
Dua hari Isma berada dirumah, saatnya ia kembali ke pekerjaannya.
Rasanya masih betah disana... Tapi gimana lagi isma harus kembali bekerja.
Kini pulang dan pergi, Isma ada yang menemani. Fikri selalu ada waktu untuknya.
Pulang lagi ke Bandung, Isma ditemani Fikri.
Satu tahun berlalu.... Hubungan Isma semakin serius.
Hingga satu waktu, saat Isma libur, Fikri mengajak Isma pulang.
Isma heran kenapa Fikri mengajaknya pulang. Ternyata sebelum pulang Fikri mengajak Isma ke satu toko perhiasan. Disana ia memilihkan Isma satu cincin.
Isma kaget, sebenarnya apa maksud Fikri saat itu.
"Gini... Ya Is, aku punya niat nanti malam aku dan keluarga ku akan kerumah kamu." Ucap Fikri.
"Kerumah.....??" Tanya Isma.
"Iya... Kita tunangan.
"Tunangan...???" Tanya Isma lagi
"Tapi Fik kalo mendadak seperti ini, keluargaku gak ada persiapan apa-apa." Jelas Isma.
"Gak apa-apa.... Is. Acaranya cuma acara keluarga saja. Yang penting kamu bersedia." Jawab Isma
Disana Isma bingung gimana memberitahu keluarganya. Mereka pasti kaget mendengarnya.
Pelan-pelan Isma menghubungi ayahnya di telpon.
"Assalamualaikum... Pak..!"
"Waalikumsalam.... Is. Gimana Is...?" Tanya ayahnya.
"Sekarang Isma diperjalanan Pak... Isma mau pulang..."
"Oh iya nak..." Jawab ayah
"Tapi... Pak..... Tapi...."
"Tapi kenapa.... Is...?" Tanya ayah
"Tapi nanti malam keluarga Fikri mau datang kerumah, katanya mau tunangan." Jawab Isma.
"Kok mendadak banget Is....?"
"Isma juga gak tahu Pak, kok bisa secepat ini. Mendadak lagi." Jawab Isma.
Ayah Isma kemudian menceritakan itu pada ibu dan keluarganya.
Semua keluarga bergerak cepat, ada yang belanja makanan dan lain-lain.
Fikri memang anak baik. Itu sudah terlihat dari perhatiannya pada Isma dan keluarganya. Makanya ayah dan ibu Isma merasa setuju dengan hubungan Isma dan Fikri.
Setelah tiba dirumah, Isma menceritakan nya pada keluarganya.
"Tadi tiba-tiba Fikri datang Bu, eh di ajaklah Isma ke toko perhiasan. Lalu Isma dibeliin cincin. Katanya itu cincin tunangan." Jelas Isma.
"Kamu sudah siap Is...?" Tanya ibu
__ADS_1
"Insyaallah Bu, soalnya Isma lihat Fikri laki-laki yang baik." Jawab Isma.
"Iya... Ibu juga lihat itu. Dia bukan cuma baik sama kamu, tapi sama semua keluarga kamu juga Is." Jelas ibu.
"Mudah-mudahan ini awal yang baik buat kamu ya Is." Tambah ayah.
"Aamiin..." Jawab Isma.
Malamnya.... Keluarga Fikri datang. Terlihat ada ayah, ibu dan saudaranya.
Keluarga Isma masih sibuk memasak didapur.
Isma terlihat gelisah dengan kedatangan keluarga Fikri.
Ayah dan ibunya sudah duduk didepan, menjamu keluarga Fikri yang datang.
"Isma nya dimana....?" Tanya ayah dan ibu Fikri.
"Ada... Saya panggil dulu." Jawab ibu Isma.
Tak lama Isma keluar dari kamarnya. Ia tersenyum sambil menundukkan kepala. Terlihat ia sangat deg-degan.
Isma duduk di samping Ayah dan Ibunya.
Tak lama keluarga Fikri bertanya pada Isma.
"Apakah nak Isma bersedia bertunangan dengan putra kami, Fikri..." Tanya ayah Fikri.
"Insyaallah.... Saya bersedia." Jawab Isma.
Lalu ibu Fikri mendekat ke Isma dan memasangkan cincin dijari manis Isma.
Isma lalu mencium tangan kedua orang tua Fikri. Semua orang disana mengucapkan Alhamdulillah.
Kedua keluarga lalu makan bersama.
Satu fase sudah Fikri dan Isma lalui. Mereka berharap itu adalah awal kebaikan. Dan semua akan lancar sampai niat baik itu tiba.
"Alhamdulillah... Terima kasih ya Is, sudah bersedia menerima aku." Ucap Fikri.
"Iya... Sama-sama. Semoga semua ini adalah awal kebaikan menuju niat yang baik." Jawab Isma.
"Iya... Aamiin."
Lalu mereka pun ikut makan bersama dengan kedua keluarganya.
Ibu Isma masih belum percaya, kalau anak perempuannya Kini sudah bertunangan dengan laki-laki pilihannya.
Satu pesan ibu pada Isma, "wanita harus bisa jaga diri dan kehormatan."
Itu adalah kata-kata yang selalu Isma ingat.
Keesokkan harinya Isma bersiap kembali pulang, karena Senin Ia sudah harus kembali kerja.
Ia pulang kembali diantar Fikri.
Mereka berpamitan kepada kedua keluarganya.
Lalu berangkatlah mereka.
Sesampainya di tempat Isma, seperti biasa Fikri berpamitan pada ibu mess.
__ADS_1
Tiba dikamar, Isma membuka makanan yang diberikan ibunya tadi.
Lalu Isma mengajak teman-teman sekamarnya untuk makan bersama.
"Wah makanannya banyak banget Is... Lebih banyak dari biasanya." Ucap salah satu temannya.
"Iya... Emang udah ada acara apa Is...?" Tanya satu temannya lagi.
"Gak ada acara apa-apa." Jawab Isma sambil tersenyum.
Sedang asik makan tiba-tiba teman Isma melihat ada cincin dijari manis Isma.
"Oh.... Iya aku tau nih.... Ada yang baru tunangan nih...!!" Ledek satu teman.
Lagi-lagi Isma hanya tersenyum.
"Kok.... Ga cerita-cerita sih kalau sudah tunangan....?" Ucap satu teman.
"Acara nya mendadak.... Gak direncanakan juga... Malahan gak tahu mau tunangan." Jawab Isma.
"Kok bisa..... Ceritain dong.... gimana bisa begitu...?" Tanya satu teman lagi.
Lalu Isma dengan suka cita menceritakan nya pada teman-temannya.
Sore sudah berubah malam. Ketika Isma menggeser-geserkan layar handphone nya, Fikri menelpon.
Lalu berbincang-bincang lah mereka. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Ketika sedang asik ngobrol, tiba-tiba ada bayangan hitam mendekati tubuh Isma. Disana Isma terasa sesak, seakan-akan ada yang mencekik lehernya.
Isma terus beristigfar di bibir dan hatinya.
Saat itu Isma sadar itu bukan mimpi, bahkan telpon Fikri pun belum ia tutup.
"Is... Is... Kamu kenapa...?" Tanya Fikri.
Tapi bibir Isma seperti susah untuk mengeluarkan kata-kata. Hingga beberapa menit akhirnya Isma bisa kembali bicara dan bayangan itu hilang.
Fikri masih terus bertanya di telpon. Akhirnya Isma menjawab dan menceritakan apa yang ia alami barusan.
Isma berpikir.... Kemarin bayangan itu hanya terlihat sekejap-sekejap. Tapi sekarang bayanan itu seolah mendekat dan mencoba masuk kedalam tubuhnya.
Isma sudah mulai gak enak dengan suasana itu.
Lalu Isma menceritakan hal itu pada ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya hanya berpesan jangan lupa shalat & mengaji.
Keesokan harinya Isma kembali bekerja. Ditempat kerja ia menceritakan apa yang dialaminya dikamar tempat tinggalnya.
Memang pertama kesana temannya sering melihat bayangan hitam, tapi sekarang tidak lagi katanya.
Isma berpikir apakah karena ia baru disana atau bagaimana, kok bayangan itu sering mengganggu nya.
Setiap selesai shalat, Isma selalu mengaji. Ayat-ayat Al-Qur'an ia tempel disekitar tempat tidurnya. Ia berharap bayangan itu tidak menggangu nya lagi.
Setiap akan melalui malam, hati Isma merasa tidak tenang. Ia selalu merasa ketakutan.
Sudah jam 11 malam.... Mata Isma masih terbuka. Matanya terus melirik ke arah sekitar kamarnya.
Didengarkan nya lah ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hingga Isma terlelap tidur.
Alarm Isma berbunyi, waktu shalat subuh tiba. Isma tersenyum, malam tadi tak ada bayangan itu dan ia bisa tidur.
__ADS_1
Kemudian Isma pergi ke toilet, mengambil air wudhu, lalu shalat subuh.
Bersiap-siaplah ia untuk berangkat kerja.