Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.25


__ADS_3

🌸🌸🌸


~Happy Reading~


*


Aulia menatap panuh rasa ragu saat putrinya Aliya menyerahkan ponse miliklnya karena Fatih ingin berbicara dengan nya lewat sambungan telepon.


Ayah dan anak itu kini sudah tidak memiliki rasa canggung sama sekali. Bahkan Aliya kerap bersikap manja pada sang ayah dan meminta langsung jika ada yang dia inginkan.


Bahkan kini, hampir setiap hari ayah dan anak itu saling bertukar cerita lewat sambungan telpon. Seperti hari ini, Aliya begitu semangat menceritakan kegiatan di sekolahnya.


Dan Fatih sendiri, di balik sikap arogan nya dulu. Rupanya dia adalah seorang ayah dan pendengar yang baik. Dan hal itu semakin membuat hubungan nya dengan Aliya semakin dekat.


Namun hal itu tidak berlaku pada Aulia. Kedua orang dewasa itu masih seperti orang asing, padahal mereka memiliki seorang anak di antara mereka.


Namun hal itu bisa di pahami betul oleh Fatih, tidak mudah menjadi seorang Aulia. Maka dari itu, Fatih hanya bisa pasrah menerima sikap ceuk Aulia. Toh sekarang prioritas utama Fatih adalah Aliya. Putri semata wayang nya.


"Bunda ga mau bicara sama Ayah ya? Kalau gitu biar Aliya bilang sama Ayah kalau Bunda sibuk," ucap Aliya saat melihat Aulia hanya menatap ponsel itu tanpa mau mengambilnya.


"Mau kok, sini. Memang nya Ayah mau bicara apa sama Bunda?" tanya Aulia seraya mengambil ponsel itu dari tangan Aliya.


"Halo, assalamu'alaikum. Iya ada apa?" ucap Aulia setelah menempelkan ponsel Aliyq di telinga nya.


"Waalaikumsalam, begini. Weekend ini kan Aliya libur, izin bawa Aliya menginap di rumah ya? Mama sama Papa mau ketemu sama Aliya," jawab Fatih yang membuat jantung Aulia berdetak kencang.


"A_apa itu tidak apa apa?" tanya Aulia reflek begitu saja.


Rasa takut tiba tiba saja menghampiri Aulia manakala teringat bagaimana tajam nya sorot mata ayah nya Fatih dulu. Dan Aulia, tidak ingin Aliya mendapatkan sorot mata itu yang seolah olah mereka adalah seorang musuh yang berbahaya.


"Memang nya kenapa? Mereka adalah kakek dan neneknya Aliya. Wajar jika mereka ingin bertemu, sebenarnya Mama dan Papa juga meminta aku membawamu. Tapi, aku tahu kalau kamu pasti belum siap untuk bertemu dengan mereka. Mama ingin sekali bertemu denganmu, tapi kondisi Mama sedang tidak baik. Masih dalam pengawasan dokter, mungkin setelah kondisinya membaik, kamu mau ya ketemu Mama," jawab Fatih panjang kali lebar.


"Insya Allah," jawab Aulia singkat. Karena saat ini Aulia masih bingung bagaimana harus bersikap.


"Jadi bagaimana? Aliya boleh kan menginap dirumahku?" tanya Fatih lagi yang akhirnya di setujui oleh Aulia.

__ADS_1


Tidak ada salah nya mencobakan, karena bagaimana pun. Kedua orang tua Fatih adalah juga bagian dari hidup putrinya.


"Iya boleh, itu pun kalau Aliya nya mau."


"Alhamdulillah, terima kasih ya Bun." ucap Fatih yang membuat Aulia tercengang.


*


*


"Ingat, jangan nakal saat di rumah Ayah ya. Jangan lakukan hal hal aneh, biasanya di rumah orang kaya itu prabotan nya serba mahal. Jadi hati hati saat bergerak jangan buat prabotan yang ada di rumah Ayah ada yang rusak," pesan Aulia saat membantu putrinya bersiap untuk pergi kerumah kedua orang tua Fatih.


"Iya Bunda, Bunda udah bilang berkali kali loh ini," jawab si kecil Aliya yang sedari tadi mendengarkan pesan dari sang Bunda hingga kuping nya terasa panas.


"Bunda akan hanya mengingatkan Nak," jawab Aulia terkekeh saat melihat wajah merengut putrinya.


Tok


Tok


Ceklek


"Assalamu'alaikum," sapa Fatih mengucap salam saat Aulia dan Aliya membukakan pintu untuknya.


"Waalaikumsalam Ayah," jawab si kecil Aliya penuh dengan semangat.


Sementara Aulia hanya menjawab dengan suara yang sedikit bergumam, namun tetap menjawab salam dari Fatih meski pelan dan hampir tidak terdengar.


"Bagaimana? Apa putri Ayah sudah siap untuk ketemu Oma dan Opa?" Tanya Fatih yang kini hanya fokus pada putrinya.


Meski sesekali mencuri pandang pada ibunya juga. Namun Fatih sadar, jika saat ini dirinya hanya boleh memikirkan Aliya saja. Sementara perasaan untuk ibu dari anaknya, harus Fatih kubur dalam dalam mengingat wanita sholehah itu telah memiliki pasangan.


"Siap Ayah, ayo kita berangkat sekarang."


"Baiklah, ayo. Kami pergi dulu ya, aku pinjam dulu putri kitanya. Jangan mencemaskan apapun, kakek dan neneknya tidak akan menyakiti cucunya sendiri," jawab Fatih yang sekalian pamit pada Aulia.

__ADS_1


Dan Aulia hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan kepala. Meski merasa takut jika putrinya akan mendapat penolakan tapi, terkungkung dalam rasa takut juga tidak baik.


Kita tidak akan pernah tahu sebuah hasil jika kita tidak mau mencobanya bukan? Dan semoga, hasil dari keputusan nya ini membawa kebaikan untuk putrinya.


"Kami pamit ya, assalamualaikum," lanjut Fatih membawa putrinya pergi dengan menggandeng mesra tangan mungil itu.


"Waalaikumsalam warahmatullah," jawab Aulia lirih.


Menatap sendu punggung tegap yang perlahan kian menjauh lalu menghilang saat pria itu masuk kedalam mobil.


*


*


Suara isak tangis dari seorang wanita paruh baya masih saja terus terdengar padahal sudah 30 menit berlalu dari pertemuan pertamanya dengan sang cucu.


"Sudah dong Ma nangisnya, kasihan Aliya nya jadi kaget gitu," ucap papa Dimas mencoba membujuk istrinya untuk berhenti menangis.


Karena melihat cucu nya terlihat shock saat melihat sang Oma yang terus saja menangis dalam pelukan nya.


"Oma kenapa?" Bisik Aliya pada ayahnya yang duduk tepat di samping nya.


Mendapat pertanyaan itu dari putrinya, Fatih hanya bisa tersenyum sembari membelai lembut surai sang anak yang tertutup oleh hijab.


"Tapi Mama sedih sekali Pa. Bagaimana bisa kita tidak tahu kalau kita sudah punya cucu secantik ini," jawab Mama Dini di sela isak tangisnya.


"Ini semua salah Papa yang terlalu percaya pada ucapan Fatih dan juga Priska. Maaf harus menemui Aulia, Papa harus minta maaf padanya secara langsung," lanjut Papa Dimas yang kala itu memang sangat mempercayai ucapan anaknya dan juga anak rekan bisnisnya.


"Mama juga Pa, Mama ingin bertemu dengan Aulia untuk minta maaf dan berterima kasih. Berterima kasih karena sudah mempertahankan keturunan kita,"


"Maka dari itu, cepatlah sembuh. Lihat Mama sekarang, jangankan pergi menemui Aulia. Sekedar pergi ke toilet saja kesusahan,"


"Iya Pa, mulai sekarang Mama akan semangat buat sembuh," jawab Mama Dini yang memang sejak Fatih melayangkan gugatan cerai pada Sarah, kondisi kesehatan wanita baya itu kian menurun.


Belum lagi ditambah oleh pengakuan Fatih yang pernah melecehkan seorang gadis hingga melahirkan seorang anak perempuan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2