
Bulan demi bulan Isma lalui. Dengan sabar ia melakukan pengobatan. Ia sangat berharap ingin segera mendapatkan momongan. Isma selalu merasa minder dengan ucapan-ucapan orang yang terus menanyakan kapan hamil. Untung nya Isma mempunyai suami yang pengertian. Fikri selalu sabar dalam menghadapi sesuatu.
"Kenapa sih.. orang-orang selalu kepo. Nanyain kapan hamil, kok belum hamil sih. " Ucap Isma.
"Sabar ya... Semua Allah yang atur, bukan mereka yang atur. Jadi jangan terlalu memikirkan apa kata orang ya." Jawab Fikri
"Kita kan sekarang lagi ikhtiar." Tambah Fikri
"Kalau misalkan aku memang gak bisa punya anak gimana...?" Tanya Isma
"Sudah... Sudah jangan berpikir kemana-mana." Jawab Fikri.
"Iya aku serius.... Kalau aku gak bisa punya anak gimana...??" Tanya Isma lagi.
"Is... Udah jangan banyak pikiran. Kalau memang gak bisa punya anak, kan masih bisa ngangkat anak." Jawab Fikri
Isma terdiam......
"Kalau aku gak bisa punya anak, aku ikhlas kok kalau kamu ninggalin aku. Terus nikah lagi sama wanita lain."
"Ssssstttt.... Udah... Kamu ngomong apa sih..." Ucap Fikri.
Tiap hari Isma minum obat. Setelah habis tiap satu bulan sekali ia pergi kontrol ke dokter kandungan.
Di bulan keempat, dokter melakukan USG lagi rahim Isma.
"Bisa dilihat disini, ukuran kista semakin mengecil. Alhamdulillah sudah ada kemajuan. Insyaallah nanti juga akan hilang." Ucap dokter sambil menggeser - geserkan scroll komputer.
"Iya Dok, Alhamdulillah...."
"Jangan lupa obat nya selalu dimakan, jangan sampai terlewat." Ucap dokter.
"Iya Dok..."
"Ini resep untuk bulan ini." Dokter memberikan kertas.
Memang penuh perjuangan keinginan Isma ingin mempunyai momongan. Untuk menghilangkan penyakit dirahim nya saja membutuhkan biaya yang lumayan besar. Untuk menebus obat saja harus mengeluarkan biaya kurang lebih 800.000.
Setiap hari Isma terus minum obatnya. Hingga di bulan kedelapan Isma kembali ke dokter. Saat itu Isma benar-benar berharap ada kabar baik.
"Kita coba USG dulu ya...." Ucap dokter.
Lalu dokter menggeserkan mouse komputer nya, berulang-ulang.
"Gimana dok...?" Tanya Isma.
"Iya... Kalau saya lihat disini kista nya sudah gak ada. Sebentar saya cek ulang." Dokter ingin memastikan.
Ia geser-geser lagi mouse komputer nya.
"Iya sudah gak ada kista nya... Sudah hancur dengan obat. Alhamdulillah...." Ucap dokter.
"Alhamdulillah... terimakasih ya dok." Ucap Isma.
"Kista nya sudah hilang… jadi kalau mau program kehamilan sudah bisa." Tambah dokter.
Lalu dokter menulis resep. Dan menjelaskan apa yang ia tulis.
"Saya kasih satu obat hanya 2pcs ya. Ini diminum satu oleh istri dan satu oleh suami." Ucap dokter.
"Obat apa itu dok...?" Tanya Fikri.
__ADS_1
"Itu obat penyubur, mudah-mudahan langsung bisa dapat momongan. Soalnya saya lihat istri bapak kandungannya kering."
"Oh gitu ya dok... Makasih dok."
Hari itu Isma merasa lega, sudah hilang satu beban dipikirannya.
Sekarang Isma dan suami tinggal fokus program hamil.
"Mudah-mudahan aku bisa segera hamil ya mas..." Ucap Isma.
"Iya... Aamiin. Semoga Allah segera mengabulkan." Jawab Fikri.
"Oh iya, aku belum kasih tahu kabar ini ke ibu. Aku kasih tahu dulu ya...?"
"Iya..." Jawab Fikri.
"Assalamualaikum.... Bu..."
"Waalikumsalam nak..."
"Ibu gimana, sehat...?" Tanya Isma
"Alhamdulillah.... Ibu sehat nak."
"Oh iya Bu... Isma baru aja pulang dari dokter. Tapi kontrol terakhir Isma. Dan Alhamdulillah kista dirahim Isma sudah hilang Bu."
"Alhamdulillah... Nak... Ibu senang mendengarnya. Sehat terus ya Nak...!"
"Iya Bu Aamiin. Doain Isma ya Bu mudah-mudahan Isma segera diberi momongan."
"Iya nak... Aamiin.... Ibu selalu doain kamu."
Satu bulan berlalu. Hari itu harus nya hari pertama Isma haid. Tapi Isma tak kunjung haid. Esoknya lagi masih tidak haid lagi.
"Oh ya... Tunggu mungkin besok." Jawab Fikri.
Tanpa sepengetahuan Fikri, besoknya Isma pergi ke apotik. Di belilah 3 pcs testpeck.
Ia taruh testpeck itu ditempat tersembunyi. Ia berpikir kalau hasil nya tidak sesuai, maka Fikri gak akan tahu.
Paginya lagi, Isma bangun lebih pagi. Ia langsung membawa testpeck nya sambil. Lalu ia Test, hasilnya ada satu garis jelas dan satu garis sangat samar. Lalu ia simpan testpeck itu.
Paginya lagi, Isma lakukan hal yang sama. Hasilnya ada satu garis yang sangat jelas dan satu garis masih samar. Lalu ia simpan lagi.
Hari ketiga ia tidak melakukan Test. Baru dihari ke empat ia lakukan Test lagi.
Paginya, Isma membawa testpeck, lalu ia coba Test. Dan hasil pagi itu membuat Isma menangis dan bersujud.
Fikri pun terbangun... Mendengar suara tangisan Isma.
"Kamu kenapa Is... Kok nangis...??" Tanya Fikri sambil membangunkan Isma dari sujudnya.
"Ini... Mas..." Isma memberikan testpeck itu.
"Iya mas....."
"Alhamdulillah......" Fikri bersujud disana.
Lalu ia memeluk dan mencium Isma.
"Alhamdulillah.... Aku senang banget Is." Ucap Fikri sambil mengelus perut Isma.
__ADS_1
"Kita beri tahu bapak ibu ya...." Tambah Fikri.
Lalu mereka menelpon kedua orang tua mereka masing-masing.
Kedua keluarga merasa bahagia.
Paginya Isma pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilannya.
Lalu dokter memeriksanya.
Dan ia... Isma sedang mengandung.
"Selamat... Akhirnya penantian terjawab juga. Alhamdulillah...." Ucap dokter.
"Iya... Makasih ya dok."
"Iya... sama-sama. Sekarang tinggal menjaga nya. Jangan lupa vitamin... Makanan bergizi dan cukup istirahat."
"Iya Dok.."
Tiga Minggu Isma mulai merasa mual. Dan tak berselera makan. Tapi tak lama hanya beberapa Minggu saja.
Isma pergi berkunjung ke rumah orangtuanya. Disana ia ngobrol bersama ibunya. Ia menanyakan pengalaman ibunya tentang kehamilan.
"Bu dulu, ibu juga mual-mual ya..?"
"Kebanyakan orang hamil kayak gitu nak, kan ada perubahan hormon ditubuhnya. Gak apa-apa, mual-mual gak akan lama." Jawab ibu.
"Oh iya Is.... Nanti kalau ada rezeki, kalau usia hamil kamu udah gede. Nanti kita beli perlengkapan bayi." Tambah sang ibu.
"Iya.. Bu. Ibu nya harus tetap sehat ya..." Jawab Isma.
Malam harinya ketika Isma tertidur, tiba-tiba suara handphone nya berdering.
Ia lihat ayahnya menelpon.
"Iya Pak, kenapa...?"
"Bisa kesini sekarang ga nak...?"
"Emangnya kenapa Pak....??"
"Ibu mu nak... Ia sakit lagi."
Lalu Isma membangunkan suaminya, dan langsung pergi kerumah ibunya.
Tiba disana ibunya sedang menangis.
"Ibu... Apa yang ibu rasain sekarang...???"
"Ini... Nak... Kaki ibu gak bisa digerakkan... Gak ada tenaga nya." Jawab ibu sambil menangis.
"Astaghfirullah..... Ya udah sekarang kita ke dokter."
Lalu Fikri menggendong ibunya, dan masuk ke mobil.
"Is kamu tunggu dirumah aja ya, kasihan kandungan kamu. Lagian ini sudah malam banget." Ucap Fikri.
"Iya nak... Biar bapak di temani Fikri." Ucap ayahnya.
"Ya udah.... Kalian hati-hati ya. Jagain ibu... Kabari Isma."
__ADS_1
Lalu ayah dan Fikri membawa ibu ke dokter.