
🌸🌸🌸
~Happy Reading~
*
"Kalian berdua duduklah," titah Abi Hamid pada Hanan dan juga Sarah begitu ke limanya masuk ke dalam kamar.
Sarah tampak menurut, lalu duduk di sofa lain yang bersebrangan dengan Umi Fatimah dan jiga Abi Hamid. Namun tidak dengan Hanan, pria itu malah berjalan menghampiri istri nya yang duduk di sofa tepat di samping Umi Fatimah.
Hanan menjatuhkan dirinya, duduk bersimpuh di depan Aulia yang menatap nanar ke arahnya. Tak tahan melihat wajah sedih dan terlukanya Aulia, Hanan pun langsung menjatuhkan kepalanya di pangkuan Aulia.
Menyusupkan wajah tampannya di perut rata sang istri, sementara tangan nya memeluk erat pinggang Aulia. Tangis pria itu pecah manakala merasakan jari jari lentik Aulia menyusup ke sela sela rambutnya yang saat ini terlihat sudah memanjang dan tak terurus.
Menyisir pelan rambut panjang itu, lalu mengusap lembut pucuk kepala pria itu hingga membuat Hanan semakin menangis pilu. Meratapi takdir yang seolah olah tak berpihak padanya.
Lima tahun Hanan menunggu wanita yang di cintainya itu membuka hati untuknya. Namun setelah bersama dan terikat dengan ikatan suci pernikahan, justru Hanan lah yang mengkhianati cintanya dan Mengkhianati pernikahan suci nya.
Sementara Sarah sendiri hanya bisa menunduk, menangis dalam diam. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Seandainya saja tidak ada janin di rahimnya.
Mungkin Sarah akan merelakan apa yang terjadi dan membiarkan Hanan kembali pada istrinya. Tapi kini, diantara Hanan dan dirinya terikat oleh satu nyawa baru. Yang tumbuh di dalam rahim nya.
Sarah berada di ambang kebimbangan sekarang, ingin melepasakan pria itu namun bagaimana dengan janin yang kini ada di dalam rahimnya.
__ADS_1
“Sekarang, bisa ceritakan semuanya pada kami? apa yang sebenarnya terjadi? ke_kenapa Mas bisa ada di rumah sakit dengan Mbak Sarah dan kenapa ada nama Mas di buku itu?” tanya Aulia dengan suara yang berat dan juga sedikit bergetar setelah menunggu Hanan menyelesaikan tangis nya, lalu menunjuk buku berwarna pink yang tersimpan di atas meja.
Tanpa merubah posisi nya, Hanan pun mulai menghentikan tangis nya. Lalu menghela nafas cukup panjang dan berat sebelum akhirnya menceritakan apa yang terjadi satu bulan yang lau antara dirinya dan juga Sarah hingga membuat Sarah akhirnya hamil anaknya.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Umi Fatimah dan juga Abi Hamid secara bersamaan setelah Hanan menyelesaikan ceritanya.
Sementara Aulia sendiri masih diam terpaku membisu, benar benar dibuat shock oleh pengakuan dari suaminya perihal Sarah dan buku berwarna pink itu.
“Jadi, kalian sudah menikah secara agama?” tanya Abi Hamid di tengah keterkejutan nya mendapati fakta jika putranya telah melakukan kesalahan dan kini berstatuskan suami dari dua orang istri.
“I_Iya Abi, semua ini Hanan lakukan hanya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah Hanan lakukan pada Sarah. Apalagi, saat itu Sarah masih dalam keadaan perawan dan Hanan lah yang sudah merenggut kehormatan nya. Hanan tahu Hanan salah, dan Hanan mohon maaf semua ini terjadi di bawah kendali Hanan yang hanya sekedar manusia biasa yang tidak bisa mencegah akan hadirnya musibah yang akan menimpa Hanan,” lirih Hanan dengan suara yang serak.
“Tapi, kenapa tidak memberi tahu kan kami masalah ini? kenapa begitu gegabah dengan mengambil keputusan seorang diri? kamu sudah memiliki pasangan yang wajib kamu mintai pendapatnya dan persetujuan nya jika ingin menikahi wanita lain,” lanjut Abi Hamid.
“Hanan tahu, tapi saat itu Hanan tidak mau menyakiti perasaan Aulia. lagi pula, kami sudah sepakat jika pernikahan ini terjalin hanya sampai Sarah dipastikan hamil atau tidak. Jika Sarah ternyata tidak hamil maka____,”
Plaaakkkk
Belum juga Hanan menyelesaikan ucapan nya, Abi Hamid sudah menarik tubuhnya lalu mendaratkan satu tamparan di wajah tampan nya hingga membuat tiga wanita yang ada di sana tersentak kaget.
“Maka kamu akan lepas tanggung jawab pada wanita yang sudah jelas jelas kamu rusak dan kamu nodai? Begitu, hah?” bentak Abi Hamid yang tidak bisa lagi menahan amarah nya, pada Hanan yang tampak diam terpaku dengan pipi yang merah dan memanas.
“A_Abi,” lirih Umi Fatimah yang shock saat melihat suaminya melayangkan tamparan di wajah putra semata wayang nya.
__ADS_1
“Diam Umi, biar Abi beri pelajaran pada putra kita yang berniat mempermainkan pernikahan dan juga salah mengartikan rasa tanggung jawabnya. Hanan, Abi tahu jika perbuatan yang kalian lakukan itu di bawah kendali kalian sebagai manusia biasa yang memang tidak bisa mencegah sebuah musibah yang akan datang. Tapi setidaknya, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Yaitu, bertanggung jawab dengan cara yang benar Hanan. Bukan seperti yang akan kamu lakukan, seharusnya sejak awal kejadian kamu hubungi kami dan bicarakan semua ini dengan kami agar kita bisa mencari solusi sama sama. Tidak seperti ini Nak,”
“Hanan tahu Hanan salah Abi, hanya saja. Waktu itu Hanan benar benar bingung dan tidak sanggup jika harus melihat Aulia kecewa dan terluka karena semua ini,” jawab Hanan masih dengan suaranya yang lirih.
"Lantas, apa sekarang Aulia tidak kecewa? Tidak terluka? Setelah mendapati suaminya tengah bersama wanita yang hamil anak dari suaminya. Demi Allah Hanan, Abi kecewa padamu."
"Maafkan Hanan Abi, Umi. Hanan benar benar minta maaf. Dan sayang, sayang Mas mohon maafkan Mas," lanjut Hanan lagi, yang kini kembali bersimpuh di depan istrinya.
Menggenggam kedua tangan mungil istrinya yang terasa dingin dan juga basah karena keringat dingin yang keluar dari kedua telapak tangan nya.
Melihat suaminya yang kembali bersimpuh didepannya, dengan derai air mata yang membasahi wajah tampan itu. Aulia pun mulai menegakkan tubuh nya.
Lalu melirik ke arah Sarah yang sejak awal masuk kesana tidak sedikit pun mengangkat kepalanya. Wanita itu terus saja menunduk dengan tangan yang terlihat sibuk menyeka air mata yang tak kunjung bisa di hentikan.
Aulia tampak menghela nafas panjang dan berat sebelum mengeluarkan suaranya yang terasa begitu tercekat di tenggorokan. Rasanya sulit sekali mengeluarkan suara itu.
Namun, mau tidak mau Aulia harus bersuara. Mengeluarkan pendapatnya demi menyelesaikan masalah antara suaminya dan juga Sarah.
Aulia pun mengulurkan kedua tangan nya. Meraup wajah tampan suaminya agar mereka bisa saling bertatap muka karena sejak awal mereka di sana. Hanan terus saja menundukkan kepalanya.
"A_aku tahu, kalau Mas adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku juga yakin kalau Mas mengambil keputusan ini Bukan semata hanya demi keuntungan dan kebaikan Mas aja. Dan apa yang sudah Mas lakukan memang benar adanya, Mas memang harus melakukan itu semua Dan sekarang Aku minta satu hal pada Mas,"
"Apa itu sayang? Katakanlah,"
__ADS_1
"Tolong, tolong Mas jatuhkan talak padaku,"
Deg....