Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.46


__ADS_3

🌸🌸🌸


~Happy Reading~


*


Beberapa saat sebelumnya.


Keluarga Abi Hamid baru saja turun dari pesawat setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam dalam perjalanan udara menuju kota di mana Putra semata wayangnya berada saat ini.


Abi Hamid beserta rombongan pun segera keluar dari area bandara menuju ke sebuah hotel yang sudah dipesannya, untuk mereka tempati selama tinggal di kota itu.


Rombongan keluarga Abi Hamid pun segera meninggalkan bandara dengan menggunakan sebuah mobil jemputan yang khusus ditugaskan untuk menjemput keluarga Abi Hamid untuk sampai ke hotel.


Namun saat di tengah perjalanan, mobil yang membawa rombongan keluarga Abi Hamid tanpa sengaja menyenggol sepeda motor yang membuat sepeda motor itu oleng hingga terjatuh ke pinggir jalan.


Dua orang yang berada di atas motor pun jatuh tergeletak di pinggir jalan dan mengalami luka yang cukup serius. Hingga kedua pengguna sepeda motor itu pun akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk segera ditangani oleh dokter untuk mengobati luka-luka karena terjatuh dari motor yang diakibatkan oleh kurang hati-hatinya sopir yang membawa rombongan keluarga Abi Hamid.


Namun tak disangka-sangka jika kepergian keluarga Abi Hamid ke rumah sakit mempertemukan mereka dengan Hanan dan juga Sarah yang juga Tengah melakukan pemeriksaan karena Sarah yang tiba-tiba saja pingsan saat mengunjungi Hanan di kantornya.


.


*****


.


"Sayang," lirih Hanan yang mencoba kembali untuk mendekati istri sahnya yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Namun Aulia kembali memundurkan langkahnya. Dan hal itu membuat dada Hanan merasakan semakin sesak saat Aulia menghindari sentuhan darinya lagi.

__ADS_1


Padahal, sebelum ini Aulia sudah bisa dia sentuh. Bahkan mereka sempat berciuman dengan begitu mesranya sebelum Hanan pergi dan akhirnya terlibat dalam sebuah insiden bersama dengan Sarah.


"Ja_jangan mendekat. A_aku mohon, jangan mendekat," jawab Aulia masih dengan tubuhnya yang bergetar dan wajah yang sudah basah.


Melihat sang menantu yang terlihat tidak baik baik saja, Umi Fatimah pun bergegas memeluk tubuh Aulia untuk memberikan ketenangan padanya.


"Tenang sayang. Semua akan baik baik saja, percaya sama Umi," ucap Umi Fatimah mengusap lembut punggung Aulia yang masih bergetar karena shock.


"Ayo, lebih baik sekarang kita kembali ke hotel kamu butuh istirahat Nak dan kalian ikut kami sekarang ke hotel," lanjut Umi Fatimah kepada Hanan dan juga Sarah.


Mendengar perintah dari sang Ibu, Hanan pun Hanya bisa pasrah dan mengikuti ke mana sang ibu memberikannya perintah untuk mengikuti mereka menuju ke hotel yang akan ditempati selama mereka tinggal di kota itu untuk 3 hari ke depan.


"Ada apa Umi? Aulia kenapa?" suara bariton itu memecah lamunan antara Hanan dan juga Sarah.


Deg


Jantung Sarah seperti di himpit bongkahan batu besar saat netranya bertemu dengan netra seseorang yang masih bertahta di dalam hatinya.


..."Segera beritahu Aulia tentang ini, jangan sampai dia tahu dari orang lain. Apalagi dia tahu sendiri sebelum kamu bicara padanya. Itu akan kembali membuat jiwa Aulia terguncang. Ingat, jika itu terjadi akan aku pastikan jika akulah orang pertama yang akan menjauhkan Aulia darimu,"...


Begitulah Kira kita yang dikatakan oleh Fatih saat menghubunginya lewat sambungan telepon beberapa waktu yang lalu.


Ternyata berita perihal pernikahan antara Hanan dan juga Sarah sudah sampai ke telinga Fatih. Hanya saja, pria itu tetap memilih diam dan tidak berniat ikut campur.


Hingga suatu hari, entah dorongan dari mana membuat Fatih akhirnya menghubungi Hanan dan memperingatkan pria itu agar segera memberitahukan masalah itu pada Aulia.


Namun sayang, takdir seolah olah belum cukup menguji ke sabaran, ke ikhlasan dan ketaqwaan seorang Aulia Rahma dalam menjalani hidupnya meraih bahagia.


Hingga Aulia kembali di buat kecewa oleh makhluk yang berjenis kelamin laki laki.

__ADS_1


"Kita bicara di hotel saja Nak Fatih, sekarang lebih baik kita membawa Aulia ke hotel untuk beristirahat dan membicarakan ini semua di sana," jawab Umi Fatimah yang terlihat tegar di tengah tengah hancurnya hati seorang ibu saat melihat putranya semata wayang nya yang dia didik dengan begitu baik tega mengkhianati istrinya sendiri.


Dan bermain api dengan wanita lain hingga membuat wanita lain itu hamil. Umi Fatimah pun segera membawa Aulia pergi dari saja dan di ikuti oleh semua orang termasuk Hanan, Sarah dan jiga Fatih.


"Bunda kenapa Ayah?" tanya Aliya dengan sedikit berbisik pada sang Ayah yang sejak tiba di kota itu terus berada di samping putrinya itu.


"Tidak apa apa, Bunda hanya kelelahan. Nanti Aliya istirahat di kamar Ayah dulu ya, di kamar Bunda akan ada pembicaraan antara orang dewasa yang belum boleh Aliya tahu," bujuk Fatih pada putrinya.


Fatih tahu jika Aulia dan juga keluarga Hanan butuh ruang untuk bicara. Hingga Fatih pun berinisiatif membawa putrinya untuk beristirahat di kamar miliknya yang memang sengaja memesan di hotel yang sama dengan keluarga Hanan.


Kepergian Fatih ke sana pun bukan di sengaja, saat putrinya memberitahu akan berlibur di kota tempat Hanan berada. Fatih pun kebetulan ada perjalanan bisnis kesana hingga akhirnya mereka pergi secara bersamaan dengan menggunakan pesawat yang berbeda.


Fatih yang baru saja tiba di bandara pun segera menyusul ke rumah sakit saat mendapatkan kabar dari putrinya jika mobil yang mereka tumpangi mengalami musibah.


Namun tidak di sangka jika kepergian mereka kesana akan membuka tabir rahasia yang selama satu bulan ini Hanan simpan.


Bukan bermaksud menyembunyikan semua ini dari Umi, Abi dan jiga Aulia. Hanya saja, waktu dan kesibukan Hanan di perusahaan belum lagi harus bulak balik ke kantor polisi membuatnya belum menemui waktu untuk mengatakan semuanya pada mereka.


Hingga akhirnya, takdir membawa mereka ke sini dan mengetahui segalanya. Meski belum jelas apa yang terjadi karena Hanan belum bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Umi, saya izin bawa Aliya ke kamar saya dulu ya," izin Fatih saat rombongan tiba di hotel.


"Baik Nak, titip Aliya dulu ya. Kami akan menyelesaikan masalah ini lebih dulu," jawab Umi Fatimah sendu.


"Iya Umi, Fatih pamit kalau begitu. Assalamualaikum, ayo sayang kita ke kamar Ayah,"


"Iya Ayah. Yangti, Yakung, Papa, Bunda Aliya pamit ke kamar Ayah dulu ya. Assalamualaikum," lanjut Aliya yang menyalami satu persatu orang dewasa yang ada di sana.


Termasuk juga Sarah yang menatap si kecil Aliya penuh perasaan bersalah karena sudah membuat Aulia kembali terguncang.

__ADS_1


Dan hal itu terbukti dengan diamnya wanita itu, bahkan saat Aliya pamit pun Aulia Tidak merespon apapun. Tatapan nya terlihat kosong menatap lurus ke depan.


__ADS_2