
Fikri bertanya pada Isma, mengenai hal semalam.
"Apa kamu sering ngalamin hal seperti semalam Is...??" Tanya Fikri di WhatsApp.
"Kalau melihat bayangan udah beberapa kali, tapi kalo seperti semalem sih baru ngalamin, mudah-mudahan gak ngalamin lagi deh." Jawab Isma.
"Iya mudah-mudahan jangan sampai ngalamin lagi. Banyak berdoa Is." Tambah Fikri.
Hari demi hari Isma selalu merasa tak nyaman. Apalagi kalau menuju waktu malam. Karena bayangan itu semakin kesini semakin mengganggunya.
Bahkan satu malam ketika ia tertidur, ia merasa diseret keluar kamar. Seolah-olah ada mahluk yang membawa nya. Tapi Isma sadar kalau itu bukanlah mimpi.
Ketika ia terus beristigfar dengan sekuat hatinya, tiba badannya serasa kembali ke tempat tidur. Isma terlihat capek.
"Kenapa Is...?" Kata salah satu temannya.
Lalu Isma pun menceritakannya.
sejak kejadian itu Isma sudah merasa tidak nyaman.
Satu dua hari ia coba bertahan tinggal disana. Tapi setelah itu Isma akhirnya menyerah.
Ia bereskan semua pakaiannya. Ia masukkan kedalam tasnya.
"Kok beres-beres baju Is....??" Tanya salah satu temannya.
"Aku pulang aja ya..." Jawab Isma
"Pulang kok bajunya dibawa semua...?" Tanya temannya lagi.
"Kayaknya aku gak balik ke tempat ini lagi deh...! Aku udah gak kuat sama gangguan-gangguan yang ada dikamar ini." Jelas Isma
"Kalau kamu keluar dari mess ini, berarti kamu berhenti kerja Is...!" Jelas temannya
"Iya... Gak apa-apa. Nanti cari kerja aja ditempat lain." Jawab Isma.
Saat itu... Lalu Isma menelpon ayah dan ibunya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.... Ia Is, gimana?" Jawab ibu.
"Gini Bu... Isma kayaknya berhenti kerja aja dari sini."
"Kenapa memangnya nak...?" Tanya ibu lagi.
"Isma bukan sekali dua kali Bu sering diganggu makhluk halus. Sering banget malah. Tapi, semakin kesini gangguannya semakin bener-bener bikin gak nyaman. Apalagi kejadian beberapa malam ini." Jawab Isma.
"Memang semalam kejadiannya bagaimana Is, cerita ke ibu..."
Lalu Isma menceritakannya pada ibu.
Setelah ibu mendengarkan cerita Isma, ibu mengerti ketidaknyamanan Isma tinggal disana.
Dan memang jika keluar dari mess, berarti ia keluar dari pekerjaan nya. Karena peraturannya kalau bekerja disana harus tinggal di mess.
"Ibu terserah gimana kamu nak. Kalau sekiranya disana membuat mu tidak nyaman, lebih baik kamu keluar dari tempat itu." Ucap ibu.
"Iya Bu... Isma akan berpikir lagi, setidaknya semalam lagi."
Malamnya Isma mengalami hal aneh lagi. Tubuhnya serasa akan dimasuki, tapi tubuh Isma seperti ada kekuatan untuk menolak. Dalam hati, Isma terus beristigfar. Sampai akhirnya makhluk itu pergi lagi.
Tubuh Isma gemetaran. Ia terlihat ketakutan.
Akhirnya Isma membulatkan tekadnya untuk berhenti dari pekerjaannya dan meninggalkan tempat itu.
Masih pagi Isma bercerita pada tunangannya, tentang rencananya itu. Ia berniat sore hari ia akan keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Setelah mendengar kabar itu, dengan sigap Fikri langsung menuju ke tempat Isma.
Isma sudah mempersiapkan semua barang nya. Saat itu ia hanya berpikir bagaimana bisa keluar dari tempat itu.
Isma berpamitan pada teman-temannya.
Lalu ia berpamitan pada ibu mess nya.
Di depan gerbang, Fikri sudah menunggunya.
Fikri mendekat lalu membawa semua barang-barang Isma.
Lalu Isma masuk ke dalam mobil.
"Kamu udah yakin Is....?" Tanya Fikri lagi.
"Insyaallah... Fik."
"Bismillahirohmanirohim...." Ucap Fikri sambil menghidupkan mobil nya.
Berangkatlah Fikri mengantarkan Isma pulang.
"Bukannya kamu gak libur Fik, kok malah nganterin aku...?" Tanya Isma.
"Iya... Gak apa-apa, nanti bisa izin kok." Jawab Fikri.
Empat jam perjalanan sudah dilalui, Sampai lah Isma dirumahnya.
"Assalamualaikum...."
"Waalikumsalam..... Isma sudah sampai ya..." Sambut ibu.
"Iya Bu... Nih Isma diantar sama Fikri."
"Emangnya Fikri libur, kok bisa anterin Isma kesini...?" Tanya ayah Isma.
"Terima kasih ya.. jadi ngerepotin ke Fikri." Sambung ibu
"Gak Bu... Kan ini kewajiban Fikri." Jawab Fikri
Isma dan ibu tersenyum mendengar jawaban Fikri.
"Ya udah kalian makan dulu sana, pasti lapar kan. Ibu udah siapkan makanan." Ucap ibu.
Lalu Isma dan Fikri makan bersama disana.
Keesokan harinya atasan Isma menelpon. Ia menanyakan mengenai kepergiannya meninggalkan mess.
Lalu Isma menjelaskan alasannya meninggalkan tempat itu.
Atasannya memberi tahu Konsekwensinya meninggalkan mess. Dan Isma sejak saat itu keluar dari pekerjaannya.
Tapi saat itu Isma berencana untuk mencari pekerjaan lain.
Satu dua bulan Isma berada dirumah. Belum satupun ada surat panggilan. Padahal ia sudah mengirimkan beberapa lamaran.
Sampai di bulan ketiga....
Fikri pulang dari tempat kerjanya. Ia datang kerumah menemui Isma.
"Assalamualaikum...."
"Waalikumsalam.... Loh kapan datang...?" Tanya Isma.
"Tadi sore, langsung main deh kesini."
Ngobrol lah Isma dan Fikri disana.
__ADS_1
"Is, gimana kalau kamu gak usah kerja lagi." Ucap Fikri
"Kenapa...?" Tanya Isma
"Gini Is... Usia kita juga kayak nya sudah cukup untuk membina rumah tangga." Jawab Fikri
Isma langsung menengok ke arah Fikri. Ia terlihat kaget dengan ucapan Fikri.
"Tapi... Apa kamu sudah yakin...?" Tanya Isma.
"Insyaallah.... Is. Kita mulai dari nol. Kita bangun sama-sama." Jawab Fikri
"Gimana....?" Tanya Fikri lagi
"Aku coba diskusikan dulu ya sama keluarga. Nanti aku kabari lagi." Jawab Isma
Setelah Fikri pulang, Isma menceritakan apa yang diucapkan Fikri kepada ayah dan ibunya.
Mereka pun sama, tampak kaget mendengarnya. Mereka tidak menyangka akan secepat itu mengajak Isma menikah.
Paginya lagi ada perwakilan keluarga Fikri kerumah. Ayah dan ibunya sudah menduga kalau itu akan membicarakan tentang niat Fikri. Dan betul saja keluarga Fikri mengajak berunding tentang pernikahan.
Saat itu Isma dipanggil ibunya, menemui keluarga Fikri.
Lalu Isma duduk diantara mereka.
"Nak Isma, apakah nak Isma mau menikah dengan Fikri...??" Tanya salah satu keluarga Fikri.
Isma menoleh ke arah ayah dan ibunya. Dan ibunya tersenyum.
"Insyaallah.... Saya siap." Jawab Isma
"Alhamdulillah.... Kalau nak Isma mau. Nanti kita tinggal atur waktu hari H nya saja."
Kemudian berunding lah dua keluarga tersebut. Sampai akhirnya keluar tanggal 25 bulan 3.
"Insyaallah... Itu adalah tanggal dan bulan yang baik." Ucap keluarga Fikri.
Disana Isma masih serasa mimpi, saat itu ia telah dilamar, dan tiga bulan ke depan akan melakukan pernikahan.
"Serasa mimpi ya Bu...." Ucap Isma
"Bismillah ya nak.... Semoga ini yang terbaik buat kamu." Jawab ibu.
Tak lama Fikri menelpon, dan memberi tahu kabar pernikahan mereka. Fikri mengira Isma belum mengetahui hal itu.
"Assalamualaikum.... Is..."
"Waalikumsalam...." Jawab Isma
"Sebentar lagi kita menikah ya...."
"Insyaallah......" Jawab Isma.
"Tadi paman aku sudah menemui ayahmu Is... Katanya sudah sepakat tiga bulan lagi akan menikahkan kita."
"Iya aku udah tahu kok, kan tadi aku juga ada disana." Jawab Isma.
"Oh gitu ya... Kirain kamu belum tahu Is."
"Aku dulu yang tahu... dong!" Ledek Isma
"Doakan aja semoga semuanya lancar, gak ada halangan apapun." Jelas Isma.
"Iya aamiin..."
Lalu mereka menutup telponnya.
__ADS_1