Kembali Ke Surga Mu

Kembali Ke Surga Mu
Ibu meninggal ketika Isma mengandung


__ADS_3

Sesampainya di rumah bapaknya, kemudian Isma menyiapkan makanan.


"Rumah ini sekarang lebih sepi, ga ada ibu yang selalu duduk di kursi ini. Rumah terasa hening dan dingin. Hanya ada seorang bapak yang tinggal disini.


Yah bapak memang sendiri karena ibu telah kembali ke surga-Nya."


Hari demi hari dilalui, perut Isma semakin membesar. Usia kehamilannya semakin mendekati persalinan.


Ia terlihat sudah lebih ikhlas dan terbiasa dengan tidak ada lagi ibu disisi nya.


Usia kehamilannya menginjak tujuh bulan. Isma penasaran dengan jenis kelaminnya.


Ia pergi memeriksa kandungannya.


"Permisi dok...!"


"Ibu Isma.... Silahkan masuk."


" Udah tujuh bulan ya Bu usia kehamilan...?"


"Iya.... Dok...!!'


"Kita periksa dulu ya...."


Isma berbaring lalu melihat ke layar komputer. Terlihat bayinya bergerak didalam perutnya.


"Alhamdulillah.... Bayi nya sehat." Ucap dokter.


"Jenis kelaminnya apa dok...?"


"Perempuan Bu..."


"Alhamdulillah...." Ucap Isma.


"Tapi ini posisi anaknya masih sungsang. Nanti kita kasih gerakan-gerakan senam hamil, tujuannya agar posisi anak sempurna menuju jalan lahir."


"Oh gitu ya dok..."


Setelah dirumah, Isma langsung mempraktekkan senam yang diberitahu dokter. Ia berharap posisi anaknya tidak sungsang lagi.


Setiap hari dengan sabar Isma melakukan senam ya.


Hingga satu bulan kemudian Isma pergi lagi memeriksa kandungannya.


"Gimana Bu Isma kabarnya...?" Tanya dokter.


"Alhamdulillah... Sehat dok.


Saya mau periksa lagi dok. Soalnya bulan kemarin posisi anak dikandungan saya sungsang."


"Oh iya Bu... Bismillah ya semoga hasilnya baik." Jawab dokter.


"Ibu berbaring dulu ya, kita cek kandungannya."


Lalu Isma berbaring.


Dokter mulai menggeser-geserkan mouse komputernya.


"Posisinya sudah agak bagus, insyaallah kalau lebih rajin lagi olahraga nya, menuju persalinan posisinya udah bagus." Jelas dokter.


Setiap hari dengan rutin, Isma melakukan senam yang diajarkan dokter, sampai usia kehamilannya sembilan bulan.


Diusia kehamilannya yang semakin dekat proses lahiran, Isma semakin deg-degan. Itu akan menjadi pengalaman pertama nya. Ditambah sudah tidak ada lagi sosok ibu yang selalu menemaninya. Tapi beruntung Isma mempunyai mertua yang sangat baik, yang bisa mengerti Isma.


"Hari sudah semakin mendekati hari perkiraan lahir (HPL)… kok masih belum ada tanda-tanda mau melahirkan ya...?" Isma berkata pada suami nya.


"Sabar... Mungkin belum waktunya." Jawab Fikri.


Hari berganti hari lagi, tapi Isma belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan.

__ADS_1


Dan sudah melewati hari perkiraan lahir.


Isma tetap sabar menunggu.


Hingga setelah shalat Maghrib, Isma melihat ada keluar flek kecoklatan. Ia kira itu bukanlah salah satu tanda sudah mendekati waktu melahirkan.


Tak lama adzan isya berkumandang. Saat itu perut Isma terasa mengencang. Ada sedikit rasa mulas ia rasakan.


"Mas, tadi ada keluar flek kecoklatan. Sekarang perutku ada sedikit mulas." Isma berkata pada suami nya.


"Sekarang gimana masih mulas...?" Tanya Fikri.


"Iya masih ada mulas..."


Semakin malam..... Rasa mulas semakin kuat. Isma mulai merasa tidak nyaman duduk atau berbaring.


"Mas... Kok semakin kesini semakin mulas ya...??


"Ya udah kita panggil bidan ya...!"


Fikri menelpon ibunya terlebih dulu,


"Bu... Tolong kesini ya. Saya mau pergi ke bidan sebentar!"


"Isma sudah kontraksi nak...?" Tanya ibu Fikri.


"Iya Bu... Katanya sudah mulai terasa mulas-mulas."


"Ya udah... Ibu kesana sekarang."


"Tunggu sebentar ya Is... Kita tunggu ibu dulu. Nanti aku jemput bidan biar memeriksa kandungan mu."


Tak lama... Ayah dan ibu Fikri datang.


"Ya udah sana nak.... Kalau mau panggil bidan. Biar Isma dan bapak yang temani Isma disini." Ucap ibu Fikri.


Sementara itu Isma coba menelpon ayahnya.


"Pak... Isma sudah mulai merasa mulas-mulas."


"Sekarang kamu dimana nak..?" Tanya Ayah Isma.


"Isma masih dirumah Pak... Mas Fikri sekarang sedang memanggil bidan."


"Oh iya... Kalau gitu sekarang bapak langsung ke rumah kamu."


Bidan pun datang.


"Mana coba saya lihat dulu ya. Ayo kita periksa dulu..."


Isma masuk ke kamarnya, lalu diperiksa.


Setelah beberapa menit, bidan keluar.


"Iya... Isma sudah menunjukkan tanda-tanda melahirkan. Saya periksa sekarang sudah pembukaan satu."


"Oh iya... Bu..." Jawab Fikri.


"Sekarang dirumah saja dulu, tunggu sampai pembukaan selanjutnya. Kalau sudah mendekati nanti kita bawa ke Puskesmas." Jelas dokter.


Jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Bidan mencoba memeriksa pembukaan Isma.


"Ayo kita periksa lagi." Ajak bidan.


Perut Isma semakin mulas.


"Sekarang sudah pembukaan dua. Kalau masih bisa tidur, boleh tidur dulu." Ucap bidan pada Isma.


Waktu terus berputar. Jam satu malam bidan memeriksa kembali Isma. Berharap pembukaan nya sudah bertambah.

__ADS_1


Tapi setelah diperiksa tetap sama.


"Sudah pembukaan berapa Bu...?" Tanya Fikri.


"Masih pembukaan dua."


Lalu bidan bertanya pada ayah Isma.


"Pak... Maaf apa ada riwayat dari keluarga melahirkan kaki nya dulu...?"


"Memang nya kenapa Bu...?" Tanya ayah Isma.


"Begini Pak... Ada keanehan... Dari mulai pembukaan. Pembukaan harus nya sudah lebih dari dua. Isma sekarang mengeluarkan darah seperti haid. Saya coba periksa, yang ada dijalan lahir seperti nya bukan kepala bayi yang ada dibawah."


"Terus gimana Bu... Apa yang harus dilakukan...?" Tanya Fikri sangat khawatir.


"Kalau sampai jam tiga masih pembukaan dua, Kita bawa Isma kerumah sakit saja. Biar diperiksa lebih lengkap." Ucap bidan.


Isma semakin kesakitan, perutnya sangat mulas. Ia sudah tak enak duduk ataupun berbaring. Suaminya terus mengelus-elus punggung nya.


"Sabar ya nak.... Terus berdzikir dalam hati." Kata sang ayah.


Isma menganggukkan kepalanya.


Waktu sudah jam tiga, waktunya bidan memeriksa lagi.


"Ayo kita periksa lagi ya..."


Isma diperiksa dan Isma masih mengeluarkan darah dari jalan lahir.


"Gimana Bu...?" Tanya ayah Isma.


Bidan menggelengkan kepalanya.


"Masih pembukaan dua... Dan darah masih keluar dari jalan lahir. Sekarang kita bawa kerumah sakit."


"Jangan lupa bawa semua perlengkapan melahirkan dan perlengkapan bayi nya ya..."


Mereka bersiap pergi ke rumah sakit.


Isma sudah pasrah apapun yang akan terjadi. Ia hanya ingin bayi nya selamat.


Tiba dirumah sakit, Isma langsung dibawa keruang USG. Disana Isma diperiksa dokter kandungan.


"Ini gak bisa melahirkan secara normal." Ucap dokter.


"Kenapa dok..?" Tanya Fikri.


"Posisi plasenta ada dibawah, pasti akan terjadi pendarahan." Jelas dokter.


"Ini harus segera lakukan operasi Caesar. Saya periksa detak jantung bayi nya pun semakin kencang." Tambah dokter.


Tanpa pikir panjang, Fikri langsung mengiyakan.


"Silahkan lakukan operasi Caesar sekarang dok. Yang penting anak dan istri saya selamat." Ucap Fikri.


"Baik... Sekarang lakukan persiapan operasi." Ucap dokter ke asistennya.


Isma meneteskan air matanya. Ia ingat segala sesuatu tentang ibunya.


"Sabar... Kuat... Pasti bisa..." Ucap Fikri sambil mengecup dahi Isma.


"Kuat ya nak.... Sehat kamu dan bayi nya..." Ucap ayahnya.


Ibu Fikri menangis.... Melihat menantunya akan melakukan operasi Caesar.


"Kuat....ya nak... Kamu dan bayi mu pasti selamat & sehat." Ucap ibu Fikri.


Lalu perawat membawa Isma masuk ke ruang operasi.

__ADS_1


__ADS_2