
Sesampainya ditempat kerja, Zikri langsung menuju pos jaga.
Sementara Arul sudah pergi ke tempat kerjanya.
"Assalamualaikum Pak Budi." Ucap Zikri menghampiri teman jaga ya
"Iya, Waalaikumsalam." Jawab Pak Budi dengan nada ketus
Seperti biasa sikap Pak Budi masih belum berubah. Tapi Zikri selalu menanggapi dengan sabar.
"Apa kabar Pak?" Tanya Zikri
"Baik." Jawabnya singkat
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Sudah tanggal 1 ini, mana slip gaji?" Tanya Pak Budi
"Dari atasnya belum ada ngasih ke saya Pak." Jawab Zikri
"Gimana sih, bukannya di urusin katanya komandan." Celetuk ucapan Pak Budi
"Ya Allah sabar... Sabar..." Zikri mengusap-usap dadanya
"Iya Pak nanti saya tanyain lagi." Jawab Zikri
"Kalau gini caranya, kapan gajiannya." Pak Budi terus sewot
Zikri pun coba untuk diam, dan memulai pekerjaannya. Kebetulan di Pos jaga Pak Ilham belum pulang, ia masih duduk mendengarkan celotehan Pak Budi.
"Sabar Pak..." Ucapnya pada Zikri
"Iya Pak, insyaallah masih bisa sabar." Jawabnya
"Kerja sama Pak Budi pasti Bapak gak bakal nyaman." Tambah Pak Ilham lagi
"Iya Pak, sehari serasa seminggu." Jawab Zikri pelan
"Hehh... Kalian lagi ngomongin apa?" Tanya Pak Budi
"Nggak ngomongin apa-apa Pak." Jawab Pak Ilham
Mata Pak Budi terus melirik ke arah Zikri dan Pak Ilham.
"Ya udah Pak, saya permisi dulu ya." Pak Ilham pamit pada Zikri
"Iya Pak, silahkan, selamat beristirahat." Jawab Zikri
"Iya, sabar ya Pak menghadapi orang itu." Tambah Pak Ilham lagi
Pak Ilham pun menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah Pak Budi.
Zikri pun mulai bekerja.
Ia sangat rajin dan teliti dalam bekerja. Itu sebabnya masih muda dan baru bekerja sudah dijadikan sebagai komandan.
Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul 10.00. Hati Zikri mulai bertanya kenapa slip gaji sampai sekarang belum ada. Tapi dia berpikir lagi, mungkin siang baru di bagikan.
Zikri meneruskan lagi pekerjaan nya.
Zikri lihat kembali jam tangannya, ternyata sudah menunjukkan pukul 12.00, dan sudah waktunya istirahat.
Zikri simpan dulu pekerjaannya, lalu ia pergi ke mushola. Suara adzan pun berkumandang. Zikri bergegas mengambil air wudhu.
Selesai shalat, Zikri pergi ke kantin. Ia bawa nasi bagiannya, dan ia bawa ke pos jaga. Ia makan disana, karena ia takut Pak Budi menunggunya untuk bergiliran beristirahat.
"Silahkan Pak Budi kalau mau beristirahat." Ucap Zikri
"Nah gitu dong, kalau istirahat jangan lama-lama." Jawabnya sambil meninggalkan pos jaga
Zikri menggelengkan kepala, padahal ia istirahat hanya shalat saja.
__ADS_1
Tak menjadi pikiran, Zikri pun langsung membuka cup makanannya, dan ia pun langsung menyantap makan siangnya.
Disela-sela makannya, Zikri pun mengirim pesan pada istrinya. Ia memberitahu kalau mungkin ia akan telat memberi uang, karena sampai saat itu slip gaji belum ia pegang.
Dan untungnya istrinya mengerti, itu yang membuat Zikri tenang.
Makan siang sudah selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, tapi Pak Budi belum kunjung datang dari istirahatnya.
"Tadi ke orang lain aja jangan lama, sekarang waktu istirahat habis masih belum datang." Ucap Zikri kesal
Ia langsung melanjutkan pekerjaannya lagi.
Zikri mulai berpikir lagi, sepertinya gajian memang akan telat, sampai sekarang belum ada slip gaji dibagikan.
Tak lama Pak Budi pun datang.
"Sudah istirahatnya Pak?" Tanya Zikri
"Hhmmm." Jawabnya singkat
"Ini orang seenaknya banget, dia kira tempat kerja ini milik bapaknya apa ya." Ucap Zikri dalam hati
"Mana slip gaji?" Tanya Pak Budi
"Saya belum menerimanya Pak."
"Tanyain dong, gimana sih."
"Iya." Jawab Zikri sudah malas menjawab
"Sekarang itu jadwal gajian, gimana sih?" Pak Budi mulai sewot
"Iya Pak, saya tahu sekali seharusnya gajian, dan bukan cuma bapak yang mau gajian, saya dan teman-teman lainnya juga sama Pak." Jawab Zikri agak keras
"Biasa aja dong jangan nge-gas." Ucap Pak Budi
"Bapak yang dari tadi sewot terus." Jawab Zikri sambil bangun dari duduknya
Sampai di jam 14.00 slip gaji belum juga turun. Zikri sudah yakin kalau gajian pasti akan telat.
Beberapa menit kemudian, Arul datang kesana. Ia baru saja pulang kerja.
Ia bawa satu cup gelas es kelapa muda untuk ayahnya.
"Assalamualaikum Pak." Ucap Arul
"Waalaikumsalam... Sudah pulang nak?"
"Alhamdulillah sudah Pak."
"Oh iya Pak, ini Arul bawain es kelapa muda."
Zikri pun menerimanya.
"Bapak hari ini tugas sama siapa?" Tanya Arul
Zikri pun melirikan matanya ke arah dalam pos jaga.
Arul pun langsung melihatnya.
"Oh.... Bapak yang menyebalkan ya?" Ucap Arul
"Ssstttt...!!" Jawab Zikri
"Eh iya Pak, bapak sudah gajian belum?" Tanya Arul
"Justru itu Rul, kayaknya bapak bakal telat nerima gaji, soalnya sampai sekarang slip gaji belum bapak pegang." Jelas Zikri
"Ko bisa gitu Pak?"
"Bapak juga kurang tahu."
__ADS_1
"Ya udah kalau begitu, biar Arul saja dulu yang bayar uang kontrakan ." Ucap Arul ingin meringankan beban ayahnya
"Gak usah Rul, nanti saja kalau bapak sudah gajian baru bayar kontrakan." Jawab Zikri
"Gak apa-apa Pak, pakai uang yang ada aja dulu." Jelas Arul
"Gak usah, kamu pakai buat beli seragam saja, kan masih lama kalau nunggu seragam pembagian."
"Gak apa-apa Pak, itu mah gampang."
"Ehemmmm..." Terdengar suara Pak Budi dari dalam
Pak Budi keluar sambil melihat ke arah Arul.
"Kamu pulang aja Rul, istirahat dirumah." Ucap Zikri
"Iya deh, Arul pulang aja Pak."
Arul pun meninggalkan tempat kerja ayahnya.
Seperti biasa ia mampir terlebih dahulu ke warung nasi Bu Asih.
Kali ini ia berniat akan membeli ayam goreng untuk ia dan ayahnya.
"Assalamualaikum Bu..."
"Waalaikumsalam... Nak Arul, mau beli lauk?" Tanya Bu Asih
"Iya Bu, masih ada ayam goreng?" Tanya Arul
"Ada... Mau apanya?" Tanya Bu Asih lagi
"Sayapnya aja Bu, 2 ya sekalian sama sambal lalapannya juga."
"Siap nak Arul, sepertinya baru gajian ya?"
"Iya Bu, hehe..." Jawab Arul sambil tersenyum
"Ibu bungkus dulu sebentar ya."
"Iya Bu."
Setelah selesai ia langsung pulang ke kontrakan.
Sesampainya di sana, Arul memisahkan uang 400.000 untuk dibayarkan pada ibu kontrakan. Walaupun ayahnya menolak, tapi Arul tetap membayarkan uang itu.
"Terimakasih yak Arul, sudah bayar kontrakan tepat waktu." Ucap ibu kontrakan
"Iya Bu, sama-sama, Arul permisi dulu ya."
"Iya Rul."
Arul pun kembali ke kontrakan. Dan ternyata dikontrakkan sudah ada ayahnya.
"Ayah sudah pulang?"
"Iya, dari mana Rul?" Tanya ayahnya
"Arul pulang dari ibu kontrakan Pak." Jawabnya pelan
"Kamu bayar uang kontrakan?"
"Iya Pak."
"Ya sudah nanti bapak ganti kalau bapak sudah gajian ya." Jelas Ayahnya
"Iya, bapak gak marah kan sama Arul?"
"Nggak nak, justru bapak malu, bapak malah merepotkan kamu."
"Bapak jangan ngomong seperti itu."
__ADS_1