Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Kakak ketiga


__ADS_3

.......


.......


.......


Xinxin berkali-kali melihat orang itu dan atas pohon bergantian mengabaikan kenarsisan pria ini, tapi tidak dipungkiri kalau pria di depannya ini memang tampan, mirip seseorang?


"Kau dari tadi di atas sana?" Tanya Xinxin menunjuk dahan pohon dimana pria itu tadi sebelum melompat turun.


"Hm! Memangnya kenapa? Aku lebih dulu disini terus kau datang entah dari mana dan siapa? Oh ya kau siapa? Bagaimana kau bisa masuk ke kediaman keluarga ku?" Orang itu adalah Fu Quon, kakak laki-laki kedua Xinxin.


"Tidak! Umm aku juga tinggal di sini kok," jawab Xinxin takut-takut kalau di kira percuri atau apa, kan memang tidak ada yang mengenalinya kecuali Chici dikediaman ini, kalaupun dia mengaku sebagai nona di kediaman ini pun apakah ada yang percaya. Bahkan kalau percaya apakah mereka peduli, Xinxin rasa dia ragu.


Pria itu nampak berpikir dan berkata.


"Pelayan ya?" Tanya Quon.


"Ihhh, siapa sih pria ini? Menyebalkan sekali," batin Xinxin kesal, tapi tidak dia tunjukkan.


Xinxin tersenyum manis. "Bukan! Perkenalkan namaku Fu Xinxin, anak ke lima dari kediaman Fu ini, kalau tuan?" Ucap Xinxin memperkenalkan dirinya sambil sedikit membungkuk kemudian diakhiri pertanyaan.


Tidak ada jawaban dari Quon, dan saat Xinxin kembali menegakkan tubuhnya terlihat wajah Quon yang tadinya masih terlihat santai sekarang menjadi datar.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Xinxin Quon langsung pergi.


Grokkk


Grokkk


Lagi-lagi perut Xinxin berbunyi. "Sabar ya!" Ucapnya sambil mengelus perutnya. Hampir seharian dia tak makan, wajar saja perutnya terus berbunyi minta di isi.


"Oh ya, kemungkinan Chici sudah bangun nih, sudah lama juga aku keluar," Xinxin pun berbalik pergi meninggalkan Quon yang masih berada di sana. Dia tadi terhenti saat mendengar suara perut Xinxin.


"Apakah sebagai anak kelima, kau bisa sampai kelaparan begitu?" Ucap Quon menatap sendu Xinxin yang sedikit berlari.


"Chici? Apakah temannya? Sepertinya bukan! Pasalnya dia belum pernah keluar setelah hari itu," ucapnya lagi.


Dulu dia sangat menyayangi adik perempuannya itu. Dia tidak memperdulikan ramalan dari leluhur mereka yang mengatakan kalau ada anak kelima maka itu akan menjadi aib atau keberuntungan bagi keluarga. Dia tulus menyayangi Xinxin, dia sering ingin mengunjungi adiknya itu, tapi selalu di cegah, sampai dirinya di kirim ke rumah kakek neneknya dan baru sekarang dia kembali bertepatan kelulusan kakak pertamanya. Itupun kalau bukan karena merayakan kelulusan kakak pertamanya, mungkin dia tidak diperboleh kan pulang sampai dia juga lulus dari akademi.


Memang semua anak di kediaman Menteri Pertahanan Fu ini sudah memasuki akademi, hanya Xinxin yang tidak di izinkan untuk masuk akademi. Selain itu karena Xinxin juga tidak memiliki elemen apapun jadi dia tidak bisa masuk.


Tapi itu dulu, sekarang karena. Xinxin telah mampu dia akan memasuki akademi itu, dan pastinya dengan identitas palsu. Enak saja kalau dia berhasil maka akan membuat nama keluarga Fu akan lebih baik, mengingat tubunnya dulu di abaikan, dia sedikit kesal meski bukan dirinya yang merasakannnya, tapi entah karena jiwanya memasuki tubuh Xinxin dan perasaannya seakan-akan menyatu, jadi penasaran Xinxin dulu dapat dia rasakan juga.

__ADS_1


"Kenapa dia menutup wajahnya? Karena itu aku tak mengenalinya! Sial!" Quon memukul udara marah dengan dirinya sendiri tidak mengenali adik perempuannya itu.


"Aku akan menemuinya nanti setelah mengambil makanan untuknya," Quon pun pergi dari sana menuju tempat yang tadinya Xinxin cari.


.


.


.


Hah Hah hah


Xinxin terengah-engah. Dia kembali dengan berlari. "Ah bodoh nya aku, bukannya aku sudah mempelajari ilmu peringan tubuh?" Xinxin menepuk pipinya karena lupa. Wajar kebiasaan dia di dunia modern masih belum terlupakan, dan kehidupan serba kekuatan yang masih belum terbiasa.


Ilmu peringan tubuh, yaitu teknik umumnya di pelajari semua orang baik itu memiliki elemen udara/angin atau tidak. Kalau orang itu berelemen udara/angin akan lebih mudah mempelajarinya, bahkan tidak mempelajarinya pun akan bisa secara alami, karena itu memang bawaan dari elemen itu.


Sedangkan yang bukan berelemen udara/angin, harus mempelajarinya terlebih dahulu dan itu sedikit sulit bagi yang berelemen memiliki sedikit energi alam di dalam tubuh mereka.


"Sudahlah! Sudah sampai juga tidak perlu di sesali," Xinxin pun masuk ke rumah nya yang minimalis itu. Hanya terdiri satu ruangan untuk melakukan semuanya. Mulai dari tidur, mandi, dan makan di lakukan di satu ruangan berukuran 3 kali 3 itu.


Kreatt


"Nona!" Panggil Chici dengan nyaring.


Chici telah berada dihadapan Xinxin dan melemparinya dengan berbagai macam pertanyaan, padahal kondisinya masih lemah.


"Nona darimana? Apakah nona baik-baik saja?" Banyak lagi pertanyaan yang membuat kepala Xinxin di kelilingi bintang-bintang.


"Suuutttt," Xinxin menaruh telunjuknya di depan bibir Chici.


"Sudah? Kapan aku menjawabnya kalau kau terus bertanya?!"


"Hehehe, maaf! Silahkan kalau begitu nona bisa menjawab," ucap Chici kalem.


Xinxin menghela nafas lelah dan lemah karena dia lapar.


Dia mengelus perutnya. "Aku...," tak sempat berkata-kata, pintu rumah Xinxin di ketuk seseorang.


Mereka berdua saling pandang dengan pasangan bertanya dan keduanya menggeleng bersama-sama.


Xinxin melarang Chici untuk membukakan pintu, biar dia saja. Dia pun membukankan pintu.


Kreatttt...

__ADS_1


'Siapa?' Bukan suara yang keluar hanya gerak mulut yang terlihat.


Xinxin melihat orang itu dari atas sampai bawah dan teringat...


"Oh! Kau kan yang tadi itu?" Ucap Xinxin sedikit keras.


Chici yang penasaran pun ikut keluar dan saat sudah tahu siapa yang mengetuk pintu betapa terkejutnya dia.


"Salam tuan muda kedua!" Ucap Chici seraya membungkuk.


Fu Quon, dia hanya berdehem mengiyakan salam Chici.


"Hm," Chici bangkit dan mundur ke belakang Xinxin.


"Tuan muda kedua?" Gumam Xinxin sambil mengingat-ingat nama nya.


Saat asik melamun, Xinxin tersadar saat Quon berkata. "Sudah lama tidak bertemu!" Ucapnya sambil tersenyum.


Seorang Quon yang irit tersenyum, kalaupun tersenyum hanya senyum sinis, dan mengejek saat tersenyum kepada Xinxin.


Tak menjawab, Xinxin masih mengingat-ingat nama kakak laki-laki keduanya itu.


"Maafkan kakak tidak mengenalimu tadi," Ucap nya lagi. Tapi Xinxin masih tak merespon.


Chici menarik pelan lengan pakaian Xinxin membuat Xinxin tersadar dari lamunannya.


"Tuan muda Fu Quon, nona," bisik Chici.


"Ah, salam kakak ketiga," salam Xinxin yang membuat hati Quon berdenyut.


"Apakah selama itu, sampai adik perempuan kesayangannya melupakan dirinya? Dan apa tadi...kakak ketiga? Dulu dia memanggilku kak Quon," batin Quon sedih.


Chici sedikit maju dan menunduk kemudian berkata. "Maafkan saya Tuan muda, tapi nona saat ini kehilangan ingatannya, jadi dia tidak mengenali anda," jelas Chici.


Quon terkejut dan langsung memegang kedua pundak Xinxin membuat tubuh Xinxin menegang dan wajahnya mendarat. Tidak ada lagi ekting sok sopan dan baik, dia kembali ke wajah profesionalnya sebagai seorang CEO. Dia tidak suka di pegang-pegang, apalagi orang yang baru dia kenal. Benar kan kalau Quon ini baru dia kenal, meski Quon adalah kakak dari pemilik tubuh yang dia tempati.


¤


¤


¤


I hope you like it...

__ADS_1


__ADS_2