Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.38


__ADS_3

🌸🌸🌸


~Happy Reading~


*


Suara gemercik air shower yang menyala tak bisa meredam tangis pilu seorang wanita yang kehilangan kehormatan nya karena orang yang tak bertanggung jawab.


Entah apa yang terjadi semalam, hingga membuatnya berakhir di ranjang sebuah kamar hotel dengan seorang pria beristri. Padahal seingatnya, setelah acara makan malam bisnis itu Sarah langsung pulang.


Namun jujur, Sarah memang merasa sakit kepala dan pusing yang teramat sangat hingga membuatnya sedikit kesusahan saat berjalan. Namun pada saat itu, ada sang supir pribadi yang membantunya memapah dari lobi hotel hingga masuk kedalam mobil.


Namun, kenapa saat terbangun di pagi hari dia sudah berada di dalam kamar hotel bersama seorang pria dan yang lebih parahnya lagi, pria itu merupakan suami dari kenalannya sendiri.


Oh tuhan, tidak pernah terbayangkan sebelum nya oleh seorang Sarah Amalia jika dia akan menghabiskan malam panas bersama suami dari wanita lain disaat hatinya masih terpaut pada satu nama pria, Alfatih Brahmaseto.


Pria yang satu bulan yang lalu resmi memberikan nya akta cerai sebagai tanda pemutus hubungan pernikahan yang sudah berjalan selama tiga tahun lamanya. Namun berakhir di pengadilan agama karena sang suami yang tidak bisa move on dari masa lalunya yang kembali dengan membawa cerita di masa lalu yang belum selesai.


Sarah terus menangisi pilu di bawah guyuran air shower yang sudah membasahi tubuhnya sejak 30 menit yang lalu. Namun, rasanya sebanyak apapun air yang membasahi tubuhnya tak akan menghilangkan noda yang kini terlukis indah di seluruh tubuhnya.


Sementara Hanan sendiri, masih merenungi jalan apa yang harus dia ambil saat ini. Dimana Hanan harus bertanggung jawab atas perbuatan nya pada Sarah yang ternyata masih lah perawan meski statusnya sudah menjadi seorang janda.


Hanan tahu dan paham betul langkah apa yang harus dia ambil saat ini. Namun masalahnya, bagaimana dia akan menjelaskan semua yang terjadi pada istri tercintanya, Aulia Rahma.


Aulia, oh ya ampun. Hanan sampai lupa untuk memberi kabar pada wanita yang menjadi cinta pertama nya itu. Menyadari jika belum berkabar dengan sang istri, Hanan pun segera mencari keberadaan ponsel miliknya yang rupanya terselip di bawah bantal dalam keadaan mati.


Hanan pun segera mencari charger untuk menyalakan ponsel itu. Begitu berhasil menyalakan ponselnya, jantung dan hati Hanan bagai di remas dan di tujus oleh sebuah tombak besar dimana ada puluhan pesan dan juga panggilan tak terjawab dari Aulia.

__ADS_1


Bahkan Aulia tak berhenti menghubunginya di saat jam dini hari, seperti di jam 3 dini hari, dan berakhir di jam 11 siang. Dan setelah melihat isi ponselnya, Hanan pun baru menyadari jika saat ini jam sudah menunjukan pukul 11.45 wib.


"Apa yang harus aku lakukan sayang? Maafkan aku, aku sudah berdosa padamu," gumam Hanan saat melihat begitu banyak nya pesan dari Aulia yang menanyakan kabarnya.


Tidak ingin membuat situasi semakin runyam, Hanan pun segera menghubungi sang istri lewat sambungan telepon.


Tuuut


Tuuut


Klik


"Halo, assalamualaikum. Mas kemana saja? Kenapa tidak bisa dihubungi?" Cecar Aulia begitu sambungan telepon dari Hanan terhubung.


"Waalaikumsalam warahmatullaah sayang, maaf ponsel Mas kehabisan daya jadi baru bisa menghubungi. Mas juga kebetulan bangun kesiangan karena semalam Mas lembur hingga larut malam untuk menyelesaikan masalah kantor. Makanya habis subuh Mas tidur lagi dan baru bangun. Maaf ya sayang, sudah membuatmu khawatir," jawab Hanan yang terpaksa berbohong pada Aulia.


"Iya sayang, Mas akan selalu ingat semua pesanmu. Mas ingin segera pulang tapi masalah disini belum bisa ditinggalkan," lanjut Hanan, yang begitu merasa bersalah pada istrinya itu.


Bahkan Hanan harus mengepalkan satu tangan nya dengan begitu kuat demi menekan agar suara nya yang mulai bergetar menahan tangis terdengar oleh istrinya itu.


"Bersabarlah, selesaikan masalahnya dulu baru pulang. Aku akan menunggu dengan sabar kepulanganmu Mas,"


"I_iya sayang, Mas sudahi dulu ya. Mas harus ke kantor sekarang," jawab Hanan yang sudah tidak bisa menahan sesak di dada manakala mendengar suara sang istri yang lembut dan menenangkan itu.


Namun itu dulu, kini suara lembut itu bagaikan bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya sehingga menimbulkan rasa sesak yang begitu mencekik nya setelah apa yang terjadi pada dirinya dan juga Sarah.


"Iya Mas, jaga kesehatan dan jaga hatimu untukku. Ingat, aku menunggu mu pulang dengan keadaan selamat dan utuh baik itu ragamu dan juga hatimu," jawab Aulia yang kembali menciptakan rasa sesak yang kian menghimpit dada Hanan saat ini.

__ADS_1


"Iya sayang, Mas pamit ya. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.".


Klik


Kreekkk


Saat Hanan menutup sambungan telepon nya, bertepatan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka. Dimana memunculkan Sarah yang sudah selesai membersihkan dirinya.


Sarah keluar dari dalam kamar mandi dengan mata yang merah dan juga sembab, akibat menangis dalam waktu yang lama. Tanpa kata, Sarah memunguti semua pakaian nya yang tercecer di lantai lalu kembali masuk kedalam kamar mandi untuk memakai pakaian nya kembali di dalam sana.


Hanan sendiri masih bungkam, dan masih bergelut dengan pemikiran nya akan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Mau tidak mau, terima tidak terima, Hanan harus bertanggung jawab atas perbuatan nya.


Apalagi, Hanan adalah laki laki pertama yang menyentuh Sarah dan merenggut kehormatan wanita itu. Tentu saja, Hanan harus melakukan apa yang harus pria gentle lakukan.


Kreekkk


Suara pintu kamar mandi kembali terdengar dan kembali memunculkan Sarah yang kini sudah berpakaian lengkap. Dengan langkah pelan, Sarah menghampiri Hanan yang masih duduk di bibir ranjang.


Dengan tatapan kosong, Sarah pun mendudukan diri di samping Hanan namun sedikit memberikan jarak antara dirinya dan juga Hanan.


"Sebenarnya, apa yang terjadi pada kita Mas? Seingatku, saat acara jamuan itu selesai. Bukankah kita berdua langsung keluar dari sana dan pulang? Lalu, kenapa kita berakhir di sini?" Tanya Sarah dengan suara yang cukup lirih.


"Aku juga tidak tahu, kejadian terakhir yang aku ingat saat kita berpisah di lobi hotel. Bahkan saat masuk lift, aku masih ingat kalau aku hanya seorang diri. Dan di dalam lift itu aku merasakan kepalaku begitu pusing, tubuhku memanas. Rasanya ingin sekali membuka semua pakaian ku saking panasnya udara saat itu, dan setelah pintu lift terbuka. Aku sudah tidak ingat apa yang terjadi hingga kita berakhir di sini,"


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

__ADS_1


"Aku akan menikahimu,"


__ADS_2