Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Desa Embun


__ADS_3

...Happy Reading...


...~••~••<•>••~••~...


Di sebuah Desa yang di kelilingi pegunungan dan hutan di pagi hari diselimuti oleh lapisan kabut yang lumayan tebal. Ayam berkokok dan hewan lainnya berbunyi bersahutan, menyambut pagi yang sibuk.


Samar-samar mulai terdengar suara-suara dari orang-orang yang mulai beraktivitas dengan kegiatan sehari-hari mereka.


Suara letupan api tungku untuk memasak, gesekan sapu dengan lantai dan lainnya terdengar samar-samar, tak lupa asap mengepul yang keluar dari cerobong asap belakang rumah hampir disetiap rumah.


Di dalam sebuah gubuk reot terdapat seorang gadis muda terbaring lemah di sebuah ranjang lusuh dengan selimut usang.


Eughhh


Kelopak mata gadis itu bergerak dan terdengar suara lenguhan dari nya.


Dan beberapa saat kemudian mata itu terbuka, perlahan mengerjab beberapa kali.


'Dimana ini?'


Dia adalah Xinxin. Setelah berjuang naik ke daratan, dia pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi. Dan Kenapa dia bisa berada di sebuah rumah yang... Ah bukan rumah deh, tapi gubuk.


Ruangan yang ia tempati sekarang sangat lusuh dan reot. Atap saja terlihat banyak lubang, terbukti dari cahaya luar yang masuk dari celah-celah yang terbuat dari jerami.


Dinding lumpur yang sudah berlumut, jendela yang hanya di tutupi oleh jerami sebagai penghalau angin, dan lantai tanah.


Selain ranjang kayu yang ia tempati dan selimut lusuh dengan warna yang abu dengan bau apek yang menyengat, tidak ada lagi perabotan lainnya.


Kreatttt


Pintu terbuka dan masuklah seorang anak kecil laki-laki.


"Kakak! Akhirnya kamu bangun!"


"Tunggu aku akan memanggilkan tabib!"


"Hei tunggu!"


Anak laki-laki itu berhenti saat Xinxin menghentikannya.


"Ya?"


"Kemari!" Pinta Xinxin sambil melaimbaikan tangan.


Saat ini dia sudah duduk dan bersandar di dinding ranjang lusuh.


Tubuh anak ini sangat kurus, wajahnya hampir tidak memiliki daging dan pakaiannya sangat lusuh dengan tambalan dimana-mana.


"Ada apa kak?"

__ADS_1


Anak kecil laki-laki itu sudah berdiri disamping ranjang yang Xinxin tempati.


"Ini dimana?"


"Kenapa aku bisa ada disini?"


Kreattt


Lagi, seseorang mendorong pintu dan masuklah seorang gadis kecil yang sama lusuhnya dengan anak laki-laki tadi.


"Eh kakak ini sudah bangun?! Lan, kenapa kamu tidak memanggil tabib?"


"Tidak perlu!" Ucap Xinxin langsung. Sekarang dia merasa lebib baik meski sedikit lemah dan lapar.


Gadis kecil itu mendekati anak laki-laki itu dan berdiri di sisi ranjang yang Xinxin tempati.


"Kakak sudah merasa baikan?" Tanya nya.


Xinxin mengangguk dan bertanya. "Kenapa aku bisa ada disini?"


Xinxin menepuk sisi ranjang menyuruh kedua anak ini untuk duduk.


Mereka duduk. "Ceritakan kenapa aku bisa ada disini! Terakhir yang ku ingat aku berada di tepi sungai kemudian tak sadarakan diri,"


"Oh ya nama kalian siapa?"


Kedua anak itu nampak bingung, akan menjawab atau tidak. Xinxin hanyalah orang asing yang baru mereka temui, pastinya mereka merasa waspada.


Mereka saling melempar pandang dan berkali-kali membuka mulut tapi selalu menutup kembali.


Sampai....


Brakk


Pintu terbuka dengan keras, sampai-sampai pintu hampir lepas.


Dapat Xinxin lihat dua anak ini gemetar dan perlahan beringsut ke atas ranjang.


Xinxin menatap tajam pelaku yang adalah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sedikit lebih layak pakai daripada dua anak ini.


"Sudah bangun?" Seorang wanita paruh baya lainnya yang baru masuk.


"Kalau begitu bayarlah biaya pengobatan mu! Ku lihat kau memakai pakaian bagus, pasti banyak uangnya!"


"Ya bayarlah! Kami sudah mengeluarkan banyak uang untuk pengobatanmu!" Ucap wanita yang pertama kali masuk.


Wajah Xinxin semakin datar. Memang dia merasa tubuhnya sudah lebih baik daripada saat dia terkena racun pelumpuh itu.


"T-tidak ada! Kami yang mem-bayar biayanya. Bukan bibi!" Ucap gadis kecil di samping Xinxin dengan takut.

__ADS_1


"Heh apa yang kau katakan! Memangnya uangmu bukan uang keluarga Sun kami? Dan lagi, berani-beraninya kalian menyimpan uang sendiri. Kalian tahu setiap uang yang di hasilkan oleh kalian harus di serahkan kepada nenek, semuanya. Paham?"


Ah Xinxin sekarang sedikit mengerti, kalau saat ini dia sedang berada di sebuah desa, mungkin?


Dia pernah membaca sebuah novel transmigrasi yang mana tokoh utamanya bukan terdampar di sebuah keluarga berada, apalagi bangsawan, akan tetapi sebagai petani, atau budak.


Dan Xinxin tebak keluarga ini adalah lintah darat dari kedua anak ini.


"Mengapa saya harus? Kalian dengar kalau bukan kalian lah yang membayar pengobatan saya, akan tetapi mereka, jadi saya harus membayar kepada mereka bukan kepada kalian!" Ucap Xinxin dengan wajah datar dan aura pekat.


Ingat dia telah memiliki aura. Dibanding mereka yang hanya manusia biasa Xinxin dengan sangat mudah dapat membunuh mereka, tapi tidak! Xinxin tidak boleh melakulan itu. Dia sekarang memiliki rencana lain.


Dan Xinxin tebak tidak ada yang tahu kalau Xinxin memiliki energi alam karena setahu nya orang-orang yang tinggal di desa hanyalah manusia biasa tanpa energi alam, yang memiliki tingkatan lebih rendah saja tidak dapat mengetahui apalagi hanya manusia awam. Terbukti mereka tidak dapat pergi ke kota yang lebih besar, karena jika mereka nekad hanya ada kematian.


Ada kemungkinan satu atau dua orang yang memiliki energi alam di desa, tapi sangat jarang itu terjadi, kecuali seseorang itu memang terpilih atau memiliki nenek moyang yang memiliki energi alam.


Kedua wanita itu tanpa sadar bergetar dan kesulitan bernafas. Untuk dua anak ini, Xinxin tidak membuat mereka merasakan auranya.


"Jadi apakah masih ingin minta bayaran?" Ucap Xinxin dengan wajah datar.


Tanpa menjawab kedua wanita itu lari terbirit-birit.


Kedua anak itu menatap berbinar kearah Xinxin.


Ugh.


'Meski mereka kurus, tidak menutupi keimutan mereka, cantik dan tampan,' batin Xinxin menahan gemas.


Xinxin tebak salah satu dari orang tua mereka bukan orang biasa. Dapat Xinxin rasakan energi alam di dalam tubuh mereka, meski sangat sedikit.


"Jadi apakah yang ingin menjawab pertanyaan kakak tadi?" Ucap Xinxin kembali lembut.


Kedua anak itu tersentak kemudian memandang kemudian mengangguk. Mereka merasa terlindungi untuk sekian lamanya setelah kedua orang tua mereka pergi.


Perlahan, gadis kecil membuka mulutnya. "Namaku Sun Lin dan ini adikku namanya Sun Lan. Kenapa kakak ada disini karena....


Sun Lin menceritakan dari awal dia menemukan Xinxin yang pingsan di pinggir sungai. Saat itu dia sedang mencari sayuran liar bersama Sun Lan di hutan dan tanpa sengaja melihat Xinxin yang tergeletak.


Awalnya dia kira Xinxin sudah mati, tapi saat mendekat dan melihat Xinxin masih bernafas, dia langsung memanggil adiknya untuk membantu membawa Xinxin.


Meski sangat sulit dengan tubuh mereka yang kecil mereka dapat membawa Xinxin ke rumah mereka yang tidak jauh dari hutan itu.


Desa ini bernama Desa Embun dengan hampir seribu jiwa dengan seratus lebih kepala keluarga sebagai penduduknya.




__ADS_1


I hope you like it...


__ADS_2