Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Part 46


__ADS_3

...Happy Reading...


...~••~•<•>•~••~...


Xinxin menatap dua anak berbeda gender yang sudah duduk tenang di samping kanannya dengan kepala tertunduk sambil memilin-mikin jari mereka, pertanda gugup.


"Langsung saja, aku tidak akan menyembunyikan apapun dari kalian. Pertama maaf karena aku egois, kedua egoisku ini juga tidak serta merta mutlak, kalian bisa memilih,"


"Kalian berdua sekarang bukanlah bagian dari keluarga Sun lagi. Tapi sekarang kalian adalah bagian keluarga Jiang, keluargaku, saudara saudariku. Aku tidak memaksa jika kalian tidak ingin menyandang namaku, itu terserah kalian memilih apa, mau tetap bersamaku atau pergi. Kalau pergi aku juga akan memisah nama kita dan akan memberikan nama baru untuk kalian. Tapi...


"Aku tidak menyesal telah memisahkan kalian dari keluarga Sun itu,"


Lan dan Lin menunduk sambil berpegangan tangan. Meski ada beberapa kata yang tidak mereka mengerti, tapi point pokoknya mereka tangkap. Setelah acara makan bersama tadi mereka membersihkan meja dan mencuci piring dan cangkir dan berakhir di dalam kamar satu-satunya di rumah itu.


Sun Lin mendongak menatap Xinxin kemudian berkata. "Terimakasih sudah melakukan itu, kami tidak marah pada kakak Xin dan kami akan ikut kakak. Kakak tahu sendiri meski kami telah berpisah, keluarga Sun pasti tidak akan membiarkan kami. Kami hanya dua anak kecil yang belum dewasa, tidak bisa melawan,"


"Benar kakak Xin! Meski sudah berpisahpun tak menutup kemungkinan mereka masih akan menyusahkan kami atau bahkan lebih dari sebelum-sebelumnya. Jadi dengan ikut kakak Xin kami ada yang menjaga," ucap Lan.


Xinxin tersenyum dengan perkataan mereka berdua. Dari kehidupan pertamanya dia selalu sendiri, dan kehidupan keduanya meski memiliki keluarga tapi hanya satu kakak nya saja yang memperhatikannya, itu pun tidak setiap waktu, karena dia kembali ke akademi nya. Dan saat dia memiliki kesempatan untuk memiliki adik, dua lagi, mengapa tidak? Meksipun ini tidak mudah untuk merawat dua anak, berbeda dengan Lan dan Lin yang meski di usia muda sudah bersikap lebih dewasa di banding anak-anak usia mereka.


"Bagus! Kakak senang mendengar nya,"


"Nah karena kalian resmi jadi keluarganya kakak, maka pertama-tama kalian mandi dulu, kakak memiliki pakaian baru untuk kalian berdua," ucap Xinxin sambil tersenyum.


"Benarkah?!" Tanya Lan dengan mata berbinar. Ya wajar saja mereka senang, dulu setahun sekali pun mereka tidak mendapat pakaian baru. Pakaian yang mereka pakai hanyalah pakaian kedua orang tua mereka yang juga tidak layak pakai.


Xinxin mengangguk dengan semangat. "Jadi cepat mandi, kakak akan menyiapkannya di atas ranjang!"


Mereka berdua pun pergi ke belakang rumah, dimana mereka mandi, tapi secara bergantian.


Yang pertama datang adalah Lan. Xinxin pun membantu Lan memakai pakaian baru nya.


"Tampan!" Ucap Xinxin sambil menatap Lan, membuat dirinya malu dengan pipi memerah.


"Kakak Xin, aku juga sudah selesai!" Xinxin teralihkan dengan suara Lin yang masuk kamar.


"Bagus! Kalau begitu kemari, kakak akan membantumu berpakaian, dan Lan kau boleh keluar dulu?" Tanpa menjawab, Lan bergegas keluar kamar.


Xinxin pun mulai membantu Lin untuk berpakaian, dan mengikat rambutnya setengah bagian kemudian dia ikat dengan pita biru, sama dengan warna pakaian nya.


"Cantik!"


"Hehehe, kakak bisa saja. Kakak lebih cantik!" Ucap Lin malu-malu.


Yah meski Lan dan Lin memiliki kulit kuning kusam, tak menutup bibit unggul mereka.

__ADS_1


Sedikit di tambah daging dan lemak, dapat di pastikan mereka bukan seperti orang desa lagi.


"Baiklah, sekarang giliran kakak yang mandi! Kalian kalau mau main, bermain lah bersama teman-teman kalian!"


"Baik!"


Xinxin pun ke belakang rumah untuk melaksanakan mandinya.


"Apakah tidak ada penyekat untuk mandi?" Ucap Xinxin yang kaget melihat tempat mandi kedua anak ini.


"Lalu bagaimana mereka berdua tadi mandi?" Mata Xinxin mengelilingi halaman belakang dan menemukan baskom sedang.


"Mungkin mereka mandi dengan baskom itu?!" Ucap Xinxin tidak yakin. Pasalnya kedua anak itu memang muat dalam baskom itu, tapi dirinya tidak akan muat.


"Huhhh, aku harus membuat kamar mandi sementara nih!"


Acara mandi Xinxin tertunda karena dia akan membuat kamar mandi sederhana dengan menggunakan kayu-kayu yang ada di hutan.


"Snow, bisa bantu aku membuat kamar mandi sederhana?"


"Bisa tuan! Mau seperti apa?"


"Memangnya bagaimana caranya kau membuat nya?"


"Ahhh itu mudah!"


Snow yang sudah keluar dari ruang angkasa mulai memejamkan mata dan membaca mantra?


Entahlah, Xinxin tidak mengerti. Tapi tiba-tiba batang pohon sedang berjumlah dua belas batang keluar dari hutan dengan melayang-layang kemudian menacap di atas tanah, sesuai pola yabg sudah Xinxin garis untuk membuat kamar mandi.


Lagi-lagi banyak bambu yang keluar dari hutan yang sudah terpotong-potong sedang kemudian merangkai sendiri bentuk mereka yang akan di jadikan lantai, dinding, pintu, dan atap.


Terakhir ranting-ranting dengan daunnya menutupu atap dan jadilah kamar mandi sederhana di samping sumur.


"Wahhh luar biasa! Tapi apakah tidak ada melihat tadi?" Xinxin menengok kesana kemari, dan lega saat tidak mendapati satu orang pun yang melihat.


"Kau tenang saja! Tidak akan ada yang akan melihat kecuali orang itu memiliki tingkatan yang tinggi!"


"Bagus kalau begitu!" Xinxin yakin tidak ada orang yang memiliki tingkatan lebih tinghi daripada dirinya di Desa Embun ini.


"Kalau begitu kau pergilah! Aku akan mandi!"


Snow menggerutu kesal pada Xinxin yang tidak tahu terimakasih karena telah membantunya dan dia memilih untuk jalan-jalan di desa, toh tidak akan ada yang bisa melihatnya juga kan.


Kembali kepada Xinxin yang sekarang sudah mengenakan pakaian barunya. Bukan pakaian seperti sebelumnya yang terkesan seperti anak laki-laki, sekarang dia benar-benar memakai pakaian perempuan.

__ADS_1


Xinxin keluar ke halaman rumah kecil itu sambil meregangkan otot-ototnya.


Kraak


Kraak


Seperti bunyi tulang patah padalal hanya meregangkan saja.


"Eh?" Xinxin terkejut mendapati dua anak berbeda gender itu duduk sambil menatap Xinxin takut dan khawatir.


"Kakak Xin apakah itu bunyi tulang kakak yang patah?" Tanya Lan polos.


Xinxin terkekeh kemudian mengusap kepalanya Lan. "Bukan! Itu hanya bunyi peregangan otot-otot!"


"Otot? Apa itu?"


"Yah pokoknya itu yang ada di tubuh kita, bukan patah tulang!" Xinxin bingung bagaimana menjelaskannya. Toh di jelaskan mereka juga tidak akan mengerti.


Mereka bertiga duduk di depan rumah, tepatnya di sebuah bangku panjang yang bersandar pada dinding rumah.


"Kalian sedang apa tadi?" Tanya Xinxin. Pasalnya dia melihat dua anak ini tadi sedang mencoret-coret pada tanah dengan ranting.


"Ah, itu kami sedang menggambar," jawab Lin malu-malu.


"Kau suka menggambar? Melukis?" Tanya Xinxin yang diangguki oleh Lin.


"Kalau Lan tadi sedang apa?" Tanya Xinxin beralih kepada Lan.


Lan menggeleng. "Aku hanya melihat kakak Lin menggambar!"


"Apa yang Lan sukai?" Tanya Xinxin.


Lan nampak berpikir keras kemudian menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang aku suka," ucapnya lesu.


"Tidak apa! Lan masih kecil dan masih banyak waktu untuk mencari kesukaan!" Ucao Xinxin yang di angguki oleh Lin.


"Ya, Lan pasti akan menemukan kesenangan nya nanti!" Ucap Lin.


Hari beranjak malam dan mereka pun memilih untuk istirahat setelah makan malam. Kecuali Xinxin yang menyempatkan diri untuk masuk ke dalam ruang angkasanya dan memeriksa tanamanya yang ternyata sekarang sudah ada yang berbuah, bahkan matang.


'Begitu cepat?!' Pikir Xinxin senang.



__ADS_1



I hope you like it...


__ADS_2