
🌸🌸🌸
~Happy Reading~
*
Sementara itu, di sebuah kamar hotel. Tampak seorang pria baru saja mengerjapkan matanya saat sinar matahari menyapa wajah tampan nya.
“Eeemm, jam berapa ini?” gumam nya yang merasa jika hari sudah lah siang.
Dan itu terbukti dengan hangatnya sinar mentari pagi yang kini sudah mulai memanas kala menyapa kulit tubuhnya karena kondisi jendela di kamar itu memanglah terbuka.
Sret
Greeppp
Deg
Si pria terlonjak kaget saat tubuhnya merasakan dipeluk oleh seseorang dari arah belakang. Bahkan orang itu tampak menyusupkan wajahnya di punggung tegap pria itu setelah berhasil memeluknya dari arah belakang.
Bahkan si pria pun bisa merasakan kulit tubuhnya yang bersentuhan dengan kulit tubuh orang yang saat ini tengah memeluknya dari arah belakang itu.
Tidak ingin menduga duga, akhirnya si pria pun membalikkan tubuhnya demi melihat siapa orang yang memeluknya saat ini dengan begitu mesranya.
"Astaghfirullah, lSa_Sarah?" Seru nya tak percaya, jika orang yang memeluknya saat ini adalah Sarah.
Wanita yang merupakan seorang kenalan untuknya dan juga yang merupakan salah satu rekan bisnisnya di perusahaan cabang.
"Kenapa sih Mas Fatih, kok berisik pagi pagi," jawab Sarah yang mulai membuka matanya meski masih terasa begitu berat.
Dan alangkah terkejutnya Sarah, saat melihat jika pria yang bersama nya bukanlah Fatih melainkan Hanan. Pria yang semalam ikut jamuan makan malam yang diadakan di sebuah hotel dimana Hanan dan Hasan menginap selama mereka berada di kota itu.
__ADS_1
"Ma_Mas, Ha_Hanan? Kenapa Mas Hanan ada di kamarku?" Tanya Sarah sembari bangkit dari tidurnya dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Kedua insan berbeda jenis kelamin itu pun begitu terlihat panik saat menyadari keadaan mereka yang dalam keadaan tak lazim.
"Ini kamarku Sarah, dan seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu ada di kamarku dan apa yang sudah kita____," Hanan tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya.
Suaranya terasa tercekat di tenggorokan saat menyadari jika dirinya dan juga Sarah tengah dalam keadaan sama-sama polos tanpa memakai kain sehelai benang pun.
"Aku, aku tidak tahu, kenapa bisa? kenapa kita bisa di sini dan Kenapa kita begini?" jawab Sarah yang mulai menangis karena panik dan juga takut pastinya.
Baik Hanan maupun Sarah sama sama mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua saat ini. Seingat Sarah, Sarah dan juga Hanan sudah berpisah di lobby hotel untuk sama-sama kembali ke tempat istirahat mereka masing-masing setelah menghadiri acara jamuan makan yang diadakan oleh salah satu rekan bisnisnya.
Namun saat berada di dalam perjalanan menuju ke mobilnya, Sarah akui memang kepalanya tiba tiba berdenyut dan terasa begitu pusing. Setelah itu, entah apa yang terjadi karena Sarah benar-benar tidak mengingatnya. Hingga akhirnya Sarah berakhir di kamar hotel milik Hanan dengan keadaan yang tak wajar.
"Sial, aku benar benar tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada kita," lanjut Hanan yang kini sudah duduk kembali di bibir ranjang setelah memakai celana pendek serta kaos yang tergeletak dilantai tepat di samping ranjang nya.
"Apa yang harus kita lakukan Mas? Ini salah, ini dosa besar," gumam Sarah di sela isak tangisnya.
"Bersihkan lah dirimu dulu. Setelah itu, kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin," jawab Hanan yang juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Aww, ssttt," rintih Sarah kembali duduk di bibir ranjang.
"Ka_kamu kenapa?" Tanya Hanan kaget saat melihat Sarah merintih kesakitan.
"Bi_bisa bantu ke kamar mandi? A_aku kesulitan untuk berjalan, i_ini sangat sakit." lirih Sarah membuat dahi Hanan menyatu.
Namun pria itu urungkan niat nya untuk bertanya. Ini bukan saatnya menanyakan hak yang bersifat pribadi pada wanita itu.
Yang harus Hanan pikirkan saat ini adalah, apa yang harus mereka lakukan setelah apa yang terjadi pada mereka.
Hanan pun segera membantu Sarah ke kamar mandi dengan menggendong wanita itu. Hanan mendudukkan Srah di kloset yang ada di kamar mandi.
__ADS_1
Lalu setelahnya kembali keluar tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Namun, seketika langkah Hanan terhenti tepat di depan ranjang.
Tubuh Hanan dibuat membeku dan matanya yang membulat sempurna, saat melihat noda merah yang terlukis indah di kain sprei yang berwarna putih yang membungkus kasur yang baru saja Hanan dan Sarah gunakan untuk tidur.
"Tidak mungkin, dia sudah pernah menikah. Mana mungkin dia masih___," Hanan kembali tidak bisa melanjutkan ucapannya saat menyadari jika dia sudah melakukan kesalahan besar pada dua wanita sekaligus.
"Sial, kenapa ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi pasaku semalam?" Gumam nya menjambak rambutnya sendiri karena merasa frustasi.
*
*
Sementara itu, sudah sejak semalam Aulia dibuat cemas karena masih belum bisa menghubungi suaminya. Aulia semakin dibuat cemas saat Hasan mengatakan jika Hanan masih belum tiba di kantor padahal jam sudah menunjukan pukul 11 siang.
Tadi pagi Hasan memang masuk kantor lebih dulu. Selain tidak ada jawaban saat membangunkan sang atasan. Banyaknya pekerjaan juga menjadi alasan Hasan pergi lebih dulu ke kantor dan meninggalkan Hanan yang masih di hotel.
"Kenapa perasaanku tidak tenang begini? Apa yang sebenarnya terjadi padamu Mas?" Gumam Aulia di dalam hatinya.
"Apa ada masalah? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah?" Tanya Fatih membangunkan Aulia dari lamunan nya.
Saat ini Aulia tengah ikut dalam rombongan keluarga Fatih untuk mengunjungi Rumah Baca milik salah satu Langganan kue Aulia. Rumah itu memang menampung anak anak dari keluarga yang kurang mampu untuk di ajarkan menulis dan membaca.
Dan saat ini, Mama Dini yang tengah berulang tahun, berinisiatif untuk membagikan sedikit rezekinya pada anak anak itu atas saran dari Aliya, cucu semata wayang mereka.
"Tidak, tidak apa apa kok," jawab Aulia tanpa mengalihkan Pandangan nya dari ponsel yang ada di tangan nya.
"Baiklah," jawab Fatih yang tidak mau terlalu ikut campur pada kehidupan ibu dari anaknya itu.
Meski sangat ingin, namun Fatih sangat tahu batasan. Pasalnya, wanita itu kini tidak sendiri lagi. Ada pria yang jauh lebih berhak dan bertanggung jawab pada kehidupan Aulia saat ini.
Tidak lama, mobil milik Fatih dan juga mobil milik Papa Dimas pun tiba di lokasi tujuan. Kedatangan keluarga Aliya itu disambut gembira oleh anak anak yang menjadi anak asuh Ummi Alifa dan hal itu sedikit menbalihkan perhatian Aulia dari pikiran buruk mengenai suaminya.
__ADS_1
***
Lunas ya, hari ini up 3 bab...🤗🤗