
...Happy Reading...
...~•~•<~•~>•~•~...
Setelah cukup lama berlari Xinxin berhenti sejenak untuk beristirahat tapi...
"Aku merasa seseorang telah mengikutiku sejak keluar! Tapi aku merasa tidak ada niat jahat. Apakah dia suruhan kak Quon? Bisa jadi. Aku harus mengelabuhinya!" Senyum licik terpatri dibibir Xinxin.
"Mari kita bermain sedikit!"
Tidak ada yang tidak beres dari Xinxin. Dia hanya berjalan santai memasuki gang-gang kecil yang dipadati oleh rumah penduduk.
Terus-terus berjalan sampai pada belokan ke kanan Xinxin menghilang dari penglihatan Han.
"Pergi kemana nona?" Gumamnya. Dia masih terlihat tenang meski kita tidak tahu dalam nya bagaimana.
Tap
Han mendarat di tanah dengan mulus, tadi dia bersembunyi di atap-atap rumah warga.
Tengok kanan, tengok kiri tidak ada tanda-tanda keberadaan orang yang dia cari, yaitu Xinxin.
Wajahnya mulai terlihat panik. "Bagaimana ini? Aku kehilangan jejak nona! Aku harus mencari dulu sebelum melaporkannya,"
Wush
Han menghilang dari tempat nya berdiri tadi, bahkan terlihat dia tidak pernah berada disana.
Setelah di yakin Han pergi jauh, seorang gadis keluar dari tempat persembunyiannya.
"Haha, akhirnya aku bebas,"
Padahal Xinxin bersembunyi tidak jauh dari tempat Han berdiri tadi, tapi karena dia benar-benar menyembunyikan aura keberadaannya dengan sangat rapat, akhirnya Han tidak menemukannya.
Xinxin tahu kalau tingkat kekuatan jauh tinggi daripada dirinya. Dia pun hanya dengan keyakinan menyembunyikan aura keberadaanya. "Coba dulu, kalau gagal ya sudah," ucap Xinxin sebelum melakukannya. Dan ternyata berhasil, Xinxin sangat senang dengan hal itu.
Agar dirinya tidak ketahuan, dia memilih memasuki sebuah toko pakaian untuk berganti, karena kalau dia tetap memakai pakaian nya yang sekarang, dapat di pastikan dia akan ditemukan dengan cepat.
Xinxin keluar dari toko pakaian itu dengan menggunakan pakaian baru berwarna putih tak lupa cadar senada menutupi setengah wajahnya.
Berjalan santai menuju stand penjual tudung kepala dengan tutupnya. "Berapa ini kek?" Tanya Xinxin kepada seorang kakek penjual itu.
Dia sebenarnya merasa aneh, kok bisa ada yang jualan gini di pasar. Apakah memang orang-orang dunia ini suka memakai tudung kepala? Bahkan ada yang penutup wajahnya berbentuk tirai yang mengelilingi tudung tersebut.
"Dua koin perak nona," jawab si kakek.
Tanpa tawar menawar, Xinxin membayarnya dan mengambilnya tudung kepala dengan penutup nya yang berwarna putih.
"Terimakasih!" Ucap kakek .
Xinxin langsung memakainya dan pergi dari sana, berjalan terus sampai dia menemukan targetnya. "Ternyata masih disini?" Gumamnya seraya menyeringai.
Terlihat dua orang perempuan yang terakhir kali Xinxin lihat terlibat keributan dengan budak gadis yang mereka bawa.
Seperti terakhir kali, budak gadis itu tetap membawa semua belanjaan anak dan ibu tersebut. Dia terlihat kewalahan membawa semuanya, bagaimana tidak, belanjaan itu sangat banyak. Dengan tangan nya yang kecil dan kurus itu dia berusaha agar tidak menjatuhkan salah satu belanjaan majikannya.
__ADS_1
Mereka berdua menaiki kereta kuda, tapi tidak dengan sangat budak yang berjalan di samping kereta yang tidak terlalu laju, tapi mampu membuat budak itu berlari kecil.
Sedikit saja dia terlambat menggiringi kereta akan kena marah, atau bahkan kena lempar sesuatu dari majikannya itu.
"Tidak berprikemanusiaan!" Gumam Xinxin geram. Dia mengepalkan kedua tangannya serta menatap tajam ke arah kereta itu. Dan saat ini Xinxin sedang mengikuti kereta itu, dia berjalan tidak jauh dari kereta itu, tapi mereka tidak menyadari keberadaanya.
Terus mengikuti, terlintas di otak Xinxin sebuah ide agar dua perempuan itu mendapatkan pelajaran dan kalau bisa jera dengan perbuatan mereka dan tak mengulanginya lagi.
"Mari kita coba hehe," Xinxin langsung melompati satu pohon ke pohon lainnya untuk mendahului kereta itu.
...~•<•>•~...
Kereta kuda itu melewati jalanan sunyi, dimana di sepanjang jalan itu di kelilingi oleh hutan.
Kereta melaju dengan pelan seperti sebelumnya. Tiba-tiba dua kuda yang menarik kereta berhenti secara mendadak dengan mengangkat kedua kaki mereka masing-masing.
Crasss
Bunyi tebasan sangat terdengar, karena memang keadaan sunyi.
Hening, kedua perempuan di dalam kereta diam, tak ada pergerakan sedangkan gadis budak tiba-tiba ambruk ke tanah.
Bukh
Bukh
Bukh
Dobrakan yang menghasilkan bunyi nyaring itu sangat terdengar dan suara teriakan pun juga, itu berasal dari dalam kereta.
"I-ibu, budak itu....d-dan kusirnya juga...," ucap anaknya dengan gemetar melihat dua orang yaitu kusir dan budak mereka tergeletak dengan darah di leher mereka.
"A-ada apa Suyi?" Gugup ibunya. Dia masih belum berani untuk melihat keluar.
Saat melihat, dia begitu syok sampai menutup mulutnya dengan tangannya.
"B-bagaimana ini? A-apa yang harus kita lakukan?" Ucap Suyi dengan gemetar.
"Kau kemudikan kereta ini!" Perintah sang ibu.
"Aku?" Tunjuknya pada dirinya. "Tidak mau! B-bagaimana kalau ada yang menyerang? Aku tidak mau mati muda ibu," rengeknya.
"Kau?! Minggir kalau begitu kita jalan kaki," ucap ibunya seraya keluar.
"Tapi ini itu akan memakan waktu lama untuk sampai ke kediaman," ucap Suyin.
"Lalu bagaimana lagi, ibu tidak bisa mengendarai kuda, apalagi mengendalikan kereta," ucap sang ibu melenggang pergi dengan was-was sambil melihat sekeliling.
"Tunggu! Baiklah, aku akan menjadi kusirnya," ucap Suyi.
Sekarang bukan waktunya gengsi pikir Suyi yang penting mereka harus pergi. Karena dia tidak tahu apa tadi.
Tanpa kata sang ibu langsung masuk kedalam kereta dan Suyi menjadi kusirnya.
Tak lama kereta melaju, pohon bambu, dedaunan bergoyang dengan kencang, membuat suasana menjadi horror.
__ADS_1
"I-ibu!" Panggil Suyi. Kereta dia hentikan, karena saat ini dia bergetar hebat.
Tak ada sahutan dari sang ibu, tapi tiba-tiba suara jeritan terdengar dari dalam kereta.
Aaaaaaaaa
Bruk
Suara seseorang jatuh juga terdengar. Bergegas Suyi melihat keadaan ibunya.
"I-ibu," panggilnya lagi kemudian dengan pelan membuka pintu kereta.
"Ibu!" Dia terkejut karena mendapati ibunya tak sadarkan diri.
Wusssss
Angin berhembus dengan kencang.
Kikikikiki
Suara tawa yang kalau diperhatikan adalah suara tawa hantu terdengar menggema di hutan itu, dan setelah hilang suara tawa, sekarang suara tangisan.
Hiks hiks hiks
"Nona.... Nyonya... Mengapa? Mengapa kalian membiarkanku mati seperti ini?" Gema suara itu terdengar jelas di telinga Suyi.
"S-siapa kau? Keluar!" Teriak Suyi. Meski gemetar dia masih sempat-sempatnya bersikap arogan.
"Aku budak kalian... Yang baru saja mati tadi," ucap suara itu.
"T-tidak kau sudah mati. Pergi! Jangan ganggu aku," ucap Suyi sudah menangis tanpa suara.
"Tidak bisa nona, saya tidak bisa pergi sebelum perbudakan saya di cabut. Jiwa saya tidak bisa masuk ke alam bawah sebelum urusan di dunia masih belum selesai...hiks hiks tolonglah saya nona, bebaskan saya," ucap suara yang mengaku budak gadis itu.
"B-baiklah nanti akan aku mencabut perbudakanmu, jadi sekarang pergilah," ucap Suyi.
"Tidak bisa nona, harus sekarang nona, karena saya tidak memiliki waktu banyak di dunia ini, kalau saya terlambat, maka saya akan terus di dunia ini dan menghantui seluruh kediaman anda," ancam suara itu.
Tanya kata, Suyi masuk ke dalam kereta kemudian keluar kembali.
Sreeetttttt
Sebuah kertas perbudakan dia robek. Itu adalah surat yang membuat budak itu terikat dan tidak bisa kabur. Mereka sebagai pemilik budak harus membawa surat itu saat pergi kemanapun, jadi sekarang kertas itu ada dan dapat di robek di tempat.
"Puas, kalau begitu kau pergilah," ucap Suyi.
Tak ada lagi sahutan dari suara itu, keadaan pun kembali dengan normal, dengan cepat Suyi mengendarainya kereta itu dan melaju lumayan cepat.
¤
¤
¤
I hope you like it...
__ADS_1