
...Happy Reading...
...~••~•<•>•~••~...
Ugh
Akhhhh
Dengan mengapit kedua bibirnya, Xinxin berusaha agar tidak berteriak, karena tubuhnya sangat sakit, lebih sakit daripada saat pertama kali dia membuka segel kekuatan pemilik tubuh ini.
Meski udara sejuk, tapi keringat dingin terus menyucur dari pelipis nya. Gigi nya bergemeletuk menandakan dia berusaha tidak mengeluarkan erangan kesakitan.
Setelah satu jam berlalu akhirnya Xinxin membuka mata dan terlihat lah mata jernih nya lebih jernih dari semula. Kulitnya semakin putih dan mulus. Dia merasa segar dan ringan, dan merasa energi di dalam tubuhnya bertambah.
Xinxin naik ke permukaan dan mencari keberadaan Snow yang hilang entah kemana.
Malas mencari, dia pun memilih pergi ke pondok.
Saat dia membuka pintu terpampanglah sebuah ruangan yang rapi.
Dua pintu lainnya terdapat di ruangan itu yang Xinxin tebak antara kamar dan dapur.
Di ruang tamu terdapat meja dengan empat kursi, sebuah rak dengan buku-buku yang tersusun rapi.
"Sangat bagus! Meski kecil,"
Xinxin masuk dan menyusuri ruangan, membuka dua pintu yang adalah dapur dan kamar.
Di dalam kamar terdapat satu ranjang, dua lemari entah apa isinya meja dengan satu kursi.
Xinxin mendekati lemari dan membukanya. Isinya...
"Apa ini?"
Lin memperjelas tulisan pada kotak-kotak kayu yang menyatu yang tertutup. Terdapat enam kotak disana.
"Padi, gandum, jagung, anggur, apel, pier," Xinxin membaca satu persatu tulisan pada kotak tersebut kemudian membukanya.
"Benih?"
"Benar! Itu benih! Kalau kau ingin, kita bisa menanamnya!"
Snow tiba-tiba saja muncul membuat Xinxin terkejut karena dia tidak sadar sama sekali kapan Snow ini berada di belakangnya. Dia harus siap setiap kali seperti ini, karena dia menebak ini adalah kebiasaan Snow yang mengagetkan orang.
"Kau mengagetkanku!" Kesal Xinxin.
__ADS_1
Dia melanjutkan melihat benih-benih berada di dalam kotak.
"Wah energi mu meningkat pesat meski masih belum semua elemen mu menerobos ke tingkat berikutnya. Hanya elemen Tanah dan Air yang meningkat ke tingkat kuning,"
"Pantas saja aku merasa lebih berenergi dan ringan saat membawa tubuhku,"
"Kau ingin mencoba bertani atau berkebun?"
"Bertani? Berkebun?"
Xinxin memikirkan itu. Kalau dia bertani di dalam ruang ini, maka dia tidak akan kekurangan makanan. Apalagi dia memiliki rencana untuk berpetualang.
"Jika di tanam di ruang angkasa tumbuhnya akan cepat, dan lagi pasti memiliki energi alam yang bagus untuk meningkatkan tingkatan elemen," jelas Snow lagi.
Meski tergiur, Xinxin melambaikan tangan menyerah. "Tapi aku tidak tahu cara bertani ataupun berkebun," ucap Xinxin lesu.
Benar! Dia tidak sama sekali tahu cara berkebun apalagi bertani. Ingat! Dia adalah seorang pekerja kantoran di kehidupan pertamanya. Hidup di perkotaan yang pohon besar saja jarang terlihat, kecuali di hutan safari.
"Tenang saja! Kau hanya perlu menabur benih di atas tanah dengan rapi dan berjarak, setelah itu siram dengan air danau!" Jelas Snow.
"Semudah itu?" Xinxin tidak percaya. Meski dia tidak tahu cara bertani atau berkebun, tapi pasti perlu proses juga kan. Tidak hanya menaburkan dengan rapi kemudian menyiraminyakan?
"Di ruang ini tentu semudah itu. Kalau di luar ya tentunya membutuhkan proses panjang!"
Xinxin jadi senang mendengar penjelasan Snow. Tidak perlu susah-susah merawatnya, hanya perlu menanam dan menyiram sekali, tanamakan akan tumbuh dan besar sendiri dan itu sangat mempermudahnya.
"Eh tapi, aku merasa sudah terlalu lama di sini. Takut dua anak itu mencariku saat tidak mendapatiku di kamar!"
"Tenang saja! Waktu di sini lebih cepat di banding di luar. Satu hari di sini sama dengan satu jam di luar!"
"Oh sangat jauh perbedaan waktunya ya! Kalau begitu tunggu apa lagi? Mari kita bertani dan berkebun sekarang!"
Xinxin pun mengambil kotak benih dari lemari itu. Dan ternyata bukan hanya satu kotak tapi ada beberapa kotak lainnya.
Sedangkan satu lemari lainnya berisi beberapa pakaian sederhana yang mana dapat di kenakan baik untuk laki-laki ataupun perempuan.
"Dimana letak yang pas untuk menanam padi, gandum dan jagung?" Tanya Xinxin kepada Snow.
"Untuk padi, gandum, jagung dan anggur lebih baik dekat danau saja, jadi lebih mudah menyiramnya dan untuk buah apel dan pier, di depan saja. Terserah dimanapun letaknya, karena pasti tumbuh!"
"Um baiklah!"
Xinxin pun mulai menabur benih padi di tanah dengan luas lima kali lima meter, begitu juga dengan gandum dan jagung. Untuk buah anggur dia merangkai beberapa ranting kayu menjadi sebuah atap dengan banyak tiang dengan jarak setengah meter.
Kemudian setelah jadi, dia mulai menaburi benih buah anggur mengikuti tiang yang ada.
__ADS_1
Selesai untuk empat benih dia menyiraminya kemudian melanjutkan menanam benih buah apel dan pier.
Dengan jarak dua meter dia menanam benih buah apel di sisi jalan sebelah kiri menuju pondok dengan lima buah pohon apel. Di sebelah kanan adalah buah pier yang jaraknya juga sama dengan menanam buah apel.
Puk puk puk
"Selesai!" Ucapnya senang.
"Snow! Kau dimana!" Panggil Xinxin, karena sedari awal dia memulai menanam, Snow tak terlihat sama sekali.
"Ya? Ada apa?"
"Huh darimana saja kau? Tidak membantu sama sekali! Katanya mau bertani bersama," dengus Xinxin kesal.
"Hehehe maaf tuan, tadi aku berendam di danau kemudian tertidur di padang rumput setelah makan banyak," jelas Snow cengengesan.
"Hump, kau malas! Setelah ini apa lagi?"
Ucap Xinxin kemudian menatap hasil tanamannya. Xinxin sedikit terkejut saat melihat bahwa padi, gandum, jagung dan buah anggur yang beberapa saat lalu dia tanam ternyata sudah mulai tumbuh berkecambah. Tapi mengingat apa yang Snow katakan dia jadi mengerti betapa spesialnya ruang angkasa ini dan ini miliknya sekarang.
"Untuk saat ini cukup! Kau akan mulai bermeditasi setelah tanaman mu tumbuh, itu akan memperkaya energi alam disini," Xinxin mengangguk mengerti.
"Kau boleh keluar jika ingin!"
"Baiklah! Aku akan keluar kalau begitu, tapi bagaimana cara ku keluar? Dan jika aku ingin masuk lagi bagaimana?"
"Katakan keluar, jika ingin keluar dan jika ingin masuk, sebutkan masuk!"
"Oh begitu! Kalau kau? Apakah akan tinggal di sini?"
"Ya! Karena ini akan menjadi rumah ku mulai dari sekarang, toh di luar juga tidak akan ada yang bisa melihat ku selain kau!"
"Hmm baiklah! Itu juga bagus untukku karena memiliki kau yang akan merawat tanamanku. Kalau begitu aku keluar!" Tanpa menghiraukan ke kesalan Snow yang di jadikan babu oleh Xinxin, dia memejamkan matanya dan mengucapkan kata keluar di batinnya. Ada rasa tarikan sejenak, setelah itu dia membuka matanya dan dia sekarang telah berada di kamar bobrok itu lagi.
'Huhuhu, bibi Li kakak tidak bersalah, Sun Zi yang salah karena dia mendorong kakak Lin duluan,'
Suara ribut terdengar, dan itu suara Sun Lan sedang berbicara sambil menangis.
Xinxin melangkah keluar karena semakin ribut dengan umpatan-umpatan kasar dari wanita yang di panggil bibi Li itu.
Terdengar juga keributan dari diskusi banyak orang yang menghardik bibi Li itu, tapi hanya di mulut, tidak ada yang membantu dua anak kecil yang salah satunya menangis tersedu-sedu.
•
•
__ADS_1
•
I Hope you like it...