
...Happy Reading...
...~•~•~•<•>•~•~•~...
Xinxin kira setelah makan ini mereka akan langsung pulang, tapi ternyata tidak. Kakaknya langsung menyeretnya ke dalam toko pakaian dan karena hari sudah malam, mau tak mau Quon mengiyakan pakaian yang Xinxin pilih sendiri.
Mereka akhirnya keluar dari toko pakaian, Quon lagi-lagi mengajak Xinxin ke toko perhiasan. Xinxin tentu saja menolak dia lelah, tapi yang namanya Quon tentu saja keras kepala, dia rela menggendong Xinxin di punggungnya saat pulang menuju tempat penitipan kuda.
Mereka telah dalam perjalanan pulang tanpa pengawalan satu orang pun. Hanya Han yang mengawasi mereka di bayang-bayang.
Klotak
Klotak
Klotak
Tapak kaki kuda yang sedang berlari menggema di kesunyian malam. Tak lama mereka sampai di depan pintu gerbang kediaman Jenderal Fu.
Turun dari kuda dan menggendong Xinxin yang tertidur, Quon pun meninggalkan gerbang depan kediaman menuju ke rumah Xinxin. Sedangkan kuda diambil alih oleh penjaga gerbang.
Kreattt
Dengan sangat pelan, Quon membuka pintu pagar kemudian menutup kembali.
Melewati halaman yang mulai di tanam beberapa macam bunga dan juga pohon akhirnya Quon sampai di rumah kecil Xinxin.
Menatap dalam rumah kecil itu, dia merasa sedih karena adiknya ini tinggal di rumah yang bahkan kalau tidak di bersihkan dan di perbaiki di beberapa tempat, sangat terlihat seperti gudang.
Cklek
Kreattt
Memasuki rumah dan menuju ranjang kecil Xinxin, menaruhnya dengan pelan. "Kakak akan kembali dulu. Besok pagi kakak akan kesini lagi!" Ucapnya pelan sambil mengelus lembut kepala Xinxin.
Ingin rasanya dia membuka cadar itu, tapi kalau dia membukanya, Xinxin akan marah padanya.
"Apakah dia akan kesulitan tidur dengan cadar itu? Aku harus apa?" Ucap Quon berdebat dengan dirinya sendiri.
Kreat
"Ah tuan muda?" Itu Chici. Dia terkejut saat pintu rumah nonanya sedikit terbuka. Dia mengira nonanya sudah pulang jadi dia masuk, tahunya Ada Quon juga.
__ADS_1
"Salam tuan muda," ucap Chici memberi salam sambil menunduk.
"Hm! Oh kebetulan kau bantu adikku bersih-bersih saat dia bangun nanti, jangan lupa suruh dia makan," perintah Quon.
"Baik tuan muda!" Jawab Chici.
"Bagus! Kalau begitu aku kembali dulu," ucap Quon. Sekali lagi dia mengusap lembut kepala adiknya.
Setelah memastikan Quon telah benar-benar pergi, Xinxin membuka matanya.
Dirinya hanya sendiri di sana karena Chici mengantar Quon di depan, bukan di depan pagar rumah.
"Ah akhirnya dia pergi juga!" Ucap Xinxin sambil meregangkan tubunnya yang terasa kaku karena dia juga memang sempat tertidur di kuda bahkan sampai di depan gerbang kediaman. Dan dia bangun saat Quon menurunkannya dari kuda dan menggendong dirinya.
Malas! Itulah mengapa Xinxin membiarkan Quon menggendongnya sampai di rumahnya.
"Ah nona?! Ternyata nona sudah bangun?!" Chici berjalan menuju meja tempat biasanya mereka makan. Menuangkan air dari teko ke cangkir kemudian membawanya kepada Xinxin.
"Terimakasih!" Ucap Xinxin.
Setelah menghabiskan air di dalam cangkir Xinxin menyuruh Chici untuk menyiapkan air untuknya mandi setelah itu menyuruhnya beristirahat lebih awal.
Saat ini Xinxin sedang berendam di bak mandi miliknya dengan air hangat dan wewangian lavender.
...~•~•~•<•>•~•~•~...
Hari yang di nantikan oleh semua orang telah tiba, tapi seorang gadis masih tidur dengan nyenyak nya tanpa terganggu oleh sang pelayan yang sedari tadi mengguncang tubuhnya.
"Nona bangun! Kalau Nona tidak bangun sekarang nanti akan ditinggal!" Chici berkali-kali berucap demikian, tapi sang empu masih melayang di dalam mimpinya.
Si empu adalah Xinxin. Malam tadi dia tidur sangat-sangat larut, bahkan mungkin sangat sebentar, jadi pagi ini dia susah dibangunkan, apalagi ini masih sangat pagi dan Chici sudah membangunkannya.
Akhir-akhir ini dia tidak lagi membeli kayu di pasar untuk produknya, dia memilih mencari sendiri karena selain tidak memerlukan biaya juga dia bisa memilih kayu yang sesuai keinginanya.
Kemarin dia mendapatkan ide untuk desain tusuk rambut yang akan dia buat. Dan malam tadi pula dia keluar untuk mencari bahan nya berupa kayu yang kuat dan mudah untuk dibentuk. Karena itu dia pulang cukup larut. Setelah di rumah pun dia tidak langsung tidur, tapi menggambarkan desain nya, bahkan dia juga membuat satu tusuk rambut spesial untuk dijadikan hadiah.
Xinxin berpikir akan menghadiahkan tusuk rambut itu kepada sang Kaisar, itupun kalau ada kesempatan, kalau tidak ya jual saja, ini juga untuk jaga-jaga saja.
Memerlukan waktu hampir tiga jam untuk menyelesaikannya dan Xinxin menyelesaikan pada saat pagi akan datang.
Dan rasanya dia baru saja tidur, Chici sudah membangunkannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian barulah ada respon dari Xinxin. "Beberapa menit lagi ya Chi, aku sangat ngantuk," ucap Xinxin dengan suara serak kemudian menggulung dirinya dengan selimut menutupi seluruh tubunnya sampai kepala.
"Tidak bisa nona! Nanti kita bisa terlambat dan ditinggalkan!" Ucap Chici sambil menarik selimut Xinxin sampai sang empu terlihat lagi.
"Ck, ya ya, ini aku bangun," ucap kesal Xinxin seraya duduk mengumpulkan nyawanya yang masih tercerai berai.
"Saya akan menyiapkan air mandi untuk nona!" Ucap Chici.
"Hmm," hanya gumaman tak jelas sebagai tanggapan, karena mata Xinxin masihlah terpejam meskipun ia saat ini sedang duduk.
Tak begitu lama, Chici datang mengatakan bahwa air mandi Xinxin sudah siap.
"Tidak bisakah kita berangkat terakhir Chi? Aku sangat ngantuk. Coba lihat lingkaran hitam di mataku ini," ucap Xinxin menunjukkan matanya.
Yah sedikit menghitam sih, tapi tidak terlalu terlihat juga. "Tidak masalah nona, nanti saya akan menutupnya dengan riasan," ucap Chici tak mau kalah.
"Ya ya ya baiklah, aku akan mandi," ucap Xinxin berjalan menuju kamar mandi dengan sempoyongan. Hampir saja Xinxin menabrak pintu kayu kamar mandi.
Tak terlalu lama berendam, Xinxin keluar dan disambut Chici yang telah siap dengan segala peralatan riasnya. Mulai dari pakaian yang telah dibelikan Quon dengan warna biru muda dan sulaman bunga sakura di bagian roknya.
Satu kotak penuh aksesoris hingga perhiasan juga tak ketinggalan. Bedak, pewarna bibir, pewarna pipi, lengkap pokoknya. Padahal dia dengar Bedak dan pewarna bibir pun sudah cukup. Tapi yang namanya kakanya yang terlalu mengatur dirinya jadilah semua ini dia yang membelikannya.
"Gaya rambut seperti apa yang nona inginkan?" Tanya Chici setelah melihat Xinxin telah selesai memakai pakaian nya.
"ikat setengah rambutku dengan pita berwarna biru muda!" Ucap Xinxin.
Chici pun langsung melaksanakan perintah nonanya itu dengan cepat.
Dan jadilah rambut Xinxin diikat dengan sangat rapi menyisakan poni yang membuat wajah Xinxin terkesan imut.
Ditambah jepit rambut dengan desain bunga sakura perak di rambut di kedua bagian atas telinga.
"Wahhh nona, nona sangat cantik!" Ucap Chici.
Saat ini Xinxin masih belum menggunakan cadarnya.
"Terimakasih!" Ucap Xinxin dengan gaya tersipu malu kemudian keduanya tertawa bersama sebelum kedatangan seseorang yang langsung masuk membuat tawa mereka berhenti.
¤
¤
__ADS_1
¤
I hope you like it...