Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Part 52


__ADS_3

...Happy Reading ...


...~••~••<•>••~••~...


Di sebuah ruangan yang lebih besar dengan meja dan tumpukan kertas di atasnya terlihat seorang pria dengan seragam lengkap tentara sedang fokus menulis di atas kertas. Dia adalah kepala Penjaga Zang. Pemimpin penjaga gerbang Kota Nam.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Ucapnya.


Tiga orang penjaga masuk dan membungkuk hormat setelah itu tegak kembali.


"Ada apa?"


"Nona dan kedua adiknya yang dia bawa tidak ada di dalam ruang kantor!"


"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah sudah saya suruh untuk mengawasinya?" Ucap kepala Penjaga Zang.


Ketiga pengawal itu bergetar takut dengan tekanan yang di keluarkan oleh pria itu.


"I-itu kami tidak tahu. T-tapi kami sudah menjaganya agar tidak kemana-mana. Bahkan setiap lima menit sekali kami akan mengintipnya apalah masih ada atau tidak, tapi saat Penjaga B melihatnya kembali, tidak ada satu orangpun di dalam!" Jelas Penjaga A.


"Mereka juga tidak terlihar keluar! Karena kami terus berjaga di luar kantor!" Jelas Penjaga C.


"Ah, sial! Bagaimana ini? Apa yang harus di katakan saat utusan kekaisaran datang?" Gumam kepala Penjaga Zang.


Dia sudah mengirim surat dengan burung elang agar cepat sampai kekaisaran, tapi apa sekarang? Bahkan nama orang yang dimuat di dalan surat sudah tidak ada!


"Kalian cari di sekitar! Kalau-kalau memang keluar sebentar," Kepala Penjaga Zang masih memiliki harapan. Dia berharap orang yang mereka jaga ini hanya keluar sebentar dan kemungkinan saat ini dia kembali ke dalam ruang kantor.


"Baik Kepala!" Jawab mereka bertiga, kemudian keluar.


Di lain sisi, saat ini Xinxin masih asik memakan buahnya dan sesekali bersenandung.


"Oh bagaimana kalau kita bermain sebentar! Lan dan Lin juga aman disini!" Dengan pemikiran itu Xinxin pun mencari keberadaan dua anak dan satu kelinci. Dia mengatakan ingin bermain sebentar kemudian keluar dari ruang angkasa, duduk sebelum tiga penjaga datang.


Dengan menatap ketiga penjaga itu polos. Xinxin bertanya. "Apakah urusan kalian sudah selesai? Saya lelah menunggu dan mengantarkan adik-adik saya kepenginapan tadi!" Ucap Xinxin membuat alasan, mengapa dirinya dan kedua adiknya tidak ada di tempat.


"Ah, maafkan kami nona, kalau begitu tunggu sebentar lagi," Penjaga A.


"Kau pergi ke Kepala Penjaga Zang. Tanya apa yang harus di lakukan sekarang?!" Perintah Penjaga A kepada Penjaga C.


Penjaga C mengangguk, kemudian pergi meninggalkan dua penjaga lainnya.


Penjaga C bergegas berlaru kembali keruangan Kepala Penjaga Zang.


"Kepala, nona itu ada di dalam ruangan. Katanya tadi dia pergi kepenginapan mengantar kedua adiknya," jelas Penjaga C.


Ada senyum kecil terbit di bibir Kepala Penjaga Zang. Dia lega kalau memang nona yang mereka jaga tidak pergi.


"Baiklah! Tahan dia sebentar lagi, karena utusan akan segera tiba," entah menggunakan apa tapi utusan telah tiba setelah Kepala Penjaga Zang mengatakannya.

__ADS_1


Utusan itu tiba-tiba muncul di dalam ruangan Kepala Penjaga Zang.


Teleportasi!


Pikir kedua orang yang menyaksikannya. Memerlukan banyak energi alam untuk melakukan teleportasi, apalagi dengan jarak yang lumayan jauh seperti dari kekaisaran ke Kota Nam ini.


Dan mereka lagi-lagi terkejut saat utusan itu berbalik menghadap mereka. Langsung saja mereka berlutut.


"Selamat Datang Yang Mulia Kaisar! Semoga rahmat terus menyertaimu!" Ucap keduanya bersamaan.


"Hm, bangun!" Yang datang bukan utusan biasa, melainkan Kaisar Zhuting sendiri.


"Dimana?" Kepala Penjaga Zang paham langsung mengarahkan Kaisar Zhuting ke ruang dimana orang yang mereka jaga.


Kreattt


Kepala Xinxin mendongak mendengar pintu di dorong seseorang.


Seketika matanya melebar, terkejut? Pastilah. Dia tidak menyangka kalau Kaisar Zhuting sendiri yang akan datang.


Saking terkejutnya, dia sampai tak sadar kalau Kaisar Zhuting sudah berdiri di depannya.


Sedang Kepala Penjaga Zang dan tiga penjaga lainnya berdiri dengan gemetar dan keringat dingin terus menetes dari pelipis mereka.


"Ekhem!"


Kaisar Zhuting berdehem untuk menyadarkan keterpakuan Xinxin yang tidak berhenti menatap wajahnya. Dia sedikit salah tingkah di tatap oleh gadis yang dia suka tapi dia tutupi dengan wajah datarnya.


"Ah?"


Iya! Xinxin juga pencinta pria tampan, tapi harus kalem dong ya. Buktikan kalau sifat nya yang dulu selalu dingin kepada para pacar sebentarnya itu.


Pacaran?


Apakah di zaman yang begitu kuno ini ada yang namanya pacaran?


Entahlah?!


Xinxin langsung berdiri dan membungkuk hormat. "Salam pada Yang Mulia Kaisar, semoga keberkahan selalui menyertaimu!"


"Hm!"


Kaisar Zhuting mengkode Kepala Penjaga Zang dan tiga anak buahnya untuk keluar. Mereka paham dengan tatapan itu dan langsung keluar. Lagipula mereka sudah tidak tahan dekat dengan orang tertinggi di kekaisaran ini. Bukan apa, tekanan nya itu loh, membuat kaki seakan menjadi jelly.


Kaisar Zhuting duduk di kursi berseberangan dengan Xinxin duduk.


Xinxin juga ikut duduk tanpa di suruh. Yah kebiasaan menjadi atasan yah gitu.


Keheningan melanda keduanya, tidak ada yang berniat memukai percakapan dan Xinxin juga sudah merasa tidak nyaman dengan kecanggungan ini. Apalagi Kaisar Zhuting yang terang-terangan menatapnya terus menerus.


Bagaimana dia bisa tidak salah tingkah kan?!


'Apa sih maunya?!' Batin Xinxin menggerutu.


"Kembali?!"

__ADS_1


Kening Xinxin berkerut mendengar satu kata yang keluar dari sekian lama keheningan.


"Apa?"


"Tidak ingin kembali ke kekaisaran?" Sekarang pertanyaan Kaisar Zhuting lebih jelas.


"Emmm, tidak!" Jawab Xinxin.


"Kenapa?" Tanya Kaisar Zhuting.


"Kau tahu, karena ulahmu prosesi pemilihan dihentikan sementara sampai kau kembali!" Sambung nya.


"Memangnya kenapa? Kan bisa di lanjutkan meskipun saya tidak ada disana! Satu orang tidak ada tidak masalah kan. Kan masih banyak nona-nona lainnya," ucap Xinxin tenang.


"Tidak bisa! Satu orang hilang maka prosesi akan di hentikan!"


"Hah? Memangnya aturannya begitu?"


Kaisar Zhuting terlihat terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa, karena proses pemilihan ini juga pertama kalinya.


"I-itu memang begitu!"


'Ah kenapa aku jadi terbata begini?!' Batin Kaisar Zhuting. Dia juga tanpa sadar jadi gugup saat bicara dengan Xinxin.


"Hm, kenapa tidak di lanjutkan saja Yang Mulia, karena saya tidak berniat untuk kembali!" Ucap Xinxin menatap dengan berani tepat di mata Kaisar Zhuting.


Bukannya marah, Kaisar Zhuting malah menyeringai membuat hati Xinxin was was.


'Kenapa nih orang?!' Batin Xinxin.


"Boleh saja kau tidak kembali, tapi...


Kaisar Zhuting memajukan wajahnya ke arah Xinxin membuatnya menegakkan tubuhnya yang awalnya condong ke depan.


...Tidakkah kau akan merasa bersalah jika seluruh keluarga mu menerima hukuman?"


"Yang Mulia mengancam saya?" Tanya Xinxin langsung dengan wajah semakin datar.


Kaisar Zhuting menggeleng. "Tidak!...Itu memang hukum di kekaisaran. Bagi yang tidak mematuhi keputusan saya maka seluruh keluarga akan menerima akibatnya!"


'Untuk yang lain tidak masalah, tapi kak Quon dan Chici tidak bersalah,' batin Xinxin.


"Tidak bisakah anda memberi keringanan untuk saya? Nona bangsawan lainnya masih banyak dan jika keluar satu kan tidak masalah. Dan lagi jika pun saya kembali dan mengikuti proses pemilihan itu, saya juga tidak ingin menjadi permaisuri saat jika saya terpilih. Saya mohon biarkan saya pergi! Saya ingin bebas. Sudah cukup kekangan dari keluarga saya dulu, saya mohon anda jangan mengekang saya lagi," ucap Xinxin dengan seiring panjang dia berbicara semakin sedih raut wajahnya dan suaranya semakin melirih.


Kepalanya menunduk dengan tangan terkepal kuat, tanpa berbicara lagi, Xinxin langsung menghilang di tempat membuat Kaisar Zhuting langsung berdiri dan berusaha merasakan energi alam yang di gunakan Xinxin untuk berteleportasi. Itu pikirnya dan ternyata tidak ada energi alam pun yang dia rasakan.


Biasanya dia akan mampu mendeteksi kepergian seseorang yang menggunakan teleportasi.


'Kemana dia?' Batin Kaisar bingung.




__ADS_1


I hope you like it...


__ADS_2