
.......
.......
.......
Srakkkkk
Mereka tertegun melihat seekor anak harimau berwarna putih telah menggeram ke arah mereka berdua. Wuliang dan Xinxin saling pandang dan kembali menatap anak harimau putih itu. Dia terlihat siap akan menyerang dua manusia di depannya.
Ukurannya kecil, tak lebih dari seukuran kucing dewasa dan rambutnya sangat lebat.
Mencoba mendekati, Xinxin dengan pelan maju tapi geraman semakin nyaring.
Jarak Xinxin dan anak harimau putih itu tinggal sedikit lagi. Warna putih dengan loreng hitam di rambut-rambutnya dan jangan lupa badan gemuknya, sangat menggemaskan.
Iris mata berwarna hitam dan memandang Xinxin waspada dan siap dengan ancang-ancang akan menerkam Xinxin. Bukan seram, malahan semakin membuatnya menggemasakan.
Wajah Xinxin memerah menahan tawanya saat melihat raut menggemaskan wajah lucu anak harimau putih itu 'imut tapi galak'.
Anak harimau putih itu menggeram marah menunjukkan taringnya yang mungil, melompat ingin melakukan gerakan menerkam ke arah Xinxin, tapi tak sampai karena Xinxin melangkah mundur.
Xinxin semakin di buat gemas tatkala anak harimau putih itu akan kembali menyerang Xinxin, menaikkan sebelah alisnya dan dengan tenang menerima serangan kedua dari si anak harimau putih.
Grep
Dengan sigap Xinxin menangkap dan mengapit anak Harimau putih itu di ketiaknya.
"Eonggg ngeongkkk,"
Suara tangisan nyaring terdengar khas anak harimau, tidak jauh dari suara kucing biasa, bedanya hanya sedikit besar volume nya.
"Dasar kucing nakal," Xinxin langsung menyentil kening anak harimau putih itu membuat dia kembali menangis.
Anak harimau putih itu berontak membuat Xinxin mau tak mau melepaskannya. Xinxin mendekati anak harimau putih kembali namun anak harimau putih itu sudah berlari melarikan diri.
Spontan Xinxin mengejar anak harimau putih itu dengan cepat melupakan sesuatu. Berlari melewati pepohonan mengejar anak harimau putih, tanpa memperhatikan sekitar, fokusnya hanya menatap anak harimau putih yang berlari memasuki semak belukar yang merambat tinggi.
Xinxin membulatkan matanya saat anak harimau itu menabrak semak belukar dan baru menyadari bentuk pohon yang dilingkari semak belukar ini membentuk setengah lingkaran saat dia berhenti karena panggilan.
"Xin!" Panggil Wuliang mencegah Xinxin masuk.
Xinxin terjengkit kaget dan berbalik mendapati Wuliang yang sedikit ngos-ngosan, mungkin akibat mengejarnya.
"Eh? Ah maaf aku meninggalkanmu," ucap Xinxin merasa bersalah. Dia terlalu fokus dan melupakan kalau dirinya tidak sendiri.
Tiba-tiba tubuh Wuliang menegang, itu tak lutut dari mata Xinxin.
__ADS_1
"Wuliang, kau kenapa?" Tanya Xinxin bingung.
Mata Wuliang menatap semak belukar yang merambat tinggi itu, dia melewati Xinxin dan menyingkap semak itu.
Srakkkk
Srakkkk
Ternyata di balik semak belukar itu terdapat gua yang remang-remang dengan cahaya, karena terdapat lubang tak terlalu besar di atasan nya.
"Ternyata ada ruang di balik semak ini?!" Gumam Xinxin manggut-manggut.
Srakk
Suara sesuatu terdengar dari sudut ruangan yang masih di terangi remangan cahaya.
Melihat kesudut itu dimana disana terdapat anak harimau putih yang tadi dia kejar. Anak harimau itu bersembunyi di balik tubuh besar seekor harimau putih dewasa yang kemungkinan besar adalah induknya.
Grrrrr
Terdengar gerangan lemah dari harimau putih dewasa itu. Mendekati dengan pelan bahkan dia mengabaikan peringatan Wuliang.
Saat sudah dekat, dapat Xinxin lihat ada banyak cakaran hampir di seluruh tubuh induk harimau itu, dia sekarat.
Anak harimau putih itu meringkuk di pelukan induknya dan menatap garang pada Xinxin.
"Bisa saja! Kau kenapa? Bolehkah aku membantumu? Meskipun ilmu pengobatanku belum pernah aku gunakan karena baru belajar, tapi aku tahu tanaman herbal apa yang dapat menghentikan pendarahanmu, boleh?" Xinxin bisa saja langsung mengobati induk harimau itu, tapi dia juga tidak ingin seenaknya.
"Huh, setiap manusia sama! Serakah! Apa maumu? Lepaskan anakku dan aku akan menyerahkan tubuhku ini," ucap induk harimau galak.
Xinxin terkekeh membuat induk harimau bingung, bahkan Wuliang yang berada di samping Xinxin pun bingung, tapi dia diam saja, entah karena apa sedari tadi dia merasakan sesuatu menariknya memasuki gua ini, tapi karena tidak ingin mengambil resiko dia menunggu Xinxin.
"Tidak semua manusia seperti apa yang kau pikirkan. Kalau kau tidak ingin diobati yasudah, aku tidak memaksa," Xinxin berbalik. "Yuk Wuliang, kau masih ingin di dalam sini?" Tanya Xinxin yang di angguki Wuliang.
"Aku merasa ada sesuatu yang menarikku untuk masuk masuk lebih dalam di gua ini," jelas Wuliang menatap kegelapan di dalam gua.
"Oh, mari, aku akan menemanimu," saat akan pergi, induk harimau mengerang tertahan karena luka nya yang begitu menyakitkan.
Xinxin iba, tapi karena induknya tidak mau di obat dia tidak bisa memaksanya.
Terdengar lagi erangan dari induk harimau membuat Xinxin berhenti lagi dan lagi.
Dengan tekad Xinxin berbalik dan berjalan mendekati induk harimau.
Dia menatap anak harimau putih itu mendusel-dusel pada induknya menyuruhnya agar mengusir Xinxin.
"Mau apa kau?" Tanya marah induk harimau.
__ADS_1
"Grrgh..ngeongr..," garang anak harimau itu kepada Xinxin.
Menjilat luka ibunya dan mengarahkan cakar kecil nya ke wajah induknya, tapi sekeras apa pun usaha anak harimau itu, induknya tetap mengerang kesakitan.
Xinxin hanya memandang kasihan pada anak harimau itu dan tanpa aba-aba dia duduk dan mencari sesuatu dari tasnya. Menemukan yang di cari tapi tak dia keluarkan dari tasnya.
Induk harimau tak dapat bersuara lagi, dia begitu sekarat, sekedar menanggapi anaknya saja tidak bisa.
Xinxin duduk menjauh dari anak dan induk harimau putih itu dan fokus pada apa yang dia pikiran sambil mencari-cari sesuatu di sekitar.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Wuliang bingung.
"Hah? Oh aku mencari batu," ucap Xinxin.
"Untuk apa?" Tanya Wuliang mengikuti Xinxin di belakang.
"Jangan tanya, bantu aku mendapatkannya," ucap Xinxin. "Ah ketemu," saat sudah menemukan batu lumayan besar dan yang kecil juga kemudian dia mengambil beberapa daun besar.
Duduk dengan nyaman kemudian mengeluarkan tanaman herbalnya.
Tuk
Tuk
Tuk
Tuk
Dia menghaluskan beberapa tanaman herbal, setelah dirasa halus, dia menaruhnya di atas daun dan berjalan ke arah induk harimau yang sudah setengah sadar. Sempat-sempatnya matanya melotot tajam ke arah Xinxin yang tentunya di abaikan Xinxin.
"Wuliang, tolong bantu aku memegangi anak harimau ini. Takutnya dia mengganggu proses pengobatan induknya," ucap Xinxin tanpa berbalik. Matanya fokus ke induk harimau.
Tanpa bertanya, Wuliang langsung menggendong anak harimau itu meski anak harimau berontak hebat, tapi terlihat Wuliang tak kesulitan sama sekali.
Xinxin pun memulai proses pengobatan induk harimau. Mulai dari menaburkan obat yang telah dia tumbuk setelahnya membungkusnya dengan kain, itu bagian yang dapat di balut saja kalau tidak, dia hanya menerapkan obat itu di atas luka.
Setelah dirasa cukup, Xinxin pun mengeluarkan pil penyembuh biasa yang sempat dia beli di pasar karena dia takut kalau dia atau Wuliang akan menjalani luka.
Hanya pil penyembuh biasa, karena kalau pil penyembuh dengan tingkatan sedang harganya mahal. Meski koin Xinxin cukup untuk membelinya, tapi kalau membeli dia tidak akan bisa membeli makanan untuk dia bawa sebagai persediaan.
¤
¤
¤
I hope you like it...
__ADS_1