
Sarah melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Sebuah senyuman getir terlukis di wajah cantik itu saat melihat ke arah perutnya yang mulai sedikit membuncit.
Sarah menghela nafas panjang dan berat sebelum melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Hari ini Sarah memiliki jadwal cek kehamilan, tapi seperti sebelum sebelum nya Sarah selalu pergi ke rumah sakit seorang diri saat sang mama tidak bisa mengantar.
Seperti hari ini, sang mama absen menemani karena sedang berada di luar kota menemani suaminya yang sedang melakukan perjalanan bisnis yang rutin di lakukan.
"Astaghfirullah, Bibi bikin kaget saja," ucap Sarah yang kaget saat membuka pintu kamarnya sudah ada sang art di depan pintu itu.
"Hehehe, maaf non kalau sudah bikin kaget. Tapi itu, dibawah ada Den Hanan sudah menunggu sedari tadi," jawab Bi Marni art di rumah keluarga Sarah.
"Mas Hanan? Mas Hanan di sini?" tanya Sarah kaget saat mendengar suaminya ada di rumah itu.
"Iya, sudah hampir satu jam malah nungguin Non, eh Non nya ga turun turun,"
"Ya ampun Bi, kenapa nggak kasih tahu aku sih?"
"Kan ini datang untuk kasih tahu Non, kasihan sudah lama nunggu di bawah Den Hanan nya,"
"Ih Bibi, maksud aku itu kenapa nggak kasih tahu sejak tadi,"
Sarah pun segera beranjak menuruni anak tangga untuk pergi menemui Hanan yang katanya sudah datang sejak tadi. Namun, Bi Marni baru memberi tahunya.
Begitu tiba di lantai bawah, Sarah bisa melihat seorang pria dengan penampilan yang cukup rapi dengan wajah yang sedikit lebih tirus tapi tidak membuat wajah tampan itu berubah.
Satu bulan lebih Sarah tidak pernah lagi bertemu dengan Hanan karena Hanan harus pulang ke ibu kota untuk menyelesaikan perceraiannya.
Dalam kurun waktu itu juga, Sarah membiarkan Hanan dan tidak mengganggu pria itu sama sekali. Sarah sadar jika kehadiran nya adalah hal yang tidak di sangka sangka dan tidak di harapkan oleh Hanan.
Begitu pun juga dengan Sarah. Sarah tidak bisa memaksakan hubungan mereka di saat hatinya sendiri masih di miliki oleh Fatih. Anggaplah masa masa kemarin sebagai bahan renungan dan juga untuk mempersiapkan hubungan baru antara dirinya dan juga Hanan.
Hingga Sarah pun membiarkan satu bulan kemarin untuk Hanan menenangkan diri dan menyiapkan diri untuk bertemu dengan Sarah dengan sendirinya. Tanpa paksaan dari siapa pun dan dari manapun.
__ADS_1
"Mas Hanan," sapa Sarah yang langsung menghampiri Hanan lalu menyalami pria itu dengan takzim.
"Sudah siap?" tanya Hanan yang membuat Sarah bingung.
"Siap? Siap untuk apa Mas?" tanya Sarah balik.
"Loh, bukan nya sekarang ada jadwal pemeriksaan kehamilan ya?"
"Oh, i_iya hari ini ada jadwal pemeriksaan. Ini juga mau berangkat ke rumah sakit," jawab Sarah yang tiba tiba merasa gugup karena kedatangan Hanan secara tiba tiba.
"Ya sudah, ayo kalau begitu," ajak Hanan yang langsung melangkah menuju keluar rumah.
"Ayo?" tanya Sarah masih bingung.
"Iya, ayo biar Mas yang antar. Mas juga ingin tahu perkembangannya," jawab Hanan mencoba memaksakan memasang senyuman di wajah nya.
"I_iya, baiklah." jawab Sarah yang mengikuti langkah Hanan yang sudah lebih dulu melangkah meninggalkan rumah.
Setelah memastikan Sarah duduk dengan nyaman di dalam mobil miliknya. Hanan pun segera melajukan mobil itu menuju ke rumah sakit untuk mengisi jadwal pemeriksaan kehamilan untuk istrinya.
*
*
"Hai sayang, Mommy sama Daddy yang kini datang bersama untuk menjenguk kamu sayang. Sapa dulu dong Mommy sama Daddy nya," ucap sang dokter saat mulai menggerakkan sebuah alat di permukaan perut Sarah yang sudah terlihat membuncit meski masih kecil.
Setelah dokter menggerak gerakan benda itu dipermukaan perut Sarah. Maka sebuah gambar hitam putih dengan bentuk yang aneh pun mulai muncul di layar monitor yang dapat di lihat oleh Hanan dan juga Sarah.
Meski tidak tahu gambar apa itu, tapi baik Sarah maupun Hanan sama sama merasakan suatu getaran aneh di dalam hati merek saat melihat layar monitor yang sedang menunjukan sebuah gambar calon anak mereka.
Debaran dan juga getaran itu semakin terasa di hati masing masing manakala suara detak jantung dari janin itu mulai di perdengarkan kepada calon orang tuanya.
__ADS_1
Sebuah suara yang mirip dengan suara keriuhan sekawanan kuda berderap kencang pun mulai terdengar setelah dokter kembali menggerakkan alat yang ada di tangan nya.
"Kalian bisa dengarkan? Ini adalah suara detak jantung calon anak kalian," lanjut dokter semakin membuat hati Hanan dan juga Sarah di penuhi rasa suka cita.
"Anak Papa, hai sayang. Ini Papa Nak," ucap Hanan spontan keluar begitu saja dari bibirnya hingga membuat Sarah menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya.
Hanan masih tampak menatap layar monitor itu dengan penuh rasa haru. Mata pria itu bahkan sudah berkaca kaca saat melihat sebuah pergerakan kecil di layar monitor itu.
"Janin nya sehat dan berkembang dengan baik, meski begitu tetap berhati hati dan jaga pola makanan sehat dengan asupan gizi yang mencukupi agar janin tumbuh sehat dan sempurna hingga sampai tiba janin ini siap dilahirkan ke dunia,"
"Baik Dokter, kami akan melakukan yang terbaik agar calon anak kami tumbuh sehat sampai waktu nya dia lahir tiba," jawab Hanan yang tiba tiba merasa sebuah kehangatan disela sela rasa hampa yang dia rasakan pasca perpisahannya dengan Aulia.
Sementara Sarah sendiri lebih memilih menyimak pembicaraan dokter dan suaminya. Jujur Sarah masih speechless dengan sikap Hanan yang sudah mulai menunjukan jika pria itu sudah menerima kehadiran calon anak mereka.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan Hanan pun membawa Sarah pulang. Namun, ada hal yang membuat Sarah mengerutkan dahi nya saat melihat arah jalan yang mereka lewati bukan lah arah jalan menuju ke rumah kedua orang tua Sarah.
"Kita mau kemana Mas? Bukan nya kita mau pulang ya?" tanya Sarah saat mobil yang membawanya melewati jalanan asing.
"Iya, kita memang mau pulang. Kamu harus banyak istirahat, makanya kita langsung pulang," jawab Hanan dengan nada santainya.
"Tapi, Ini bukan arah ke rumah," lanjut Sarah yang semakin di buat asing saat Hanan memasukan mobilnya ke sebuah komplek perumahan mewah yang ada di kota itu.
"Kita akan pulang ke rumah kita Sarah. Mulai sekarang, kita akan tinggal di rumah yang sudah aku sediakan untuk kita memulai hidup baru kita di sana," jawab Hanan yang langsung memasukan mobilnya kesebuah rumah yang tidak terlalu besar namun tetap tidak meninggalkan kesan mewah dan juga mahal dari bangunan itu.
***
Note. Othor sudah punya visual Fatih sama Aulia nih...yg kepo sama tampilan mereka yuk mampir ke ig nya Othor 🤗🤗
Ig. Author_triyani
**. Triyani_87
__ADS_1