Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Ke Pasar


__ADS_3

.......


.......


.......


Tap


Tap


Tap


Dua orang perempuan berjalan sedikit cepat di sebuah taman dengan banyak macam bunga mewarnai sekeliling taman.


Mereka adalah Xinxin dan Chici. Mereka sedikit terlambat, yah memang Xinxin sengaja untuk lebih lambat datang, tapi karena Chici yang terlalu bawal jadi sekaranglah perjalanan mereka terlihat sedikit tergesa-gesa.


"Ada apa ya sampai aku dipanggil? Oh ya Chi pernahkah aku di panggil seperti ini sebelumnya?" Tanya Xinxin.


Tidak tahu, tapi Xinxin merasa diri pemilik tubuh ini tidak pernah keluar dari lingkungan rumahnya dan pastinya tidak pernah di di panggil, bahkan mungkin sekedar makan bersama.


"Saya tidak tahu nona, dan kalau anda pernah tidaknya dipanggil seperti ini jawabannya tidak, ini pertama kalinya setelah 15 tahun terakhir," jawab Chici.


Xinxin mengangguk paham. Mereka pun berlanjut memasuki gerbang tinggi yang di dalamnya terdiri bangunan aula Leluhur keluarga Jenderal Fu.


Dua orang penjaga gerbang sedikit membungkuk, menghormati Xinxin yang meskipun terabaikan.


"Syukurlah masih ada orang waras disini!" Batin Xinxin.


Mereka pun sampai di pintu utama aula Leluhur.


Seorang penjaga mengumumkan kedatangan Xinxin.


"Nona ketiga, memasuki aula," teriaknya membuat telinga Xinxin berdengung.


Tak ingin membuat keributan, Xinxin memilih mengabaikannya untuk sekarang, entah untuk lain kali.


Pertama kali yang Xinxin lihat saat masuk yaitu tatapan menghina dari semua orang.


Xinxin tak mengenali mereka semua, hanya beberapa yang dia tahu. Fu Chyou, Fu Quon dan Fu Nuan.


Fu Quon melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum menyuruhnya duduk di sampingnya.


Hampir semua orang menatap takjub dengan kejadian itu, pasalnya Fu Quon jarang tersenyum. Sikapnya berubah dingin dan tak tersentuh saat dirinya di kirim ke rumah kakek dan neneknya.


Kakek? Nenek? Mereka juga ada di aula ini. Duduk di kursi di samping kursi paling besar yang di isi oleh kepala keluarga saat ini yaitu Fu Zihan.


Xinxin sudah duduk di samping Quon. "Kau juga datang?" Tanya Quon senang.


"Hm, seperti yang kakak lihat!" Jawab Xinxin dengan berakting menjadi anak baik tak lupa senyum polosnya itu, tapi semua itu tertutupi oleh cadar yang menutupi sebagian wajahnya.

__ADS_1


"Karena semua orang sudah ada di tempat mari kita mulai pembahasannya," ucap Fu Zihan penuh wibawa, mengalihkan semua atensi orang yang sebelumnya masih berbicara.


Semua orang diam mendengarkan perkataan dari Fu Zihan. Nampak jelas wajah mereka berseri-seri saat mendengarkan.


"Jadi semua orang yang termasuk dalam keluarga Fu ini di undang ke acara ulang tahun baginda Kaisar Wang Zhuting, dan wajib hadir,"


Fu Zihan mengatakan kalau dalam waktu dua hari ke depan adalah pesta ulang tahun Kaisar Wang Zhuting. Semua orang rakyat kekaisaran tengah di undang, baik itu kaum bawah, meski hanya diperkenankan di luar istana, karena di dalam istana untuk para kaum bangsawan dan oleh karena itu semua kaum bangsawan harus hadir tanpa terkecual. Itu artinya, meskipun nona muda layaknya sampah di sebuah kediaman juga harus hadir, jadi itu alasan kenapa Xinxin juga di panggil dari sekian lamanya dilupakan.


Perkataan-perkataan tak sabar terdengar jelas, tapi apa juga yang mengeluh karena belum memiliki pakaian baru yang akan di gunakan kemudian pesta nanti.


"Ini akan menyenangkan! Karena adik Xin akan ikut. Kau mau sekereta denganku?" Tanya Quon senang.


Biasanya dia akan malas datang ke pesta manapun, dan karena kali ini Xinxin ikut dia terlihat sangat antusias.


"Boleh?" Tanya Xinxin ragu-ragu. Dia cuman akting, ingat akting. Dia juga tidak tahu akan berangkat dengan siapa, karena dapat di pastikan tidak ada yang mau menampungnya selain Quon.


"Tentu saja!" Jawab Quon langsung.


Mereka tidak sadar sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian. Selain Xinxin yang memakai cadar setelah sekian lama tidak mereka lihat dan juga Quon yang banyak bicara.


Dan satu lagi, tatapan seseorang yang tidak dapat di artikan mengarahkan ke arah Xinxin.


Satu persatu orang keluar dari dalam aula, sedangkan Xinxin ingin pergi, tapi Quon terus mengajaknya bicara, mau tak mau dia harus tetap di tempat untuk kesopanan.


"Bagaimana kalau besok kita ke pasar?" Disini Quon terlihat seperti perempuan yang tak sabar ingin berbelanja keperluan ke pesta.


"Tidak boleh!" Bukan Xinxin yang menjawab, tapi Fu Zihan.


"Kau tak boleh membawanya keluar! Kalau ada yang tahu itu akan mempermalukan kediaman kita!" Lanjutnya tenang, tapi tidak dengan artinya. Itu terdengar sangat sarkas jika orang ini mengatakannya dengan kasar.


"Ayah!?" Quon tak percaya dengan ini. Apakah ayahnya tidak memiliki perasaan sedikit kasihan atau apapun itu? Xinxin puteri kandungnya loh.


Xinxin menunduk, bukan sakit hati, tapi menahan tawa sampai badannya bergetar, tapi dari sudut pandang Quon Xinxin menangis. Hah dia kira dia akan patuh gitu? Tidak! Tapi karena ada Quon dia memilih diam, karena dia tahu Quon akan melawannya hehe.


"Tidak apa! Jangan dengarkan ayah!" Ucap Quon menenangkan Xinxin sambil memeluknya dan mengusap punggungnya.


"Kita akan tetap pergi!" Bukan apa Quon memaksa untuk mengajak Xinxin ke pasar, tapi karena dia melihat semua pakaian yang Xinxin gunakan tidak lebih baik dari pakaian yang di pakai oleh para pelayan.


"Quon!" Sekarang Fu Zihan terlihat marah. Matanya melotot tajam ke arah Quon tapi Quon membalasnya dengan tatapan tak kalah tajam pula.


"Ayo kita pergi!" Ucap Quon mengajak Xinxin. Kalau dilihat Xinxin terlihat tidak enak, tapi sebenarnya Xinxin tertawa di dalam hati. "Syukurin!" Ucapnya dalam hati.


"T-tapi," wah akting Xinxin sungguh bagus.


Quon menarik Xinxin mengabaikan setiap panggilan Fu Zihan.


...~•~•<•>•~•~...


Besok harinya...

__ADS_1


Seperti kata Quon kemarin, dia akan menjemput Xinxin, mengajaknya ke pasar.


"Kau sudah siap?" Tanya Quon.


"Ya!" Jawab Xinxin.


Mereka berdua pun berangkat menggunakan kereta dengan lambang keluarga Jenderal tak lupa juga beberapa pengawal yang mengikuti dari belakang.


Baru sepuluh menit, wajahnya Xinxin terlihat sangat pucat. "Kau kenapa?" Tanya Quon khawatir.


Xinxin melambaikan tangannya dan menggeleng.


"Kau mabuk kereta?" Tanya Quon dengan benar.


Xinxin mengangguk mengiyakan, dia tidak bisa berucap satu katapun, takutnya semua isi perutnya akan keluar sekarang.


"Hentikan keretanya!" Perintah Quon.


Kereta berhenti, dan tanpa di bukankan pintu kereta, Xinxin langsung mendobraknya dan keluar.


"Huek...Huek...," Xinxin mengeluarkan isi perutnya yang tak seberapa, karena dia tak sempat makan pagi tadi karena Quon menjemputnya terlalu pagi.


Quon dengan telaten memijat tengkuk Xinxin. "Sudah baikan?" Tanya Quon setelah melihat Xinxin berhenti muntah.


Xinxin mengangguk. "Ya, mendingan," ucapnya setelah menerima air dari Quon dan meminumnya.


"Duduk disini," perintah Quon menepuk tikar yang telah digelar oleh para pengawal.


Setelah beberapa saat, kondisi Xinxin perlahan membaik. "Apakah kau sanggup naik kereta lagi?" Tanya Quon. khawatir.


Tak tega dia pun menawarkan. "Bagaimana kalau naik kuda?"


Xinxin menatap Quon, ada binar di mata Xinxin. Sudah lama dia ingin naik kuda, bahkan di kehidupan dulu dia tidak pernah menaiki kuda karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya jadi tak ada waktu untuk itu.


"Boleh...boleh!" Ucapnya antusias.


Quon mengangguk dan berdiri, dia berjalan ke arah para pengawal dan setelah nya membawa seekor kuda berwarna hitam legam dengan tubuh yang besar dan kekar.


"Kita naik berdua!" Ucap Quon yang di angguki Xinxin.


Xinxin berdiri menghampiri Quon dan kudanya. Dengan sekali lompatan serta di bantu Quon, Xinxin pun berhasil naik dengan baik selanjutnya Quon melompat dan duduk di belakang Xinxin. Memegang tali pengendali dan...


"Hiya...," Kuda pun melaju dengan santai di jalanan berbatu.


¤


¤


¤

__ADS_1


I hope you like it...


__ADS_2