan saling berhadapan, Aulia pun segera meraih tangan suaminya untuk di salami dengan takzim.
"Sini, duduk di sini," ucap Fatih menepuk nepuk paha nya yang terbungkus oleh kain sarung, setelah Aulia mencium punggung tangan nya lalu dibalas kecupan sayang di kening Aulia.
Meminta sang istri untuk duduk di pangkuan nya. Namun, Aulia bergeming tidak langsung menuruti permintaan dari Fatih karena jujur Aulia merasa begitu kaget saat Fatih memintanya duduk di atas pahanya.
"Tapi__,"
"Ya ampun, lama." lanjut Fatih yang langsung menarik tangan Aulia hingga mau tidak mau wanita itu pun beranjak lalu duduk di atas pangkuan Fatih.
"Mas," lirih Aulia saat Fatih membelitkan tangan kekarnya di tubuh Aulia.
"Kenapa? Kita bebas melakukan apapun yang kita mau," jawab Fatih dengan santainya memeluk tubuh mungil Aulia yang berada di atas pangkuannya.
"Bukan begitu, tapi tubuhku berat," sangkal Aulia.
"Nggak kok, kamu ringan banget malah." jawab Fatih semakin memeluk erat tubuh Aulia.
"Tapi__,"
"Diam lah, menurut bisa kan? Mas ingin melakukan apa yang selama ini Mas impikan bersama denganmu sayang dan salah satunya adalah ini," potong Fatih saat Aulia ingin kembali memprotes apa yang di lakukannya terhadap Aulia.
__ADS_1