
.......
.......
.......
"Kau terluka? Di bagian mana? Apakah sudah di obati?" Rentetan pertanyaan di ajukan oleh Quon dengan raut wajah yang sangat khawatir.
Itu sedikit membuat hati Xinxin menghangat, karena dikhawatirkan oleh orang di depan nya ini. 'Mungkin ini perasaan Xinxin asli!' Batin Xinxin.
Dia terus menyangkal perasaan nyaman yang dia rasakan setiap kali mendapat perasaan hangat dihatinya, baik itu dari Chici maupun dari kakak pemilik tubuh ini.
'Apakah hubungan mereka berdua dulunya baik? Nanti ku tanyakan pada Chici,' batin Xinxin.
"Hei kau, apakah Xinxin sudah di obati?" Tanya kasar Quon kepada Chici berbeda saat di bicara dengan Xinxin.
Xinxin mendelik kepada Quon yang sangat kasar kepada Chici, tapi dia lihat Chici biasa saja, jadi dia tidak komplen, kalau sudah sangat kelewatan baru dia akan turun tangan.
"Sudah tuan!" Jawab Chici.
"Ceritakan detailnya," perintah Quon.
Chici pun menceritakan setelah mereka masuk ke dalam rumah ya anggap saja Rumah meski hanya terdiri satu ruangan.
"Jadi begitu cerita nya tuan," setelah beberapa saat Chici selesai menceritakan detail kejadian, kecuali kenapa Xinxin bisa berakhir di kolam teratai, karena dia tidak tahu.
"Kau benar-benar tidak mengingat apapun? Bahkan bagaimana kau bisa ada di kolam malam itu?" Tanya Quon memastikan dan Xinxin hanya menggeleng. Sedari tadi dia tak bersuara kalau pun menjawab hanya anggukan atau gelengan yang dia berikan.
"Hahh, baiklah kalau begitu, jangan dipaksakan! Nanti juga kemungkinan ingatan mu akan kembali," Ucap Quon sambil mengusap lembut kepala Xinxin dan Xinxin menikmatinya.
Usapannya tiba-tiba berhenti, tapi tangan Quon masih di atas kepala Xinxin.
Xinxin penasaran dan mendongak. "Ada apa?" Tanya Xinxin dan ternyata Quon menatap nya lekat dengan ekspresi yang tidak dapat Xinxin artikan dan tangannya sudah dia turunkan dari kepala Xinxin.
"Bisa tinggalkan kami berdua?!" Ini bukan pertanyaan tapi perintah terhadap Chici dengan nada serius.
Chici yang paham pun keluar dari kamar Xinxin dan tinggallah Quon Dan Xinxin.
Xinxin jadi bingung, ada apa? Apakah ada sesuatu yang salah?
Wajah Quon berubah menjadi serius dan karena jiwa CEO nya, Xinxin ikut-ikutan serius, karena dia terbiasa bekerja secara profesional.
__ADS_1
"Kau sudah bisa merasakan energi alam?" Tanya Quon langsung.
Xinxin terkejut, apakah Quon bisa merasakan energi dalam tubunnya? Dia rasa iya! Padahal dia telah menyembunyikannya semaksimal mungkin.
"Haha, apa maksud ka-kak," ucapnya menyangkal sedikit gugup dan canggung mengucapkan kata kakak.
Xinxin tetap menatap mata Quon agar Quon percaya, kalau dia tidak mengerti maksud kakaknya itu. Ya, kakaknya, karena dia sudah memasuki dan menyatu dengan tubuh Xinxin jadi dia akan mengakui Quon sebagai kakaknya, tapi tidak sepenuhnya, sebelum dia menanyakan kedekatan Quon dengan Xinxin dulu kepada Chici.
Quon menatap Xinxin serius. "Jangan menyangkal! Kakak bisa merasakan energi alam pada tubuhmu, meskipun hanya sedikit," ucap Quon.
Xinxin berpaling, dia tidak tahan menatap mata itu, mata tuntutan untuk menjawab.
"Lalu?" Xinxin mengaku, karena sekeras apa pun menyangkalnya, tetap pasti suatu saat akan ketahuan.
"Sejak kapan?" Tanya Quon dengan nada melembut.
"Kakak tidak perlu tahu! Lebih baik kakak pergi sekarang! Aku ingin istirahat," ucap Xinxin tanpa memandang Quon.
Quon masih terdiam ditempat kemudian menghela nafas. "Baiklah! Kalau begitu kakak pergi, nanti kakak akan berkunjung lagi. Istirahatlah! Oh ya jangan lupa makan, kakak sudah membawakanmu makanan," Ucap Quon paham. Dia paham kalau Xinxin masih belum ingin memberitahunya, bahkan dia tebak masih tidak ada yang tahu.
Setelah terdengar pintu tertutup Xinxin berbalik dan menatap pintu itu dan melirik meja, disana ada keranjang yang seperti kata Quon, itu berisi makanan.
Grokk
Grokk
Dia lapar, ya lapar, semakin lapar karena sempat tegang tadi.
"Makan dulu saja," Xinxin pun beranjak dari ranjangnya menuju meja makan. Di bukanya keranjang itu dan terlihat banyak jenis makanan disana. Mulai dari makanan berat sampai cemilan.
"Ah, dia baik, tapi masih harus di konfirmasi," ucapnya kemudian tak menunggu lama Xinxin mulai makan.
Beberapa saat kemudian dia selesai makan dan berpikir. "Bagaimana kalau dia memberitahukan ini kepada semua orang? Terutama Tuan Fu. Aku tidak ingin ketahuan secepat ini." Ucap Xinxin.
"Sudahlah, nanti ku pikirkan lagi cara agar memperkuat teknik penyembunyian energi ini. Chi? Apakah kau di luar?" Panggil Xinxin.
Kreattt
Pintu terbuka dan masuklah Chici.
"Ada yang anda butuhkan nona?" Tanya Chici.
__ADS_1
"Aku mau tanya? Duduk sini," ucap Xinxin.
Chici pun duduk tanpa ragu, karena dia sudah biasa dengan ini, karena sering kali Xinxin memintanya.
"Ada apa nona?"
"Ceritakan, apakah hubunganku dengan kak Quon dulu baik?" Ucap Xinxin.
Chici mengangkat kepalanya dan mulai berpikir, mengingat-ingat apa yang ditanyakan nonanya.
"Saat umur tuan muda kedua 12 tahun, dia di kirim ke rumah Kakek dan nenek dari pihak ibu nona. Itu karena dia menentang perintah Tuan Fu dan Nyonya Jieru untuk menjauhi anda karena saat itu tuan muda selalu mengunjungi anda ke tempat ini tempat terbuang untuk orang terbuang,...... Ah Maafkan saya nona, saya tidak bermaksud...,"
"Lanjutkan!" Perintah Xinxin.
Chici yang tadi berdiri serta membungkuk kembali duduk, karena nonanya terlihat sangat serius dan tidak bisa di tentang.
"Jadi saat itu tuan muda selalu bolos latihan, belajar dan sebagainya hanya untuk menemani anda yang selalu bersedih, jadi karena marah Tuan Fu pun mengirim tuan muda dan baru sekarang dia kembali kesini, entah itu untuk selamanya kembali atau hanya untuk merayakan pesta kelulusan tuan muda Chyou," cerita Chici.
Xinxin memikirkan kalau memang begitu, jadi dapat di simpulkan hubungan Xinxin ini dengan kakaknya Quon baik, karena dia tidak memandang apakah Xinxin dulu memiliki elemen atau tidak dia tetap baik padanya dan menyayanginya dan oleh sebab itu dia juga akan baik kepada Quon.
"Terimakasih sudah menceritakannya," ucap Xinxin.
"Sama-sama nona! Kalau begitu apakah ada yang anda butuhkan lagi?" Tanya Chici.
"Tidak ada! Kau boleh istirahat, dan oh ya bawa ini, makanlah yang banyak," ucap Xinxin. Dia tadi menyisihkan sebagian makanan untuk Xinxin, karena dia tahu kalau Xinxin pasti lapar karena lumayan lama pingsan.
"Terimakasih nona! Kalau begitu saya permisi," ucap Chici, ia ingin menolak, tapi pasti gagal, karena Xinxin sungguh keras kepala, tapi baik. Chici pun keluar dan tinggallah Xinxin yang termenung.
"Dimana kau Xinxin?" Gumam Xinxin.
Dia penasaran kemana jiwa Xinxin, dia tidak pernah mendatangi dirinya untuk mengonfirmasi tentang semua ini, bahkan satu ingatan pun tidak dia dapatkan. Ini sangat menyulitkan dirinya untuk menyesuaikan dirinya.
"Hahh sudahlah," Xinxin pun merebahkan dirinya menuju alam mimpi.
¤
¤
¤
I hope you like it...
__ADS_1