
Keesokan harinya, Zikri merasa jauh lebih baikan. Kepalanya sudah tidak terasa sakit lagi.
Zikir kembali siap-siap untuk beraktifitas.
Jam 7 pagi ia sudah siap dengan seragam nya. Ia mulai langkahkan kakinya ke tempat kerja.
Sesampainya disana, ia langsung masuk ke pos jaga.
Hari ini ia bertugas dengan Pak Arief. Kebetulan Pak Budi sekarang bagian tugas siang.
Seperti biasa, pagi sebelum bekerja ia selalu menyempatkan apel pagi, berdoa bersama sebelum bekerja. Lalu ia bagi-bagi tugasnya dengan Pak Arief. Untung saja sekarang kerja dengan Pak Arief, kalau seperti kemarin mungkin Zikri sudah gereget lagi.
"Pagi Pak, apa saja tugas saya hari ini." Tanya Pak Arief
"Oh iya Pak, kita bagi-bagi tugas ya, biar lebih ringan." Jawab Zikri
"Siap...Pak."
Pak Arief memang baik, dia mau menghargai Zikri sebagai atasannya walaupun usianya lebih muda darinya.
Lalu Zikri membagi-bagi tugas nya dengan Pak Arief. Mereka memulai tugas mereka masing-masing. Satu persatu tugas pun telah mereka selesaikan.
"Alhamdulilah ya Pak, jam segini pekerjaan sudah mulai rapih." Ucap Zikri
"Iya Pak, enak kerja sama Pak Zikri, walaupun seorang komandan, tapi bapak tetap mau mengerjakan semua pekerjaan layaknya sebagai anggota." Jelas Pak Arief
"Iya Pak, itu kan tugas saya juga." Jawab Zikri
"Sebentar lagi jam istirahat, kita ngopi dulu sebentar Pak." Ajak Zikri
"Boleh Pak, mau kopi apa Pak biar saya buatkan?" Tanya Pak Arief
"Gak usah Pak, biar saya aja yang buatkan." Jawab Zikri
"Jangan Pak, saya saja yang buatkan, masa atasan buatin kopi buat bawahannya." Jelas Pak Arief
"Gak apa-apa Pak, masalah kopi gak ada atasan atau bawahan."
"Pak Zikri begitu baik, walaupun ia atasanku, tapi dia tetap menghormati ku sebagai orang yang lebih tua darinya." Ucap Pak Arief dalam hati.
Ia merasa sangat bangga dengan sikap Zikri.
Zikri pun membuat dua gelas kopi panas. Ia taruh kopi itu di meja kerja.
"Ini Pak, kopinya sudah jadi." Ucap Zikri
"Oh iya, siap Pak."
Lalu mereka minum kopi bersama.
"Pak Zikri begitu baik, sayang ya Pak Budi sikapnya seperti itu." Ucap Pak Arief
"Iya Pak, saya merasa heran dengan sikap Pak Budi terhadap saya, saya punya salah apa ya?" Tanya Zikri
__ADS_1
"Sudah Pak jangan terlalu dipikirkan."
"Aneh saja Pak, ia bersikap seperti itu hanya kepada saya, apa Pak Arief tahu apa penyebabnya?" Tanya Zikri
Pak Arief langsung terdiam, ia bingung apa yang harus ia jawab.
"Pak... ko diam?" Tanya Zikri
"eh, gak apa-apa Pak."
"Pak Arief pasti tahu kan, kenapa Pak Budi seperti itu, kan Pak Arief sudah kenal lama dengan Pak Budi?" Tanya Zikri
Pak Arief masih terdiam, ia bingung apakah ia harus menceritakan yang sebenarnya pada Zikri.
"Gini Pak, sebenarnya Pak Budi merasa iri dengan Bapak soalnya dia merasa dirinya lah yang pantas jadi komandan." Jelas Pak Arief
"Oh jadi seperti itu?"
"Iya Pak, ia merasa kalau dia sudah senior dan bekerja sangat lama, jadi merasa terkalahkan dengan junior." Jelas Pak Arief lagi
"Ya ampun Pak Budi, ko dia bisa berpikir seperti itu ya."
"Jadi komandan bukan keinginan saya Pak, malah saat itu saya sempat menolaknya karena saya merasa belum pantas tapi atasan terus meyakinkan saya bahwa saya pasti mampu, dan itu sudah keputusan kantor." Jelas Zikri
"Iya Pak… saya mengerti, cuma Pak Budi saja yang menutup diri untuk mengenal bapak, padahal kalau sudah kenal dia pasti menyesal pernah memusuhi bapak karena bapak sangat baik." Jelas Pak Arief
"Ya, mudah-mudahan saja pak Budi bisa berubah ya Pak." Ucap Zikri
"Ya udah habisin dulu kopinya Pak."
Waktu terasa begitu cepat berputar. Saat itu waktu sudah menunjukan jam-jam terakhir bekerja. Zikri dan Pak Arief sudah mulai membereskan pekerja nya.
Jam pulang pun tiba. Zikri dan Pak Arief seperti biasa menjelaskan semua ke shift berikutnya.
Saat itu Pak Setya dan Pak Budi sudah ada disana.
"Pak Arief menjelaskan semua laporan kerjanya pada Pak Setya dan Pak Budi.
Pak Setya terlihat sangat memperhatikan penjelasan Pak Arief, sebaliknya Pak Budi terlihat begitu cuek dan tidak mau mendengarkan apa yang dijelaskan Pak Arief.
Zikri pun memperhatikan itu. Dia coba sabar atas perilaku Pak Budi.
Malah terlihat Pak Arief yang sudah mulai menaikan nada suara nya.
"Pak Budi, mendengarkan apa yang saya katakan tidak?" Tanya Pak Arief
Ia hanya mengedipkan matanya, tanpa menjawab satu patah kata pun.
"Sudah Pak, kita over shift ke Pak Setya saja, kalau memang Pak Budi tidak mau." Ucap Zikri
Pak Budi merasa tersinggung dengan perkataan Zikri.
"Sombong kamu, mentang-mentang komandan." Ucap Pak Budi dengan nada tinggi
__ADS_1
"Maaf Pak, saya bukan sombong, tapi dari tadi saya memperhatikan bapak seperti yang malas mendengarkan penjelasan Pak Arief." Jawab Zikri
"Sombong,kamu anak baru di sini sudah ngatur-ngatur." Ucap Pak Budi lagi
"Sudah Pak jangan ditanggapi lagi." Ucap Pak Setya menenangkan Zikri
Pak Budi lalu pergi meninggalkan mereka.
"Astaghfirullah al adzim..." Ucap Zikri sambil mengelus dadanya.
"Sabar Pak." Ucap Pak Setya
"Ini sudah sabar sekali." Jawab Pak Arief
"Sudah sekarang Pak Arief dan Pak Zikri pulang aja." Ucap Pak Setya
"Iya kalau gitu kita permisi dulu, kalau ada apa-apa kasih tahu aja ya Pak."
"Iya siap."
Pak Arief dan Zikri meninggalkan tempat kerja.
Saat itu Pak Arief ikut Zikri ke kontrakan nya. Disana Pak Arief membicarakan tentang sikap Pak Budi.
"Pak kalau begitu terus, apa gak sebaiknya kita laporkan saja Pak Budi ke supervisor." Ucap Pak Arief
"Kita tunggu aja dulu, kalau sampai ia terus-menerus seperti itu, baru kita laporkan." Jawab Zikri
"Saya sudah gereget banget lihat sikapnya Pak." Jelas Pak Arief
"Iya sama, apalagi saya, tapi coba sabar aja dulu deh."
Tak lama handphone Zikri berbunyi. Ada pesan WhatsApp dari Isma adiknya. Isma menanyakan kabar kakaknya karena ia mendengar dari istrinya kalau kemarin Zikri sakit kepala.
"Kakak sekarang sehat ko Is, kemarin mungkin hanya kecapean saja." Balas Zikri di WhatsApp
"Kalau gitu saya permisi dulu ya Pak." Ucap Pak Arief
"Iya Pak, sampai ketemu besok."
"Iya Pak, Assalamualaikum."
"Waalikumsalam." Jawab Zikri
Zikri kembali membuka pesan WhatsApp nya. Disana ada pesan lagi dari Isma.
"Jangan terlalu banyak pikiran kak." Ucap Isma
"Iya, cuma agak gereget aja sama satu orang." Jawab Zikri
"Sabar aja dulu kak, kalau memang sudah keterlaluan laporkan saja ke atasan." Ucap Isma
"Iya ini juga masih disabar-sabarin." Jawab Zikri
__ADS_1