Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.50


__ADS_3

"Jangan sungkan, tidurlah kamu butuh istirahat. Ya sudah, Mas ke kamar dulu ya," pamit Fatih yang akhirnya meninggalkan Aulia dan Aliya untuk beristirahat.


Sepeninggalan Fatih, Aulia pun bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk beristirahat. Tapi, hingga jam menunjukan pukul 02.00 dini hari, Aulia tak kunjung bisa menutup matanya.


Tidak ingin larut dalam rasa gundah hatinya. Aulia pun kembali bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersuci.


Aulia menumpahkan semua risalah hatinya di atas sajadah dan mengadukan semua kepada sang Illahi. Meminta petunjuk dan pertolongan hanya padanya.


Isak tangis pun kembali terdengar manakala Aulia teringat perjalanan hidupnya yang selalu mendapatkan rasa sakit dan kecewa saat bersinggungan dengan lawan jenis.


Apakah Aulia di takdirkan untuk tetap sendiri? Tidak pantaskah seorang Aulia menyandang status seorang istri? Hingga ujian demi ujian pun tak henti menerpa nya meski dia sudah memiliki seorang suami.


Namun sayang, ikatan suci itu terpaksa harus di akhiri di usia pernikahan mereka menginjak usia 2 bulan. Singkat, terlalu singkat hubungan itu terjalin, hingga membuat Aulia semakin merasa tidak layak untuk memiliki pasangan.


Usai berkeluh kesah pada sang pencipta, Aulia pun mulai beranjak dari atas sajadah nya lalu berjalan menuju ke arah balkon kamar itu.


Hembusan angin laut yang menyapa wajah Aulia, seketika membuat hatinya merasa tenang dan merasa cukup nyaman berada di sana.


"Belum tidur?"


Deg


Seketika, Aulia di buat kaget dengan suara bariton yang baru saja menyapa indra pendengarnya.


Aulia pun segera melirik ke arah kanan nya yang dimana, ada seorang pria tengah berdiri di balkon kamar sebelahnya dengan menggunakan baju koko, kain sarung dan lengkap dengan peci hitam yang menutupi rambut pria itu.


"Baru selesai sholat malam," jawab Aulia kembali memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke depan.


"Mas sendiri, kenapa belum tidur?" lanjut Aulia tanpa mengalihkan pandangannya dari lautan luas yang membentang indah di bawah sinar rembulan yang meneranginya.


"Sama, Mas juga baru selesai sholat. Aliya masih tidur?"


"Masih, sepertinya dia kecapean sekali jadi tidurnya cukup lelap. Kasihan juga kalau di bangunkan. Nanti saja, kalau sudah waktu sholat subuh baru aku bangunkan,"


"Baiklah, saat sholat subuh nanti. Boleh sholat berjamaah?"

__ADS_1


Deg


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Fatih, Aulia pun langsung menoleh dan selama beberapa menit menatap wajah tampan yang dulu terlihat begitu arogan dan angkuh.


Namun kini, wajah itu terlihat lebih kalem dan meneduhkan saat menatapnya. Aulia pun segera memalingkan kembali wajahnya saat menyadari kesalahan nya, menatap pria yang bukan mahram untuknya.


"Boleh ya? Kita juga tidak berdua kan, ada Aliya di antara kita," lanjut Fatih saat belum juga ada jawaban dari Aulia.


"Baiklah, tapi datang saat Aliya sudah terbangun," jawab Aulia pada akhirnya setuju untuk sholat subuh berjamaah dengan Fatih.


"Tentu saja Bunda, takut sekali sih. Tenanglah kali ini, aku benar benar sudah jinak dan sudah takut akan karma yang akan aku terima karena dosa yang aku lakukan. Ya sudah, sana istirahat. Biar nanti tidak kesiangan waktu subuh tiba,"


"Baiklah, kalau begitu aku pamit ya,"


"Iya, tidurlah."


Aulia pun kembali masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Tapi, lagi lagi matanya kembali enggan terpejam manakala hati tengah dirundung luka yang cukup mendalam.


Dimana Aulia harus rela melepaskan suaminya untuk menikahi wanita lain disaat nama sang suami mulai terukir indah di dalam hatinya.


Aulia pun mulai membaca ayat suci Al Qur'an itu untuk membuat hatinya sedikit merasa tenang ditengah guncangan yang datang dengan begitu hebatnya.


*


*


Menjelang subuh, saat mulai terdengar suara adzan berkumandang. Aulia pun segera membangunkan putrinya untuk sholat berjamaah.


"Sayang, bangun Nak. Sudah subuh, kita sholat berjamaah yuk," ucap Aulia membelai wajah sang putri dengan begitu lembut.


Namun hal itu cukup mengusik Aliya yang masih tertidur lelap hingga akhirnya mata yang awalnya tertutup itu perlahan terbuka.


"Sudah subuh ya Bunda?" tanya gadis kecil itu dengan suara yang serak, khas orang baru bangun tidur.


"Iya sayang, ayo bersih bersih. Keburu waktu subuhnya habis,"

__ADS_1


"Baiklah,"


Si kecil Aliya pun segera bangkit dari tidurnya lalu bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk bersuci.


"Panggilin Ayah sayang, Ayah bilang mau sholat berjamaah bareng kita," titah Aulia setelah melihat putrinya selesai memakai mukenanya.


"Memang boleh?" tanya Aliya ragu ragu.


"Boleh, kan di sini bukan cuma ada Ayah sama Bunda. Tapi ada Aliya juga kan, jadi tidak apa apa. Panggil saja Ayah nya ke sini,"


"Baiklah," si kecil Aliya pun bergegas menuju ke arah balkon dan di sana tampaknya sudah ada Fatih yang sudah siap dengan pakaian muslim nya.


"Ciee yang mau jadi imam, sudah siap aja." goda gadis yang kini mulai beranjak remaja itu saat melihat sang ayah yang sudah berpakaian rapi lengkap dengan peci yang melengkapi penampilannya subuh ini.


"Apa sih Nak, kalian sudah siap?" tanya Fatih yang tidak bisa menutupi rona merah di wajah nya karena di goda oleh putrinya.


"Sudah dong, ayo cepetan sini. Keburu waktu subuhnya habis,"


"Siap tuan putriku, Ayah kesana sekarang."


Tanpa menunggu jawaban dari Aliya, Fatih pun bergegas meninggalkan kamarnya untuk pergi ke kamar Aulia.


"Semangat sekali yang mau jadi imam untuk wanita tercinta, ckckck." cebik Aliya saat melihat tingkah ayah nya itu.


Aliya pun kembali masuk kedalam kamar, dan tidak lama Fatih pun datang dengan di bukakan pintu oleh Aulia.


Ketiganya pun akhirnya sholat subuh berjamaah untuk pertama kalinya dengan format yang lengkap dan hal itu membuat si kecil Aliya tersenyum bahagia.


Karena akhirnya bisa merasakan kebersamaan itu. Meski status kedua orang tuanya yang berbeda, tapi. Ada sebaris doa yang terucap dari dalam hatinya.


"Semoga kelak, Ayah dan Bunda bisa bersama." gumam nya dalam hati saat menengadahkan kedua tangan dan melangit kan doanya kepada sang illahi.


Usai sholat berjamaah bersama ketiga nya pun memilih untuk jalan jalan pagi di sekitar pantai sekalian mencari menu sarapan yang biasa di jajakan di area dekat pantai.


Akhirnya, Aulia pun mulai menampilkan senyum di wajah sendu nya saat melihat bagaimana bahagia nya Aliya saat pergi berlibur bersama dengan Ayah dan Bunda nya.

__ADS_1


"Ayah, Bunda, bagaimana kalau kita berfoto bersama. Ini adalah pertama kalinya kita pergi bertiga, dan itu perlu kita abadikan. Bagaimana? Ayah sama Bunda mau kan?" tanya Aliya yang membuat Fatih dan juga Aulia saling melirik satu sama lain.


__ADS_2