Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Diikuti II


__ADS_3

...Happy Reading...


...~••~••<•>••~••~...


Setengah jam perjalanan mereka telah tiba di jalan yang di kelilingi oleh hutan. Xinxin jadi ingat saat dia berada di tempat yang agak mirip seperti ini. Saat itu dia bersama Fu Quon yang di tengah jalan di cegat oleh para bandit. Dia berdoa semoga itu tidak terjadi kepada mereka.


"Kita istirahat dulu disini!" Ucap Xinxin. Mereka turun dari kuda dan duduk di bawah pohon yang menaungi mereka dari terik matahari.


Setelah beberapa waktu hening, Xinxin membuka suara. "Kalian tidak bertanya kenapa kalian bisa sampai disini?"


Lan dan Lin yang sedang menikmati roti mereka mendongak, menatap Xinxin.


Lin menggeleng kemudiam berkata. "Kami percaya pada kakak! Kakak Xin tidak akan membawa kami ke dalam bahaya! Ini pasti terbaik bagi kami!" Ucap Lin.


Lan setuju. "Kemanapun kakak pergi, kami akan selalu ikut!"


Xinxin jadi terharu dan dia senang selama perjalanan ini tidak akan membosankan.


Xinxin mengeluarkan dua buah apel yang kemudian dia berikan kepada Lan dan Lin untuk mereka makan.


"Makanlah ini! Buah ini menyehatkan!" Xinxin juga mengambil untuk dirinya.


Buah-buahan di ruang angkasanya telah matang. Jagung, gandum serta padi pun juga telah matang, tinggal tunggu panen saja. Tapi kata Snow, meski tidak di panen segera, buah-buahan itu tidak akan membusuk seberapa lama pun mereka matang. Hanya saja kalau tidak di petik, buah lainnya tidak akan muncul.


"Buah apel ini sangat manis!" Ucap Lan dengan mata berbinar.


"Benar! Meski aku tidak pernah memakan buah apel, tapi aku yakin ini apel yang paling manis!" Setuju Lin.


Xinxin jadi risih karena terus diikuti. 'Apakah dia tidak lelah terus mengikuti kami? Sebenarnya apa tujuannya?' Batin Xinxin jengah.


Xinxin mengambil kerikil yang ada di dekatnya dan melemparnya sembarang arah arahnya yang sebenarnya menargetkan seseorang.


Aduhh


Terdengar jeritan seseorang tak jauh dari mereka duduk. Xinxin berdiri dan mencegah Lan dan Lin mengikutinya.


Xinxin melangkah pelan dan santai dan berkata. "Keluarlah! Apakah tidak lelah terus mengikuti kami?"


Sedangkan orang yang di ajak bicara menegang di tempat persembunyiannya dan mau tak mau diapun keluar dari tempat persembunyiannya.


Srak


Dugh


Dua orang keluar dari tempat persembunyian mereka, satu dari semak-semak dan satunya dari atas pohon.

__ADS_1


'Eh? Dua orang? Ku kira hanya satu,' batin Xinxin terkejut.


Dia hanya merasakan satu orang yang ada di semak-semak, kalau yang di atas pohon dia tidak tahu. Snow pun tidak menyadarinya. Tapi untungnya tidak ada niat jahat juga darinya.


"Siapa kalian?" Tanya Xinxin dengan nada datar dan tenang.


"Kau?! Kenapa kau mengikuti kami? Bukankah kau yang di toko pakaian itu?"


Yang di tanya menatap tenang Xinxin, tapi dapat Xinxin lihat dari matanya nya ada kesedihan dan kerinduan.


"Saya hanya memastikan, apakah nona adalah orang yang saya cari!" Ucap pemuda itu.


"Mata nona mirip dengan adik perempuan saya yang telah hilang satu tahun ini. Saya berusaha mencarinya dan pertama kali melihat nona saya ingin memastikan, tapi saya ragu dan hanya berniat mencari tahu dengan mengikuti kalian! Maafkan saya jika itu membuat anda tidak nyaman! Saya akan berhenti, karena nona bukan adik saya!" Lanjut nya dengan sedih.


"Tidak masalah! Maaf jika mengecewakan anda! Dan apakah lemparan saya menyakitkan?" Ucap Xinxin diakhiri pertanyaan tidak enak.


"Tidak Masalah! Dan ini tidak begitu sakit!" Padahal dia menahan nyut-nyutan di lengan nya yang terkena lemparan batu Xinxin. Tidak main-main, mungkin bekasnya akan membiru.


"Kalau begitu saya pamit, kalau ada kesempatan kita akan bertemu lagi," setelah mengatakan itu pemuda itu pergi kembali ke arah kota Hujan.


"Dan kau siapa?" Tanpa Xinxin duga orang tersebut langsung berlutut membuat mau tak mau Xinxin mundur. Biarpun dirinya dulu di hormati tapi tidak sampai berlutut juga.


"Apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!" Perintah Xinxin tegas.


Orang itu pum berdiri, padahal itu sudah seharusnya dia berlutut, tapi karena itu perintah Xinxin yang notabennya orang yang penting jadi dia menurutinya.


"Siapa tuanmu? Ku rasa saya tidak mengenal orang hebat di kekaisaran,"


"Yang Mulia Kaisar Zhuting!" Jawab A.


Mata Xinxin melotot, 'Ah, bagaimana ini?'


"Snow, bagaimana ini?"


"Ya bagaimana?!"


"Coba pikirkan cara agar aku bisa kabur darinya! Aku yakin kekuatan nya di atasku, aku tidak bisa mengalahkannya jika nekad melawannya!"


Snow yang di dalam ruang Angkasa diam. "Aha?! Gunakan serbuk tidur!"


"Kau yakin itu berhasil? Dia kuat loh. Nanti kalau gagal bagaimana?"


"Coba saja dulu. Gagal ya tidak apa-apa, kurasa dia tidak akan melakukan apapun biarpun kau melakukan kesalahan!"


Xinxin pun memikirkannya. Benar, kalau sampai Kaisar Zhuting yang memerintahkannya, dia tidak akan melakukan apapun padanya karena biarpun Xinxin acuh dan tak menanggapi apapun pembicaraan orang-orang di acara pemilihan permaisuri itu dia tahu kalau Kaisar Zhuting tertarik padanya. Bukan terlalu pede, tapi dia peka, tapi yang namanya Xinxin tidak ingin menanggapi karena dia tidak berpikir untuk menikah untuk saat ini, apalagi menjadi permaisuri. Dia ingin menikmati hidupnya dengan berpetualang bebas.

__ADS_1


Dengan sikap tenang, Xinxin mengambil dan menggenggam serbuk tidur di tangannya dan menatap A yang menunduk.


Meski A tidak menatap nya, dia yakin kalau A ini kewaspadaannya kuat, hanya saja Xinxin berharap karena dirinya lah yang di hadapannya, dia tidak terlalu waspada.


Bertepatan dengan datang nya angin yang keberuntungan Xinxin mengarah ke arah A mempermudah proses penyebaran serbuk tidur.


"Uhuk uhuk..," A terbatuk dan menatap Xinxin bingung dan matanya memberat, tanpa suara dia berkata 'Apa yang nona lakukan?' Dan kemudian dia jatuh tertidur.


"Ada apa dengan nya kak?" Tanya Lin yang sudah ada di samping Xinxin.


"Ah, dia hanya tertidur!"


"Kenapa dia tidur?" Tanya Lan polos.


"Mungkin dia lelah?!" Ucap Xinxin tanpa beban.


Xinxin pun memindahkan tubuh A ke tempat lebih tertutup agar tidak terjadi apa-apa selagi dia tertidur. Di bantu Lan dan Lin, Xinxin meletakkan A di balik pohon besar kemudian menyelimutinya.


"Mungkin efeknya tidak lama, karena dia memiliki kekuatan yang kuat!" Ucap Snow memberitahu Xinxin.


Xinxin juga memperkirakannya begitu. Mungkin hanya beberapa jam saja serbuk tidur itu berfungsi.


"Ya! Kau benar!"


Tidak ingin membuang waktu sampai A bangun dan menyusulnya, Xinxin pun langsung membawa Lan dan Lin pergi dengan cepat.


Kuda sudah dia beri air ajaib dan buah dari dalam ruang angkasa membuat stamina kuda lebih kuat.


Dua jam berlalu, kuda Xinxin dengan Lin yang memeluk Lan yang tertidur sampai di gerbang Kota Nam.


Kuda mereka berhenti mengantri untuk memasuki gerbang dan para Penjaga gerbang kota sedang memeriksa satu-persatu orang yang akan masuk sambil dengan lukisan di tangan mereka.


'Kenapa mereka melakukan itu?'


'Apakah ada seseorang yang di cari?' Batin Xinxin.


Xinxin masih belum tahu kalau lukisan wajahnya tersebar ke seluruh kekaisaran tidak hanya di Kota Hujan saja.


Untungnya saat ini dia menggunakan cadar, tapi apakah dia harus membuka cadarnya saat akan di periksa?




__ADS_1


I hope you like it...


__ADS_2