
...Happy Reading...
...~••~••<•>••~••~...
Hari semakin siang, akan tetapi satu orang gadis ini sepertinya tidak ada niatan untuk beranjak dari tempat duduknya sekarang.
Dan semenjak tadi juga ada yang memperhatikannya tanpa dia sadari.
Hoammmm
"Ahhh ngantuk! Jam segini tuh enaknya tidur, tapi.... Ah sial gara-gara perburuan ini aku tidak bisa tidur dengan nyaman di kasurku," gerutuan Xinxin. Dia mulai berdiri dengan ogah-ogahan dan mulai memasuki hutan.
Jalan terus sampai matanya menangkap sebuah objek yang terlihat imut. Itu seekor kelinci berwarna putih dengan mata merah.
"Uuuuuuu imut nya!" Ucapnya senang.
"Ci ci, kau mau ikut dengan ku tidak?" Tanyanya pada kelinci. Entah kelinci itu mengerti atau tidak terus saja Xinxin mengajaknya berbicara dengan jarak dua meter.
Tak ada respon dari kelinci. Kelinci itu masih saja asik makan rumput.
"Haiss, memangnya kelinci mengerti omonganku?! Haha aku jadi makin gila, kalau lama-lama berada di sini!" Ucap Xinxin tertawa miris.
Dia semakin merasa tak waras, berada di dunia yang sangat berbeda, membuatnya frustasi, apalagi dengan semua keadaan yang menimpanya.
Tapi tidak benar-benar sial juga berada di dunia ini. Karena Xinxin dapat mengeluarkan sifat aslinya disini, meski itu masih dalam lingkungannya.
"Ikut aku ya?!" Ucap Xinxin lagi kepada kelinci sambil melambai-lambaikan rumput, berharap kelinci itu tertarik dan mendekat padanya.
Kelinci mulai berpaling, hidungnya mengendus-ngendus, perlahan tapi pasti dia melompat-lompat mendekati rumput yang Xinxin lambaikan.
Perlahan senyum Xinxin melebar saat kelinci itu semakin mendekat.
Xinxin berteriak tertahan karena senang, karena kelinci itu sudah berada di depan nya.
Mengelus lembut kepala kelinci itu, kemudian Xinxin mengangkatnya. Kelinci itu tidak memberontak, bahkan dia terlihat nyaman di gendongan Xinxin.
__ADS_1
...~•<•>•~...
Sore hari telah tiba, saat ini Xinxin masih asik bersantai sambil memberi makan Snow, nama yang dia berikan kepada kelinci putih.
Dia tidak menduga tadi dia menemukan ubi-ubian di hutan liar ini. Tadi saat dia mencari-cari tumbuhan herbal, dia tak sengaja melihat daun yang cukup familiar, dia pun mencoba menggali bagian bawahnya untuk memastikan, dan betapa senangnya dia menemukan ubi jalar. Dan saat ini dia sedang memakan ubi jalar yang telah di bakar. Tak lupa ubi mentah itu dia berikan kepada Snow.
"Udah sore aja," gumam Xinxin memperhatikan langit yang mulai menguning.
"Snow, kita pulang!" Ucap Xinxin mengangkat Snow dan memasukkannya ke dalam tas kainnya. Sedangkan beberapa ubi yang telah dia bakar dan juga yang masih mentah dia letakkan di kain yang dia ikat membentuk tas.
Dia pun kembali ke tempat yang telah di tentukan. Dan saat sampai, ternyata semua sudah tiba, tinggal dirinya yang belum, tapi apa peduli Xinxin, toh dia juga tidak terlambat, masih ada beberapa jam lagi.
Cibiran dan hinaan terus Xinxin dengar sepanjang dia menuju tempat yang di khususkan untuk setiap peserta.
'Menyusahkan!'
'Ku tebak dia tak mendapat buruan apapun!'
Apakah mata mereka buta. "Lalu yang ku gendong ini apa? Apakah mereka tidak dapat melihatnya?" Gumam Xinxin menatap bergantian orang yang menatap nya rendah dan Snow, si kelinci yang dia tangkap.
'Apa yang kalian harapkan dari sampah seperti dia?'
'Xinxin...'
Sapa Wu Zhu tanpa suara di balas anggukan oleh Xinxin, karena akan percuma jika dia tersenyum karena dia menggunakan cadar.
Li Zhishu juga menyapa dan berakhirlah Xinxin berada di barisan terbelakang, biasa tempatnya berada.
"Karena semuanya sudah datang, maka di persilahkan kepada semua nona untuk beristirahat sejenak, dan penilaian akan di lakukan pada malam hari setelah makan malam," ucap Panglima Haerang.
Para peserta atau nona muda memasuki tenda mereka masing-masing yang memang sebelum mereka datang tenda telah di dirikan oleh para prajurit atas perintah Kaisar Zhuting sendiri.
Dug
Xinxin merebahkan tubuhnya ke ranjang kecil yang memang di dalam tenda sudah ada, bahkan perabotan lain seperti lemari kecil juga ada, meja, kursi dan lainnya.
__ADS_1
Dia bangun dari rebahannya dan mendapati Snow yang mengendus-endus gumpalan kain yang berisi tumbuhan herbal serta ubi yang dia bawa.
"Kita lihat, apa saja yang kita hasilkan hari ini," ucap Xinxin seraya membuka gunakan kain nya.
"Nah ini nih ginseng liar gede, umurnya berapa ya? Ah tau lah," Xinxin kembali mengeluarkan seluruh herbal dan ubi jalar yang ada di tas nya sampai habis.
"Wah lumayan nih! Bisa di jual nanti atau buat obat atau pil hehe, dan ubi ini untuk malam nanti kalau-kalau aku lapar dan juga untuk Snow.
"Eh tadi kenapa mereka tidak bisa melihat Snow ya?" Xinxin bingung, kenapa orang lain tidak bisa melihat Snow padahal jelas sekali kelinci berwarna putih itu di gendongannya.
"Itu wajar tuan, karena saya hanya bisa di lihat oleh anda yang sekarang menjadi tuan saya,"
"Oh astaga! Siapa itu? Siapa yang bicara?" Xinxin langsung berdiri memasang kuda-kuda bersiap kalau ada yang berniat jahat.
"Tenang tuan! Saya hanya sebuah roh yang mengisi tubuh hewan kelinci ini yang bertujuan membantu tuan menjalani kehidupan tuan di dunia baru ini!" Jelas suara itu.
Xinxin menatap kelinci putih itu kaget. Roh? Maksudnya apa? Xinxin tidak mengerti.
"Apa maksudnya itu? Bisa kau jelaskan? Aku pernah, bahkan sering menemukan Novel yang tokohnya bertransmigrasi dan di temani oleh sistem, bukan roh! Jadi apakah dirimu itu? Benar-benar roh atau roh jadi-jadian?" Xinxin masih bersikap waspada dan sedikit takut.
"Baiklah tuan saya akan memperkenalkan diri saya. Saya adalah roh yang di utus oleh Sang Pencipta untuk membantu tuan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bukan hanya di dunia ini, karena setelah semua misi di dunia ini selesai tuan akan di pindahkan ke dunia lainnya lagi dengan identitas baru pula. Di dunia berikutnya tuan juga harus menyelesaikan semua tugas yang telah di tetapkan dan berlanjut ke dunia-dunia lainnya,"
Snow, si kelinci putih mendekat kepada Xinxin yang duduk di ujung ranjang.
"Tuan telah di pilih oleh Sang Pencipta saya memperbaiki dunia-dunia yang akan rusak ini dengan menjadi pengantin seseorang yang nantinya akan menguasai dunia di setiap dunia yang akan tuan datangi!"
Ucapannya terakhir Snow ini membuat Xinxin semakin bingung. Penjelasan Snow sebelumnya dia sudah paham meskipun tak dapat mempercayainya, tapi ucapan terakhir nya ini yang semakin membuatnya tak percaya.
Dia hanya seorang manusia biasa yang baru berkembang di dunia baru ini, dan jika itu benar, kenapa Snow baru muncul setelah sekian lama dia berada di dunia yang asing baginya? Dan apa itu menjadi penganting? Oh ayolah di dunia nya dulu saja selalu gagal dalam sebuah hubungan asmara dan ini dia di minta menjadi pengantin?
Apakah ini lelucon untuk membuatnya semakin depresi?
¤
¤
__ADS_1
¤
I hope you like it...