Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.55


__ADS_3

"Jangan melamun, nanti ke sambet loh,"


Suara bariton yang menyapa indra pendengar Aulia membangunkan wanita itu dari lamunan nya. Aulia pun segera menoleh ke arah sumber suara, dimana ada seorang pria yang akhir akhir ini terus saja ada di dekatnya.


"Kenapa di sini? Ya lain semua berkumpul di dalam sama anak anak," lanjut Fatih menjatuhkan bokong nya tepat di samping Aulia dengan jarak aman.


"Ini, adalah tempat yang paling nyaman buat aku selama aku tinggal di sini, dulu. Di sana, dulu ada sebuah sungai dengan air yang jernih. Setiap menatap aliran air sungai itu, perasaan aku bisa jauh lebih tenang. Namun, sayang sekarang sungai nya sudah tidak ada berganti dengan bangunan besar itu," jawab Aulia menatap lurus ke depan, kesebuah bangunan besar yang ada di depan nya.


Fatih pun ikut menatap bangunan itu, sebuah bangunan yang didirikan untuk para pelancong yang akan menginap di kota itu. Sebuah hotel yang di bangun 5 tahun yang lalu itu telah mengubur tempat Aulia menghabiskan waktu di sana saat masa remaja nya.


"Lalu, untuk apa kamu mencari ku?" tanya Aulia tiba tiba hingga membuat Fatih Menoleh ke arah Aulia.


"10 tahun yang lalu. Kenapa kamu datang kemari dan mencari ku?" lanjut Aulia saat Fatih tak juga menjawab dan malah terlihat kebingungan.


"Oh itu," jawab Fatih singkat.


Fatih pun menyandarkan punggungnya di tembok yang ada di belakang nya sebelum melanjutkan jawaban nya. Lalu, terdengar helaan nafas yang panjang dan berat dari mulut pria itu.


"Banyak perasaan yang aku rasakan setelah malam itu dan yang paling menyiksa adalah rasa bersalah yang bahkan sampai detik ini masih belum menghilang dari dalam hati ini. Tatapan mata penuh kekecewaan dan kehancuran yang terpancar dari sorot matamu terus saja menjadi mimpi buruk yang setiap malam mendatangiku, seolah tak mengijinkan aku untuk beristirahat meski itu hanya satu malam saja dan rasa itu semakin kuat dan semakin menghimpit saat satu nyawa hadir dari perbuatan bejat itu dan aku dengan begitu pengecutnya tidak mengakuinya. Sampai, satu hari aku nekad untuk mencari mu ke sini untuk memintamu ikut denganku yang akan di kirim oleh Papa ke London untuk lanjut kuliah di sana. Aku sudah memutuskan jika aku akan mengakui semua perbuatan itu dan meminta Papa menikahkan kita. Akan tetapi, jawaban yang aku dapat dari Bunda Ane membuat jiwa ku semakin terguncang dan berakhir depresi. Selama tinggal di London, aku terus membayangkan bagaimana tubuh yang begitu mungil yang tak berdosa itu kamu buang begitu saja, membuat aku semakin tersiksa. Hingga akhirnya, pikiran ku pun di buat buntu dan memilih untuk mengakhiri hidup. Akan tetapi, lagi dan lagi Tuhan sepertinya belum puas memberikan aku hukuman atas perbuatanku hingga aku pun kembali selamat dan kembali menjalani hidup yang penuh dengan siksaan itu. Namun, aku sangat bersyukur karena dengan merasakan semua siksaan itu membuat aku menyadari jika pentingnya menjaga tingkah laku kita agar tidak menyakiti orang lain. Maaf ya, aku benar benar minta maaf," jelas Fatih panjang kali lebar dengan nada bicara yang bergetar dan juga mata yang berkaca kaca saat mengenang kembali peristiwa 10 tahun yang lalu, antara dirinya dan juga Aulia.

__ADS_1


"Semua sudah berlalu Mas, Mas juga kini sudah berusaha menebus kesalahan itu dengan selalu ada untuk kami dan memberikan yang terbaik untuk kami, terutama untuk Aliya. Terima kasih, terima kasih karena sudah mau mengakui Aliya dan menjadi sosok Ayah yang di rindukan oleh Aliya selama 10 tahun ini." jawab Aulia yang kini sudah sepenuhnya memanfaatkan semua kesalahan Fatih di masa lalu.


Toh menyimpan kemarahan dan juga dendam terus menerus tidak akan membuat hati kita merasa tenang dan damai. Jadi, alangkah baik jika kita mulai mencoba memaafkan dan berdamai dengan masa lalu dan luka di masa lalu itu.


“Itu belum seberapa, masih banyak yang harus aku lakukan untuk bisa menebus semua kesalahanku, dulu. Termasuk membahagiakan kamu dan juga Aliya,” jawab Fatih terdengar begitu ambigu di telinga Aulia.


“Maksudnya?” tanya Aulia bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Fatih barusan.


“Lupakan, nanti saja aku jelaskan setelah waktunya tiba,” jawab Fatih semakin membuat Aulia kebingungan.


“Ayo, kita sudah ditunggu di dalam untuk makan siang,” lanjut Fatih yang langsung bangun dari duduknya dan berjalan lebih dulu, masuk kembali kedalam panti.


Hingga seruan yang berasal dari suara sang putri yang memanggil namanya kembali membangunkan Aulia dari lamunan nya.


“Bunda, ayo sini kita makan siang dulu,” seru Aliya dari ambang pintu.


“Iya Nak, Bunda kesana,” jawab Aulia yang langsung bangun dari duduknya untuk menghampiri putrinya.


Ketiga nya pun menghabiskan hari itu di panti hampir seharian. Setelah hari menjelang malam, keluarga Fatih pun akhirnya pamit untuk kembali ke kota karena memang masih banyak pekerjaan yang harus di lakukan di sana.

__ADS_1


"Sering sering lah datang kemari, Bunda sangat merindukan kebersamaan kita Aulia," ucap Bunda Aneh saat Aulia pamit pulang.


"Iya Bunda, nanti kalau ada waktu luang lagi. Aulia dan Aliya akan datang lagi untuk menjenguk anak anak di sini. Kalau begitu Aulia pamit ya Bun," jawab Aulia sembari memeluk erat tubuh wanita baya yang sudah banyak berjasa dalam membesarkan nya.


Kedua nya pun kembali harus berpisah karena Aulia yang di haruskan kembali ke ibu kota dan sebuah lambaian tangan pun menjadi penutup perjumpaan keduanya di hari itu.


*


*


5 Bulan kemudian.


"Mbak, hari ini jadi ikut kajian di pondok Al Ikhlas?" tanya Gita saat melihat Aulia sudah siap dengan pakaian muslimnya serta tas selempang yang sudah bertengger di bahu nya.


"Iya, kebetulan Umi Amina ingin bertemu dengan ku dan katanya, ada yang ingin beliau bicarakan," jawab Aulia sembari bersiap untuk pergi ke tempat yang 5 hampir 5 bulan ini Aulia rutin datangi untuk mengikuti kajian.


Pasca perceraian nya dengan Hanan, Aulia kerap merasa sedih dan kecewa akan takdir hidupnya dan hal itu membuat Aulia pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti kajian yang direkomendasikan oleh salah satu guru di sekolah nya Aliya yang bernama Ustadzah Aisyah.


Hingga Aulia pun di pertemukan dengan Umi Amina yang kini menjadi guru ngaji sekaligus menjadi penasehat untuk hidup Aulia. Kini, 5 bulan sudah hubungan antara Aulia dan Umi Amina terjalin dengan begitu baik nya. Karena setelah bertemu dengan Umi Amina, Aulia pun mulai merasakan sebuah ketenangan dalam hidupnya.

__ADS_1


***


__ADS_2