Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Keberangkatan Ke Istana


__ADS_3

...Happy Reading...


...~••~••<•>••~••~...


Matahari sudah muncul suasana yang tadinya tenang berubah bising karena gedoran pada sebuah pintu, tapi seakan tidak ada suara apapun seorang gadis tetap tidur dengan nyenyak.


"Nona bangun!"


Duk duk


"Nona ini sudah pagi!"


Duk duk


"Nona sebentar lagi kereta dari istana akan datang!"


Duk duk


"Nona! Nona harus bersiap-siap!"


Duk duk


"No...," belum sempat Chici melanjutkan perkataannya pintu sudah terbuka memperlihatkan gadis dengan rambut singa, muka bantal dan jangan lupa mata yang masih buka tutup.


"Ada apa Chi?" Tanya Xinxin dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Nona cepat bersiap! Kereta utusan dari istana akan segera tiba untuk menjemput nona dan juga nona pertama," ucap Chici panik.


Kenapa dia panik, sedangkan dirinya saja santai saja.


"Tenanglah Chi, mereka tidak akan meninggalkanku juga! Kalaupun ditinggal......itu juga bagus!" Ucap Xinxin kembali masuk ke dalam diikuti Chici yang terus-menerus mengomelinya.


"Nonaaaa," Chici gregetan dengan nonanya ini. Dia melihat kalau paviliun nona pertama sedari sudah sangat sibuk, sedangkan di tempat ini, sang empunya pun baru bangun.


"Haish, iya-iya! Siapkan aku air mandi dan makanan," ucap Xinxin pasrah.


"Makan? Tidak boleh nona!" Ucap Chici.


"Eh kenapa tidak boleh makan?" Tanya Xinxin refleks membuka matanya lebar-lebar.


"Nona harus tetap terlihat langsing, jadi tidak boleh makan pagi," dan saat Xinxin akan menyanggah, Chici langsung pergi tanpa mendengarkan panggilan Xinxin.


"Hais, ribet amat! Masa harus lapar-laparan?!" gerutu Xinxin.


Tak berapa lama Chici kembali memberitahukan air mandi untuk Xinxin telah siap.


"Baiklah! Kau siapkan keperluan lainnya saja!" Ucap Xinxin langsung karena dia bisa melihat gerak gerik Chici yang akan membantunya mandi.


Chici menghela nafas pasrah dan melakukan apa yang di perintahkan Xinxin.


Setengah jam lebih akhirnya Xinxin selesai berendam. Saat membuka pintu kamar mandi aroma lavender menyebar di udara.

__ADS_1


"Hmm segar!" Ucap Xinxin senang.


"Nona mari saya bantu berpakaian," ucap Chici.


"Baiklah! Terimakasih!" Jawab Xinxin.


Chici pun membantu Xinxin berpakaian. Hanya pakaian polos berwarna biru malam dengan ikat pinggang hitam yang di pakai oleh Xinxin.


Dia tidak berniat bermewah-mewah untuk menarik perhatian Kaisar. Toh dia menghadiri ini juga karena terpaksa.


Xinxin mulai memoles wajahnya dengan bedak dan pemerah bibir dengan tipis. Rambut nya di sanggul setengah atas permintaannya kepada Chici yang menata rambutnya.


"Selesai!" Ucap Chici senang.


"Wahhh nona sangat cantik, meskipun tanpa dandanan berlebih," lanjut nya kagum sambil melihat pantulan wajah Xinxin melalui cermin.


"Terimakasih! Nahh sekarang tinggal pasang ini," ucap Xinxin kemudian memasang cadar berwarna biru malam senada dengan pakaianya membuat Chici menatap sayang akan kecantikan Xinxin yang tertutupi oleh cadar itu.


Setelah semua beres, Xinxin pun pergi ke gerbang utama kediaman Jenderal Fu ini karena dia telah di jemput oleh salah satu pengawal yang mengiringi kereta jemputan.


"Semangat nona!" Ucap Chici.


Xinxin hanya tersenyum menatap semangat Chici, padahal bukan dirinya yang pergi tapi Xinxin, kenapa Chici sangat bersemangat sedangkan dirinya dengan berat hati pergi.


Mereka bertiga sampai di gerbang utama dan disana sudah menunggu dua kereta kuda dan juga empat pengawal serta dua kusir.


Disana juga telah berkumpul semua anggota keluarga Fu, mulai dari kepala keluarga yaitu Fu Zihan sampai para tetua keluarga Fu ini.


Mereka terlihat senang menatap Fu Niu yang berhasil masuk dalam pemilihan permaisuri, dan saat Xinxin benar-benar berada di depan mereka, yang ada hanya tatapan kesal, kenapa Xinxin bisa masuk juga?!


"Mari kakak bantu!" Ucap Fu Chyou sambil mengulurkan tangannya agar Xinxin meraihnya untuk membantunya naik kereta.


Dengan senyum tertekan Xinxin menyambut uluran tangan itu. "Terimakasih!" Ucap Xinxin setelah dia sudah di dalam kereta.


Semua itu tak luput dari perhatian semua orang yang berada disana, mereka juga bingung dengan sikap Fu Chyou yang seakan-akan menjadi kakak yang baik.


Fu Chyou membalas dengan deheman kemudian dia mundur membiarkan kereta berangkat.


"Baik-baik di Istana ya!" Ucap Jieru dengan lembut penuh kasih sayang kepada Fu Niu.


"Baik ibu!" Jawab Fu Niu dengan lembut juga.


"Kakak harus jadi permaisuri! Jangan biarkan sampah itu tenang disana!" Ucap Fu Nuan yang di tanggapi Fu Niu hanya dengan senyum tapi tidak tahu dalamnya.


Sedari Xinxin datang tadi Fu Nuan sudah menatap tajam Xinxin sampai dia berangkat, dan dia bertambah kesal saat Fu Chyou membantu Xinxin menaiki kereta.


Dia marah, kesal, dia saja tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Fu Chyou, tapi Xinxin?


"Pergilah! Jangan kecewakan keluarga!" Ucap Fu Zihan yang kata-katanya lebih seperti perintah.


"Baik ayah!" Jawab Fu Niu dengan anggunnya.

__ADS_1


Kereta Fu Niu pun berangkat meninggalkan kediaman Jenderal Fu ini mengikuti kereta Xinxin yang sudah jauh di depan.


...~•<•>•~...


Satu jam lebih perjalanan, akhirnya kereta mereka sampai di depan gerbang utama istana.


Banyak kereta jemputan yang masih mengantri untuk di periksa dan kereta Xinxin nomor dua di belakang sedangkan yang paling belakang adalah kereta Fu Niu.


Dan ternyata mereka adalah jemputan yang datang paling terakhir. Xinxin sih tak masalah karena sekarang dia mati-matian menahan agar tidak muntah di dalam kereta.


Yah sebenarnya dia tidak benar-benar menahan karena dia telah menyiapkan tempayan kecil untuk menampung muntahannya, tak lupa dengan penutupnya agar aromanya tidak berterbangan.


Untungnya kereta jemputan yang di kirim ini merupakan kereta yang bagus jadi guncangan tidak terlalu terasa, itu sedikit membantu Xinxin mengurangi mualnya.


Sekarang giliran kereta yang Xinxin naiki diperiksa. "Apakah nona bernama Fu Xinxin dari kediaman Jenderal Fu?" Tanya pemeriksa itu.


Xinxin yang bingung ditanya seperti itu mengangguk saja mengiyakan.


"Baiklah kalau begitu terimakasih atas jawabannya!" Ucap pemeriksa itu, kemudian dia beralih berbicara dengan kusir. Entah apa yang di bicarakan mereka, Xinxin tak peduli.


Kereta Xinxin berhenti, seseorang membukakan pintu kereta dan ternyata itu adalah pengawal pribadi Kaisar, dia Minghao.


"Silahkan nona!" Ucapnya mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Xinxin.


Saat keluar Xinxin semakin bingung, pasalnya hanya keretanya yang berada di depan sebuah paviliun indah.


"Dimana yang lainnya?" Tanya Xinxin.


Minghao diam, terlihat dia sedang berpikir. "Mereka sudah berada di paviliun masing-masing nona dan paviliun itu adalah paviliun yang akan nona tempati selama tinggal di istana," jelas Minghao.


Xinxin mengangguk mengerti, tapi di dalam hati dia masih ragu apakah benar ini paviliun untuknya tinggal? Pasalnya paviliun ini terlihat sangat berlebihan untuk sekedar peserta, kalau sudah jadi permaisuri sih sesuai.


Tak ingin berpikir negatif Xinxin pun mengikuti Minghao yang menuntunnya ke paviliunnya. Sedang dua pelayan perempuan mengikuti mereka membawakan barang-barang Xinxin yang hanya sedikit.


"Eh mereka tidak menemukan tempayan yang ku sembunyikan di sudut kereta kan?" Batin Xinxin sambil melihat barang yang di bawa kedua pelayan itu.


"Pyuhh, untungnya tidak hehe!" Batin Xinxin bersyukur.


Setelah menaruh barang di dalam kamar di paviliun, Xinxin di ajak Minghao untuk berkeliling daerah paviliunnya.


Paviliun ini bernama 'Paviliun anggrek' letaknya tidak jauh dari 'Paviliun Matahari' yaitu paviliun dimana Kaisar Zhuting tinggal, jelas Minghao sambil berjalan-jalan.


"Kalau begitu sampai disini dulu ya nona! Nanti malam akan di adakan makan malam bersama, dan nanti ada satu pelayan yang akan datang menjemput anda, jadi bersiap-siaplah!" Ucap Minghao.


"Hm, baiklah!" Jawab Xinxin.


Minghao pun pergi meninggalkan Xinxin bersama dua pelayan perempuan yang senantiasa mengikutinya bersama Minghao tadi.


¤


¤

__ADS_1


¤


I hope you like it...


__ADS_2