Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Bertemu Wuliang


__ADS_3

...Happy Reading...


...~•~•~•~•<•>•~•~•~•~...


Xinxin pun bersiap-siap, kemudian keluar kediaman Fu ini melalui jalan belakang. Karena dia tidak ingin ada yang mengetahui dirinya keluar dan menimbulkan masalah kedepannya.


"Hati-hati nona!" Dengan berat hati Chici membiarkan nonanya itu pergi sendiri, sangat jelas dimata nya rasa cemas.


"Jangan khawatir, aku akan kembali dengan cepat!" Ucap Xinxin dari atas pagar pembatas.


"Baik nona, saya akan menunggu nona,"


Xinxin pun turun dan mendarat dengan mulus. Cukup mudah keluar dari kediaman Fu ini, karena masih pagi sekali. Dan juga dua penjaga gerbang sedang pergi untuk bergantian berjaga.


Melompat dari pohon ke pohon menggunakan teknik peringan tubuh mempercepat Xinxin sampai ke pasar. Niatnya sebelum ke hutan Kabut, dia akan membeli beberapa makanan yang tahan lama untuk di bawa ke hutan, karena tidak mungkin dan mudah untuk dia berburu.


Hutan kabut ini terkenal dengan kabut tebalnya, baik itu pada siang hari maupun malam hari.


Hutan ini juga terkenal karena siapa saja yang berani masuk lebih dalam maka mereka yang masuk tidak keluar lagi, seperti tertelah oleh tebalnya kabut.


30 menit Xinxin akhirnya sampai, di depan sana terlihat pasar yang cukup banyak orang, baik itu penjual maupun pembeli.


Membenarkan cadar pada wajahnya, Xinxin dengan santai memasuki area pasar.


Aksesoris, aksesoris... Bagus dan cantik, belilah...


Berapa ini?


2 koin tembaga nyonya!


Tidak bisa kurang?


Tidak bisa nyonya! Ini sudah murah daripada gerai lainnya!


Beli-beli! Buah segar, baru di petik...


Bakpao! Enak loh, rugi tidak beli...


Para pedagang dengan semangat mempromosikan barang dagangan masing-masing dengan semangat. Para pembeli pun tak kalah semangat dalam menawar barang yang mereka inginkan.


Tak sengaja Xinxin melewati sebuah gerai sederhana yang mana pemiliknya adalah seorang wanita tua. Gerai nya menjual aksesoris, seperti jepit rambut, tusuk rambut dan lainnya, dan di antara tusuk rambut itu ada tusuk rambut buatannya. Dia yakin, karena tidak ada yang menjualnya di dunia ini dan seperti yang dikatakan Chici kalau dia menitipkan tusuk rambut buatannya di gerai seorang wanita tua.


"Mau beli sesuatu nona?" Tawar wanita tua itu.


Xinxin tersenyum dan memilih beberapa jepit rambut dan pilihannya jatuh pada jepit rambut dengan hiasan kupu-kupu perak di atasnya.


"Ini berapa nek?" Tanya Xinxin.


"3 keping tembaga nona!" Jawab nenek.


Tanpa berpikir lagi Xinxin mengeluarkan 3 keping tembaga dari kantung kecil yang dia bawa untuk menyimpan koinnya.

__ADS_1


"Terimakasih!"


Setelah memasukkan jepit rambut kupu-kupu ke dalam tas kecil yang Xinxin rancang sendiri, dia kembali menyusuri pasar.


Banyak yang menatapnya penasaran karena Xinxin menggunakan cadar dan pakaiannya yang terkesan seperti pendekar wanita.


Tak ada yang berani mengusik perjalanannya, semua memilih menepi memberikan jalan kepada Xinxin karena aura kepemimpinannya.


Xinxin sedikit terkekeh mendapati dirinya seperti di takuti sama hal nya dengan dirinya di dunianya dulu yang mana saat dia melewati para karyawannya mereka akan menundukkan kepala mereka untuk menghormati dirinya sebagai CEO.


"Dasar pembawa sial!"


Ctar


Ctar


Teriakan itu membuyarkan lamunan Xinxin yang mengingat masa lalu nya. "Ada apa itu?" Gumam Xinxin penasaran.


Di depan sana banyak orang bergerombol menyaksikan sesuatu, sepertinya?


Kesusahan melihat ke depan karena banyaknya orang, Xinxin pun memilih naik ke salah satu atap rumah warga.


Ctar


Ctar


Seorang pria berbadan besar, dengan kulit coklatnya mencambuk seorang pemuda yang saat ini terduduk sambil tertunduk dalam tanpa bersuara, bahkan saat tali cambuk mengenai kulitnya dia tidak berteriak kesakitan.


Masih tak bergeming dari tempatnya, pemuda itu, apakah terjadi sesuatu padanya? Pikir Xinxin.


Hap


Xinxin turun dari atas rumah warga dan mendekati pemuda itu.


Berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi pemuda yang sedang duduk itu.


"Hei, kau tidak apa-apa? Apakah ada sesuatu yang salah?" Tanya Xinxin.


Tidak ada respon dari yang di tanya, Xinxin pun dengan ragu ingin menepuk bahu si pemuda, tapi tiba-tiba pemuda itu mendongak memperlihatkan mata biru cerah yang sangat cantik. Kulit tubunnya yang putih sangat serasi dengan rambut hitam legam dan mata biru tersebut.


Tanpa sadar Xinxin berucap. "Cantik," setelah tersadar dia mengalihkan wajahnya malu.


Pemuda itu menatap Xinxin bingung tanpa suara.


"Ekhem," Xinxin berdehem menghilangkan kecanggungannya.


"Kau... Apakah sesuatu terjadi, sehingga kau tidak bergerak dari tadi?" Tanya Xinxin.


"Hmm, tidak apa-apa," ucap pemuda itu, kemudian dia bangkit membuat Xinxin mengikuti dan kepalanya mendongak ke atas karena pemuda ini ternyata tinggi juga, Xinxin saja hanya sebatas bahunya.


"Kau tinggi juga, meski lebih tinggi kak Quon!" Ucap Xinxin mengangguk-angguk komentarnya.

__ADS_1


"Karena kau tidak apa-apa, aku pergi," ucap Xinxin akan pergi, tapi...


"Tunggu!" Ucap pemuda itu menghentikan langkah Xinxin.


Dengan raut wajah seperti bertanya 'Apa' Xinxin menatap pemuda yang menghentikan nya tadi.


"Boleh aku ikut denganmu?" Tanyanya dengan wajah datar itu.


Oh ayolah, adakah orang yang kalau minta ikut dengan ekspresi datar seperti itu, yang orang yang diminta itu bakal langsung meninggalkannya, tapi Xinxin tidak, dia sedikit penasaran dengan pemuda di depan nya ini. Bagaimana dia tidak merasa sakit saat dimana tubunnya saat ini memiliki luka yang lumayan banyak, baik luka baru maupun bekas luka lama.


"Kita cari tempat bicara," putus Xinxin meninggalkan pemuda itu.


...~•~•<•>•~•~...


Pemandangan ramai terlihat sekali di dalam sebuah rumah makan bernama 'rumah makan Senantiasa Enak' ini.


Di meja ujung terdapat dua orang berjenis kelamin berbeda, mereka saling pandang. Kalau dari penghlihatan orang-orang mereka seperti sepasang kekasih yang lagi dilanda asmara, tapi sebenarnya tidak, mereka adalah Xinxin dan pemuda yang mengikutinya beberapa saat yang lalu.


"Tujuanmu ingin ikut apa?" Tanya Xinxin.


Xinxin telah memesan makanan untuk mereka, dan sambil menunggu makanan datang dia tak membuang waktu untuk bertanya.


"Tidak pasti! Tapi aku merasa kau dapat membantuku!" Ucap pemuda tersebut.


"Aku tidak tahu pasti namaku siapa, tapi seingatku namaku Wuliang," jelasnya.


"La....," perkataan Xinxin terjeda tatkala pelayan pengantar makanan datang.


"Silahkan menikmati!" Ucap pelayan itu diangguki oleh Xinxin. "Terimaksih!" Ucap Xinxin dan terlihat raut wajah pelayan rumah makan sedikit tersentak, tapi kembali normal setelah dia memberikan senyuman.


Setelah pelayan itu pergi kembali fokus Xinxin menatap pemuda itu.


"Lalu? Apa tujuanmu sebenarnya ingin ikut dengan ku?" Tanya Xinxin.


"Tolong bantu aku mengembalikan ingatanku!" Ucap Wuliang.


"Hah? Kau lupa ingatan?!" Ucap Xinxin yakin percaya.


"Memangnya kenapa kau bisa hilang ingatan?" Tanya Xinxin.


"Kalau aku tahu aku tak akan meminta bantuan mu," ucap Wuliang kesal.


"Hehe, kukira kau tak memiliki ekspresi, taunya kau bisa kesal juga ya. Oh ya perkenalkan namaku Xin....Jadi kau ingin aku membantu apa?" Tanya Xinxin tiba-tiba serius.


¤


¤


¤


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2