Kembali Ke Surga Mu

Kembali Ke Surga Mu
Pernikahan Isma


__ADS_3

Pagi harinya....


Suara musik gamelan sudah terdengar. Keluarga Isma sudah mulai sibuk dari pagi hari. Setelah shalat subuh Isma sarapan terlebih dulu.


Lalu ia masuk ke kamarnya. Dan datanglah sang juru hias pengantin. Satu persatu keluarga Isma yang perempuan didandani. Tak lupa keponakan-keponakan perempuan Isma yang masih kecil pun didandani baju adat Sunda.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Calon pengantin pria sudah bersiap-siap pergi ke rumah Isma.


Isma sudah terlihat deg-degan.


Tak lupa Isma juga mengingatkan ayah dan ibunya untuk sarapan terlebih dahulu. Karena tamu yang datang pasti banyak.


Kursi... Makanan... Dan semua sudah siap. Datang lah rombongan pengantin pria. Tari merak pun di arak menjemput kedatangan pengantin. Tak lupa ada acara ritual Ki lengser.


Ayah dan ibu Isma keluar dari rumah untuk menyambut pengantin pria, dan mengalihkan rangkaian bunga melati ke pengantin.


Lalu masuklah Fikri ke tempat pernikahan nya. Ia duduk didampingi ayah dan ibunya. Kakinya terlihat tak bisa diam, mungkin karena efek grogi.


Sesekali Fikri terlihat menarik nafas untuk merilekskan tubuh nya.


Satu persatu acara dimulai... Dari mulai penyerahan dan penerimaan pengantin hingga Acara akad nikah.


Isma masih diam dikamar. Semua keluarganya sangat penasaran dengan penampilan Isma setelah didandani.


Fikri sudah duduk didepan ayah Isma.


Ia sudah bersiap untuk melaksanakan akad nikah.


Isma mendengarkannya dikamar. Ia terlihat sangat deg-degan.


"Saya nikahkan dan kawinan anak kandung saya, Isma Febrianti binti Muhammad Sofwan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 20 gram, dibayar tunai." Ucap ayah Isma sambil bersalaman dengan Fikri.


"Saya terima nikah dan kawinnya Isma Febrianti binti Muhammad Sofwan dengan mas kawin tersebut.... Tunai..." Jawab Fikri.


"Bagaimana saksi.... Saksi... Sah?" Tanya penghulu.


"Sah...." Ucap saksi nikah.


Semua mengucap Alhamdulillah. Isma didalam kamar pun merasa lega. Ia sekarang sudah sah menjadi seorang istri.


Lalu dipanggil lah pengantin wanita.


Isma didampingi saudara-saudaranya melangkah dengan pelan menuju tempat akad. Disana semua mata tertuju pada Isma. Isma begitu pangling didandani menjadi pengantin. Apalagi keseharian Isma tak pernah memoles wajah nya dengan riasan.


"Pangling banget ya.... Cantik..." Ucap salah satu tetangga nya.


Isma tersenyum... Tersipu malu.


Hadirlah Isma didepan Fikri. Isma menundukkan kepalanya lalu memegang tangan suami nya dan menciumnya.


"Alhamdulillah lancar...." Ucap Fikri.


Isma menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Lalu Fikri pun memegang dahi istrinya. Sambil ia mengucapkan doa.


Acara sungkeman di mulai. Kedua mempelai menuju ke ibu masing-masing.


Disana air mata Isma tak terbendung lagi. Ia bersimpuh di kaki ibu nya, lalu memeluknya.

__ADS_1


Begitupun dengan Fikri, ia menangis dan memeluk erat Ibunya.


Kemudian mereka menuju ke ayah masing-masing. Isma menangis, memeluk ayahnya.


"Jadi istri yang baik ya nak." Ucap sang ayah.


Isma menganggukkan kepalanya.


Kemudian mereka berpindah ke mertua masing-masing.


Fikri langsung dirangkul oleh ayah dan ibu Isma.


"Bapak titip anak bapak, sayangi dia, lindungi dia...!" Ucap ayah Isma ke Fikri.


"Iya Pak, insyaallah saya akan sayangi dan lindungi dia dengan sebaik-baiknya." Jawab Fikri.


Kemudian Fikri memeluk ayah dan ibu Isma. Begitupun dengan Isma, ia memeluk kedua mertuanya.


Acara demi acara telah dilalui, Alhamdulillah semua lancar. Ibu Isma pun tidak terlihat sakit.


Keesokan harinya semua beres-beres.


Isma mulai lusa tidak lagi tinggal dirumah ibunya. Ia akan tinggal dirumah baru Fikri.


"Pasti nanti kangen banget suasana disini. Gak bisa bareng terus sama ibu." Ucap Isma.


"Kan kamu bisa tiap hari mengunjungi ibu... Kan gak jauh juga jarak rumah ibu ke rumah kita." Jawab Fikri.


"Iya... Makasih ya suami ku." Ledek Isma.


Semua perlengkapan rumah yang akan dibawa pindahan mulai dipersiapkan.


Ibu Isma terdiam... Mungkin ia merasa kehilangan anak perempuan nya yang sekarang sudah jadi istri orang, dan tak lagi tinggal bersamanya.


"Nanti ibu menginap ya....?" Tanya Isma.


"Iya... Nak." Jawab ibu.


Keesokan harinya Isma pindahan. Ia pamit pada ayah dan ibunya.


Setelah Isma keluar dari rumah, rumahnya jadi sepi.


Tiba dirumah barunya, Isma dan Fikri mulai membereskan rumah nya. Banyak pula saudara-saudaranya yang membantu.


Satu dua minggu Isma masih asing dengan suasana baru. Tak lama terdengar ada seseorang yang datang kerumah nya.


Lalu ia buka pintunya.


"Ibu... Kok gak bilang-bilang mau kesini." Tanya Isma.


"Iya nak, ibu kangen... Makanya ibu kesini." Jawab ibu.


Ibunya terlihat terengah-engah, seperti kecapean. Mungkin itu efek penyakit jantung yang diderita ibu.


Isma langsung membawa air hangat untuk ibunya.


"Ibu kesini jalan kaki...?" Tanya Isma.


"Iya... Anggap aja olahraga nak..." Jawab ibu.

__ADS_1


"Ya ampun Bu... Kenapa gak bilang, kan nanti mas Fikri bisa jemput ibu." Jelas Isma.


"Ga apa-apa nak."


"Ibu mau nginep disini kan...?" Tanya Isma.


"Kasihan bapakmu Is, nanti ga ada temannya." Jawab ibu.


"Hhmmm.... Gitu. Bapak juga nginep disini aja Bu...!"


"Mana mau bapak nginep Is....!"


"Ya udah sekarang kita makan aja ya Bu."


Isma dan Ibunya makan bersama.


Sore harinya ibu Isma pulang diantar Fikri.


Satu hingga tiga bulan pernikahan, Isma belum juga dikaruniai momongan.


Hingga bulan keempat Isma mencoba pergi ke dokter kandungan untuk berkonsultasi.


"Kita coba USG aja dulu ya..." Ucap dokter.


Di layar USG terlihat ada benjolan kecil dirahim Isma.


Isma kaget disana.


"Ini penyebab sulit mendapatkan keturunan." Jelas dokter.


"Terus gimana dok...?" Tanya Isma


"Ini namanya kista. Tapi saya lihat ukuran nya masih kecil. Kita coba hancurkan menggunakan obat dulu. Mudah-mudahan bisa hilang." Jelas dokter.


"Aamiin... Dok." Jawab Isma


Tapi ini pengobatan nya agak lama, memerlukan waktu kurang lebih 8 bulan. Dan selama 8 bulan itu harus mengkonsumsi obat yang nanti saya kasih." Jelas dokter lagi.


Baru saja Isma bahagia dengan pernikahannya, sekarang ia mendapat kabar ini.


Isma bingung bagaimana ia menceritakan hal ini pada ibunya. Isma takut ibunya kaget.


Isma lalu pergi kerumah ibunya.


"Is sudah datang, gimana tadi kata dokter nak...?" Tanya ibu.


"Iya Bu.... Cuma sebentar kok disana, dokternya bilang....."


"Bilang apa Is.... ?" Tanya ibu lagi


"Tapi ibu jangan kaget ya...." Ucap Isma


"Iya ibu gak apa-apa. Dokternya bilang apa...?"


"Dokternya bilang kalau dirahim Isma ada kista Bu. Tapi ukurannya masih sangat kecil. Katanya tak perlu operasi, jadi dihancurkan dengan obat." Jelas Isma.


"Astaghfirullahaladzim..... Sabar ya nak."


"Iya Bu.. kata dokter pengobatan nya memerlukan waktu delapan bulan." Jelas Isma lagi.

__ADS_1


"Ya udah jalanin aja ya nak, yang penting kan kita ikhtiar. Biar nanti hasilnya Allah yang menentukan."


"Iya.. Bu. Terimakasih support nya." Isma sambil memeluk ibunya.


__ADS_2