Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.61


__ADS_3

"Rumah kamu dimana?" tanya Seno mengejutkan Gita yang duduk di samping nya.


"Hah, ta_tadi tanya apa?" tanya Gita yang merasa gugup saat harus satu mobil dengan Seno.


Pria yang memiliki perawakan tinggi, putih dan wajah mirip oppa oppa korea itu mampu membuat Gita merasa gugup dan juga canggung saat harus berinteraksi langsung dengan pria tampan itu.


"Alamat rumah nya dimana Dek? Ini kan pertama kalinya aku antar kamu pulang. Jadi aku belum tahu alamat rumah kamu," jelas Seno panjang kali lebar yang semakin membuat Gita gugup dan juga malu.


"Oh maaf, di jalan Pahlawan, masuk ke gang cempaka Bang." jawab Gita yang di angguki oleh Seno.


"Sudah lama kerja sama Nyonya Aulia?" tanya Seno lagi mencoba mencairkan suasana.


"Tahun ini genap 6 tahun Bang," jawab Gita singkat karena memang bingung harus membuka obrolan apa dengan pria tampan di samping nya ini.


"Oh," jawab Seno lagi, sama singkatnya.


Setelah beberapa saat menembus jalan raya yang padat dengan kendaraan. Akhirnya mobil Seno pun memasuki sebuah gang yang cukup sepi dan sedikit gelap karena kurang nya lampu jalan yang di pasang di sepanjang jalan itu.


"Kamu setiap hari lewat jalan yang sepi ini?" tanya Seno saat melihat jalanan yang di tunjukan oleh Gita itu ternyata gelap dan juga sepi.


"Iya, kan pulang nya sore jadi masih aman karena jalan nya ramai, tapi kalau pulang malam biasanya ikut Mbak Aulia dan menginap di rumah nya," jelas Gita yang entah mengapa membuat Seno merasa lega.


"Ini rumah nya yang mana?" tanya Seno setelah memasuki gang itu, dan sedikit kearah lebih dalam lagi.


"Rumah yang pagarnya cat putih itu, Bang," tunjuk Gita pada sebuah rumah sangat sederhana di antara rumah rumah yang cukup besar yang ada di lingkungan itu.


Seno pun memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah kontrakan milik Gita itu. Lalu ikut turun saat Gita turun dari mobilnya.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Seno saat melihat kondisi rumah Gita yang masih gelap padahal hari sudah malam.


"Iya, Bapak sama Ibu kan tinggal di kampung."


"Oh begitu, ya sudah sana masuk lalu kunci rumah nya, ya. Jangan biarkan orang asing masuk ya," pesan Seno sebelum Gita masuk kedalam rumah nya.


"Iya Bang, terima kasih sudah mengantar,"


"Iya sama sama, sana masuk lah."


"Iya Bang,"


Gita pun akhirnya membuka pintu gerbang rumah nya itu, lalu segera masuk. Namun, saat akan menutup pintu gerbang itu Seno kembali menghentikan nya.

__ADS_1


"Eh, tunggu." cegah Seno membuat Gita menghentikan gerak tangannya yang mau mengunci pintu pagar rumah nya.


"Iya, ada apa?" tanya Gita bingung.


"Boleh pinjam ponsel kamu?" jawab Seno.


"Oh, boleh. Sebentar,"


Gita pun segera merogoh tas nya untuk mengambil ponsel miliknya untuk di berikan pada Seno.


"Ini Bang,"


Gita pun menyerahkan ponsel miliknya pada Seno. Seno pun segera mengetik sesuatu di ponsel itu setelah menerima ponsel Gita dari pemiliknya.


"Ini, sudah. Kalau butuh bantuan atau ada apa apa jangan sungkan untuk hubungi aku ya," ucap Seno saat mengembalikan kembali ponsel milik Gita pada pemiliknya.


"Ah, i_iya Bang, terima kasih," jawab Gita bingung dengan apa yang di katakan oleh Seno padanya, yang terdengar ambigu.


Gita pun segera masuk ke dalam rumah itu setelah Mengunci pintu pagar rumahnya. Sementara Seno, langsung pergi dari rumah itu setelah memastikan jika Gita sudah masuk ke dalam rumahnya dengan selamat dan aman.


*


*


Bahkan sesekali, terdengar helaan nafas panjang dari mulut wanita itu. Yang menandakan betapa cape nya dia hari ini setelah melayani banyaknya pesanan kue.


"Capek ya?" tanya Fatih sembari melirik Aulia yang duduk bersandar di sandaran jok mobilnya.


"Lumayan, rasanya pengen cepat pulang dan langsung tidur," jawab Aulia yang ikut melirik ke arah Fatih.


Dan...


Deg


Jantung Aulia kembali berdetak kencang saat netranya bertemu dengan netra Fatih yang tajam, namun meneduhkan.


Aulia pun segera memalingkan wajah nya saat mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Bukan cuma Aulia yang langsung memalingkan wajahnya, namun Fatih juga.


Kedua orang dewasa itu tampak salah tingkah dengan apa yang mereka lakukan satu sama lain.


"Aliya masih belum mau pulang ya, Mas?" tanya Aulia untuk kembali mencairkan suasana yang kaku dan canggung.

__ADS_1


"Iya, biarkan saja. Lagi pula Aliya kan tinggal sama neneknya, Mama juga senang banget karena ada Aliya di rumah. Jadi Mama punya teman," jawab Fatih saat Aulia menanyakan keberadaan putrinya.


"Iya sih, tapi aku yang jadi kesepian," ucap Aulia lagi dengan nada sendu.


"Sabar, nanti setelah menikah kan ada Mas. Kita bikin adek nya Aliya yang banyak biar nggak kesepian lagi," seloroh Fatih yang berhasil membuat Aulia melayangkan cubitan di pinggang Fatih.


"Aaww, sakit sayang." seru Fatih saat Aulia mencubit kulit pinggangnya.


"Suruh siapa ngeselin," jawab Aulia merenggut.


"Jangan kesel kesel, nanti kangen lagi. Mana belum boleh sering sering ketemu," jawab Fatih lagi yang membuat Aulia merasa semakin gemas.


Namun, dibalik kekonyolan Fatih saat ini membuat hati Aulia menghangat. Hingga tanpa terasa, mereka pun sudah sampai di rumah Aulia,"


"Terima kasih ya sudah mengantar pulang," ucap Aulia saat sudah turun dari dalam mobilnya yang di bawa oleh Fatih.


"Sama sama, ya sudah. Kalau begitu Mas pulang ya, Aliya tadi minta Mas buat pulang cepat,"


"Ck, sudah kaya istri yang minta suaminya segera pulang saja," cebik Aulia saat mendengar putrinya meminta Fatih segera pulang.


"Kan calon istrinya belum minta itu, jadi di wakilkan sama putrinya," jawab Fatih membuat wajah Aulia merona.


Melihat raut wajah Aulia, membuat Fatih semakin gemas dan semakin ingin menggoda wanita itu. Namun, sayang waktu tidak mengijinkan nya untuk berlama lama di sana.


"Ya sudah sana masuk, Mas mau juga pulang," lanjut Fatih yang dengan berat hati harus mengakhiri perjumpaan nya dengan Aulia saat ini.


"Iya Mas, hati hati di jalan,"


"Iya sayang, nanti kalau Mas sudah sampai Mas kabari ya. Mas pamit, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Fatih pun kembali masuk ke dalam mobilnya setelah memastikan Aulia sudah masuk ke dalam rumahnya untuk kembali ke rumah karena Putrinya sudah menunggu kepulangannya.


*


*


Keesokan harinya.


Seorang gadis tengah menatap sebuah bangunan gedung yang menjulang tinggi yang baru saja dia datangi.

__ADS_1


"Pak Fatih," seru nya saat melihat seorang pria yang baru saja turun dari dalam mobilnya.


__ADS_2