
...Happy Reading...
...~•~•~•<~•~>•~•~•~...
Bukan apa-apa Xinxin hanya memperkenalkan dirinya sebagai Xin, tapi seperti kata hatinya, jangan langsung percaya pada orang yang baru kita temui, meski itu orang yang telah kita ketahui identitasnya, tapi karena kita tidak tahu bagaimana dalamnya, apalagi orang baru ditemui, kenali dan perhatikan bagaimana sikap dan caranya dalam menanggapi orang, kalau baik yah bisa dipertimbangkan, kalau kasar yah tinggalin aja.
Melihat keseriusan Xinxin, wajah Wuliang yang tadi nya kesal menjadi serius.
"Aku ingin kau membantuku mengembalikan ingatanku, karena aku merasa kau orang yang tepat untuk membantuku," ucap Wuliang.
"Darimana kau yakin kalau aku mau membantumu?" Tanya Xinxin. Dia ingin mengetes apakah pemuda di depan nya ini hanya mencari kesempatan dengan memanfaatkan gadis yang terlihat lemah ini.
"Aku yakin!" Wuliang sedikit memajukan tubunnya dan berbisik.
"Kau menutupi aura mu bukan, dengan teknik penutup aura," ucapnya dengan senyum miring.
Sempat kaget, karena dia sudah yakin teknik penutup aura yang dia gunakan sudan dia tingkatkan, sehingga orang yang lebih kuat darinya satu tingkat tak akan menyadarinya, tapi pemuda ini menyadarinya? Sudah pasti pemuda ini orang kuat.
"Aku tidak tahu pasti elemen apa yang kau miliki tapi ku yakin itu sangat bagus dan tak banyak orang memilikinya," Wuliang kembali duduk tegak di seberang Xinxin sambil bersedekap dada menatap mata Xinxin yang terlihat sempat membulat, tapi tak lama karena setelah itu wajahnya kembali seperti semula.
Dengan wajah datar Xinxin berkata. "Kau mengancamku atau apa? Wajarkan kalau aku menyembunyikan auraku, aku saja tidak dapat menebak tingkatanmu," ucap Xinxin santai dengan wajah datarnya tak lupa kedua tangannya juga bersedekap menatap lurus ke mata Wuliang.
"kekeke," Wuliang terkekeh kemudian kembali dengan wajah datar andalkan nya.
"Aku tidak mengancammu, aku hanya meminta bantuan meski di bumbui dengan paksaan sih," ucap Wuliang tak tahu malu. Dimana seseorang yang bak orang tertindas sebelumnya? Bagaikan ilusi, pemuda di depannya ini sungguh hebat dalam memerankan peran orang teraniaya.
"Ck!" Decakan kesal Xinxin begitu jelas terlihat dimata Wuliang, tapi mungkin karena dasarnya bodo amatan orangnya, dia tetap bersikap santai. "Lalu bagaimana aku harus membantumu?" Lanjutnya. Bisa saja Xinxin menolak akan tetapi ada baiknya jika seseorang yang kuat ada disisinya, mereka bisa saling menguntungkan.
"Bantu aku pergi ke hutan Kabut! Intuisiku mengatakan aku harus kesana, tapi karena keadaan yang sekarang aku tidak bisa pergi sendiri, karena ku dengar hutan kabut adalah hutan yang berbahaya dan tidak ada yang pernah keluar setelah masuk," ucap Wuliang.
"Baiklah!" Setuju Xinxin cepat. Kebetulan dia juga akan kesana bukan.
Wuliang menatap menyelidik terhadap Xinxin. "Ku kira kau setidaknya berpikir terlebih dahulu, tapi... Kau juga akan kesana?" Ucap Wuliang diakhiri dengan petanyaan.
Xinxin menggidikkan bahunya. "Entahlah!" Xinxin tak menjawab membuat banyak bertanya dikepala Wuliang.
__ADS_1
Apakah di depannya ini memang benar seorang gadis? Dia berpikir mengajak atau meminta bantuan dengan seorang pria saja belum tentu di setuju, ini bahkan Xinxin langsung menyetujuinya, bahkan tanpa berpikir. Wuliang tak bisa memahami gadis di depannya ini. Apa isi kepalanya sehingga mau membantunya ke hutan Kabut yang berbahaya itu, dia juga tidak berniat mengambang atau apapun itu, tapi karena keadaannya terdesak saat ini mau tak mau diam harus, dan tanpa di duga gadis ini mau membantunya meski dengan kesal pastinya.
Mereka pun akhirnya selesai makan setelah beberapa kali pertanyaan Wuliang yang tak di tanggapi Xinxin.
...~•~•~•<•>•~•~•~...
Xinxin bersama Wuliang Sampai di pinggir hutan kabut pada saat malam hari akan datang dan mereka memilih makan dan beristirahat dan memilih besok pagi memasuki hutan.
"Silahkan makan!" Ucap Xinxin. Memang makanan itu sudah di beli Xinxin sebelumnya di pasar, karena tidak mungkin dia akan berburu di hutan kabut ini, apalagi pada malam hari.
Wuliang mengangguk dan memakan makanan yang diberikan Xinxin.
Selesai makan mereka mulai tidur di dahan pohon, tidak mungkin mereka tidur di tanah, karena ini hutan yang di dalamnya tidak di ketahui isinya, kemungkinan besar banyak sekarang buas, dan bisa saja mereka keluar hutan untuk mencari makan.
Saat matahari bahkan belum terlihat membumbung di langit, Xinxin sudah bangun.
"Wuliang, bangun!" Ucap Xinxin membangunkan Wuliang.
"Hm," Wuliang bangun dan meregangkan tubunnya yang kaku.
"Turunlah! Kita akan sarapan dulu sebelum masuk ke hutan," ucap Xinxin yang saat ini menyiapkan makanan.
"Ayo masuk!" Ucap Xinxin.
"Hm,"
"Dingin amat," batin Xinxin jengah.
Rencananya, Xinxin ingin mencari tanaman herbal untuk membuat pil peningkat, penempa tubuh dan pil lainnya. Meski belum pernah membuatnya, Xinxin akan mencobanya melalui buku yang dia pelajari.
Memang di pasaran banyak yang menjual tanaman herbal, akan tetapi dengan uang yang masih tak memadai, dia memilih mencurinya di hutan terdekat, yaitu hutan kabut ini.
Tidak terburu-buru masuk ke dalam Xinxin memilih mengamati terlebih dahulu, karena dia tidak tahu bahaya apa yang menantinya di balik kabut tebal itu.
Walaupun Xinxin tidak tahu apa di dalamnya, tapi setiap hutan pasti memiliki hewan buas di dalamnya.
__ADS_1
Matahari sudah sudah muncul, Xinxin dan Wuliang sudah berjalan selama setengah jam dan belum bertemu apa-apa selain tanaman herbal biasa yang ada di sepanjang pinggir hutan.
Xinxin tiba-tiba berhenti tatkala dia melihat kabut yang tidak setebal di tempat lainnya.
"Apakah ini jalan masuknya?" Tanya Xinxin, minta pendapat kepada Wuliang.
"Mungkin?!" Wuliang juga ragu, tapi hanya di sini kabut yang tidak terlalu tebal.
"Masuk," putus Xinxin.
Sekitar setengah jam mereka memasuki kabut sampai pada dalam hutan yang ternyata tidak berkabut sama sekali.
"Wah, ternyata kabutnya tidak sampai di dalam, hanya di luar sana yang berkabut," ucap Xinxin melihat tempat mereka masuk barusan.
"Benar! Ku kira, kabut ini akan menutupi seluruh hutan, tapi ternyata hanya bagian luarnya saja," komentar Wuliang seraya memperhatikan dalam hutan kabut yang tak jauh berbeda dengan hutan lain kecuali kabut yang menutupi sekeliling jalan keluar.
Mereka pun masuk lebih dalam dan mengambil tanaman herbal di sepanjang jalan yang mereka lewati. Hanya Xinxin sih yang mencabut, serta memetik beberap tanaman herbal yang dia cari.
"Kita sudah lama berjalan semakin masuk, lalu apakah kamu sudah mendapatkan tanda tentang sesuatu yang kau cari?" Tanya Xinxin yang tak menatap Wuliang karena mencabut tanaman herbal.
"Entahlah, belum ada tanda," jawab Wuliang yang juga membantu Xinxin mencabut tanaman herbal dengan interuksi Xinxin.
Tak berapa lama terdengar gemerisik yang berasal dari semak belukar yang tak jauh dari tempat mereka.
Grrr
Grrr
Dan suara geraman juga terdengar. Mereka berdua bersiap siaga kalau-kalau ada serangan, memasukkan tanaman herbal yang berhasil di cabut lalu menginteruksi Wuliang agar perlahan maju ke arah semak, karena tidak ada penyerangan dari sesuatu yang berasal dari semaki itu.
Mengangguk yakin untuk menyingkap semak itu dengan gerakan tangan 1, 2, 3.
¤
¤
__ADS_1
¤
Next...