Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Kepergok Quon


__ADS_3

...Happy Reading...


...~•~•<~•~>•~•~...


Malam hari Xinxin telah sampai di tempat yang mana pada siang hari pasar dan malam hari juga? Artinya seharian pasar?! Pasar yang dimana menjadi saksi pertemuannya dengan Wuliang untuk pertama kalinya, bahkan itu mungkin sekedar tak sengaja atau memang takdir? Entahlah, kita tidak tahu masa depan seperti apa!


"Malam hari disini pasar juga?" Ucap Xinxin sambil berjalan, melihat-lihat dagangan para pedagang.


Dia membeli beberapa makanan pinggiran untuk dirinya dan juga Chici nanti.


"Pasti Chici senang dengan makanan ini!" Gumam Xinxin mengangkat bungkusan makanan di tangannya kemudian melanjutkan berjalan-jalan, sesekali dia bertanya harga barang yang dia inginkan.


Banyak menatapnya penasaran, salah satunya seorang pemuda yang saat ini duduk di sebuah rumah makan tingkat dua. Dia duduk di pinggiran pagar lantai dua, duduk sambil menyesap teh nya dengan elegan.


Wajahnya yang datar tak menutup ketampanannya. Mata tajam itu sangat fokus menatap Xinxin yang dari penampilan bak seorang pendekar wanita, tapi tingkahnya yang kadang seperti anak kecil membuat pria itu sedikit tertarik untuk memperhatikan nya.


Kembali kepada Xinxin yang merasa risih karena banyaknya yang menatapnya terang-terangan. Meskipun dia lelah terbiasa akan banyak tatapan, tapi bukan tatapan ini, tapi tatapan kagum, takut, bahkan iri, dia pernah merasakan itu, tapi ini seperti mereka ingin mengulitinya karena penasaran dengan isi dirinya.


Dan bahkan saat ini dia merasakan tatapan tajam mengarah padanya. "Kok tengkuk ku dingin ya?!" Gumam. Xinxin sambil mengusap tengkuknya.


Segera dia pergi, karena dia yakin ini orang bukan orang sembarangan, auranya sangat terasa meski Xinxin tidak tahu dimana tepatnya orang ini berada.


Tanpa sadar Xinxin telah sampai di ujung pasar. Tidak ingin kembali menyusuri pasar, dia memilih pulang ke kediaman Fu, karena dia yakin kalau Chici sudah menunggunya dengan cemas.


~•~•<•>•~•~


Di lain tempat, yaitu di kediaman Jenderal Fu, tepatnya di rumah paling kecil dari semua bangunan di kediaman itu dan letaknya paling terbelakang yaitu rumah dimana Xinxin tinggal saat ini, tapi sang pemilik tak ada di tempat, tapi kalau di lihat keadaan saat ini adalah menegangkan.


Terlihat seorang perempuan yang menggunakan pakaian pelayan sedang bersujud di bawah kaki seorang pemuda tampan yang duduk di kursi. Wajahnya terlihat memerah dengan urat-urat muncul di leher hingga pelipisnya, tangannya terkepal erat, giginya terdengar gemeletuk menahan marah. Dia adalah Fu Quon, sedangkan si pelayan adalah Chici.


Entah apa yang terjadi sehingga Chici sampai bersujud seperti itu dan juga Quon semarah itu. Tapi dapat dipastikan itu berhubungan dengan seorang gadis yang saat ini sedang memanjat dinding setinggi dua meter.


"Huh akhirnya sampai juga! Pegel semua badanku," ucap Xinxin sambil meregangkan tubuhnya.

__ADS_1


"Chici pasti telah menunggu di dalam," gumam Xinxin akan membuka pintu.


Kreatt...


"Chi...,"


Retina Xinxin membesar tatkala melihat seseorang yang entahlah? Mungkin tak di harapan untuk sekarang.


"K-kak Quon? Hehe. Ngapain disini?" Tanya Xinxin cengengesan.


"Hm," hanya deheman sebagai tanggapan dari Quon yang masih menatap tajam Xinxin.


Tatapan tajam itu tak berhenti sampai Xinxin telah sampai dan membantu Chici untuk berdiri.


Chici merasa takut, tapi tenaga Xinxin yang lebih kuat, membuatnya langsung berdiri saat Xinxin menariknya.


"Dari mana?" Tanya Quon setelah sekian lama diam, menatap tajam Xinxin.


"Dari luar!" Jawab jujur Xinxin. Memang dari luarkan?


"Oh! Dari jalan-jalan!" Jawab Xinxin.


"Kemana?" Tanya Quon.


Xinxin terlihat berpikir. "Ke pasar dan daerah sekitar pasar," jawab Xinxin. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia dari hutan kabut. Chici pun tidak tahu kalau dia pergi ke hutan kabut, karena memang ini akan menjadi rahasianya sendiri, memberitahu kalau dalam keadaan terdesak saja.


"Selama dua hari? Apakah menurutmu kakak akan percaya itu?" Ucap Quon.


"Kenapa tidak?! Aku ke pasar untuk memantau para pedagang pasar. Apa yang mereka jual dan lainnya, karena kalau tidak maka barang jualanku akan termakan waktu dan tidak diminati lagi, jadi untuk menjual barang dalam waktu yang lama aku harus melihat, minat para perempuan atau bahkan kalau bisa aku akan memikirkan barang apa yang diminati para pemuda bangsawan. Kau tahukan kalau aku tidak mendapat satu koin pun dari kediaman ini, bahkan mendapat makan pun sulit, jadi demi bertahan hidup, aku harus mencari ide-ide untuk membuat barang, jadi aku pergi keluar karena kalau aku di dalam kediaman saja aku tidak akan berkembang," jelas Xinxin dengan pelan.


Tidak bohong sepenuhnya apa yang di katakan Xinxin, dia memang benar-benar memantau minat pasar. Baik itu dalam hal perhiasan, aksesoris, maupun makanan. Dia berniat kalau sudah mengumpulkan banyak koin dia akan membuka usaha, entah itu kedai aksesoris atau pun kedai makanan, tentunya dengan makanan yang dia tahu dari dunianya dulu.


Quon terdiam, kalimat 'aku tidak mendapat satu koin pun dari kediaman ini, bahkan mendapat makan pun sulit, jadi demi bertahan hidup' sangat mengena dihatinya. Dia merasa sangat gagal sebagai seorang kakak yang mengaku menyayangi adik perempuan nya ini.

__ADS_1


"Baiklah! Kakak percaya," ucap Quon pada akhirnya.


Malam semakin larut, Quon pun kembali ke paviliun nya, ya paviliun bukan rumah. Di sebut paviliun karena memang bangunan tempat Quon tinggal termasuk terbaik dari semua bangunan. Memiliki halaman yang luas, taman, kolam ikan bahkan bangunan nya terdapat satu kamar besar, ruang tamu dan kamar mandi. Sangat jauh berbeda dengan rumah Xinxin.


...~•~•~•<•>•~•~•~...


Telah terlewat satu minggu setelah Xinxin kepergok tidak pulang selama dua hari dan menadapat ceramah dari Quon.


Dan hari ini ada yang aneh, pasalnya saat ini seorang pelayan perempuan datang ke rumahnya.


"Ada apa?" Tanya Xinxin.


Terlihat pelayan itu sombongnya minta ampun, bahkan kalau dilihat dia yang majikan dan Xinxin yang pelayannya.


"Wahhh ingin sekali tangan ini menonjoknya," batin Xinxin berusaha sabar. Dia tidak ingin ketahuan saat ini jadi dia saat ini masih berakting sebagai nona lemah.


"Huh, kau di panggil oleh Tuan besar. Datanglah ke aula Leluhur," ucap pelayan itu kemudian langsung pergi tanpa adanya rasa hormat, yah meski Xinxin tak mengharapkan di hormati, tapi setidaknya hargai dirinya.


Tak lama pelayan itu pergi, Chici datang. Dia terlihat cemas. "Nona?! Nona tidak apa-apa? Apakah dia melukai anda?" Tanya Chici khawatir.


Xinxin terkekeh. "Haha tenanglah, dia tidak melakukan apapun padaku. Aku baik!" Ucap Xinxin dan akhirnya wajah cemas Chici kembali rileks.


"Oh ya makanan apa yang kau bawa hari ini?" Tanya Xinxin mengubah topik, kalau tidak kekesalan akan semakin menjadi nanti.


"Oh ya ini nona, ada ikan, sayur, buah dan kue nona," jawab Chici antusias.


"Mari kita makan!"


Mereka pun makan bersama seperti biasa, tapi akhir-akhir ini terasa sepi, karena Fu Quon jarang berkunjung. Katanya dia sibuk mempersiapkan sesuatu sebelum satu minggu terakhir ini dia akan kembali ke akademi.


¤


¤

__ADS_1


¤


Next...


__ADS_2