Kembalikan Pengantinku

Kembalikan Pengantinku
Kembalinya Ingatan Wuliang


__ADS_3

...Happy Reading...


...~•~•~•<~•~>•~•~•~...


Xinxin bisa saja menggunakan elemen cahaya atau penyembuhnya untuk mempercepat pemulihan luka dalam induk harimau, tapi dia sadar dia tidak sendiri, dia juga belum terlalu percaya dengan Wuliang, jadi dia hanya memberikan pil penyembuh biasa, karena hanya itu yang ada. Lagipula induk harimau terlihat lebih baik sekarang, terlihat dari hidung nya yang tadinya putih pucat, sekarang sedikit memerah.


Setelah semuanya selesai, Xinxin bangkit, berbalik menatap Wuliang dan anak harimau di gendongannya, dia berkata. "Lepaskan dia, kita masuk," ucap Xinxin datar.


Melepaskan anak harimau putih itu Wuliang mengangguk. Mereka pun memasuki gua lebih dalam, tak lupa menggunakan obor buatan dengan elemen api Xinxin dan selama ini hanya elemen api yang Xinxin tunjukkan kepada Wuliang.


Semakin masuk ke dalam gua, udara mulai makin pengab dan gelap, untungnya ada sedikit penerangan membuat suasana tak terlalu mencekam.


Masuk lebih dalam dan akhirnya menemukan ujung dari gua ini, kosong? Disini kosong, berdebu dan berlumut di bagian dinding gua.


"Buntu!" Ucap Wuliang pelan.


Wuliang mengangguk meyakinkan diri agar menyusuri dinding, karena intuisinya dia harus melakukan itu dan...


Tak


Clek


....Xinxin menatap asal suara, dimana disana ada Wuliang yang terlihat sedikit kaget. Mereka saling pandang dan gua mulai bergetar.


"Apa yang terjadi? Kau apa yang barusan kau lakukan?" Tanya Xinxin panik sambil memegangi dinding gua.


"Aku juga tidak tahu! Aku hanya menekan dinding gua dan....," Wuliang tak melanjutkan ucapannya, dia nampak berpikir sambil berpegangan pada dinding gua agar tidak goyah.


"Dan?" Tanya Xinxin was was.


"Pejamkan matamu!" Perintah Wuliang tiba-tiba dan dengan refleks Xinxin langsung menutup matanya.


Beberapa saat kemudian, tubunnya terasa seperti jatuh tapi dia tak berani membuka matanya, bersuara pun tidak.


Tak lama keadaan seperti semula, tenang dan tubunnya tak merasa jatuh lagi.


"Buka matamu," itu suara Wuliang, dengan perlahan Xinxin membuka matanya dan seketika matanya membulat mendapati pemandangan indah di depannya.


"Wah indah sekali," gumam Xinxin menatap kagum hamparan rumput hijau memenuhi seluruh area.


"Ayo ikut," ucap Wuliang menyadarkan Xinxin.


Xinxin mengangguk dan mengikuti Wuliang di belakang.


Setelah sekian lama berjalan, mereka di pertemukan dengan sebuah rumah kecil dengan atap jerami dan dinding bambu.


"Masuk," ucap Wuliang.


Dia seperti pemiliknya saja, pikir Xinxin.

__ADS_1


Setelah masuk yang dia lihat adalah susunan rak buku memenuhi semua ruangan. Satu meja panjang dengan empat kursi berada di pojok kanan setelah pintu masuk.


"Apa ini?" Xinxin tak bisa tidak bertanya. Daritadi dia sudah menahan banyak pertanyaan dikepalanya.


Wuliang berbalik menghadap Xinxin. "Aku merasa aku sering ke tempat ini dan aku harus mencari tahu mengenai diriku disini, itu intuisiku," ucap Wuliang.


"Hm, lalu bagaimana selanjutnya?" Tanya Xinxin.


"Tolong bantu aku menemukan sesuatu disini, aku merasakan sesuatu menarikku," ucap Wuliang.


"Bentuknya bagaimana?" Xinxin.


"Aku juga tidak tahu, tapi carilah terlebih dulu, kalau misalkan kau menemukan sesuatu yang terlihat istimewa atau apa pun itu beritahu aku," ucap Wuliang.


"Oh baiklah!"


Mereka pun mulai berpencar menyusuri ruangan dalam rumah itu yang di penuhi dengan rak buku dan jangan lupa buku yang memenuhi rak buku itu.


Satu, dua, tiga sampai hampir sepuluh buku sudah berada di tangan Xinxin. Sambil mencari sesuatu yang dimaksud oleh Wuliang, Xinxin menyempatkan mengambil beberapa buku yang berguna untuknya di masa depan.


Ketika dia sampai di ujung sesuatu menarik hatinya untuk mendekati dan memeriksanya.


Xinxin menyusuri, meraba dinding yang terlihat memiliki ruang di baliknya.


Tak lama setelah meraba-raba, Xinxin bisa merasakan tonjolan pada dinding. Kalau tidak teliti maka tonjolan kecil itu tak terlihat.


Clek


Bisa dia lihat sebuah kotak kayu dengan ukiran rumit di atasnya.


"Wuliang," panggil Xinxin.


Tap


Tap


Tap


Wuliang terdengar sedikit berlari menghampiri tempat Xinxin.


"Ada apa? Itu... Arghhh," tanpa di duga, Setelah melihat kotak kayu itu Wuliang mengerang sambil memegang kepalanya yang teramat sangat sakit.


Arghh


"Hei kau kenapa?" Cemas Xinxin. Dia meletakkan kotak kayu ke lantai lalu membantu Wuliang untuk berjalan menuju kursi yang ada di depan.


"Duduklah!" Xinxin mulai mengambil air untuk Wuliang minum setelah dirasa dia tenang.


Xinxin kembali ke tempatnya tadi untuk mengambil buku-buku serta kotak kayu tadi.

__ADS_1


"Masih sakit?" Tanya Xinxin setelah dia menaruh buku serta kota dia atas meja.


Wuliang menggeleng. "Sudah tidak!" Jawabnya.


Dia mengambil alih kotak kayu yang telah di temukan Xinxin, menatap lekat kotak kayu itu.


Wuliang sangat fokus terhadap kotak kayu di depannya itu dan Xinxin tak ingin mengganggu jadi dia memilih berkeliling kembali kalau-kalau ada buku yang menarik lainnya.


"Hm, banyak buku pengobatan disini! Oh disini juga ada buku bermacam-macam teknik," ucap Xinxin senang saat menemukan buku yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kekuatannya.


Setelah di rasa cukup dan sudah terlalu lama juga dia meninggalkan Wuliang, dia pun kembali ke depan dimana Wuliang berada.


Mata Xinxin terbelalak saat tak menemukan Wuliang, akan tetapi orang lain yang berada disana.


Orang itu berpakaian serba putih, bahkan rambut panjang nya berwarna putih.


"Hei, siapa kau?" Tanya Xinxin.


Orang itu berbalik memperlihatkan wajah tampannya. Eh? Tunggu, dia mirip Wuliang loh.


"Kau Wuliang?" Tanya Xinxin.


"Hm, ya!" Oh ternyata dia Wuliang, tapi kenapa penampilannya bisa berubah?


Tadi dia berpakaian sangat lusuh layaknya seorang gelandangan, tapi sekarang? Dia bahkan mirip bidadara tanpa sayap.


Sangat jelas dari mata Xinxin kalau bingung serta penasaran, oleh karena itu Wuliang pun berkata. "Aku telah mendapatkan kekuatan dan ingatanku kembali!" Jelas Wuliang.


"Oh benarkah! Kalau begitu selamat. Jadi sekarang kau mau apa? Maksudku, apakah kita akan berpisah disini? Kan kau sudah mendapatkan ingatanmu kembali?!" Ucap Xinxin.


Entahlah! Xinxin seperti merasa kehilangan kalau Wuliang tidak bersama dengannya lagi. Padahal baru satu hari lebih bersama tapi sudah terasa nyaman. Atau mungkin tidak ada teman lain, jadi Xinxin merasa nyaman meski baru kenal.


Wuliang berjalan, mendekat ke arah Xinxin berdiri, tepat setelah dia sampai di depan Xinxin dia sedikit membungkuk karena memang Xinxin hanya sebatas bahunya.


"Kau ingin aku tidak pergi dan terus bersamamu?" Tanya Wuliang menggoda.


Xinxin mengernyit kemudian membatin. "Darimana dia mendapatkan kepercayaan seperti itu? Meski benar, tapi tak sepenuhnya sih,"


"Mungkin iya! Mungkin juga tidak!" Jawab Xinxin nampak berpikir.


"Hahahaha, jika kau tahu siapa sebenarnya aku, mungkin kau akan langsung mengusirku," ucap Wuliang setelah tertawa kejam? Bukan, tapi lebih kearah tawa hampa?!


"Oh benarkah? Jadi siapa kau sebenarnya? Masalah aku akan langsung pergi atau tidaknya kita lihat belakangan," ucap Xinxin terkesan mendesak.


Wuliang berbalik, membelakangi Xinxin dengan kedua tangan terpaut dibelakang punggungnya.


¤


¤

__ADS_1


¤


Next...


__ADS_2