
🌸🌸🌸
~Happy Reading~
*
Hanan masih terdiam membeku setelah mendengar permintaan yang di sampaikan oleh Aulia. Begitu pun dengan Abi Hamid, Umi Fatimah dan juga Sarah.
Mereka tidak akan menyangka jika Aulia akan langsung meminta hal itu secepat ini meski kedua paruh baya itu sudah menduga jika Aulia akan meminta hal itu pada putra mereka.
"Tapi sayang, ke_kenapa kita harus berpisah? Mas, tidak akan sanggup." lirih Hanan dengan suara yang semakin berat dan lirih.
"Mas tahu betul kan bagaimana perjalanan hidupku dan Aliya yang begitu berat karena keadaan ku yang hamil tanpa suami? Mas bahkan jadi saksi bisu, bagaimana sulitnya Aliya mendapatkan pengakuan meski itu hanya tertulis di selembar kertas. Apa Mas tega, hal yang Aliya alami di alami juga oleh anak kandung Mas? Padahal saat ini, Mas selaku Ayah kandung nya ada di sini. Lihat Mas, lihat Sarah, pandangi wajah Sarah, tatap mata dia dalam dalam. Apakah Mas tega membiarkan wanita yang akan melahirkan keturunan Mas memiliki status yang tidak jelas? Apa Mas tega anak kandung Mas tidak memiliki pengakuan secara sah? Tidak kan Mas? Nikahi Sarah dengan layak Mas, perlakukan dia dengan baik karena dia akan berjuang mempertaruhkan nyawa dan seluruh sisa hidupnya untuk menjaga dan merawat anak yang Mas titipkan di rahim nya," jelas Aulia yang membuat semua orang yang ada di sana.
"Tapi, kenapa kita harus berpisah? Tidak bisakah kita hidup bersama sama?" lirih Hanan kembali menyusupkan wajahnya di pangkuan Aulia, hingga membuat gamis yang Aulia pakai basah oleh air matanya.
"Karena aku tidak bisa dan tidak sanggup berbagi suami dengan wanita lain Mas," jawab Aulia sembari mengusap lembut rambut suaminya.
"Bersikap adil itu sulit dan juga berat Mas, meski Mas berusaha untuk bersikap adil pada kami. Tapi aku yakin, kelak pasti akan ada hati yang tersakiti, hati yang merasa kecewa dan terluka hanya karena suaminya sedikit kurang adil. Karena sejatinya, rasa ikhlas berbagi suami itu adalah hal yang terberat yang harus kami, para kaum istri untuk meraihnya. Jangan menjadi suami yang zalim hanya karena Mas belum bisa sepenuhnya adil pada kami, istri istrimu. Ikhlaskan semua yang terjadi pada kita, aku yakin. Akan ada kisah indah yang kelak akan sama sama kita raih meski bukan aku atau Mas yang akan membersamai perjalanan kita selanjutnya," jelas Aulia yang semakin membuat Hanan menangis tergugu di pangkuannya.
__ADS_1
Sementara Sarah sendiri hanya bisa diam dengan derai air mata membasahi wajah cantiknya. Sarah begitu menyesalkan apa yang sudah terjadi pada dirinya dan juga Hanan.
Namun Sarah juga tidak bisa mencegah apa yang terjadi. Semua di luar kendalinya sebagai manusia biasa yang tidak pernah menyangka jika orang terdekatnya tega melakukan hal seburuk itu hanya demi sebuah jabatan dan kekuasaan.
Sarah benar benar menyesali jalan takdirnya yang harus kembali terjerat dengan seorang pria yang mencintai wanita lain. Bahkan parahnya lagi, kini Sarah berurusan dengan Hanan, pria yang sudah memiliki seorang istri.
*
*
Dengan tangan yang bergetar, Sarah Mencoba Meraih tangan Aulia yang saat ini tengah duduk di samping nya. Setelah Hanan sedikit tenang, Aulia pun meminta waktu untuk bicara dengan Sarah.
"Ma_maafkan Sarah Mbak. Sarah sudah membuat rumah tangga Mbak dan Mas Hanan hancur padahal kalian baru saja menikah. Sarah benar benar minta maaf Mbak," ucap Sarah cukup lirih dengan suara yang serak karena terus menangis dengan waktu yang cukup lama.
"Jangan merasa bersalah, ini semua sudah jalan takdir kita seperti ini. Mbak yakin, kamu tidak punya niat merusak hubungan kami. Semua ini terjadi karena sudah jalan takdir kita. Titip Mas Hanan ya, dia adalah pria yang sangat baik. Tolong, setelah ini buat dia bahagia dan tersenyum kembali. Mulai saat ini, aku percayakan Mas Hanan padamu. Berbahagialah, berikan keluarga yang utuh pada calon anak kalian. Aku merestui pernikahan kalian Sarah," jawab Aulia dengan sekuat tenaga menahan sesak di dada manakala harus melepaskan pria yang sudah ada di dalam hatinya.
"Sekali lagi, terima kasih dan Maaf. Maafkan saya," lanjut Sarah yang kembali menangis di pelukan Aulia.
Kedua wanita yang di nikahi oleh satu pria itu pun akhirnya menangis bersama di bawah pandangan Hanan. Pria yang begitu mencintai istrinya itu, akhirnya harus rela melepaskan wanita yang selama ini dia perjuangkan demi pertanggung jawaban yang harus dia berikan pada calon anaknya yang kini tumbuh di rahim Sarah.
__ADS_1
Meski Hanan ingin sekali mempertahankan Aulia, namun saat kata sakit dan kecewa terlontar dari mulut wanita halal nya itu. Hanan pun tidak bisa egois dengan mempertahankan keduanya. Hanan harus memilih, dan mau tidak mau, rela tidak tela pilihan Hanan harus jatuh pada Sarah.
Karena kini, Sarah lah yang jauh lebih membutuhkan sosoknya. Karena kini, wanita itu tengah mengandung janin yang dia titipkan di rahim wanita itu.
*
*
Setelah semua jelas dan keputusan pun sudah di ambil. Aulia pun ijin pamit untuk beristirahat di kamarnya. Sementara Sarah dan Hanan masih ada di dalam kamar kedua orang tua Hanan.
Awalnya Hanan ingin ikut bersama dengan Aulia. Masih banyak hal yang ingin dia sampaikan pada wanita yang masih halal untuknya itu.
Namun Abi Hamid melarang itu, Abi Hamid membiarkan Aulia untuk menenangkan dirinya. Karena Abi Hamid tahu, ini adalah keputusan berat yang harus Aulia ambil. Mengingat, ada janin yang membutuhkan sosok orang tua yang sudah menghadirkan nya ke dunia.
"Nak Sarah pulang lah dulu. Sampaikan pada kedua orang tua Nak Sarah, besok Abi sama Umi akan bersilahturahmi ke rumah untuk membahas pernikahan kalian," ucap Abi Hamid setelah cukup tenang dan bisa mereda emosi nya.
"Baik Pak Ustadz," jawab Sarah lirih.
"Kenapa panggil Pak Ustadz Nak? Panggil Abi sama Umi saja. Kita keluarga sekarang, kamu menantu Umi dan Abi," sambung Umi Fatimah Mengusap lembut bahu Sarah.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan yang lembut dari Umi Fatimah, membuat Sarah akhirnya membernikan diri untuk memeluk tubuh wanita baya itu.
"Maaf Umi, belum terbiasa. Dan terima kasih, Sarah tidak tahu harus dengan cara apa mengungkapkan kata maaf ini. Sarah benar benar tidak pernah berniat membuat pernikahan Mas Hanan dan Mbak Aulia hancur, maafkan Sarah," ucap Sarah kembali menangis tersedu di pelukan Umi Fatimah.