
...Happy Reading...
...~•~•~•<~•~>•~•~•~...
Setelah kereta tak terlihat lagi, keluarlah sosok bertudung yang menutupi wajahnya.
Dia menyibak tirai di tudung kepalanya itu dan terlihatlah wajah cantik meskipun sebagian wajahnya di tutupi oleh cadar.
Hahahahahahahaha. "Kocak mukanya," tawa menggelegar. Dia Xinxin yang membuat ulah.
"Aduh...aduh...perutku sakit terlalu banyak tertawa haha," ucap Xinxin seraya mengusap ujung matanya yang berair.
Xinxin teringat apa yang dia lakukan sebelumnya lagi-lagi dia tertawa sampai-sampai dia terduduk jongkok.
...Flashback On...
Setelah mendahului kereta sepasang ibu dan anak itu Xinxin mencari tempat yang tepat untuk menjalankan aksinya.
Menemukan tempat yang pas yang pastinya dia sudah mengecek apakah ada orang yang akan lewat atau tidak dan dari hasil itu tidak ada kereta yang akan lewat selain kereta dari sepasang ibu dan anak itu.
Crasss
Suara tebasan! Suara ini berasal dari hasil tebasan Xinxin di udara menggunakan elemen anginnya.
Dobrakan itu Xinxin yang melakukannya, dia memukul beberapa kali di bagian pintu kemudian pergi dengan cepat.
Sedangkan darah pada paman kusir dan gadis budak berasal dari darah kelinci yang dia tangkap. Sebelumnya dia membuat paman kusir dan gadis budak itu pingsan terlebih dulu dan membaluri leher keduanya dengan darah kelinci, seakan-akan leher mereka kena tebasan pedang.
Angin kencang yang menggoyangkan pepohonan adalah hasil perbuatan Xinxin juga, bahkan suara misterius itu adalah suara Xinxin juga dengan bantuan angin yang membuat nya seperti suara yang terbawa angin.
Dan kalian tahu selanjutnya.
...Flashback Off...
"Ah gadis dan paman itu," Xinxin segera masuk kedalam hutan meninggalkan tempat tadi dan tanpa dia sadari seseorang telah melihat semua kelakuannya.
"Lucu juga,"
Selanjutnya orang itu pergi, hilang tak berbekas bagaikan tak pernah berdiri disana.
...~•<•>•~...
"Ugh... Kepalaku,"
Seorang gadis baru saja bangun dari pingsannya. Dia melihat sekeliling dan mendapati dirinya berada di hutan dan di sampingnya orang yang dia tahu.
"Paman...paman... Bangun!" Ucapnya sambil menggoyang pelan lengan seseorang yang di panggilnya paman itu.
__ADS_1
"Kau sudah sadar ternyata,"
Suara seseorang mengejutkan gadis itu, dia berbalik dan mendapati seseorang yang menggunakan tudung di kepalanya dan tirai yang menutupi wajahnya sampai bahunya.
Dia Xinxin. Xinxin melepas tudungnya dan terlihatlah wajah bercadarnya.
"S-siapa?" Tanya gadis itu takut-takut. Dia bahkan mundur dan merapat ke arah paman kusir.
"Aku bukan siapa-siapa. Paman itu apakah sudah sadar?" Xinxin melewati gadis itu dan mencek keadaan paman kusir itu.
"Aku kenapa?" Tanya paman itu setelah sadar.
"Maaf membuat kalian seperti ini!" Ucap Xinxin merasa bersalah telah membuat mereka berdua pingsan.
"Maksud nona?" Tanya paman kusir tak mengerti.
"Jadi begini...," Xinxin pun menceritakan semua yang dia lakukan dan tujuannya.
"Kalau begitu bukan nona yang harus minta maaf tapi kami yang harusnya berterimakasih karena telah membebaskan kami dari kekangan keluarga itu," ucap paman kusir dengan semangat.
"Benar nona, saya sangat berterimakasih, karena nona saya bisa bebas dari perbudakan hiks hiks terimakasih," ucap gadis itu sedang, sampai-sampai dia menangis haru.
Xinxin tersenyum. "Jadi sebagai permintaan maaf saya, saya ingin memberikan ini dan kalian tidak perlu lagi bekerja di tempat terkutuk itu," ucap Xinxin sambil menyerahkan dua kantung kepada paman dan gadis itu. Kantung itu berisi seratus koin perak di masing-masing kantung.
"A-apa ini untuk kami nona?" Tanya paman kusir tak percaya.
"Itu untuk kalian! Saya menyarankan kalian jangan menetap di kota dimana mereka tinggal, pergilah ke kota lain dan tinggallah disana," saran Xinxin. Bukannya apa, tapi kita tidak tahu dengan hati orang. Bisa saja mereka nanti dia kenal dan di seret dan di tuduh kabur atau apapun agar membuat mereka tetap bekerja di keluarga itu, jadi demi keamanan Xinxin menyarankan itu.
"Baik nona! Kami akan mengikuti saranmu. Saya juga berniat mengangkat gadis ini sebagai anak saya. Karena saya telah kehilangan istri dan anak saya karena kekejaman keluarga itu," ucap paman kusir.
"Saat ini namamu adalah Lao Mei. Kau tahu kan namaku?" Ucap paman kusir.
"Paman Lao Heng," ucap Lao Mei.
"Bagus! Panggil aku ayah dari sekarang," perintah Lao Heng.
Air mata keluar dari mata cantik Lao mei, dia langsung memeluk Lao Heng dan terus mengucapkan kata ayah berkali-kali.
Setelah suasana mengharukan tadi, Xinxin pun mengantarkan mereka untuk menyewa satu kereta menuju ke kota lain.
Kata paman Lao Heng, dia akan pergi ke kampung halamannya.
Sebelum mereka pergi pun Xinxin sempat memberikan koin tambahan untuk biaya kereta bahkan bekal untuk perjalanan mereka.
"Akhirnya selesai juga!" Ucap Xinxin lega. Bahkan dia tak memberitahu siapa dirinya bahkan manapun tidak! Dia hanya mengatakan "Kalau ada jodoh kita akan bertemu lagi, dan saat itulah dia akan memberitahu siapa dirinya"
...~•<•>•~...
__ADS_1
Saat ini Xinxin sedang berjalan di tengah pasar pada sore hari menjelang malam. Pakaiannya juga sudah dia ganti seperti semula.
"Ugh, perutku lapar," bagaimana tidak lapar, sedangkan dia pergi tanpa sempat makan.
"Nona!"
"Oh astaga! Kau mengagetkanku? Siapa kau?" Xinxin sangat terkejut dan dia tahu siapa yang di depannya ini, tapi dia pura-pura tak tahu.
"Maaf nona! Saya pengawal tuan muda Quon dan saat ini beliau sedang menunggu anda di rumah makan," ucap Han. Ya dia Han.
"Baiklah! Tunjukkan jalannya," ucap Xinxin.
Han pun berjalan di depan diikuti Xinxin dibelakang.
Tak jauh, mereka pun telah sampai di rumah makan yang di maksud. Han mengarahkan Xinxin menuju lantai dua dan saat ini Xinxin berdiri di depan pintu.
Kreatt
"Tuan, Nona sudah ditemukan," ucap Han.
Xinxin masuk dan mendapati tatapan tajam dari sang kakak. "Hai kak," sapanya nya dengan gugup sambil melambaikan tangannya.
"Han, kau boleh pergi!" Ucap Quon datar.
Han membungkuk lalu pergi keluar meninggalkan Xinxin yang berdiri gelisah di bawah tatapan tajam Quon.
"Maaf!" Ucap Xinxin menunduk dalam. Sebenarnya dia tak merasa terlalu bersalah, karena saat itu dia juga kesal dengan kakaknya ini yang terlalu cerewet, tapi meskipun begitu yang salah disini adalah dia, jadi dia meminta maaf.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Quon dengan nada datar.
Xinxin mengangguk, dia tahu salahnya, tapi itu bukan semua salahnya kan? Dia sedikit kesal dengan Quon.
Helaan nafas terdengar dari Quon. "Duduklah, kau pasti lapar!" Ucap Quon. Nada bicara nya melembut.
Xinxin mendongak menatap kakaknya dengan senyum mereka. Tahu saja kakaknya kalau dia sangat lapar saat ini.
"Baik!"
Dengan senang hati Xinxin duduk dan memakan semua hidangan yang telah tertata rapi di atas meja.
¤
¤
¤
I hope you like it...
__ADS_1
Maaf jika setiap judul yang aku buat aneh. Aku tidak pandai membuat judul.