
Esok harinya kondisi ibu Isma semakin melemah. Nafasnya sudah mulai pelan. Dan badannya penuh dibasahi keringat dingin.
Ibu terlihat sudah sangat lelah. Setiap waktu, keluarga bergiliran mendengar kan lafadz Laailahaillallah ke telinga nya.
Suara ibu sudah semakin dalam.
Sungguh pedih Isma melihat kondisi Ibunya.
Mereka terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Ya Allah... Bagaimana ini....??" Ucap Isma sambil terus menangis.
"Kita bawa ibu kerumah sakit lagi aja." Ucap Zikri, kakak Isma.
Ketika mereka hendak membawa ibu, nafas ibu semakin melambat.
Paman Isma menidurkan lagi ibu Isma.
"Laailahaillallah..... Laailahaillallah.... Allahu Akbar...." Ucap paman Isma menuntun ibu.
Terus kalimat-kalimat itu didengarkan ke telinga ibu.
"Sekarang jangan menangis ya, waktunya kita tuntun ibu." Ucap sang paman.
"Ya Allah... Isma ikhlas apapun yang akan terjadi. Isma gak tega melihat ibu seperti ini. Isma ikhlas Ya Allah..."
Isma menundukkan kepalanya diatas kaki ibunya yang terbaring lemah. Lalu ia bacakan doa "Allahumaghfirli dunubi liwaliwalidaya warhamhuma qama robbayani syoghiro."
Ia baca doa itu terus berulang-ulang.
Nafas ibu semakin pelan.
"Tolong ambilkan kaca kecil." Suruh sang paman.
Kakak Isma lalu mengambil nya.
Kaca itu didekatkan ke hidung ibu Isma.
Pamannya melihat sudah tak ada hembusan uap dari nafas ibu Isma.
"Innalillahiwainnaillaihirojiun....." Ucap paman.
Semua langsung menjerit... Menangis...
"Ibu... Maafkan Isma."
Isma hancur hatinya melihat kepergian ibunya. Ia ditinggalkan ibunya ketika ia dalam keadaan hamil empat bulan.
Tak banyak kata yang terucap dari bibir Isma. Ia lebih banyak terdiam dan meneteskan air mata.
Semua kenangan bersama ibunya dari sejak kecil langsung terbayang diingatkannya.
"Ibu katanya mau belanja perlengkapan bayi Isma, tapi kok ibu malah ninggalin Isma." Ucap Isma didepan jenazah ibunya.
"Ikhlas ya Is.... Ini jalan terbaik dari Allah. Insyaallah sekarang ibu sudah gak merasakan sakit lagi." Ucap di Fikri sambil memeluk istrinya.
"Sekarang tugas kita hanya mendoakan." Sambung paman.
Proses pemandian jenazah akan dilakukan dilakukan. Isma hendak ikut memandikan, tapi saat itu ia tidak diperbolehkan dengan alasan wanita hamil tidak boleh memandikan orang yang meninggal.
Disana Isma merasa benar-benar bukan anak yang baik.
Disaat pemandian ibunya yang terakhir saja, ia tidak bisa ikut.
"Ya Allah... Maafkan Isma."
__ADS_1
Saat ibunya dikafani, Isma mendekat. Ia tatap wajah ibunya untuk terakhir kalinya.
"Ibu... Maafkan Isma."
Lalu Isma melihat proses mengkhafani hingga selesai.
"Ibu... Yang tenang ya. Maaf Isma belum jadi anak yang baik..." Ucap Isma lagi.
Isma terus duduk didekat jenazah ibunya yang sudah terbungkus kain kafan.
Matanya sudah bengkak... Air matanya terus membasahi pipinya.
Proses jenazah sudah hampir selesai. Jenazah pun sudah dishalatkan. Tiga orang membantu Mengangkat jenazah untuk dimasukkan ke keranda.
Tangis Isma pecah lagi.....
"Jangan dibawa....." Teriak Isma.
"Ikhlas ya nak...." Ucap ayah sambil mengusap kepala Isma.
"Ibu mau punya cucu dari aku Pak..."
"Iya.... Sabar ya nak... Ikhlas kan ibu." Jawab ayah.
Keranda jenazah mulai diangkat.
Semua keluarga mengantar jenazah ke pemakaman.
Semua berjalan.... Semakin mendekat ke pemakaman. Liang lahat sudah semakin terlihat.
Diturunkan perlahan jenazah ibu, lalu di adzan kan.
Badan Isma semakin lemah, kaki nya gemetaran.
"Duduk disini Is... Jangan berdiri, takut nanti pusing." Ucap Fikri sambil menggandeng Isma.
Air mata tak berhenti keluar dari kedua matanya.
Proses penguburan jenazah selesai. Isma taburkan bunga diatas makam ibunya.
"Untuk keluarga diminta jangan dulu meninggalkan pemakaman, kita mengaji dulu bersama disini." Ajak paman Isma.
Semua keluarga mulai mengaji.
Setelah selesai, satu persatu keluarga mulai meninggalkan pemakaman. Disana tinggal ayah, kakak, Isma dan suaminya.
"Ibu sudah gak ada..." Ucap Zikri kakak pertama Isma.
Isma memegang batu nisan ibu lalu berkata "padahal aku lagi benar-benar butuh ibu."
Air matanya menetes lagi.
"Sabar.... Masih ada kita. Kamu gak sendiri Is." Jawab Zikri.
"Ya sudah kita pulang.... Masih ada saudara kita dirumah." Ajak ayah.
Mereka mulai berdiri dan berbalik kanan.
Dengan langkah perlahan mereka pergi meninggalkan pemakaman.
Beberapa langkah Isma melangkah, ia berhenti dan menengok lagi ke makam ibunya.
"Sudah..... Ayo kita pulang Is." Ajak Fikri.
Lalu mereka meninggalkan area pemakaman dan kembali ke rumah.
__ADS_1
Dirumah masih sangat ramai. Masih banyak saudara dan tetangga.
"Nak Isma... Makan dulu." Ucap satu tetangganya yang membantu memasak.
"Nanti aja Bu... Isma belum lapar."
"Makan ya Is, gak apa-apa sedikit juga. Kasihan janin yang ada dirahim kamu." Sambung suaminya.
"Iya..." Jawab Isma.
Sore harinya acara tahlilan dimulai.
Isma duduk bersama keluarga & tetangga yang hadir.
Rasanya hampa, ada kepingan hati yang hilang. Ada bagian dari jiwanya yang kosong.
"Ini yang dirasakan ibu saat itu. Dulu almarhumah pernah bilang rasanya sakit banget ditinggalkan oleh ibu. Dan sekarang aku merasakan itu." Isma dalam hatinya.
Isma mencoba ikhlas, walaupun sesekali ia sering merasa kalau yang terjadi adalah mimpi.
"Kamu tidak pernah mengenal sosok nenek mu nak." Ucap Isma sambil memegang perutnya.
"Kalau saja kamu tahu, dia adalah nenek yang sangat baik." Sambung Isma lagi.
Hari pertama tahlilan sampai hari ketujuh selesai.
Isma mulai beraktivitas seperti biasa.
Kakak-kakak nya sudah kembali bekerja.
Isma sudah terlihat lebih ikhlas.
Ia lebih sering mengunjungi ayahnya, karena ayahnya sekarang tinggal sendiri.
Isma juga sering membawa makanan untuk ayahnya.
Isma memiliki ayah yang baik. Setiap hari ayah Isma selalu pergi ke makam ibu Isma dan membersihkannya.
Suatu hari ketika Isma kerumah, ternyata ayahnya tidak ada.
Setelah dicari kesana-kemari ternyata ayah sedang berada di makam ibu.
Terkejut hati Isma, melihat di sekitar pemakaman ibunya Sangatlah bersih dan tidak ada satu daun pun yang jatuh.
Terlihat ayah nya sedang duduk di dekat batu nisan ibunya.
"Aku tahu bapak pura-pura terlihat kuat di depanku, agar aku kuat." Ucap Isma dalam hati.
Lalu Isma mendekat...
"Pak...."
"Isma cari kemana-mana ternyata bapak disini."
"Iya nak... Bapak lagi bersih-bersih disini." Jawab ayahnya.
"Makam ibu bersih sekali...."
"Bapak yang kuat ya... Isma yakin bapak bisa melalui cobaan ini. Bapak harus sehat, karena sekarang hanya bapak yang Isma punya." Ucap Isma.
"Iya nak... Kita harus kuat. Perjalanan kita masih panjang. Tugas kita ke ibu sekarang hanya mendoakan nya. Kamu juga harus sehat, jaga kandungan mu, dan jangan banyak pikiran ya nak...!!"
"Iya Pak..."
"Oh iya, tadi Isma bawa makanan buat bapak, sudah Isma simpan dirumah bapak. Mending sekarang kita pulang, terus makan dulu. Yuk Pak...??" Ajak Isma.
__ADS_1
"Iya... Nak... Ayo...."
Lalu Isma dan ayahnya berjalan meninggalkan pemakaman.