Kembali Ke Surga Mu

Kembali Ke Surga Mu
stroke


__ADS_3

Tiba dirumah sakit dokter mulai memeriksa ibu.


"Tekanan darah ibu lumayan tinggi dan gula darah nya pun naik. Ibu mengalami stroke ringan. Ibu juga memiliki riwayat sakit jantung."


"Saya sarankan kesehatan ibu harus benar-benar terkontrol. Karena bisa ke komplikasi." Jelas dokter.


"Lalu gimana dok... Harus dirawat?" Tanya ayah Isma.


"Bisa rawat jalan Pak, tapi harus rutin kontrolnya. Sekarang saya kasih obat dulu. Nanti sudah seminggu bisa kontrol kembali." Jawab dokter.


Lalu ayah dan Fikri membawa ibu kembali pulang.


Isma masih menunggu kabar dirumah. Tak selang lama ayah dan suami nya sudah kembali.


Ayah dan Fikri menggendong ibu, lalu membawa nya kedalam rumah.


"Gimana Pak.... Bagaimana kata dokter...??"


"Gini nak, tekanan darah dan gula darah ibu sangat tinggi. Kemungkinan ibu mengalami stroke ringan, dan harus kontrol secara rutin." Jawab ayah.


"Astaghfirullah....." Isma mengelus dadanya.


"Ibu yang sabar ya... Ibu pasti sembuh. Ibu pasti bisa jalan lagi. Ibu harus semangat." Ucap Isma sambil mengelus-elus kaki sang ibu.


Setiap hari Isma selalu melihat kondisi ibunya.


Keesokkan harinya Isma melihat ibunya sedang mencoba menggeser-geserkan badannya. Isma lalu menghampiri nya. Dan mencoba membantu ibunya. Tapi ibu menolak dibantu Isma.


"Jangan Nak, ibu bisa sendiri. Ibu berat nak, kasihan kandungan kamu takut kenapa-napa." Ucap ibu.


"Kamu ambil pisau aja didapur nak, kita makan buah pir." Suruh ibu.


Lalu Isma kedapur, mengambil sebuah piring dan pisau.


Dikupaslah buah pir itu, lalu ia potong-potong.


" Ini Bu.... Udah dikupas dan dipotong-potong, Isma siapin ya."


"Gak usah, ibu bisa sendiri Nak. Ayo kita makan sama-sama buahnya." Ajak ibu.


"Ayo makan nak.." ajak ibu.


"Itu buat ibu aja..." Jawab Isma.


"Ayo nak... Kalau lagi hamil, harus nyobain." Ajak ibu lagi.


"Enggak, itu buat ibu aja."


Ibu memang sangat menyukai buah pir.


Isma pandangi ibunya saat itu.


Hatinya sedih, wanita kuat yang selalu ada untuk nya. Kini mengalami sakit stroke.


"Nak... Kalau nanti acara empat bulanan kehamilan kamu, ibu akan tetap datang ke rumahmu... Walaupun ibu harus mengesot, karena tak bisa berjalan." Ucap ibu.


Mendengar kata-kata itu, tanpa Isma sadari ia meneteskan air mata. Sungguh ibu yang luar biasa.

__ADS_1


Isma membalas ibu dengan tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca.


Tiga hari kemudian adalah acara pengajian empat bulannya kehamilan Isma. Ia berharap ibunya memang benar-benar hadir.


Terlihat ayah dan saudaranya menggendong ibu. Lalu ibu dibawa masuk kedalam.


Acara pengajian pun dimulai.


"Alhamdulillah.... Nak ibu bisa disini. Ibu masih dikasih umur..." Ucap ibu.


"Iya Bu... Ibu cepet sehat lagi ya. Ibu pasti sembuh, Isma membutuhkan ibu." Jawab Isma.


Ibu Isma tersenyum.


Paginya saudara-saudara ibu datang. Mereka menjenguk ibu. Tak lupa mereka membawa buah kesukaan ibu.


Ibu terlihat senang berkumpul bersama adik dan kakaknya.


Ibu tertawa... Seolah ia sedang tidak sakit.


Adiknya mengupas pir dan memotong-motong nya. Dimakan lah satu persatu pir itu oleh ibu Isma.


Sore hari satu persatu saudara ibu pulang. Sampai waktu malam tiba.


Ketika semua orang dirumah bersiap untuk beristirahat, ibu Isma tiba-tiba memanggil-manggil orang, seolah-olah diluar ada tamu.


"Ayo silahkan masuk.... Ayo silahkan masuk..." Itu kata-kata ibu dan terus di ucapkannya.


Isma coba tanya pada ibunya, tapi tak ada jawaban. Hanya kata-kata tadi yang terus-menerus diucapkan.


Isma panik... Langsung ia menelpon semua keluarga. Dan semua berkumpul dirumah ibu Isma.


Semakin pagi suara ibu semakin menghilang. Mereka memutuskan untuk membawa ibu kerumah sakit.


Di bawalah ibu kerumah sakit. Beberapa hari sama sekali tak ada perubahan. Ibu tak sadarkan diri. Ia seolah-olah tidur. Tak ada respon apapun.


Tak ada makanan yang bisa masuk melalui mulut nya. Semua hanya pakai selang.


"Cobaan apa lagi ini Ya Allah...." Isma berkata dalam hati.


"Sabar ya Is.... Apapun keadaannya kamu harus tetap sabar." Ucap Fikri sambil memeluk istrinya.


Isma disana menangis.... Menumpahkan perasaannya pada pelukan suami nya.


Kakak Isma sudah berkumpul. Mereka bergantian menunggu ibunya.


"Tet... Tet... Tet...." Suara itu kembali Isma dengar diruang rumah sakit itu.


Sambil melihat ibunya, Isma menangis.


"Ibu katanya kalau nanti kandungan ku udah besar, Kita mau belanja keperluan bayi." Ucap Isma sambil menangis.


Sama sekali sudah tak ada respon dari sang ibu.


"Ibu... Bangun dong....!!" Ucap Isma lagi.


"Maaf boleh saya bicara dengan suami pasien..." Salah satu dokter menghampiri.

__ADS_1


"Iya... Saya dok." Jawab ayah Isma.


Lalu ayah Isma menuju ke ruang dokter.


"Maaf sebelumnya Pak... Saya lihat pasien disini tidak ada perubahan. Semua alat medis sudah dipasang untuk membantu. Tapi saya lihat kondisi nya malah semakin memburuk." Jelas dokter.


"Terus gimana dok... Apa yang harus saya lakukan...?" Tanya ayah.


"Intinya kami sudah angkat tangan Pak, saat ini pasien hanya terbantu dengan alat saja."


"Silahkan bapak berdiskusi dengan keluarga, saya kira biaya sampai sekarang tidak sedikit, sudah mencapai puluhan juta." Tambah dokter.


Ayah Isma disana merasa bingung, apa yang harus ia lakukan. Keputusan apa yang harus ia ambil.


Biaya semakin besar, dan kondisi ibu Isma semakin memburuk.


Akhirnya rumah sakit memberi saran untuk dibawa pulang saja.


Dengan berat hati akhirnya ibu Isma dibawa pulang.


Setiap waktu Isma mendoakan ibunya. Setiap hari Isma menangis. Sungguh tak tega melihat kondisi ibunya.


"Ya Allah.... Sayangi ibu saya. Berikan yang terbaik untuk nya." Ucap Isma.


Semua keluarga berkumpul mengaji bersama dan berdoa bersama.


Tiba-tiba ayah Isma pingsan. Semua orang langsung menghampiri.


"Ayah mungkin lelah ditambah lagi begitu berat beban pikiran nya." Kata Isma dalam hati.


Setelah beberapa menit, akhirnya ayah siuman.


Isma langsung memberinya minum.


"Ayah... Sabar ya.... Ayah harus kuat." Isma sambil memberi minum ayahnya.


Mereka berdua menangis.


Semakin kesini, nafas ibu semakin mengencang.


"Ya Allah... Ibu capek ya.... Kasihanilah ibu ku Ya Allah." Ucap Isma lagi.


"Kaki ibu dingin...."


Lalu Isma memberi kayu putih ke kaki ibunya. Ia baluri ke kedua kakinya.


Isma tak henti menangis.


"Yah kita bawa lagi ibu ke rumah sakit... Kasian. Setidaknya ada alat yang membantunya."


"Tapi kemarin rumah sakit sudah angkat tangan nak..." Jawab ayah.


"Lalu kita harus bagaimana Pak." Tanya kakak Isma.


"Bapak juga bingung nak, kita harus bagaimana. Lihat kondisi ibu, bapak sungguh gak tega."


"Maafkan Isma ya Bu.... Isma ga tahu harus bagaimana."

__ADS_1


"Maafkan bapak juga ya Bu.... Bapak belum bisa jadi suami yang baik." Tambah ayah Isma.


Dan semua kakak Isma pun meminta maaf pada ibunya.


__ADS_2