
Hari ini hari kedua interview Arul. Pagi-pagi sekali Arul sudah siap. Seperti biasa Zikri mengantarkannya dengan meminjam motor Pak Arief.
Beberapa menit dari tempat kerja Zikri akhirnya sampailah di tempat interview Arul.
Arul turun dari motor dan langsung masuk ke dalam kantor. Di sana sudah banyak orang yang sama-sama akan melakukan interview. Arul pamit pada ayahnya.
Di dalam ruangan ia disuruh berkumpul di suatu ruang dan memegang masing-masing satu komputer. semua di test mengoperasikan komputer. Setelah selesai istirahat semua dikumpulkan kembali di suatu ruangan. Di sana mereka diberi pengarahan dan dijelaskan tata cara kerja di perusahaan tersebut.
Arul terkejut ketika mendengar bahwa di perusahaan itu harus mencari investor dengan minimal invest 100 juta. Arul pun mengacungkan tangannya untuk bertanya kepada pembimbing.
"Maaf Pak saya boleh bertanya." ucap Arul
"Iya silakan mau menanyakan apa?"
"Maaf sebelumnya Pak, saya mau menanyakan tentang gaji nya, itu bagaimana sistemnya ya?" tanya Arul
"Baik, jadi sistem gajinya di sini jika mendapatkan satu investor maka anda akan mendapatkan gaji."
"Kalau misalkan dalam satu bulan saya tidak mendapatkan investor itu bagaimana?" tanya yang lain
"Kalau begitu maaf tidak ada uang yang dapat masuk ke kantong, jadi Anda akan menerima uang jika anda mendapatkan investor." Jelas pembimbing
Di ruangan sudah mulai terdengar omongan-omongan dari yang melakukan interview. Suasana jadi ramai.
"Ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya pembimbing
Semua langsung diam. Arul pun di sana berpikir kerja apa seperti ini sedangkan untuk mencari investor dengan invest yang sangat besar itu sangat susah sekali, berarti kalau selama beberapa bulan ia tidak mendapatkan investor dia tidak akan digaji.
Arul pun berbisik kepada teman yang sama-sama melakukan tes di sana.
"Bagaimana menurut Anda?" tanya Arul
"Saya tidak tertarik, saya tidak mau meneruskan tes ini." jawab teman yang di samping Arul
"Iya sama saya juga tidak mau meneruskan tes atau interview ini lagi." jawab Arul
Acara interview hari itu berakhir dan pembimbing meminta besok datang kembali untuk interview yang terakhir.
Arul keluar dari tempat itu dengan lesu dan tidak bersemangat. seperti biasa dia memesan ojek online untuk pulang ke kontrakan.
Sesampainya di sana Arul seperti biasa mampir terlebih dahulu ke tempat ayahnya bekerja.
"Assalamualaikum." ucap Arul
"Waalaikumsalam." jawab Zikri ayahnya
"Kok tumben sekarang pulang nya siang?" tanya Pak Arief
"Wajah kamu kayak nggak semangat kenapa Rul? tanya Zikri
__ADS_1
"Iya nih Pak, Arul nggak mau nerusin interview di perusahaan itu lagi deh."
"Loh kenapa… bukannya cuma satu kali lagi ya interviewnya?"
"Iya Pak, tapi aku pikir-pikir perusahaannya nggak masuk akal."
"Nggak masuk akal gimana?" tanya Zikri kebingungan
"Ya nggak masuk akal Pak, masak kerjaannya harus nyariin investor terus investornya harus dapat minimal invest nya 100 juta udah gitu kalau kita nggak dapat investor kita nggak dapat gaji." jelas Arul
"Ya udah nanti kita cari lagi pekerjaan yang lain, nanti besok coba deh h
kamu masuk-masukin lamaran kerja ke beberapa perusahaan." ucap Zikri pada anaknya
"Iya Pak, Untung aja kemarin waktu ke sini aku bawa semua lamaran lamaran dan bukan satu, tadinya sih buat jaga-jaga tapi Insya Allah ada manfaatnya."
"Iya udah, Arul mau pulang aja ke kontrakan ya Pak hari ini rasanya lelah sekali." tambah Arul
"Ya udah sana pulang aja kalau mau makan, nasi udah ada kamu tinggal beli temannya aja ke warung Ibu Asih yang di depan." jelas Zikri
"Iya Pak nanti aja deh makannya barusan baru udah makan kok." jawab Arul
Akhirnya Arul pun pulang ke kontrakan.
Setibanya di sana ia langsung merebahkan badannya, hari itu cuaca sangat panas. lalu ia buka kembali tas yang ia bawa dari rumah, ia rapi-rapikan lagi lamaran dan mempersiapkan untuk besok masukkan lamaran ke perusahaan yang dekat dengan kontrakannya.
"Mudah-mudahan saja dapat pekerjaan." ucap Arul sendirian
Dia kembali merebahkan badannya sambil menyetel televisi mungilnya.
"meong.. meong.." terdengar si moli mengeong-ngeong
Arul pun langsung bangun, ia lupa kalau tadi pagi iya belum memberinya makan karena berangkat sangat pagi.
"Ya ampun maaf ya Moli aku lupa kasih kamu makan." ucap Arul pada kucingnya
Lalu ia beri makan dan minum kucingnya.
Karena ia merasa jenuh sendirian di kontrakan, akhirnya Arul pergi ke tempat kerja ayahnya lagi.
"lho kok malah ke sini lagi Rul, padahal sebentar lagi bapak juga mau pulang."
"Jenuh Pak, biasanya Arul bisa tidur tadi nggak bisa tidur."
"Bapak juga tinggal nunggu yang overshif nanti Bapak pulang."
"Iya Pak… tapi nggak apa-apa kan kalau Arul ke sini lagi?" ucap Arul sambil duduk di bangku depan pos jaga
"Iya nggak apa-apa."
__ADS_1
Tak selang lama Pak Setya dan Pak Budi pun sudah terlihat datang ke parkiran.
Zikri dan Pak Arif segera membereskan semua pekerjaannya.
Dari kejauhan Pak Budi sudah melihat ke arah Arul.
"Siapa itu yang duduk di sana?" tanya Pak Budi pada Pak Setya
"Oh itu, itu putranya Pak Zikri." jawab Pak Setya
Pak Budi dan Pak Setya pun tiba di pos jaga. Pak Arief seperti biasa menjelaskan laporan kerja yang mereka lakukan.
Tiba-tiba Pak Budi berbicara dengan ketus.
"Anak kok malah main di tempat kerja."
Zikri tidak berucap apapun, dia hanya diam lalu pergi meninggalkan tempat kerja.
"Ayo kita pulang Rul." ajak Zikri
"Iya Pak."
Di parkiran Pak Arief berkata pada Zikri.
"Sudah Pak, nggak usah dimasukin ke hati ucapan Pak Budi ya, emang dia orangnya seperti itu."
"Iya nggak kok Pak… biarin aja udah biasa." jawab Zikri
"Ya udah kalau gitu saya pamit duluan pak Zikri." kata Pak Arief sambil menyalakan motornya.
"Iya Pak silahkan."
Zikri dan Arul lalu berjalan ke gang menuju kontrakan rumahnya.
Di perjalanan Arul menanyakan soal Pak Budi, kebetulan saat itu ia baru ketemu dengan Pak Budi.
"Pak orang yang tadi,i sikapnya kurang baik ya sama Bapak?" tanya Arul
"Ya seperti itulah sikapnya tadi." jawab Zikri
"Kenapa diam aja sih Pak, nggak ngelawan?" tanya Arul
"Udahlah biarin aja, udah capek ngelayanin orang kayak gitu."
"Tapi kan Bapak itu komandan di sini, kok dia nggak menghargai sih."
"Udah biarin aja Rul, oh ya kita mampir dulu ke Bu Asih ya kita sekalian beli teman nasi."
"Iya Pak."
__ADS_1