Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Perpisahan


__ADS_3

...Happy Reading...


...~•~•~•<•>•~•~•~...


Wuliang menatap mata Xinxin yang tak dapat diartikan, kemudian berkata. "Mungkin kau tidak tahu, tapi seperti kata pepatah, di atas langit masih ada langit, begitu pula di tingkat paling atas kemungkinan ada tingkat yang lebih tinggi, tapi kita tidak tahu itu karena hanya orang-orang beruntung dan terpilihlah yang kemungkinan tahu. Jadi aku sendiri tidak tahu apakah aku berada di tingkat tertinggi dari tingkat yang umumnya di ketahui orang-oranh atau lebih dari itu. Karena aku berada di tingkat ini sudah sangat lama dan semakin aku.... Em...,"


Wuliang yang tadinya menatap ke arah lain langsung menatap Xinxin yang ternyata masih menatapnya dan mendengarkan semua ceritanya, seperti seorang murid teladan yang dengan patuh mendengarkan penjelasan dari sang guru.


"Imut!" Batin Wuliang. Dia menggelengkan kepalanya berusaha tidak memikirkan sesuatu yang jatuhnya akan sakit bagi dirinya.


Tadinya Wuliang terlihat ragu untuk melanjutkan ceritanya, tapi melihat ke antusiasan Xinxin, dia pun berpasrah kalau-kalau Xinxin berubah menatapnya jijik setelah dia mengetahui lebih dalam fakta tentangnya.


"Semakin aku menghisap energi negatif, maka semakin kuat auraku dan juga elemen kegelapanku, tapi warna elemenku tetap sama meski aku merasa aku semakin kuat. Aku juga tidak tahu letak kesalahannya dimana, jadi aku tidak bisa menentukan asli sudah berada di tingkat mana,"


Wuliang telah selesai dengan ceritanya, dia yakin pasti saat Xinxin mengerti dengan semua cerita tentang dirinya, maka dia akan meninggalkannya dengan tatapan jijik. Pandangannya saat ini kearah lain, tidak menatap Xinxin, jadi dia tidak tahu ekspresi Xinxin saat ini seperti apa.


Tidak ada komentar, tak ada suara, hanya terdengar suara nafas mereka berdua. Wuliang menjadi deg degan akan reaksi Xinxin, tapi dia tidak berani menghadap gadis itu.


Setelah beberapa saat keheningan melanda, Xinxin berkata. "Oh, jadi kesimpulannya kau juga tidak tahu dimana tingkatanmu?! Dia mengangguk paham.


"Okelah!"


"Hah?" Wuliang masih tidak percaya kalau Xinxin bisa sesantai ini saat telah mengetahui segalanya tentang dirinya.


"Hm? Apa? Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Xinxin bingung.


Wuliang diam menatap dalam mata Xinxin yang dia cari adalah ketakutan, hinaan, rasa jijik dan sebagainya, tapi nihil dia tak menemukan itu. Di mata itu hanya terdapat kepuasan setelah mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkan.


"Oh astaga!"


Brak


"Ini sudah hampir sore. Aku harus pulang," ucap Xinxin tiba-tiba bangun dan menggebrak meja membuat Wuliang mengelus dada sabar.

__ADS_1


"Setelah ini kau mau kemana? Aku akan pulang!" Ucap Xinxin.


"Aku... Entahlah! Kau tahu di hutan kabut ini ternyata adalah tempat dimana istanaku berada! Kau mau berkunjung?" Tanya Wuliang. Dia berkata dengan bangga kalau hutan kabut yang terkenal berbahaya ini ternyata adalah rumahnya dan kabut tebal di pinggir hutan adalah ulahnya. Kabut itu di sebarkannya karena keserakahan dari manusia dalam menangkap, membunuh para hewan buas, maupun hewan spiritual. Jadi demi menjaga penghuni hutan serta istananya, Wuliang menyebarkan kabut ke sekeliling hutan dan jika ada yang berhasil masuk belum tentu bisa keluar, itu karena hewan buas atau hewan spiritual telah menghabisi mereka yang memaksa masuk lebih dalam.


Sebelah alis Xinxin terangkat dengan memasang ekspresi mengejek. "Benarkah?"


Dia baru tahu kalau Wuliang memiliki sifat sombong. Oh ya, kan itu memang salah satu sifat para iblis, sombong.


"Benar! Aku juga baru mengetahuinya tadi, saat ingatanku kembali!" Ucap Wuliang membenarkan dengan nada sedikit kesal dengan Xinxin yang terdengar meremehkan dirinya.


"Hahahaha, ya ya ya, aku percaya! Tapi maaf mungkin lain kali. Karena saat ini aku harus kembali dan oh ya nama lengkapku adalah Fu Xinxin. Ingat Fu Xinxin! Dari kediaman Jenderal Fu kekaisaran tengah. Pasti kau tahu dengan nama itu kan?!" Siapa yang tidak tahu sampah dari keluarga Fu. Hampir seluruh kekaisaran tengah tahu dan karena Wuliang tinggal di permukiman kekaisaran tengah otomatis dia juga tahu kecuali selama ini dia tinggal di luar kekaisaran tengah ini.


"Oh ya aku bawa buku-buku ini, karena ku yakin ini bukumu bukan?!" Lanjutnya.


"Ya kau benar, ini adalah rumah dimana aku beristirahat saat akan keluar dari hutan kabut ini dan bawalah buku yang kau mau, semuanya pun tak apa!" Ucap Wuliang.


"Heh? Sepuluh buku ini saja aku kesulitan membawanya apalagi semua itu, kecuali kau mau membantu dengan membawakannya sampai ke rumahku!" Ucap Xinxin setelah sebelumnya kesal sambil menunjuk susunan rak buku berjejer itu.


"Haha ku kira kau mau," tawa Wuliang terdengar seperti ejekan di telinga Xinxin. "Tapi maaf, mungkin lain kali aku akan bawakan buku lainnya untukmu!" Lanjutnya membuat Xinxin senang.


"Ya! Tapi aku tidak janji secepatnya, tapi aku juga tidak tahu kapan akan bisa berkunjung ke rumahmu," ucap Wuliang.


"Baiklah, tak masalah, ini saja aku belum tentu selesai dalam waktu cepat. Jadi tak perlu kau pikirkan. Kalau begitu aku pergi sekarang! Dahh jumpa lagi," Xinxin melambaikan tangan nya diatas kepala tanpa berbalik, kemudian hilang di balik pintu masuk.


"Aku boleh kesini lagi kan?" Tanya Xinxin tiba-tiba, hanya kepala nya yang muncul dari balik pintu membuat Wuliang terkejut.


"Kau ini, terserah kau saja, hutan kabut ini akan terbuka untukmu jika ingin masuk. Tapi tidak untuk orang lain," ucap Wuliang.


"Sip, kalau begitu aku pergi!" Xinxin.


"Ya pergilah!" Ucap Wuliang. Sekarang tinggal dia sendiri di kesunyian.


Memegang dadanya yang terasa hamba, tidak ada lagi ocehan seorang gadis yang kadang kala membuatnya kesal dengan tingkahnya.

__ADS_1


"Fu Xinxin ya?! Kita pasti akan bertemu lagi! Entah itu kau yang bertamu ke wilayahku, atau aku yang berkunjung ke kediaman Fu. Hmm Fu Xinxin nona ketiga dari kediaman Fu yang di rumorkan adalah sampah dan aib bagi keluarga Fu, karena tidak memiliki elemen apapun, tapi... Hmm aku mengerti," entah apa yang Wuliang mengerti tapi kita sekarang ikuti perjalanan pemeran utama kita lagi.


...~•~•<•>•~•~...


"Mana jalan keluarnya? Kalau tahu begini aku minta antar Wuliang untuk keluar dari hutan ini," gerutu Xinxin. Sedari meninggalkan rumah istirahat Wuliang tadi dia langsung saja berjalan tanpa tahu arah keluar hutan.


Dia terus berjalan sampai tiba dimana dia mengenal tempat ini. "Bukankah ini gua yang tadi?" Gumam Xinxin.


Untuk memastikan Xinxin pun masuk ke dalam gua.


Benar! Ini adalah gua terakhir kali dia mengikuti anak harimau putih sampai mengobati induknya.


Di pojok seperti posisi semula, induk serta anak harimau putih masih ada di tempat itu.


Xinxin mendekati mereka. "Apakah kau sudah merasa baikan?" Tanya Xinxin saat tahu induk harimau tahu akan kedatangannya.


"Terimakasih atas bantuannya. Aku tidak bisa membalas budi sekarang, tapi saat kau butuh bantuan kau panggilah namaku. Namaku Rui dan anakku bernama Fei," ucap induk harimau.


"Kau tak perlu berterimaksih, aku hanya kasihan melihat anakmu yang akan sendiri jika kau tiada," ucap Xinxin merasa gemas dengan anak harimau yang saat ini sedang tertidur sambil menyusu dengan induknya.


"Sekali lagi terimakasih dan ingat namaku, panggil aku jika kau perlu bantuan," ucap Rui sungguh-sungguh.


"Baiklah, akan ku ingat. Kalau begitu aku pergi," Xinxin pun keluar dari gua dan kembali mencari jalan keluar.


Matahari sebentar lagi akan terbenam dan bergantikan dengan bulan, tapi Xinxin masih berada di dalam hutan kabut.


"Ah itu jalan keluar nya!" Ucap Xinxin senang saat dia menemukan kabut yang tidak terlalu tebal yang menjadi jalan masuk dan keluar di hutan kabut ini.


¤


¤


¤

__ADS_1


I hope you like it...


__ADS_2