
...Happy Reading...
...~•~•••<•>•••~•~...
Setelah perdebatan menguras emosi Xinxin tadi, akhirnya dia dapat bebas berkuda bersama Quon dan dia berniat tidak langsung pulang, dia ingin mengajak Quon jalan-jalan. Biarpun hari sudah sore dia tidak peduli mau saat pulang di hukum atau apapun itu yang penting dia dapat merasakan ketenangan sejenak karena dia yakin pada saat dia pulang dia akan mendapat amukan dari Nuan. Tadi dia sempat melihat tatapan membunuh dari Nuan. Bukan takut, tapi dia malas berurusan dengannya.
"Kak, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?! Aku terlalu bosan di rumah terus," ucap Xinxin mendongak menatap Quon dari bawah. Di lihat dari bawah Quon tambah tampan saja, rahangnya yang kokoh terlihat jelas.
Quon menunduk mendapati adiknya menatapnya. "Boleh! Kemana kamu ingin kita pergi?" Setuju Quon. Dia juga tidak ingin cepat kembali, dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama adiknya, karena sebentar lagi dia akan kembali ke akademi dan akan lama bisa bertemu dengan Xinxin lagi.
Dan dari tadi dia terus kepikiran dengan sikap kakak pertamanya itu. Kenapa dia dengan keras ingin berkuda dengan Xinxin? Apakah dia ingin mencoba mendekati Xinxin? Meski itu bagus, tapi dia tak rela jika perhatian Xinxin terbagi, meskipun kepada kakaknya yang lain.
"Entahlah! Apakah kakak memiliki rekomendasi tempat bagus? Kakak kan tahu aku tak pernah keluar, jadi tidak tahu tempat bagus," ucap Xinxin sambil menatap kedepan. Pemandangan asri cukup menyenangkan dilihat, baru kali ini dia bisa sesantai ini terlepas seberapa lama dia sudah berada di dunia ini.
Tapi tak seperti Xinxin yang menikmati, tidak dengan Quon yang terasa menyayat hati mendengar penuturan Xinxin. Dia tahu ini akan terjadi. Xinxin nya, adik kesayangannya sangat malang hidupnya.
"Bagaimana kalau kita keliling kota saja! Kau tahu kan aku juga baru beberapa saat di sini?!" Ucap Quon.
Xinxin baru teringat. "Oh iya! Kan kak Quon sedari kecil pergi ke kota lain," batin Xinxin.
"Baiklah!" Setuju Xinxin.
Mereka pun berkuda dengan cepat melewati hutan. Kuda mereka melambat perlahan saat melewati perkebunan dan persawahan para warga.
"Wahhh itu sawah?" Tanya kagum Xinxin. Maklum di dunia nya dulu dia belum berkesempatan untuk menikmati pemandangan sawah atau pun perkebunan yang menyejukkan mata ini.
"Hmm," Quon mengangguk. "Kau benar! Mau kesana?" Tanya Quon.
Dengan antusias Xinxin mengangguk. Dengan cekatan Quon membantu Xinxin turun dari kuda. Setelah turun Xinxin langsung berlari ke padang sawah mengabaikan peringatan Quon.
"Haiss," Quon hanya dapat menggelengkan kepala melihat tingkah Xinxin yang random. Kadang dewasa, kadang jahil dan sekarang kekanakannya keluar.
Setelah mengikat kuda di salah satu pohon, Quon menyusul Xinxin yang sekarang berlarian di perkebunan warga. Disana juga ada para warga yang sedang panen buah-buahan. Seperti buah apel, jeruk, anggur dan sebagainya.
"Xinxin berhentilah berlarian," teriak Quon.
Xinxin berbalik menatap Quon yang tersengal-sengal. "Ya, baiklah!" Ucap Xinxin seraya menghampiri Quon yang berjongkok. Dia jadi merasa bersalah.
"Bagus! Kita berjalan santai saja sambil melihat-lihat ya?!" Ucap Quon langsung berdiri dan berjalan mendahului Xinxin yang terbengong.
"Apakah aku ditipu?" Batin Xinxin. Matanya menatap kesal Quon yang dengan santainya berjalan.
Tiba-tiba senyum licik terpatri di bibir cantik Xinxin. "Tunggu pembalasanku kak hehe,"
__ADS_1
Beralih kepada Quon yang tiba-tiba tengkuknya terasa dingin. "Hihhh, apakah disini ada hantunya?!" Gumamnya menatap sekitar sambil mengusap tengkuknya yang terasa merinding.
Wushh
Angin pelan berhembus sesekali, dingin angin lumayan menusuk kulit, wajar sih ini kan sudah hampir malam. Para warga yang tadinya masih memanen, sekarang sudah pada pulang.
Quon berbalik mencari keberadaan adik perempuannya itu. Saat tak mendapati sosok yang di cari seketika panik mendera Quon.
"Xinxin," panggil Quon.
Tak ada sahutan. Sekali lagi dia memanggil tapi tetap tidak ada jawaban, bahkan dia memanggil berkali-kali tapi nihil masih tak ada respon.
Terus berjalan, bolak-balik dari tempat nya tadi sampai di tempat dia mengikat kuda tak dia temukan keberadaan Xinxin.
"Kau dimana?" Gumamnya khawatir. Dia gelisah, takut kalau terjadi apa-apa dengan adiknya itu. Dia tahu adiknya lumayan mampu melawan kalau hanya sekedar orang awam dengan kekuatan. rendah tapi kalau dia beruntung kalau tidak? Ugh dia jadi sangat takut kalau mengingat akan terjadi sesuatu terhadap adiknya itu.
Srakk
Srakk
Suara itu berasal dari balik salah satu pohon apel. Quon langsung mendatanginya dan seketika dia lega, tapi dia juga kesal. Apakah adiknya ini mengerjainya? Sampai-sampai dia tertidur di bawah pohon apel ini. Salah dia juga tidak memperhatikan sekitar, hanya mengulangi jalan yang mereka lalui tadi untuk mencari adiknya.
"Huhh. Lebih baik kami pulang! Ini juga sudah malam," ucap Quon menatap langit yang telah di hiasi bulan dan bintang. Dia merasa lega karena Xinxin tidak mengalami masalah. Tadi dia cukup lama mencari Xinxin, bahkan hari sudah gelap dan tahu nya sang empu yang di cari asik tidur di bawah pohon.
Setelah perjalanan santai tanpa terburu-buru akhirnya Quon dan Xinxin sampai di kediaman Fu.
Saat sampai mereka telah di tunggu hampir semua orang. "Darimana kalian?" Tanya Tuan Zihan dengan dingin.
"Jalan-jalan!" Jawab Quon tak kalah dingin.
Seseorang di gendongannya terusik tidurnya.
"Eughh," dia Xinxin. Dia tidak terbangun hanya terganggu dan kembali tidur setelah menemukan posisi nyamannya.
Tuan Zihan akan kembali berucap tapi tak jadi saat Quon mendahului. "Kalau ingin bertanya besok saja! Saya tidak ingin adik saya terbangun," ucap Quon dingin. Dia langsung pergi tanpa menunggu tanggapan semua orang.
Ada satu orang yang menatap mereka dengan raut wajah datar, tapi tangannya terkepal dengan kuat.
Wajah Tuan Zihan memerah marah. Dia sebentar lagi akan meledakkan amarahnya tapi suara lembut Nyonya Jieru dapat menenangkannya.
"Sudahlah ini sudah malam. Mungkin Quon lelah?! Besok kita bisa menanyainya lagi," ucap Nyonya Jieru.
...~•<•>•~...
__ADS_1
Keesokan paginya...
Seperti kebiasaan harian mereka, saat ini diadakan makan pagi bersama.
Semua anggota keluarga di undang untuk makan bersama setiap harinya. Terkecuali Xinxin, selaku anggota keluarga Fu tapi tidak pernah di undang.
Hampir semua anggota keluarga telah berada di ruang makan keluarga, hanya Quon yang masih belum datang.
"Kemana Quon?" Tanya Yuan Zihan.
Semua melirik kursi kosong yang selama Quon datang ke kediaman itu duduk disana.
"Mungkin dia terlambat?!" Ucap Nyonya Jieru.
"Penjaga!" Panggil Yuan Zihan.
Tanpa waktu lama satu orang penjaga telah berdiri tegak di samping Tuan Zihan. "Hamba Tuan!"
"Panggil tuan muda kedua!" Perintah nya.
"Laksanakan!" Penjaga itu langsung pergi melaksanakan tugasnya.
Tak lama penjaga itu kembali. Dia membungkuk. "Maaf Tuan besar, tuan muda kedua tidak ada di paviliun nya!"
"Apa? Kemana dia?" Tuan Zihan begitu marah, wajahnya pun sudah memerah.
"Kata pelayan disana, Tuan muda sedari pagi buta sudah pergi ke tempat nona ketiga," jelas pengawal.
Helaan nafas lelah terdengar dari Tuan Zihan. "Ah anak itu, masih saja seperti dulu!" Niatnya ingin menanyai pasal dia pulang sangat terlambat, tapi sang pelaku tidak hadir di acara makan bersama ini.
Maksud dari sama seperti dulu yaitu peduli dengan Xinxin tanpa peduli walau dia kena marah atau pun di hukum.
"Biarkan saja dia! Mari kita mulai saja makannya!" Putus Tuan Zihan.
Dia sudah lelah memperingati Quon untuk jangan memperdulikan anak yang tidak berguna itu, tapi tetap saja Quon keras kepala. Cara apa lagi yang harus dia lakukan agar anaknya yang satu itu menurut?
¤
¤
¤
I hope you like...
__ADS_1