Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.45


__ADS_3

🌸🌸🌸


*Happy Reading*


*


"Selamat tuan, istri anda saat ini sedang hamil dan usia kandungan nya saat ini sudah memasuki minggu ke 5. Mohon dijaga dengan baik ya, hindari pekerjaan yang berat dan juga stress yang berlebih. Ini, saya sudah tuliskan resep vitamin dan juga penambah darah yang harus nyonya konsumsi setiap harinya," ucap dokter yang baru saja memeriksa keadaan Sarah setelah Hanan membawa Sarah ke rumah sakit dalam keadaan pingsan.


Baik Hanan maupun Sarah hanya bisa terdiam meresapi kata demi kata yang di ucapkan oleh sang dokter.


"Saya hamil dokter?" tanya Sarah kembali setelah beberapa saat terdiam, demi mencerna semua yang di katakan oleh dokter itu.


"Iya nyonya, selamat ya. Anda sedang hamil sekarang dan ini resep vitamin untuk anda," jawab dokter lagi yang semakin membuat tubuh Sarah dan juga Hanan membeku di tempat.


Hanan bahkan, hanya diam saja saat dokter menjelaskan semua nya. Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan di konsumsi oleh Sarah selama masa kehamilannya.


"Baik Dokter, terima kasih." jawab Sarah sembari mengambil resep vitamin dan penambah darah untuk ibu hamil dari sang dokter.


Tidak lupa juga, dokter itu memberikan buku berwarna pink yang harus selalu dibawa oleh Sarah setiap kali Sarah melakukan periksaan rutin di setiap bulannya.


Dan setelah mendapatkan resep vitamin nya, Sarah dan Hanan pun berpamitan pada sang dokter. Setelah berpamitan dengan dokter, keduanya pun sama sama pergi ke bagian obat untuk menebus resep obat yang sudah di berikan oleh dokter tadi.


"Ibu Sarah Amali," seru seorang petugas di bagian obat, menyerukan nama Sarah.


Dengan langkah gontai, Sarah pun mulai berjalan mendekati tempat pembagian obat. Dimana tadi namanya di serukan oleh petugas di sana.


"Ini diminum setiap hari di malam hari, sebelum tidur ya Bu," jelas sang petugas obat itu.


"Iya suster, terima kasih," jawab Sarah dengan nada sendu.


Mungkin terlihat aneh, tapi sepertinya hanya Sarah lah Yang menyambut kehamilannya dengan perasaan yang yang sulit di artikan.


Antara sedih, bingung dan juga takut bercampur menjadi satu. Hingga perasaan itu jugalah yang membuatkan kurang fokus, sampai Sarah tidak melihat dengan jelas saat dia berjalan dan akhirnya tubuhnya menabrak tubuh penghuni rumah sakit lainnya.

__ADS_1


Set


Bruuggkkkk


"Aawww," seru Sarah saat tubuh nya tak sengaja bertabrakan dengan tubuh seseorang hingga membuat tubuh Sarah oleh dan menabrak dinding.


Melihat hal itu, Hanan pun dengan sigap membantu Sarah yang meringis kesakitan karena punggung dan juga siku nya berbenturan dengan tembok.


Sementara vitamin dan buku pink yang baru saja Sarah dapatkan dari dokter yang memeriksanya itu berjatuhan di lantai.


"Sarah kamu nggak apa apa?" tanya Hanan yang langsung menghampiri istri keduanya itu tanpa melihat siapa orang yang sudah bertabrakan dengan istrinya itu.


"Tidak, hanya sedikit kaget saja Mas. Tapi aku baik baik saja kok," jawab Sarah Mencoba menenangkan Hanan yang terlihat panik dan juga khawatir pada dirinya.


Sementara itu, barang barang milik Sarah yang berjatuhan ke lantai di punguti satu persatu oleh orang yang bertabrakan dengan Sarah barusan.


"Kamu baik-baik saja Nak? Maafkan Ibu ya? Ibu tadi buru-buru jadi tidak memperhatikan sekitar. Sekali lagi maafkan Ibu dan ini barang barang Mu Nak," ucapan wanita paru baya yang membantu memunguti barang-barang milik Sarah yang berjatuhan di lantai.


Belum sempat menyerahkan barang barang milik Sarah, Umi Fatimah sudah di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di samping Sarah, bahkan terlihat merangkul mesra bahu Sarah.


Sementara Hanan sendiri, merasa mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya membuat Hanan pun akhirnya menoleh dan menatap wanita baya yang kini berada di depannya.


Set


Deg


Baik Hanan maupun Umi Fatimah sama-sama dibuat terkejut dengan pertemuan mereka saat ini. Dimana mereka dipertemukan secara tiba-tiba di sebuah rumah sakit yang sama-sama mereka kunjungi saat ini.


"Hanan?"


"Umi?"


Ucap keduanya secara bersamaan dengan raut wajah yang begitu terkejut antara satu sama lain.

__ADS_1


"Umi, tung_____Mas Hanan?" sambung wanita lainnya, yang jauh lebih muda. Yang baru saja datang dari arah belakang Umi Fatimah bersama dengan seorang pria paruh baya yang berjalan di sampingnya.


Ketiga orang yang saling mengenal itu pun terdiam membeku di tempat masing-masing karena syok dengan pertemuan yang tiba-tiba itu. Namun ada satu hal yang menarik perhatian dari Umi Fatimah dan itu adalah sebuah buku pink yang masih ada di tangannya.


Sebuah buku yang biasa dimiliki khusus oleh ibu hamil dan saat ini buku itu masih dipegang oleh Umi Fatimah.


"Sarah Amalia, Hanan Hanafi?" gumam Umi Fatimah saat melihat Siapa nama pemilik buku tersebut.


Di mana di bagian depan buku itu tertera dengan begitu jelas siapa nama dari si pemilik buku hamil itu beserta pasangannya. Dan kini tatapan Umi Fatimah pun tertuju pada Putra semata wayangnya yang masih berdiri membeku di depannya. Berdampingan dengan seorang wanita yang diduga pemilik buku berwarna pink tersebut.


"Apa ini Hanan? Bisa jelaskan semua ini pada Umi?" tanya Umi Fatimah mengacungkan buku berwarna pink itu hingga buku itu terlihat oleh Aulia dan juha Abi Hamid.


Deg


Jantung Aulia berdetak lebih cepat saat Umi Fatimah mengacungkan buku berwarna pink itu. Belum reda rasa keterkejutannya saat melihat Hanan yang merangkul mesra seorang wanita yang cukup Aulia kenali, yaitu Sarah.


Kini keterkejutan nya kian bertambah dengan adanya buku berwarna pink yang menandakan jika si pemilik buku itu tengah berbadan dua alis tengah hamil.


Dengan mata yang berkaca kaca dan dengan tubuh yang bergetar hebat. Aulia pun mulai melangkahkan kakinya yang terasa begitu lemas untuk mendekati Umi Fatimah.


Dan dengan tangan yang gemetar, Aulia pun mengambil alih buku pink itu dari tangan Umi Fatimah menjadi pindah ke tangan nya.


"Sa_Sarah Amali, Ha_Hanan Hanafi?" gumam Aulia menatap nanar buku berwarna pink itu, buku yang bertuliskan nama suaminya dan juga wanita yang merupakan mantan istri dari ayah Aliy, yaitu Fatih.


"Sa_sayang, aku bisa jelaskan semua ini," ucap Hanan mencoba meraih tangan Aulia, namun sayang.


Disaat Hanan mulai berjalan mendekat, Aulia langsung memundurkan langkahnya, menghindari sentuhan dari suaminya itu dengan memasang wajah yang kembali ketakutan saat tangan kekar Hanan terulur ke arahnya.


Dan hal itu membuat Hanan dan juga Sarah semakin dilanda rasa bersalah yang teramat sangat besar pada Aulia.


"Sayang," lirih Hanan yang kembali merasakan sesak saat Aulia menghindari sentuhan darinya.


"Ja_jangan mendekat. A_aku mohon, jangan mendekat,"

__ADS_1


__ADS_2